Alvaska:Nayara

Alvaska:Nayara
Alvaska:Nayara 06


__ADS_3

Satu Minggu Berlalu


Naya ber-tos ria dengan ke empat teman nya, yang kini sudah menjadi bagian dari keluarga besar Santara Bangsa, beberapa hari lalu mereka memutuskan untuk pindah, mereka benar-benar khawatir dengan kondisi Naya, walau pun Shasa sudah di cegah oleh Aska dan Aka dan kemungkinan dia tidak akan mencari masalah lagi dengan Naya, mereka tetap saja khawatir.


"Eh? Lo gak papa 'kan Nay?" Tanya Vio dengan wajah serius menatap Naya, Naya balik menatap nya, kemudian mengangguk.


"Gue baik kok, cewek itu juga tiba-tiba pindah jurusan tiga hari sehabis dia berantem sama gue waktu itu." Ucap Naya tanpa tahu yang menyuruh Shasa pindah ke jurusan IPA dari IPS adalah Aska.


"Sukur deh kalo lo bae-bae aja, oh iya? Masalah pernikahan lo gimana Nay? Lo nerima gitu aja?" Tanya Meli penasaran, begitu juga dengan ke tiga gadis lain. Sedangkan kondisi kelas masih sedikit sepi, hanya beberapa siswa dan siswi yang berada di kelas.


"Gue gak punya alesan, gue mesti nerima perjodohan ini.. Kalo enggak, habis semua aset yang bokap gue punya." Ucap Naya tanpa menatap salah satu dari mereka.


"Tapi 'kan‐ lo gak akan rugi Nay? Kenapa lo gak biarin aja?" Michelle berkomentar tak terima, kalimat itu pun di angguki oleh Nara.


"Kan Naya masih punya Tente Anita?" Ucap nya.


"Ck, lo pikir gue gak punya hati?" Naya mendelik sedikit tajam, kemudian mengalihkan pandangan kearah lapangan bola, tepat nya di salah satu sudut yang terdapat pohon beringin besar juga bangku taman, nampak anggota Vaghelaz tengah bercanda gurau di sana.


"Lagian ganteng juga tu cowok." Naya tersenyum kecil melihat Aska yang tengah ikut tertawa bersama ke enam teman nya. Sedangkan ke empat gadis nampak memasang wajah datar melihat ekspresi Naya.


"Emang lo gak takut apa pas malem pertama?" Seloroh Meli, Naya melirik nya enteng.

__ADS_1


"Takut sih takut, tapi gue yakin tu cowok bisa di ajak kompromi." Jawab Naya.


"Jadi lo percaya aja gitu sama Vaghelaz? Kalau mereka punya niat jahat sama lo gimana? Kita semua gak akan tau apa yang lagi mereka rencanain Nay, lagian lo tau 'kan siapa Vaghelaz? Sekali lo beurusan sama mereka, lo gak akan bisa lepas Nay, kejadian waktu itu gak akan pernah bisa keulang lagi! Dan kita gak tau cowok jahat itu masih hidup atau bagus nya udah mati!" Vio menatap Naya tajam, mengingatkan Naya agar selalu berhati-hati.


"Siapa cowok jahat yang lo bilang?" Tanya Aska yang sudah berada di belakang Vio, Vio menoleh kemudian hanya membuang wajah.


"Pasti lo ber lima lagi gibahin kita ye?" Tuding Devan seraya memicingkan mata nya untuk menatap ke lima gadis itu. Sedangkan Naya masih diam, dia kembali berpikir tentang apa yang Vio ucapan tadi.


"Lo tenang aja Nay, kalo kejadian itu ke ulang sama orang di samping gue, gue yang bakal kasih pelajaran sama dia!" Aka menatap Naya serius setelah melirik tajam kearah Aska.


"Lagian gue juga gak akan apa-apain lo kok, tenang aja kali, gue juga punya selera sendiri." Ucap Aska seraya membuang wajah nya.


"Ah pura-pura ae lu mah boss!" Sindir Raga, dia menerbitkan senyuman tengil nya seraya terduduk di atas meja tak jauh dari sana.


