
Waktu terus berjalan tanpa pernah di sadari, dending jam dinding masih belum berhenti, terus berdetik sampai terdengar jelas di dalam ruangan itu, karena saking sepi nya suasana di sana.
Di Kamar
Naya masih terdiam kaku di depan jendela, yang mengarah kelapangan di belakang mansion keluarga Dwitama. Tatapan nya kosong meski terlihat layu dan sendu, helaan nafas berkali-kali ia hembuskan, sedangkan rambut panjang nya sudah acak-acakan dengan luka kecil yang ia torehkan di dahi nya sendiri.
'Tok..tok..tok..'
"Gak di kunci!" Ucap Naya sedikit berteriak tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Maaf Nona, segeralah bersiap, Nyonya dan Tuan sudah menunggu di ruang utama bersama Tuan Muda Aka." Ucap seorang wanita seraya menundukkan pandangan, tak berani menatap Naya.
"Hm." Deham Naya sebagai jawaban, wanita itu mengangguk, kemudian pergi setelah menutup pintu kamar Naya.
Naya menghela nafas, dia menelan ludah nya sekejap, dan mulai bersiap dengan gaun hitam yang sudah di siapkan oleh Mika tadi sore.
-
Naya keluar dari kamar nya, rambut hitam panjang sepinggang nya di biarkan tergerai, wajah nya terlihat cantik dengan balutan make up tipis, tubuh nya lebih tinggi karena mengenakan high heels, sedangkan dress nya hanya sepanjang lutut dengan desain elegant, dan tas selempang hitam yang ia kenakan di pundak nya, membuat Naya terlihat lebih feminim di bandingkan ketika ia mengendarai motor sport milik nya.
Naya menatap datar kearah Rayyan dan Mika, mereka benar-benar sudah menunggu bersama Aka di sana.
Rayyan beranjak, "Kita hampir telat." Dingin nya yang mulai melangkahkan kaki dengan langkah panjang menuju bagasi. Mika segera mengikuti langkah Rayyan, sedangkan Aka meletakkan tangan nya di bahu Naya, menatap nya penuh arti, kemudian mulai meninggalkan nya.
__ADS_1
-
"Ahh.. Gimana Than? Apa kita bisa percepat tanggal pernikahan mereka?" Rayyan mengulum senyum menatap sahabat nya Nathan, sedangkan Nathan diam sejenak untuk menjawab.
"Aku pikir mereka butuh waktu untuk saling mengenal Ray, 'kan tanggal pernikahan yang sudah kita tetapkan masih beberapa bulan lagi? Gimana kalau kita percepat ke awal bulan depan aja? Biar mereka punya waktu untuk saling kenal." Jawab Nathan, Rayyan mengangguk setuju.
"Bener, aku setuju sama apa yang kamu bilang, tapi gimana sama anak kamu Than? Anak aku sih udah siap-siap aja katanya." Ucap Rayyan lagi, sedangkan Nathan menoleh kearah Aska yang berada di samping nya seraya merangkul pundak pemuda itu.
Aska diam sejenak, mencerna ucapan Rayyan, kemudian tersenyum kecil. "Aska setuju apa kata Bunda, Om." Jawab Aska mantap, menuai senyuman lebar dari Rayyan juga beberapa yang hadir di sana.
Di sisi lain, Naya yang duduk di sebelah Aka hanya diam, kepalan tangan yang ia sembunyikan di balik meja nampak berbeda jauh dengan ekspresi wajah nya yang santai-santai saja, bahkan sesekali tersenyum tipis menanggapi pembicaraan mereka.
"Tapi aku mau denger dari Naya, gimana sayang? Apa kamu sudah setuju tentang pernikahan kamu sama Aska?" Tanya Ayu, semua menoleh kearah Naya, Nathan yang sempat melirik istri nya pun ikut menatap Naya sekarang. Naya diam cukup lama, membuat Rayyan dan Mika hampir kehilangan jantung nya, begitu juga dengan Aka, pasalnya Naya tidak mengetahui apapun tentang hal itu, lagipula semua ini di lakukan hanya untuk mencegah Dwitama.Group agar tidak bangkrut.
