Alvaska:Nayara

Alvaska:Nayara
Alvaska:Nayara 05


__ADS_3

Naya manatap kaget kearah Shasa, dia menelan ludah nya susah payah, bahkan tatapan nya tak bisa di artikan.


"Panggil aja temen lo ke sini, gue tau mereka semua." Ucap Shasa menantang, Naya mengangguk setuju.


"Oke! Gue suruh mereka ke sini sekarang, kalo mereka gak kenal sama lo, gue mau lo gak cari masalah lagi sama gue!" Ucap Naya.


"Deal! Tapi.. Kalo mereka tau gue, gue bebas main sama lo." Ucap Shasa seraya menyeringai kearah Naya.


Tak lama setelah Naya menghubungi Nara dan kawan-kawan nya, mereka pun datang ke halaman belakang Santara Bangsa melalui gerbang halaman belakang.


"Nar, lo kenal sama dia?" Naya menatap penasaran kearah Nara yang masih terduduk di atas rumput seraya mencoba mengatur nafas nya. Nara belum menjawab, dia menatap lekat kearah Shasa, dan menelan ludah nya diam-diam.


"Kita ada masalah sama Vaghelaz?" Naya kembali bertanya, membuat Vio yang berada di samping Nara menggaruk tekuk nya yang tak gatal.


"Lo tau 'kan Nar?" Naya kembali bertanya, sedangkan Nara masih diam, dia menghela nafas dalam-dalam, sesak mengingat sesuatu yang terjadi di hadapan mata nya sendiri.


"Iya! Mereka, dia, lo sama kita punya hubungan yang baik dulu!" Michelle menatap datar kearah Naya.


PLAK


Tabokan keras dari Vio mendarat tepat di pipi Michelle yang hanya mencibir setelah nya, Sedangkan Nara beranjak, menghampiri Naya.


"Naya gak papa 'kan? Naya gak usah ambil pusing, Nara gak kenal sama mereka, mereka bukan siapa-siapa Naya." Ucap Nara pelan, membuat Naya menatap tajam kearah Shasa.


"Denger 'kan lo? Udah di bilangin gak mau percaya, gue gak kenal sama lo dan lo bukan siapa-siapa gue! Jangan ganggu gue lagi?!" Naya menepuk pundak Nara, kemudian pergi menuju kelas setelah mengangkat tangan nya kearah Vio, Meli dan Michelle, tanda pamit untuk kembali ke kelas nya.


"Wah wah wahh.. Ternyata.. Lo pinter boong juga ya Nar?" Ucap Shasa seraya bangun dari duduk nya.


"Bacot!" Ke empat gadis itu bergumam sama persis.


"Hey?.. Gak usah sok toxic lah, gue tau kok kalian semua itu kaya gimana, terutama lo Nar!" Ucap Shasa lagi, sedangkan ketujuh pentolan Vaghelaz bersama Yogi yang merupakan orang kepercayaan Vaghelaz pun hanya diam menyimak, berharap mengerti alur pertikaian para gadis itu.

__ADS_1


"Nara emang manja, tapi Shasa juga bakal tau kok apa yang bisa Nara lakuin sama Shasa kalo Shasa berani macem-macem sama Naya?!" Nara menatap tajam kearah Shasa, tak kalah tajam dari tiga gadis lain nya, begitu pun dengan Shasa.


"Apa?"


"Apa pun, yang akan buat Shasa menderita selama nya, Shasa tau 'kan? Nara gak mungkin ngulang kesalahan yang sama!" Jawab Nara dengan penuh rasa berani tanpa sedikit pun ketakutan, padahal dia pun tahu jika Shasa merupakan panglima perang Vaghelaz.


"Lo salah! Apa yang cewek itu rasain gak seimbang sama apa yang gue rasain, dia yang mulai duluan Nar?!" Shasa mulai kembali terpancing emosi.


"Semua orang juga udah tau tentang hal itu Sha! Bukan Naya pelaku nya, emak lo mati gegara dia nyelametin Naya!" Vio memotong Nara yang hendak berbicara dengan raut wajah kesal. Meli dan Michelle mengangguk setuju, begitu juga dengan Nara.


"Apa yang lo lakuin itu udah di luar batas banget Sha! Padahal.. Yakinlah gue kalo lo tau tentang masalah kekeluargaan si Naya, tapi bisa juga lo lakuin itu sama dia! Lo emang gak punya hari ya Sha?" Meli yang sendari tadi diam pun ikut berkomentar.


