
Naya membanting pintu kamar, kesal dan marah bercampur aduk menjadi rasa yang menyakitkan di dalam kepala nya, benar-benar berputar dan menyiksa. Naya mengangkat tangan, menjambak diri nya sendiri, mulai meringkuk di lantai, dan menyenderkan punggungnya di sisian ranjang.
AAAARGHH?!!
PYAARR..
Cermin di hadapan nya pecah akibat Naya melemparkan tas nya dengan sangat kuat, kemudian mulai memukuli dahi nya, menjambak rambut nya lebih keras hingga beberapa helai rambut mulai rontok di kedua tangan nya, tubuh nya meronta, rahang nya mengeras menahan sakit, sedangkan bibir nya terus berteriak kencang.
'Depresi gue kambuh, kenapa sering banget kambuh? Dimana obat gue? Arghhanjirrr?! Sakit! Sakit bangett?!' Batin Naya, tangan nya mulai meraba nakas yang berada di samping nya, mengacak-ngacak laci nakas untuk mencari obat yang dia maksud.
Setelah berhasil menemukan nya, dia segera menelan obat itu, beberapa menit berlalu hingga akhir nya rasa sakit yang ia derita itu hilang, sedangkan kamar nya memang kedap suara, tidak akan ada seorang pun yang menyadari akan teriakan kencang nya barusan.
Kini Naya berada di posisi yang tidak jauh berbeda dari posisi sebelum nya, dia masih terduduk di lantai dengan menyenderkan punggung dan kepala nya di pinggiran ranjang. Nafas nya tersenggal, dada nya naik turun, tubuh nya melemas, dan mata nya perlahan terpejam, tak lama kemudian mulai memasuki alam mimpi.
-
Pagi menyapa, Naya terusik, kepala nya sedikit pusing, namun ia paksakan untuk bangun, ekor mata nya menangkap jam yang sudah menunjukkan pukul 05.33, segera Naya beranjak, bersiap untuk pergi ke sekolah nya.
Seperti biasa, Aska, Rayyan dan Mika sudah lebih dulu menyantap sarapan nya, setelah menghela nafas pelan, Naya pun duduk di sebelah Aska, di hadapan Rayyan.
"Kamu akan mulai bersekolah di Santara Bangsa besok." Dingin Rayyan.
"Gak mau." Tak kalah dingin, Naya berbicara acuh tanpa menatap Rayyan.
"Saya sudah ucapkan beberapa kali sama kamu Reva! Kamu itu cuma perlu nurutin apa yang kita suruh sama kamu?!" Kesal Mika seraya beralih menatap tajam manik Naya.
"Heh? Gue bisa pergi dari sini kapan aja, dan gue gak perlu memohon buat bisa hancurin perusahaan lo sekarang juga! Tapi gue masih punya hati, gak kaya lo." Naya menatap jengkel kearah Mika, kemudian kembali melanjutkan sarapan nya setelah mengatakan itu.
"Reva! Jaga ucapan kamu, apa kamu lupa siapa yang membesarkan kamu di sini?" Rayyan menatap Naya semakin dalam, sedangkan Mika hanya diam menahan amarah, begitu juga dengan Aka.
__ADS_1
"Lima taun gue di sini.. Gak pernah tuh merasa di besarkan sama dia atau pun sama Ayah kandung gue, selama ini gue cuma sendiri, sedangkan Ayah sibuk manjain dua anak nya." Naya melirik Aka, kemudian tersenyum kecil, Aka tau di balik senyuman manis Naya itu terdapat luka yang selamanya tidak akan pernah bisa di sembuhkan, bahkan jika Rayyan rela bertekuk lutut di bawah kaki nya untuk itu.
Naya beranjak, kemudian pergi dengan wajah datar menuju bagasi seraya menggendong tas hitam milik nya.
-
"Besok gue pindah ke Santara Bangsa." Ucap Naya, dia menatap ke empat teman nya. Vio, Nara, Michelle, dan Meli melotot kaget mendengar itu.
"Yang bener aja Nay? Lo mau pindah?!" Kaget Vio.
