
Naya merentangkan tangan, dia pergi ke balkon setelah bangun dari tidur, menghirup udara segar di pagi hari adalah sesuatu yang sungguh mendamaikan untuk nya.
Lama dia bediri di sana, berkali-kali hembusan nafas senggah terdengar jelas, mata cerah nya menatap jalanan kota yang padat di akhir pekan. Menyadari aktivitas nya kali ini benar-benar membosankan, Naya kembali ke ruang tengah, masih ada Devan, Aska dan Kevin yang tertidur di sofa, mungkin mereka bergadang semalaman, pikir Naya.
Naya mendekat kearah meja, televisi masih menyala, alhasil dia meraih remot dan mematikan televisi.
"Anty.." Panggilan kecil mengalihkan pandangan Naya, dia menatap gadis kecil yang sudah berada di belakang nya. Naya tersenyum, dan berjongkok di hadapan Kia yang masih menggisik sebelah mata nya dengan punggung tangan.
"Kok Kia udah bangun sepagi ini?" Tanya Naya seraya mengusap surai Kia, Kia menggeleng seakan memberi jawaban jika dia pun tidak mengetahui hal itu. Sedetik kemudian dia menatap Naya dengan mata berbinar, teringat ucapan Michelle tadi malam sebelum diri nya tertidur.
"Mommy bilang sekarang Mommy sama Anty sama Om libur semua Anty.. Kia pengen pergi ke taman sama Anty sama Om.."
"Jadi Kia pengen pergi ke taman bareng Om sama Anty?" Tanya Naya seraya tersenyum kecil dan menatap Kia dengan gemas. Sedangkan gadis kecil itu mengangguk cepat.
"Oke! Tapi nanti.. Om sama Anty-Anty lain masih bobo, mending Kia sarapan aja sama Anty Naya." Ucap Naya, Kia mengangguk lagi, kemudian kedua nya pergi ke dapur, memasak makanan dan memakan nya bersama.
-
Senyuman kecil dari Naya dan sahabat nya terbit ketika melihat Vaghelaz nampak anteng ikut bermain dengan Kia seraya menjaga nya, termasuk Devan, dia terus berada di belakang Kia untuk menjaga nya, mereka sama-sama berlari dan mengoceh tak jelas.
Sedangkan Vaghelaz lain sibuk dengan dunia nya sendiri, bersenang-senang seperti anak kecil.
__ADS_1
Naya menghela nafas, sejak tadi dia ingin pamit untuk pulang, dia tau kedua orang tua nya menunggu nya dengan perasaan marah sekarang, apalagi jika bukan karena tidak pulang semalaman. Tapi Naya kembali menghela nafas nya, kemudian memberanikan diri untuk pamit walau tidak enak sama sekali karena mereka seperti terlihat ceria hari ini.
"Chelle, Yo, Mel, Nar.. Gue balik dulu ya." Naya beranjak seraya menatap ke empat sahabat nya.
"Hhh.. Lo bikin gue badmood aja Nay." Vio mengutarakan rasa khawatir nya dengan omelan seperti biasa.
"Kalo lo mau balik balik aja Nay, tapi lo kabarin ya kalo udah nyampe, kita pada khawatir ma lo." Meli berbicara dengan tenang seraya tak merespon Vio yang masih belum berhenti menggerutu kesal. Sedangkan Naya mengangguk tanda mengiyakan.
"Ish, Naya kok udah mau pulang aja? Nara 'kan baru nyampe tadi, Nara masih belum lama ada di sini." Nara sama-sama menggerutu seperti Vio.
"Ck, gue juga harus pulang kali, dah ya! Jaga si Kia tuh, jangan ampe kewalahan." Ucap Naya seraya berjalan mendekati mobil yang sejak tadi terparkir.
-
"Berapa kali saya harus bilang sama kamu? Kamu tau kalau kamu gak boleh pulang malam! Pulang malam aja gak boleh apalagi gak pulang! Dasar bodoh! Dari mana kamu semalam?!" Sentak Mika.
Naya menghela nafas kasar, dengan eskpresi datar dia menatap malas manik Mika.
"Nginep di apart Michelle, kenapa?" Jawab Naya dengan enteng, membuat Mika naik pitam dan segera membentak nya lagi.
"Kamu tuh harus tau diri Reva! Kamu hanya beban di sini, Ibu kamu tidak mau mengurus kamu, beruntung kami mau membesarkan anak keras kepala dan pembangkang seperti kamu?!"
__ADS_1
"Apa gue pernah minta lo buat besarin gue? Apa gue pernah ngemis sama lo buat tinggal di sini? Nggak 'kan? Fine.." Naya melangkah ke ruang tengah, namun Rayyan menghentikan langkah nya.
"Reva! Kalau kamu tidak mau mengikuti aturan di sini, pergi dan angkat kaki sejauh-jauh nya, biar kamu tau rasa nya hidup tanpa bergantung pada kami." Bentak Rayyan.
Naya memutar tubuh, menoleh dan menatap benci kearah Rayyan.
"Reva gak pernah bergantung sama Ayah atau pun sama dia!—menunjuk kearah Mika—justru kalian yang bergantung sama Reva." Naya balik membentak, kemudian segera meninggalkan ruang tengah menuju kamar nya yang berada di sebelah dapur.
Sedangkan Mika nampak kesal, wajah nya memerah menahan amarah. Sigap Rayyan menenangkan, apa yang di katakan Naya memang benar, walau dia tidak mengakui nya.
-
Setelah perdebatan tadi siang, Naya memilih mengurung diri di kamar nya, lebih banyak berdiam diri dan mendengarkan musik untuk meredam amarah, bahkan sampai melewatkan makan siang sehingga pelayan harus mengantar makanan ke kamar.
Tak lama malam tiba, Naya masih diam di kamar, entah apa yang berada di dalam pikiran nya, namun yang benar-benar pasti dia merasa kesal.
Lama berdiam diri membuat Naya mengantuk juga, alhasil dia memejamkan mata dan berusaha untuk memasuki alam mimpi nya.
-
Thanks..
__ADS_1