Aska mencibir seraya duduk di sebelah Naya. "Enak aja, gue mah cowok bae kali Jef, emang nya elo yang tiap detik kudu ***** cewek? Lo kira gue gak tau apa cewek yang ada di Santara Bangsa bekas lo semua?" Sindir Aska, membuat Jefran terkekeh pelan mendengarnya.


"Pasti lo lagi ngejar si BuRik 'kan sekarang?" Aska menatap sekilas kearah Jefran.


"Gila! Cari mati kali gue." Celetuk Jefran, sedangkan Naya dan teman nya nampak bingung mendengar nama 'BuRik', julukan dari guru bernama Bu Rika, yang terkenal dengan body sexy bak gitar spanyol.


"BuRik siapa?" Tanya Naya seraya menatap Aska yang duduk di samping nya, dia menoleh seraya tersenyum manis, 'Uhh, ganteng nya, untung aja kagak gue tolak!' Batin Naya yang tak sesuai dengan ekspresi wajah datar nya sekarang.

__ADS_1


"Itu julukan Bu Rika, sayang." Ucap Aska dengan sangat-sangat lembut, membuat Jefran dan Raga tertawa renyah mendengar nya, Aka nampak membuang wajah seraya memperlihatkan ekspresi jijik, Devan dan Kevin kompak merasa mual ingin muntah, dan Aland hanya tersenyum kecil berusaha menahan tawa. Sedangkan ke empat gadis di hadapan Naya nampak tersenyum menatap Naya seraya menaik turunkan alis nya.


"Jangan macem-macem lo anjing!" Panik Naya ketika menyadari Aska semakin mendekat kearah wajah nya seraya tersenyum menggoda, refleks saat Naya hendak mundur dan terbentur dinding, telapak tangan nya lebih dulu menghalangi agar Naya tidak terbentur, membuat teman-teman nya berseru histeris, tapi bukan hanya mereka, seluruh kelas pun berteriak histeris, terutama para siswi.


"Hati-hati dong sayang.. Sakit gak kepala nya?" Tanya Aska masih dengan nada super lembut dan senyuman manis super tampan, sedangkan Naya segera menepis tangan nya dengan wajah galak bersemu takut, membuat Aska terkekeh gemas seraya menyodorkan sapu tangan, Naya menerima nya untuk menyusut keringat dingin akibat ketakutan.


"Lo jangan kaya gitu lagi Ka, gue takut." Naya bergumam pelan, otomatis hanya Aska yang mendengar nya, dia tersenyum kemudian mengangguk seraya menatap Naya lembut dan mengacak rambut nya pelan, membuat Naya kembali menepis tangan nya dengan sangat kesal, sedangkan kelas kembali ricuh dengan seruan histeris dari para gadis sekaligus sahabat-sahabat mereka.


Tak terasa bel masuk sudah berbunyi, para siswa dan siswi pun kembali tertib dan duduk di bangku nya masing-masing, termasuk Aska dan Naya.


-


Waktu istirahat tiba, Naya memutuskan untuk tetap berada di kelas bersama tujuh personil Vaghelaz yang tengah mengobrol santai dengan sahabat nya.


'Tokk..tokk..tokk..'


Seluruh kelas menoleh kearah pintu, seorang pemuda nampak tersenyum di ambang pintu, namun tatapan nya hanya tertuju pada Naya, yang sibuk dengan handphone dan tidak minat untuk menoleh. Michelle yang duduk di samping Naya menyenggol lengan nya agak keras, membuat dia melirik kesal.


"Apaan sih lo?" Michelle melirik kearah pintu, Naya pun ikut melirik nya sekilas, kemudian kembali memainkan handphone, sejenak dia ingat-ingat pemuda itu, setelah ingat dengan benar, dia beranjak, kemudian menatap lurus pemuda itu, wajah nya benar-benar tidak bisa di artikan, entah bahagia atau bahkan terlihat sangat-sangat sedih.


"Hai?.. Apa kabar?"

__ADS_1


-


Tinggalin jejak nya yaa..


__ADS_2