
Episode Sebelumnya..
"Desi maafkan aku. Sungguh, aku tidak sadar melakukannya." ucap laki-laki itu sembari mengeratkan genggaman tangannya pada gadis itu.
Desi hanya menggelengkan kepalanya. "Iya, tidak apa-apa kok."
"Sekali lagi, maafkan aku."
Desi mengangguk kecil. "Sebaiknya, kamu pergi. Aku juga ingin beristirahat karena kepalaku mulai pusing."
Aldi pun hanya mengangguk kecil dan melepaskan tangannya pada gadis itu. "Yaudah, kalau begitu. Aku pulang ya, kamu istirahatlah. Jangan lupa juga minum obatnya."
Desi pun langsung menganggukkan kepalanya. "Iya."
Setelah itu, laki-laki atau pun pergi dari apartemen gadis itu dengan Desi yang mengantarkannya ke depan pintu. Lalu, laki-laki itu pun pergi dengan Desi yang sudah menutup pintu apartemennya.
"Ah, kenapa kepalaku semakin berdenyut seperti ini," ucap Desi dengan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit itu. Kemudian, gadis itu memilih untuk kembali ke dalam kamarnya saat dirinya sudah meminum obat pereda sakit. Dan menidurkan tubuhnya dengan menutup kedua matanya.
Dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Gadis itu pun terlelap di balik selimut tebalnya.
Sedangkan di dalam mobil. Aldi mencoba mengatur nafasnya yang memburu. Lalu, ponselnya yang ada di dalam sakunya berdering. Ia pun langsung mengambilnya dan langsung mengangkatnya. "Halo!"
"Iya, sayang. Aku akan segera ke sana! Kamu tunggu di sana ya." ucap laki-laki itu saat mengangkat telpon dari seseorang.
"I love you too sayang." ucapnya lagi sembari memberikan kecupan manis pada seseorang lewat ponselnya yang masih tersambung itu. Laki-laki itu kemudian mengembalikan benda pipih itu ke dalam sakunya lagi dan ia pun segera pergi dari parkiran apartemen Desi.
...****...
Keesokan harinya, pagi pun menampakkan cahayanya yang bersinar. Menyilaukan mata seorang gadis yang masih berbalut selimut itu sehingga membuatnya menggeliat. Gadis itu pun membuka matanya secara perlahan dan meraih ponsel yang ada di meja samping tempat tidurnya.
Jam pun sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Gadis itu duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawanya yang belum tersadar seratus persen itu.
Setelah beberapa menit kemudian. Gadis itu bergegas mengambil handuk yang tergantung di gantungan samping kamar mandinya. Lalu, ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri, gadis itu pun keluar dengan seragam sekolahnya dan mengemas buku-buku yang ingin ia bawa ke kampus dan segera keluar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuknya.
Ting Tong!!!
Saat gadis itu keluar dari kamarnya, terdengar suara bel rumahnya berbunyi. Sesaat gadis itu terdiam saat mendengar bel tersebut.
'Siapa?' gumam gadis itu dalam hati. Gadis lalu berjalan menuju pintu dan mengintip dari balik jendela rumahnya.
'Dia?' batinnya. Gadis itu pun langsung membukakan pintu setelah melihat siapa yang datang.
"Hai selamat pagi Anita." sapa seorang laki-laki dengan senyumannya yang terlihat manis itu.
Anita melihat laki-laki itu dengan pandangan datar. Seakan ia bertanya-tanya untuk apa laki-laki itu datang kerumahnya? Karena tak ingin dilihat oleh orang-orang. Anita pun langsung mempersilahkan laki-laki itu untuk masuk.
"Silahkan, duduk." ucap gadis itu sembari mempersilahkan laki-laki itu di ruang tengahnya.
"Oke!" ucap laki-laki itu dan langsung duduk di sofa di ruangan itu.
Anita pun langsung ke dapur untuk menyiapkan air minum untuk laki-laki itu. Sekaligus membuat sarapan pagi untuknya. Anita menyiapkan minuman rasa jeruk yang ada di dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas. Setelah itu, gadis itu langsung menyiapkan sarapan pagi untuknya dengan dua lembar roti dengan isian coklat, setelah itu ia meletakkan roti beserta minuman untuk laki-laki yang ada di ruang tengahnya itu di nampan.
__ADS_1
"Minumlah...," ucap Anita saat minuman yang ia buat diletakkannya tepat di depan laki-laki itu.
"Itu punya siapa?" tanya laki-laki itu sembari menunjuk ke arah nampan yang berisi roti itu pada Anita.
Anita pun yang melihat arah telunjuk laki-laki itu segera mengambil roti tersebut. "Ini?"
Laki-laki itu mengangguk. "Hooh. Itu buat aku juga kah?"
"Tidak! Ini punyaku." ucap Anita sembari menggigit roti yang baru saja gadis itu pegang. Lalu, mengunyahnya perlahan-lahan sembari memainkan ponselnya.
Gadis itu melirik ke arah laki-laki itu saat laki-laki itu tengah menatapnya. Lebih tepatnya, laki-laki itu menatap roti yang di pegang oleh Anita.
"Kamu mau?" tanya gadis itu pada laki-laki itu.
Laki-laki itu langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, mau. Kebetulan aku belum sarapan pagi."
Anita pun langsung berdiri dari tempatnya dan menuju ke arah dapur. Kemudian, ia mengambil dua lembar roti dan memoleskan selai coklat di atas roti itu, lalu gadis itu meletakkan kembali roti diatasnya. Setelah itu, Anita kembali ke ruang tengahnya dengan piring berisi roti itu.
"Makanlah, aku hanya ada ini. Karena aku belum belanja." ucap Anita saat sudah meletakkan roti itu di depan laki-laki itu.
