Alvaska:Nayara

Alvaska:Nayara
Alvaska:Nayara 07


__ADS_3

Naya terdiam membisu, dia memainkan kaki nya dari bangku taman di bawah pohon beringin yang berada di salah satu sudut lapangan bola, kepala nya terus menunduk di antara suasana canggung siang itu. Istirahat kedua telah tiba, pemuda tadi kembali datang dan bermaksud berbicara empat mata dengan Naya.


"Are you angry with me?"


(Lo marah sama gue?)


Tanya pemuda tersebut, sedangkan Naya hanya menggeleng pelan dan terus mengalihkan pandangan dari pemuda bernama Kalingga tersebut.


"I think you have forgotten about me."


(Gue kira lo udah lupa sama gue)


Naya mengangkat wajah, menatap pemuda yang kini berada di samping nya. Dia terkekeh, balik menatap Naya dengan lembut, kemudian menjawab.


"I will never forget you."


(Gue gak akan pernah lupa sama lo)


Naya tersenyum kecil.


"So? how about our relationship?."


(Jadi? Gimana sama hubungan kita?)


Naya bertanya, sedangkan si pemuda mengusap kepala nya lembut.


"We are still who we used to be, nothing will ever change it, except time."


(Kita ya tetep kita yang dulu, gak akan pernah ada yang bisa ngubah, kecuali waktu)


"What if we can't be like we used to be?"


(Gimana kalo kita emang gak bisa kaya dulu lagi?)


Naya menatap sendu kearah Lingga, membuat kerutan di kening nya.


"What are you saying?"


(Lo ngomong apa sih?)


Tanya Lingga seperti tak terima dengan apa yang Naya katakan.


"I got married to Aska because my father was bankrupt, and I had no other choice."

__ADS_1


(Gue di jodohin sama Aska karena Ayah bangkrut, dan gue gak punya pilihan lain)


Lingga terdiam, dia menatap Naya seraya membisu, tangan nya tak lagi berada di atas kepala Naya.


"So you want to stop here with me?"


(Jadi lo mau berhenti sampai sini sama gue?)


Naya menggeleng cepat.


"No, All of this is just to save dad's company, jadi jangan harap lo bisa pergi dari gue!"


(Gak, semua ini cuma buat nyelametin perusahaan ayah)


Ucap Naya, dia menatap dalam manik biru tua milik Lingga, si pemuda blasteran Indo-Inggris yang beberapa bulan lalu sempat tinggal di London karena orang tua nya memiliki perjalanan bisnis di sana, sekaligus menemani nenek nya yang hanya hidup sendiri.


Lingga menghela nafas.


"Kapan tanggal nya?" Tanya Lingga.


"Awal bulan depan." Jawab Naya pelan, tangan Lingga mengacak rambut Naya pelan, dia tersenyum kecil melihat wajah cantik kekasih nya.


"Lo gak akan ninggalin gue 'kan?" Naya menatap Lingga dengan tatapan sedih, membuat Lingga refleks menggelengkan kepala nya. Naya tersenyum, memperlihatkan gigi putih nan rapih nya.


Disisi Lain


"Makanya belajar!"


"Emang lo ngarti Mel?" Tanya Vio sedikit kaget.


"Nggak juga." Kekeh Meli, menuai tatapan tajam dari Michelle.


"Btw, siapa sih tu cowok? Kayanya si Naya gak takut deh sama dia, di banding sama gue tadi pagi?" Tanya Aska.


Benar, Vaghelas dan ke empat sahabat Naya tengah mengintip nya dari taman samping sekolah yang cukup dekat dengan lapangan bola.


"Setau gue mereka temenan, tapi kaya nya udah mulai pacaran deh, masa temenan so sweet gitu." Celetuk Michelle, di angguki tiga gadis lain.


"Masyaallah.. Alangkah beruntung nya hidup ana kalau bisa jadi selingkuhan Naya." Gumam Jefran yang masih jelas terdengar, refleks Aska menjitak kepala nya agak keras.


"Enak aja lo!"