"Yeah, Naya setuju." Refleks tawa itu berhenti, Rayyan dan Mika nampak menghela nafas panjang, merasa lega karna Naya bisa mengerti lirikan nya barusan, begitu pula dengan Aka yang kemudian membuang muka seraya menghela nafas lega.
"Ah! Kamu ini Nay, memang tidak pernah berubah sejak kami pergi untuk perjalanan bisnis waktu itu, kamu ngak pernah bisa di tebak sama siapa pun, bahkan Bunda kedua mu ini juga ngak bisa berkutik kalo kamu mulai bicara." Nathan terkekeh, di ikuti Rayyan, Mika dan Ayu.
"Kalo di inget-inget jaman kamu masih kecil Nay, kamu sering bilang Bunda itu Bunda kedua kamu karna kamu deket sama Bunda, tapi sayang nya perjalanan bisnis itu bikin kamu agak lupa ya? Kayak nya kamu rada bingung pas lihat Bunda tadi." Ayu tersenyum kearah Naya, sedang Naya menatap balik manik nya, tatapan lembut yang beberapa tahun lalu benar-benar dia rindukan, hingga akhir nya benar-benar dia lupakan.
"Naya inget, Bunda.. Adalah Bunda Naya setelah Bunda, Bunda.. Yang dulu bener-bener bikin Naya rindu, sampe Naya lupa sama Bunda karna kesibukan Naya, tapi sekarang Naya bisa deket lagi sama Bunda." Naya tersenyum, manis dan tulus, menuai tatapan hangat dari Nathan dan Aka, yang benar-benar mengerti dengan Naya, meski mereka tidak sedekat itu dengan nya.
Ayu tersenyum, kemudian membawa Naya ke dalam pelukan nya, pelukan yang Naya rindukan, pengganti dan pelarian nya kala dia bersedih hati, tempat ia pulang dan rumah terbaik selain sang Bunda kala dia bimbang, karna 'Bunda nya' berada jauh dari nya.
__ADS_1
-
Naya berjalan memasuki mansion dengan wajah kesal, ada rasa senang dan bahagia saat bertemu dengan Bunda kedua nya, namun rasa kesal dan marah karna pernikahan nya dengan Aska lebih mendominasi.
"Reva! Saya tau kamu mempunyai rencana busuk di balik itu! jangan coba untuk kabur dan sebagai nya karna saya—
"APAA?! HAHH" Naya berbalik menatap manik Mika yang berdiri seraya balik menatap nya, mendengar sentakan Naya, benar-benar membuat nya kesal.
"Saya akan menghukum kamu tanpa ampun!" Mika menyentak, suara nya tak kalah menggelegar dari suara Naya, sedangkan jari telunjuk nya sudah berada di depan wajah Naya, dengan kesal Naya menepis lengan nya.
"Heh! Jangan lo pikir kalo gue itu budak lo yang bisa layanin lo selama masa hidup gue dan bahkan lo bisa jual beliin gue seenak nya! Gue mau nikah sama Aska, kalo lo bisa penuhin syarat gue." Suara Naya merendah, sedangkan Rayyan dan Aka baru saja datang, tak mau peduli, Rayyan duduk di sofa ruang utama itu, sedangkan Aka pergi ke kamar nya yang berada di lantai dua.
"Apa?" Mika mengangkat dagu nya menatap Naya dengan angkuh.
"Syarat gue cuma satu, jangan pernah atur gue lagi!" Jawab Naya yang balik menatap Mika tanpa rasa takut.
"Kamu pikir kamu siapa Reva? Kamu gak akan pernah bisa lepas dari Ayah dan Mama, sebelum harta Bunda mu itu jatuh ke tangan Ayah." Rayyan berbicara enteng seraya melepas dasi dan jas yang ia kenakan sebelum nya.
"Ish! Udah mau bangkrut aja masih belagu!" Naya pergi ke kamar nya, meninggalkan senyuman kecil dari Rayyan, dan tatapan jengkel dari Mika.
-
Jangan lupa tinggalin jejak yaa temen² semuaa..
__ADS_1