Anita Itu Milikku!

Anita Itu Milikku!
Episode - 9.


__ADS_3

Episode Sebelumnya..


"Bibi! Ayo bangun bibi. Bibi Sum ngapain sujud di kaki Nita. Ayo bangun bibi." ucap Anita sembari membantu bibi Sum bangun dari tempatnya.


"Maafkan bibi Noona."


"Iya, bibi. Nita maafkan. Sekarang, ayo bangun!"


"Baik Noona Anita."


"Sekarang, ayo kita duduk dulu bibi." ucap gadis itu sembari menuntut bibinya itu ke arah ruang tengah.


Gadis itu langsung mengambilkan air minum untuk bibinya itu. Dan langsung menyerahkannya kepada wanita paruh baya itu.


"Terimakasih, Noona." ucap bibi Sum. Dan langsung meneguk air minum yang diambilkan oleh sang majikannya itu.


"Bibi Sum setelah ini. Bibi Sum istirahat saja ya." ujar Anita sembari mengusap punggung bibinya itu dengan lembut.


"Tapi, Noona Anita. Saya-"


Anita langsung menggelengkan kepalanya dan menatap tajam ke arah sang bibinya. "Jangan membantah bibi Sum! Jika aku suruh bibi Sum istirahat! Iya istirahat! Jangan banyak membantah! Mengerti?"


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum kecil dengan matanya yang kembali berkaca-kaca. Lalu, wanita itu menganggukkan kepalanya karena sang majikan telah memerintahkannya untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Baik Noona Anita," ucap sang bibi. "Kalau begitu, saya permisi dulu buat ke kamar ya Noona."


Anita mengangguk. "Iya bibi Sum."


"Noona Anita kalau membutuhkan sesuatu. Tinggal bilang ke bibi ya non. Bibi akan langsung membuatnya untuk Noona Anita." ucap wanita paruh baya itu sebelum pergi ke kamarnya.


"Iya, bibi Sum jangan khawatir."


...****...


"Hah!" Natasha menghempaskan tubuhnya pada kasur empuknya saat gadis itu sudah berada di rumahnya. Kemudian, gadis itu menyenderkan kepalanya di kepala kasurnya sembari memegangi kepalanya yang terasa sedikit sakit itu.


"Aduh! Ini kepala kenapa sih, dari tadi berdenyut terus dari tadi." ucapnya dengan kesal. Kemudian, gadis itu bangkit dan berjalan keluar kamar untuk menuju ke arah dapur untuk mencari kotak obat.


"Ih! Kemana sih kotak obatnya? Kok malah gak ada, ah!" kesal gadis itu dengan membanting pintu lemari dinding itu begitu keras sehingga menimbulkan suara yang menggema di ruangan itu.


Natasha terus memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit itu. Sehingga, keseimbangannya tidak seimbang. Pandangannya pun mulai kabur dan hampir membuat tubuhnya jatuh ke lantai. Namun, seseorang menangkap bahu gadis itu dengan cepat.


Natasha melihat ke arah laki-laki yang menahannya agar tetap berdiri itu. Meskipun pandangannya mulai gelap tapi gadis itu tetap mengenali laki-laki itu.


"Aldi." ucap Natasha pada laki-laki yang sedang menahannya itu. Sebelum gadis itu benar-benar pingsan.

__ADS_1


"Sayang! Sayang bangun! Natasha!" ucap laki-laki yang di sebut dengan nama Aldi itu. Ia menepuk pipi Natasha agar gadis itu sadar. Tapi sepertinya gadis tetap menutup matanya, sehingga Aldi langsung mengangkat tubuh gadis itu untuk dibawa ke dalam kamarnya.


Aldi pun sampai di depan pintu kamar gadis itu dan segera membukanya untuk merebahkan tubuh gadis itu. Laki-laki itu pun berhasil menidurkan tubuh Natasha ke tempat tidurnya.


"Sayang, bangun! Kamu jangan membuat aku khawatir gini Natasha." Laki-laki itu nampak terus menepuk pelan pipi Natasha. Berharap gadis itu tersadar dari pingsannya.


Laki-laki itu kembali keluar menuju dapur untuk mengambil baskom berisi air hangat untuk mengompres kening Natasha. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan olehnya. Aldi langsung berlari kembali ke kamar Natasha.


Aldi pun mulai mengompres kan handuk hangat itu ke kening Natasha. Dan tidak lupa juga, ia memberikan minyak angin beraroma terapi itu di bawah hidung gadis itu.


Dan tidak butuh waktu yang lama. Natasha pun tersadar dari pingsannya, dan melihat ke arah Aldi yang sudah berada di sampingnya dengan wajah yang terlihat khawatir. "Sayang."


"Aldi...," panggil gadis itu dengan suara parau-nya.


Aldi pun membantunya untuk tiduran di kepala ranjang empuknya dengan topangan bantal di bawahnya agar gadis itu merasa lebih nyaman. Aldi pun memberinya segera air putih kepada Natasha dan gadis itu pun mengambilnya dan langsung meminum air yang sudah di berikan oleh laki-laki itu.


"Kamu kalau demam di kamar saja, istirahat! Jangan kemana-mana biar kejadian seperti tadi tidak terjadi." ucap Aldi pada Natasha yang sudah memberikan gelas kosong itu kepadanya.


"Maaf, tapi tadi itu aku pengen minum obat dan aku harus mengambilnya kotak obat itu di dapur. Tapi kotak obatnya malah gak ada dan kepalaku bertambah sakit." terang gadis itu kepada Aldi. Sembari memegang kepalanya lagi, meskipun rasa sakitnya mulai berkurang tidak seperti tadi.