-

__ADS_1


"Gue balik ya? Lo gak akan kenapa-napa 'kan?" Tanya Lingga, khawatir jika sesuatu terjadi pada nya, sedangkan Naya dan dirinya tengah berada di depan gerbang kediaman Dwitama, Lingga mengantarkan Naya setelah berjalan-jalan hingga sore menjelang.


Naya menggeleng, "Lo tenang aja, gue gak akan kenapa-napa, gue 'kan kuat?" Naya tersenyum lebar menatap Lingga, Lingga balik tersenyum kecil, kemudian melajukan mobil nya setelah mengacak rambut Naya sekejap.


Naya melambaikan tangan nya menatap mobil yang kini sudah di telan kejauhan, dia menghela nafas kasar, menyiapkan diri nya untuk masuk ke dalam mansion, di mana Rayyan sudah mengetahui apa yang dia lakukan dengan Lingga di depan gerbang tadi.


Walau begitu, Naya tidak menghiraukan, dia pergi ke kamar nya kemudian membersihkan diri untuk beristirahat dan makan malam.


"Ayah akan suruh Fika untuk ngawasin kamu! Kamu harus ingat Reva, kamu sudah memiliki pasangan, dan kalau kamu sampai Nathan tau tentang hubungan kamu, dia bisa aja batalin pernikahan kamu dengan Aska, dan perusahaan Ayah akan benar-benar hancur!" Tegas Rayyan, Naya terusik, menghela nafas dan menelan makanan nya, kemudian menatap manik Rayyan.


"Gak usah suruh siapa pun untuk ngikutin Reva, Reva gak mau." Dingin Naya.


"Kamu itu ngerti gak sih sebenernya?—


Rayyan menahan Mika, dia menggenggam tangan nya, menatap lekat wajah cantik itu, kemudian kembali menatap Naya.


"Oke! Tapi, kalau sampai Nathan batalin pernikahan, kamu yang akan tanggung jawab, apapun caranya kamu harus bisa nyelametin Dwitama.Group!" Rayyan menatap tegas kearah Naya, ada sedikit kebencian dalam tatapan nya.


Sedangkan Naya hanya mendesis sebal mendengar nya, di ruang makan hanya ada Mika, Rayyan dan Naya, karena Aka entah di mana keberadaan nya.


Setelah makan malam selesai, Naya segera kembali ke kamar nya, melakukan aktivitas malam dan segera tertidur pulas.


-


Disisi Lain


Ruangan luas nuansa gelap, barang-barang rusak berserakan di mana-mana, ada beberapa sofa usang dan satu meja kecil, beberapa botol Wiski dan Vodkha, juga gelas dan rokok di atas meja.


Gudang sekolah yang berada jauh dari gedung Santara Bangsa walau masih bisa di sebut sebagai kawasan nya, tempat menyimpanan barang rusak yang sudah tidak bisa di pakai, namun tempat itu juga di gunakan untuk hal tidak berfaedah yang di lakukan oleh anggota Vaghelaz.


Rupanya di sini lah Aka berada, dia menyenderkan punggungnya di sandaran sofa, tangan nya memegang sebuah botol, sesekali dia kembali menyesap sedikit Vodkha dari botol tersebut, kemudian larut di dalam alam bawah sadar nya.


Sedangkan Raga dan Devan hanya menyesap rokok, begitu juga dengan Kevin yang tidak terbiasa minum banyak, Raga dan Devan menjelaskan hal yang mereka lihat tentang Naya dan Lingga kepada Aska, karena seharian mereka mengikuti Naya dan Lingga.


Aska mengubah posisi, entah apa yang sudah terjadi dengan diri nya sendiri, dia seperti kesal mendengar hal itu, sampai-sampai botol Wiski yang ia pegang itu tandas ia sesap.


PYARR..


Aska melemparkan botol nya, membuat Raga dan Devan berhenti menjelaskan, sudah cukup membuat Aska kesal, jangan sampai dia marah. Hal itu membuat Aland sedikit tersenyum, dia tidak terlalu banyak minum, dan masih sangat-sangat sadar untuk memahami nya.


-


Tinggalin jejak yaa..

__ADS_1


__ADS_2