
Episode Sebelumnya..
"Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakannya. Tapi, aku mohon.. jadikan aku seseorang yang dapat kamu percayai Anita. Karena aku benar-benar ingin berada di dekatmu." ucap Tommy dengan penuh kejujuran. Ia juga menggenggam erat tangan gadis itu.
"Aku...," ucap Anita sembari menatap Tommy dengan perasaan yang takut.
Tommy pun mengangguk sambil menunggu kelanjutan dari cerita gadis itu. "Iya...?"
"Aku... aku di-"
"Ini nak pesanannya, bakso dua mangkuk." ucap ibu penjual bakso itu memotong ucapan Anita. Sehingga gadis itu langsung melepaskan genggaman laki-laki itu.
"Terimakasih, ibu." ucap Anita sopan pada ibu penjual bakso itu.
"Sama-sama nak. Ayo, dimakan nanti keburu dingin baksonya."
Anita pun mengangguk sembari tersenyum simpul pada wanita paruh baya itu. "Iya, ibu. Terimakasih."
Tommy yang sedari tadi ingin mendengarkan cerita Anita. Harus menghela nafasnya, apa yang ingin di ketahui nya dari gadis itu malah sesuai ekspektasinya. Haruskah, Tommy marah kepada ibu penjual bakso itu? Tentu saja tidak! Ibu itu juga tidak salah apa-apa tentang hal ini. Jadi.. bagaimana mungkin laki-laki itu membencinya.
'Mungkin belum saatnya aku mengetahuinya.' gumam Tommy dalam hatinya.
"Kamu pesan bakso juga?" tanya Anita pada laki-laki di depannya itu.
Tommy yang melihat gadis itu hanya menganggukkan kepalanya. "Iya, aku pesan itu. Biar kita samaan makannya."
Anita tersenyum kecil saat mendengar ucapan Tommy yang terlihat dingin kepadanya. Namun, gadis itu memilih untuk memakan baksonya yang ibu tadi bawakan.
Tommy pun memakan baksonya saat gadis itu meletakkan pesanannya di depannya dan tidak lupa dengan teh es manis yang mereka pesan. Meskipun laki-laki itu kesal karena tidak dapat mengetahui tentang gadis itu, tapi ia harus makan siang sembari menemani gadis itu.
...****...
"Sampai ketemu lagi besok." ucap Tommy saat ia telah sampai di rumah kediaman Anita.
"Terimakasih banyak sudah menjemput dan mengantarkan aku pulang," ucap Anita pada Tommy. Saat dirinya sudah turun dari motor itu.
__ADS_1
Tommy pun hanya bisa mengangguk kecil dan menepuk pundak gadis pelan. "Sama-sama. Aku juga senang karena kita bisa berangkat dan pulang bareng seperti ini."
"Yaudah kalau begitu aku pergi dulu." sambungnya lagi. Dan Tommy pun pergi dengan mengendarai motornya dan menghilang dari pandangan gadis itu.
Anita pun langsung masuk ke dalam rumahnya. Dan saat gadis itu hendak ke dapur, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakangnya.
"Noona Anita," panggil orang itu. Dan Anita pun langsung membalikkan badannya dan membulatkan matanya dengan mulut yang di tutup oleh kedua tangannya.
"Bibi Sum?!" gadis itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya itu. Anita pun langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan wanita paruh baya itu.
"Bibi Sum...," ucap gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia memeluk tubuh wanita paruh baya itu dengan begitu erat. Wanita yang telah menemaninya sejak kecil, dia juga yang telah merawat Anita sejak kejadian beberapa tahun lalu yang menerpa kedua orang tuanya yang membuat gadis itu kini berubah menjadi sosok yang sering menghindari orang-orang.
Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini. Wanita itu benar-benar tidak tau. Gadis itu berubah sejak menginjak usia remajanya, karena waktu kecil gadis itu dikenal sebagai seorang gadis yang ceria dan begitu manis. Suka bergaul dengan orang-orang yang baru dikenalnya.