"Apakah masih sakit?" tanya laki-laki itu menyentuh kening Natasha.


Natasha hanya menggeleng Kecil. "Sedikit. Tapi sudah agak mendingan kok. Jadi masih bisa di tahan."


"Sayang, kamu harus janji ya sama aku. Kalau ada apa-apa tolong langsung hubungi aku, okey!" ucap Aldi dengan raut wajah khawatirnya. Laki-laki itu tidak ingin kekasihnya menahan sakitnya sendiri, karena dirinya benar-benar khawatir melihat sang kekasih seperti tadi.


Natasha lagi-lagi hanya mengangguk sambil memeluk tubuh laki-laki itu. "Iya, aku janji."


.....


"Berapa?"


"Seratus delapan puluh lima ribu kak," ucap kasir yang menangani pembelinya itu dengan ramah.


"Ini."


"Baik... uangnya dua ratus ribu ya kakak dan kembaliannya-"


"Udah buat kamu aja. Aku gak mau uang receh!" ucap gadis itu yang tak lain adalah Lia. Gadis itu sedang berbelanja bermacam cemilan untuk dirinya saat di rumah. Karena gadis itu tinggal di sebuah apartemen seorang diri, karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri.


Alhasil, gadis itu tumbuh dengan sendirinya tanpa ada bimbingan dari kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya hanya mengirimkan sejumlah uang dengan nominal yang tinggi kepada sang anak agar gadis itu dapat membeli apa saja yang gadis itu mau.


"Wah!! Terimakasih, banyak kakak." ucap seorang gadis yang menjadi kasir di sebuah market yang melayani Lia. Gadis itu mengucapkan terimakasih kepada Lia karena sudah memberinya uang kembaliannya untuk dirinya. Anggap saja itu sebagai tips untuknya.


"Sama-sama." setelah itu. Lia pun keluar menuju mobil yang di Kendarai nya itu. Dengan meletakkan barang yang ia beli baru saja ke dalam bagasi belakang. Ia dengan santai masuk ke dalam mobilnya dan pergi melesat meninggalkan market itu.

__ADS_1


Lia mengendarai mobilnya sembari mendengarkan musik favoritnya. Musik yang selalu gadis itu putar berkali-kali. Candy - NCT Dream. itulah lagu yang sering di putarnya saat berada di dalam mobilnya. Ya! Gadis itu seorang NCTZEN atau bisa lebih dikenal dengan sebutan Sijeuni sejak dua tahun terakhir ini.


Gadis dengan keturunan Tionghoa-Jakarta itu sangat menyukai musik K-Pop apalagi dengan boyband bernama NCT DREAM itu.


Ting!! Ting!!


Klakson mobilnya pun terdengar nyaring saat gadis itu sudah berada di depan pagar rumahnya. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki yang sudah berumur terlihat keluar dari rumah besar itu dan langsung membukakan pintu untuk gadis itu.


"Silahkan Non." ucap laki-laki yang sudah berumur itu.


"Terimakasih, pak."


Lia pun masuk saat pintu pagar rumahnya telah di buka oleh laki-laki berumur itu. Nampaknya laki-laki yang sudah berumur itu adalah seorang tukang kebun di keluarga gadis itu.


"Pak! Tolong mobilnya di simpan ke bagasi belakang ya." ucap Lia pada bapak itu dengan melemparkan kunci mobilnya.


Bapak itu pun dengan cepat menangkap kunci tersebut, sembari membungkukkan badannya hormat kepada sang majikan. "Baik, Non Lia."


Gadis itu masuk ke dalam dengan membawa beberapa tote bab yang berisi snack yang baru ia beli tadi di market. Ia pun membawanya masuk ke dalam rumahnya dengan sedikit kesulitan, karena memang barang bawaannya itu terlihat begitu banyak. Apalagi dengan Tote bag nya yang ukuran besar.


"Non Lia mari saya bantu bawa." ucap seorang wanita paruh baya yang terlihat menggunakan celemek di tubuhnya.


"Oh, iya makasih bibi. Tolong bawakan ke dalam kamar ya." ucap Lia dengan menyerahkan beberapa tote bag nya itu kepada sang pembantu.


"Baik, non Lia." Wanita paruh baya itu pun mengikuti langkah Lia menuju ke arah kamarnya dengan barang-barangnya yang di belinya.


"Letakkan saja di situ bibi, biar aku sendiri yang menatanya nanti." ucap Lia saat gadis itu telah sampai di kamarnya.


Bibi itu pun menganggukkan kepalanya. "Baik non."


Setelah itu bibi itu pun keluar dari kamar sang majikan dengan menutup kembali pintu kamarnya. Sedangkan Lia sendiri langsung ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket akibat seharian beraktivitas di luar.


Setelah lima belas menit kemudian. Gadis itu pun selesai membersihkan dirinya. Ia pun keluar dengan pakaiannya yang hanya menggunakan celana pendek di atas paha dan menggunakan kaos putih polos untuk atasannya.


Kemudian, gadis itu langsung mengangkat semua Tote bag nya ke atas ranjangnya. Kemudian, mengeluarkan semua snack snack nya. Sehingga ranjangnya pun di penuhi camilan yang ia beli.


"Hm.. aku harus meletakkan semua snack snack sebanyak ini di mana? Lemari itu sudah penuh dengan cemilan yang aku beli kemarin. Sedangkan yang ini...," Lia bergumam sendiri saat melihat camilan yang di belinya itu ternyata sangat banyak.


Sehingga, gadis itu bingung sendiri harus menyimpannya di mana lagi. Karena lemari yang memang dikhususkan untuk tempat camilan itu sudah penuh semua.


.


.


.

__ADS_1


...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....


... Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...


__ADS_2