"Terimakasih." ucap laki-laki itu. Dan langsung mengambil roti yang dibuatkan sama gadis itu dan melahapnya dengan wajah tersenyum.
Anita yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala dan kembali menggigit rotinya yang tinggal setengah itu. Keduanya pun sarapan paginya dengan hening.
"Biar aku bantu," ucap laki-laki itu sembari membawa piring serta gelas yang baru saja ia gunakan ke dapur.
"Tidak usah!"
Setelah beberapa saat kemudian, Anita muncul dari dapur dan berjalan ke arahnya. "Sudah selesai? Yuk berangkat sekarang!"
"Berangkat kemana?" tanya gadis itu dengan kening yang berkerut.
"Ke sekolah lah, kemana lagi. Memangnya, kamu pikir aku akan membawamu kemana?" tanya laki-laki balik.
"Kita kan satu sekolah, dan satu arah juga. Jadi.. aku berniat menjemputmu biar kita bisa berangkatnya bareng-bareng. Iya, itung-itung buat kencan pertama kita." sambungnya lagi. Dan itu membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan mata yang melebar.
Melihat itu laki-laki itu hanya tertawa dan kemudian mengusap-usap rambut gadis itu sehingga rambutnya jadi berantakan akibat ulah laki-laki itu.
"Hei!!!" Anita melepaskan tangan laki-laki itu dari kepalanya. Dan merapikan kembali rambutnya yang terlihat sudah berantakan.
"Sudah! Jangan di pikirin, aku hanya bercanda kok barusan. Yaudah yuk kita berangkat ini sudah waktunya." ucap laki-laki itu dengan menarik tangan Anita menuju pintu.
"Kamu pakai motor?" tanya Anita saat keduanya sudah berada di depan rumah gadis itu.
Laki-laki yang sedang membenarkan pengait helm untuk Anita menoleh. "Iya, aku pakai motor. Kenapa? Kamu gak suka ya?"
Anita menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, soalnya kemarin kan kamu pakai mobil."
"Oh, itu. Itu aku pinjam mobilnya papa. Soalnya kemarin motorku lagi di benerin dulu di bengkel." ujar laki-laki itu.
"Oh iya. Kita belum kenalan kan ya? Kenalin nama aku Tommy." ucap laki-laki itu sembari mengulurkan tangannya saat menyebutkan namanya.
Anita pun yang awalnya ingin tau nama laki-laki itu akhirnya membalas uluran tangan laki-laki itu. "Anita."
__ADS_1
"Aku sudah tau kok."
Anita mengernyitkan dahinya. "Kamu tau namaku dari siapa? Soalnya seingat aku, aku belum memberitahumu tentang namaku."
"Oh, itu...," Tommy nampak menggaruk tengkuknya lehernya. Dirinya tidak tau harus berkata apa tentang dirinya tau nama gadis itu dari siapa. Laki-laki itu juga memejamkan matanya sejenak.
"Eh, itu...,"
Anita lagi-lagi mengerucutkan keningnya. "Dari siapa?"
"Dari... dari Natasha! Ya! Aku tau nama kamu dari dia dan kedua temannya. Iya, bener." ucap laki-laki itu bohong.
"Benarkah, begitu?" tanya Anita lagi. Karena gadis itu nampak tidak percaya dengan perkataan laki-laki di hadapannya itu.
"Iya, bener kok! Yaudah yuk naik! Nanti kita berdua telat." ucap Tommy mengalihkan pembicaraan.
Anita pun langsung menganggukkan kepalanya dan langsung naik ke belakang laki-laki itu. Kemudian, mereka berdua pun pergi dengan menaiki motor punya Tommy.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit. Keduanya pun sampai di kampus universitas mereka. Anita pun langsung turun dari motor Tommy dan langsung melepaskan pengait helm yang di pakainya itu. Namun, tak kunjung terlepas, sehingga Tommy yang melihatnya langsung membalikkan badan gadis itu dan melepaskan pengait helm tersebut.
"Sudah," ucap Tommy saat sudah melepaskan helm itu dari kepala gadis itu.
"Terimakasih," balas Anita sembari merapikan rambutnya yang kembali berantakan akibat terpaan angin saat naik motor bersama dengan laki-laki di hadapannya itu.
"Hai, selamat pagi." suara Natasha terdengar dari arah belakang Anita. Dan membuat keduanya melihat ke arah ketiga gadis yang kini sudah berada di depan mereka.
Anita melirik ke arah Tommy dan beralih menatap ke arah ketiga gadis itu sembari menunjukkan senyumannya. "Selamat pagi."
"Kalian, berangkat bareng ya?" tanya Lia yang ada di belakang Natasha.
"Kalau memang iya, kenapa?" sahut Tommy dengan tatapan dinginnya.
"Hei santai dong! Kita cuma menyapa kalian berdua saja, kenapa kamu malah membalas kita dengan begitu dingin." balas Lia. Dengan senyuman yang sinis pada Anita.
"Tidak ada kok! Kita hanya menyapa kalian saja. Yaudah kalau begitu, kita pergi. Ayo girls kita pergi dari sini." ucap Natasha dengan menatap ke arah laki-laki yang ada di belakang Anita, kemudian melihat ke arah Anita dengan pandangannya yang sangat dingin.
Berbeda saat gadis itu menatap ke arah laki-laki di belakang Anita. Anita pun hanya menundukkan kepalanya saat mendapatkan tatapan mata dari gadis berambut pirang itu.
"Bye!! Tommy."
"Dasar sinting!" ucap Tommy saat ketiga gadis itu sudah pergi.
"Anita, kita ke kelas sekarang!" ucap Tommy sembari menggenggam tangan Anita dengan erat.
.
.
.
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...
__ADS_1