
Episode Sebelumnya..
"Iya, bibi Sum. Kenapa?"
Bibi Sum hanya menyodorkan sepiring buah yang sudah wanita itu potong-potong dan juga sudah dibersihkan kepada Anita sang majikan. "Ini Noona Anita. Saya bawakan Noona buah yang sudah di potong-potong. Saya tau Noona Anita tidak pernah makan saat malam, jadi.. saya membawakan buah ini untuk Noona."
Anita menolehkan kepalanya ke arah piring yang berisi buah yang sudah di potong-potong itu. Lalu,. gadis itu mengambilnya dan kembali menatap wajah bibi Sum nya. "Terimakasih ya bibi. Aku pasti akan memakannya nanti."
"Baik, Noona. Yaudah, kalau begitu. Saya permisi dulu Noona." pamit bibi Sum pada gadis itu. Dan wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan sang majikan.
Anita yang memegang buah yang sudah di siapkan oleh bibi nya hanya menarik nafas panjang. Dan kemudian, ia pun masuk kembali ke dalam kamarnya.
...****...
Anita meletakkan piring tersebut di atas mejanya dan kembali menatap dirinya ke arah cermin dengan pandangannya yang lekat tertuju pada perutnya yang terlihat buncit itu.
"Padahal, aku sudah melakukan segala cara agar berat badanku bisa turun. Tapi.. lagi-lagi aku selalu gagal. Sepertinya aku memang di takdirkan seperti ini. Aku tidak bisa memiliki bentuk tubuh seperti yang lain. Hiks!" lirih gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia mengatur nafasnya yang terasa sesak di dadanya.
"Sepertinya aku memang di takdirkan menjadi bulan-bulanan mereka. Hiks!"
Aldi dan Desi akhirnya sampai di depan apartemen yang terlihat menjulang tinggi itu. Kemudian, gadis itu hendak keluar dari mobil Aldi. Namun, laki-laki itu menahannya, sehingga membuat Desi kembali ke posisinya semula.
__ADS_1
Desi menatap ke arah laki-laki itu dengan pandangannya yang tanpa ekspresi. Lain seperti Aldi yang menundukkan kepalanya sembari menghembuskan nafasnya berat.
Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sehingga gadis itu mulai mengalihkan pandangannya ke arah luar, nampak sepi di depan apartemen yang terbaik mewah ini. Hanya ada pos satpam yang berjaga di sana.
"Jika tidak ada yang dibicarakan, lebih baik aku pergi." ucap Desi dengan membuka pintu mobil milik laki-laki itu.
Lagi-lagi Aldi menahan tangan gadis itu. "Tunggu!!"
"Apa yang harus aku tunggu Aldi?!" ucap Desi yang mulai terbawa emosinya. "Aku sudah berada di sini dua puluh menitan, dan kamu masih belum mengatakan apa-apa padaku! Lalu, apa lagi yang harus aku tunggu?" sambungnya lagi dengan nafasnya yang memburu.
"Maafkan, aku." ucap Aldi lirih. Laki-laki itu masih dengan kepalanya yang menunduk.
Desi nampak enggan untuk menoleh kembali ke arah laki-laki itu. Entah kenapa sejak dirinya datang ke rumah temannya. Gadis itu sudah menahan semua rasa sesaknya. Matanya yang mulai berkaca-kaca segera di hapusnya agar tidak jatuh.
"Maafkan aku."
Lagi-lagi ucapan itu yang di dengar oleh Desi. Sungguh, gadis itu merasa sangat sesak jika terus berada di dalam mobil itu tanpa adanya pembicaraan yang keluar dari keduanya.
Gadis itu pun langsung membuka pintu mobil milik Aldi. Dan segera menutupnya dengan keras. Gadis itu pun pergi meninggalkan laki-laki itu masuk ke dalam gedung apartemennya, tanpa menoleh kembali ke belakang.
Aldi yang melihat kepergian gadis itu hanya menatapnya dengan tatapan sedihnya. Ia tau bahwa gadis itu sedang menahan tangisnya. Begitu juga dengan dirinya. Laki-laki itu bahkan tidak bisa mengatakan apapun kepada gadis itu dan hanya mengucapkan dua kata (Maafkan aku) yang mungkin gadis itu tidak tau dari maksudnya.
__ADS_1
Aldi menyenderkan kepalanya pada kepala kursi. Dan sesekali terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari mulutnya.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk terdengar di telinganya. Ia melirik benda pipih yang ia letakkan di sampingnya itu, diraihnya ponsel miliknya dan membuka pesan itu.
'Sayang.. kamu sudah sampai di rumah kah? Jangan lupa makan malamnya, dan istirahatlah lebih cepat! Aku mencintaimu.'
Begitulah isi pesan tersebut. Aldi yang melihat pesan tersebut hanya tersenyum kecil dan kembali menatap ke arah gedung apartemen Desi. Kemudian, laki-laki itu pergi dari tempat itu menuju ke rumahnya.
Sedangkan, di sisi lain. Desi bersembunyi di balik pintu koridor gedungnya. Menatap ke arah mobil yang sudah menjauh itu, air matanya yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa seijinnya.
.
.
.
...Terimakasih buat kalian semua atas sempatnya sudah mampir ke novel aku yang amburadul ini. Maaf, Jika novel ini masih gak jelas ya! Mohon Dimaafkan, karena saya juga masih pemula untuk belajar membuat novel. Meskipun novelku sangatlah membosankan! Sekali lagi mohon dimaafkan ya....
...Untuk itu jangan lupa untuk tinggalkan like ya, bagi yang berbaik hati. Sekali lagi terimakasih banyak sudah mampir. 🙏...
__ADS_1