"Bacot! Lo pada gak akan pernah tau rasa nya kehilangan tau gak?!" Kesal Shasa.


"Kita semua ngerasain itu kok!" Nara menyela. "Ngerasain gimana rasa nya kehilangan orang yang udah bener-bener Nara percaya, Nara sayangi, dan selama nya Nara gak akan bisa benci sama orang itu!"


'Dan orang itu adalah Shasa, Shasa yang dulu, yang riang, penyayang dan gak bisa bentak siapa pun, tapi sayang nya dia udah berubah!' Lanjut Nara dalam batin nya.


"Pio? Gimana dong?" Tanya Nara khawatir.


"Gue juga gak tau kali, ngapain lo liatin gue? Manggil gue Pio pula? Padahal 'kan nama gue Vio." Gerutu Vio.


"Sebenernya ada apa sih sama Naya?" Tanya Aka, sedangkan Nara mendelik tajam, Meli dan Michelle membuang wajah, kemudian Vio yang menjawab seraya memutar bola mata malas.


"Lo emang gak pernah tau siapa adek lo sendiri Ka! Gue kira lo beneran sayang sama Naya,,, cabut!" Ke empat gadis itu pun pergi, meninggalkan delapan pemuda yang merupakan anggota penting Vaghelaz.


"Ah kagak ngarti gue." Keluh Kevin seraya menggaruk kepala nya yang tak gatal.


"Jadi maksud nya si Naya tuh bunuh nyokap nya Shasa gitu?" Beo Devan.


"Coba ulang! Gak denger gue?!" Aka dan Aska melirik tajam kearah Devan dengan kalimat dan nada yang sama. Sedangkan Devan nyengir memperlihatkan gigi rapih nan putih nya.

__ADS_1


"Ya sorry dong boss, 'kan kita semua gak tau gimana Naya asli nya?" Ucap Devan.


"Tapi tadi lo bukan nya kenal sama Naya Gi? Lo juga Land?" Raga bersuara, membuat semua perhatian tertuju pada Yogi dan Aland. Sedangkan keduanya saling pandang, kemudian menelan ludah susah payah.


"Dia pacar nya Kenzo Ka."


DEGH


Aska merubah ekspresi nya menjadi serius dan tidak bisa di artikan, begitu juga dengan Aka, Devan, Raga, Jefran, dan Kevin.


"Jadi dia pacar nya Kenzo? Kok masih idup?" Devan membeo heran.


"Terus gimana dong?" Jefran menatap teman-teman satu per satu.


"Gue yakin, kalau Naya mau buka suara, kasus pembunuhan berantai dua tahun lalu bisa kebuka lagi, dan otomatis si Kenzo bakal ke tangkep tuh!" Kevin berkomentar tentang kasus hilang nya beberapa gadis dua tahun lalu, namun pihak polisi tidak mempercayai bahwa kasus itu merupakan kasus pembunuhan karena minim nya bukti, hanya anggota inti Vaghelaz yang tahu jika pembunuh nya adalah mantan ketua Vaghelaz sebelum Aska.


"Tapi kalo dia ketangkep? Kita ketangkep juga apa kagak ya?" Monolog Aka, ke delapan pemuda menganggaruk tekuk bersamaan, berpikir dengan otak nya masing-masing.


-


Di sisi lain, Vio, Nara, Meli dan Michelle tengah berkumpul di salah satu Caffee, ke empat nya sama-sama diam sejenak, namun tak lama seseorang membuka suara.


"Gimana ya? Gue takut Naya kenapa-napa, trauma sama depresi nya 'kan belum sembuh, sedengkan Vaghelaz ada di deket dia, Aska yang notabene nya adik si Kenzo juga ada di sana." Michelle terlihat berpikir keras memikirkan apa yang dia ucapkan tadi.


"Si Aska emang bisa berdampak ya? Bukan nya Naya sama dia emang belum pernah ketemu selain di pertemuan keluarga yang Naya ceritain waktu itu?" Meli menyahut.


"Ya enggak lah Meli, kalo Aska terus-terusan bicarain tentang Kenzo di deket Naya, Naya bisa inget lagi masalalu nya, kalo Naya sampe inget masalalu nya...— Nara tidak melanjutkan kalimat nya, sedangkan Meli dan Michelle menelan ludah susah payah, namun Vio hanya memasang wajah datar, tidak terlalu peduli dan hanya memikirkan nya sendiri.


-


Tinggalin jejak yaa..

__ADS_1


__ADS_2