"Naya kok tiba-tiba sih ngasih tau nya?" Tanya Nara.
"Iye, lagian buat apa lo pindah ke Santara Bangsa?" Timpal Michelle.
"Pasti bokap lo 'kan?" Tebak Meli. Naya mengangkat kedua alis nya untuk membenarkan ucapan Meli.
"Hah?! Kok bisa sih? Bukan nya Dwitama.Group udah masuk lima besar perusahaan terkaya di dunia?" Kaget Vio.
"Kaya nya keluarga lo adem ayem aja selama ini." Heran Michelle.
"He'eum, kaya nya gak ada berita juga deh." Nara menimpali.
"Terus sekarang gimana dong? Lo gak nerima itu 'kan? Lo tau 'kan kalo si Aska ketua Vaghelaz? Bisa-bisa dia gimana-gimanain lo lagi?!" Panik Meli. Naya menghela nafas.
"Mau gimana lagi? Bunda gak akan sudi buat bantu perusahaan itu."
"Tapi 'kan lo juga bisa gak bantu mereka kaya gitu? Nay! Kalo lo hamil gimana? Sekolah lo? Karir lo nanti? Gimana coba? Gak habis pikir gue." Vio menatap kesal kearah Naya.
"Iya Nay, emang gak cukup apa di siksa melulu plus di hukum gegara hal kecil doang?! Kali-kali jangan ngalah dong Nay, lo juga perlu mikirin hidup lo!" Michelle menimpali.
__ADS_1
"Ck, udahlah, lagian gue deket sama nyokap nya si Aska." Elak Naya, tidak mau mengubah kebutusan nya.
"Serah lo deh, yang penting jangan sampe lo hamil pas masih sekolah! Lo harus kuliah pokok nya, jangan sampe lo putus sekolah karna bokap nyokap lo yang kurang ajar itu." Geram Meli seraya melotot kearah Naya, sedangkan Naya hanya tersenyum kecil mendengar nya.
-
Meja Makan Kediaman Alexander
"Bun? Aska pernah ketemu gak sih sama Naya sebelum ketemu di pertemuan keluarga kemarin?" Tanya Aska yang detik berikut nya mulai mengunyah nasi yang ia lahap. Ayu tersenyum menatap putranya.
"Kenapa?" Ucap Ayu balik bertanya.
"Gak tau, Aska kaya udah pernah ketemu sama Naya, tapi gak tau di mana." Jawab Aska acuh.
"Terus kenapa kamu nanya sama Bunda? 'Kan yang menjalani hari kamu itu kamu sendiri, bukan Bunda?" Kekeh Ayu, sedangkan Nathan hanya tersenyum menanggapi.
"Gak tau juga, tapi Bun? Naya itu kaya gimana sih orang nya?" Tanya Aska penasaran. Ayu diam sejenak, kemudian kembali tersenyum.
"Setahu Bunda, yang ngak berubah dari Naya itu keras kepala nya Ka, makanya kamu harus sering ngalah sama dia nanti! Terus.. Kayanya Naya agak pendiam waktu di pertemuan keluarga kemarin, mungkin dia gak bahagia sama orang tua nya." Jawab Ayu, sedangkan Aska menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Nanti kamu coba deketin dia ya Ka? Setahu Ayah, dia gak akan pernah terbuka sama siapa pun, termasuk Bunda kamu, bahkan sama Ibu kandung nya sendiri, 'kan kalo kamu deketin dia bisa aja dia mau cerita masalah yang dia alami, seenggak nya dia bisa lepasin unek-unek nya sama kamu." Lanjut Nathan seraya menatap serius kearah Aska, Aska mengangguk.
"Nanti deh Aska coba, lagipula ada yang harus Aska tanyain sama dia." Ucap Aska setuju.
"Jangan nanya aneh-aneh kamu Ka! Awas aja kalau kamu sampe bikin dia makin sedih!" Peringat Ayu yang di balas anggukan mantap dari Aska.
-
Tinggalin jejak nya yaaa..
__ADS_1