Tapi, sekarang gadis yang pernah di rawatnya hingga masuk ke universitas negeri. Sosok itu tiba-tiba berubah menjadi seratus delapan puluh derajat berbeda dengan yang pernah ia lihat waktu dulu.
"Noona.. bagaimana kabar Noona Anita?" tanya bibi Sum saat mereka telah melepaskan pelukannya.
"Hiks! Aku baik-baik saja bibi. Baik-baik saja." sahut Anita dengan air matanya yang tumpah di pipinya.
"Hiks!!! Bibi Sum.. bibi kemana saja selama ini? Nita sangat merindukan bibi Sum. Hiks!!!" ujar Anita dengan tangisannya yang mulai membuncah itu.
"Bibi ada di kampung Noona. Maaf, jika selama ini bibi tidak pernah memberikan kabar kepada Noona. Karena bibi harus mengurus anak bibi yang lagi sakit Noona." ucap bibi Sum dengan menghapus air mata majikannya yang sudah mengalir deras itu.
"Bibi.. aku senang jika bibi Sum sudah kembali lagi. Hiks!!! Bibi Sum jangan pergi lagi ya ninggalin Nita ya. Ajak anak bibi Sum juga ke sini supaya bibi Sum tidak bolak-balik lagi ke kampung." ucap Anita dengan isak tangisnya.
Bibi Sum hanya menggelengkan kepalanya. "Anak bibi sudah pergi Noona. Dia sudah bahagia dan tidak merasakan kesakitan lagi, hiks!!"
"Bibi... hiks! Maafin Nita." ucap Anita sembari memeluk kembali wanita paruh baya itu. Wanita yang telah ia anggap sebagai keluarganya.
"Tidak Noona. Noona Anita tidak salah! Harusnya, bibi Sum yang minta maaf sama Noona Anita karena dulu pergi tanpa memberitahukan Noona Anita. Sekali lagi maafkan saya non." ucap bibi Sum sembari membungkukkan badannya hormat. Kemudian, bibi Sum langsung menjatuhkan dirinya dan langsung memeluk kaki majikannya itu.
"Bibi! Ayo bangun bibi. Bibi Sum ngapain sujud di kaki Nita. Ayo bangun bibi." ucap Anita sembari membantu bibi Sum bangun dari tempatnya.
"Maafkan bibi Noona."
__ADS_1
"Iya, bibi. Nita maafkan. Sekarang, ayo bangun!"
"Baik Noona Anita."
"Sekarang, ayo kita duduk dulu bibi." ucap gadis itu sembari menuntut bibinya itu ke arah ruang tengah.
Gadis itu langsung mengambilkan air minum untuk bibinya itu. Dan langsung menyerahkannya kepada wanita paruh baya itu.
"Terimakasih, Noona." ucap bibi Sum. Dan langsung meneguk air minum yang diambilkan oleh sang majikannya itu.
"Bibi Sum setelah ini. Bibi Sum istirahat saja ya." ujar Anita sembari mengusap punggung bibinya itu dengan lembut.
"Tapi, Noona Anita. Saya-"
Anita langsung menggelengkan kepalanya dan menatap tajam ke arah sang bibinya. "Jangan membantah bibi Sum! Jika aku suruh bibi Sum istirahat! Iya istirahat! Jangan banyak membantah! Mengerti?"
Wanita paruh baya itu hanya tersenyum kecil dengan matanya yang kembali berkaca-kaca. Lalu, wanita itu menganggukkan kepalanya karena sang majikan telah memerintahkannya untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Baik Noona Anita," ucap sang bibi. "Kalau begitu, saya permisi dulu buat ke kamar ya Noona."
Anita mengangguk. "Iya bibi Sum."
"Noona Anita kalau membutuhkan sesuatu. Tinggal bilang ke bibi ya non. Bibi akan langsung membuatnya untuk Noona Anita." ucap wanita paruh baya itu sebelum pergi ke kamarnya.
"Iya, bibi Sum jangan khawatir."
.
.
.
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...
__ADS_1