
"jadi begitu ya?" tanya Tanjiro pada resepsionis yang mulai menceritakan tentang penyewa sebelumnya yang meninggal di dungeon.
"iya dari yang kudengar dia mencoba memasuki dungeon bahkan tanpa menerima berkah dari dewa, terlebih dia masuk seorang diri"
"eh.."mendengar itu tanjiro sedikit gugup karena awalnya dia ingin memasuki dungeon tanpa menerima berkah dari dewa karena penasaran dengan bagian dalam dungeon.
"sungguh orang yang bodoh berpikir untuk masuk dungeon dengan tubuh lemah seorang diri" tambah resepsionis itu.
"apa kau yakin orang itu tidak memiliki berkah dari dewa" tanya tanjiro kembali padanya.
"benar sekali, saat mayatnya ditemukan dan ingin diidentifikasi ternyata di punggungnya tidak ada lambang dewa mana dia berasal" resepsionis itu menceritakan jika petualang meninggal lambang dewa yang berada di punggung korban adalah cara tercepat mengidentifikasinya "tapi untungnya salah satu orang yang menemukan mayatnya pernah melihatnya di penginapan ini jadi dia memberitahukan penginapan"
"nona apakah anda yakin korban bernama Raymond" kali ini Simon kembali ikut pembicaraan yang sebelumnya dia terlihat seperti memikirkan sesuatu.
"iya aku ingat wajahnya dan aku juga melihat dia menulis namanya untuk registrasi"
"aku mengerti"
Setelah sampai lobby penginapan wanita resepsionis kembali ke konternya untuk bekerja kembali, tanjiro tidak lupa untuk memberi salam padanya dan mengatakan untuk kembali setelah membawa barang yang ditinggalkan di penginapan sebelumnya.
Sementara itu Simon sudah diluar penginapan dan terlihat masih memikirkan sesuatu, karena penasaran tanjiro mencoba untuk bertanya padanya "Simon-san kamu baik baik saja, apa yang sedang kamu pikirkan?"
"ah.. maaf tanjiro.."setelah diam beberapa saat Simon akhirnya menjelaskan apa yang saat ini dia pikirkan "sebenarnya tanjiro apa kau ingat dengan orang yang aku usir dari caravan kita saat itu"
"aku ingat, simon-san apa maksudmu"
"ya ..seperti yang kau pikirkan tanjiro, dia sempat memperkenalkan diri sebelumnya"
"..."
"dia memberitahu kami bahwa dia memiliki nama yang sama dengan korban yang kita bicarakan sebelumnya, Raymond"
Mendengar apa yang dikatakan Simon, Tanjiro merasa menyesal karena saat itu dia tidak menghentikannya.
Melihat wajah murung tanjiro, Simon mencoba memberi semangat kembali pada tanjiro.
__ADS_1
"tanjiro kau tidak perlu merasa bersalah, kalaupun yang bisa disalahkan dari tragedi ini adalah dirinya sendiri karena sangat ceroboh, lagipula ini hanya perkiraanku mungkin saja orang itu adalah Raymond yang lain" tambah Raymond untuk membuat tanjiro merasa lebih baik.
***
Setelah pergi dari penginapan laba-laba hitam Tanjiro kembali ke penginapan dimana dia tinggal dan langsung mengemasi barang-barangnya yang hanya sedikit.
Dengan membawa ransel di punggungnya dan juga koin valis yang masih tersisa tanjiro berpamitan dengan semua pekerja di penginapan itu.
Mereka semua terkejut karena tanjiro mendatangi mereka hanya untuk berpamitan, sebagai pelanggan adalah hal yang biasa untuk pergi menghilang seenaknya dan jarang sekali ada yang memiliki sopan santun seperti tanjiro.
"jadi kau sudah menemukan penginapan lain nak?" tanya paman resepsionis.
"benar paman, aku sudah menemukannya"
"baguslah apa kamu berencana untuk tinggal terus di penginapan"
"tidak , beberapa hari kedepan aku berniat pergi ke kerajaan beltane bersama teman temanku" jawab tanjiro.
"kerajaan beltane?"
"apakah anda tahu kerajaan itu paman"
Setelah selesai berpamitan tanjiro kembali ke penginapan laba laba hitam, karena tanjiro sudah membayar kamarnya tanjiro langsung memasuki kamarnya setelah menyapa resepsionis wanita yang dikenalnya pagi tadi.
Setelah menyimpan barangnya di kamar Tanjiro membawa beberapa koin lalu dia berniat pergi ke guild persekutuan untuk memberitahu Rose Fannett tentang rencana kepergiannya ke kerajaan beltane.
Seperti biasa guild persekutuan penuh dengan banyak sekali petualang yang keluar dan masuk gedung.
Dan di suatu bilik ruangan di bagian lobby guild persekutuan terlihat dua sosok yang duduk saling berhadapan.
Salah satunya adalah seorang wanita cantik dengan tubuh yang indah dan diberkahi dengan baik, memiliki rambut berwarna merah terang yang panjang, juga mata kuning yang terlihat tajam namun sayu dan dingin menghiasi wajahnya yang cantik juga elegan.
Sementara itu sosok yang duduk berlawanan dengannya adalah seorang pria muda dengan rambut merah gelap yang terlihat sedikit acak acakan, wajahnya terlihat ramah dengan mata merah Ruby yang terlihat lembut, pemuda itu juga terlihat mencolok dengan sebuah bekas luka seperti api didahi kirinya dan hal mencolok lainnya adalah anting anting yang terlihat bergambar matahari terbit di kedua daun telinganya.
Kedua sosok itu adalah tanjiro dan rose fannett resepsionis guild persekutuan yang dia kenal kemarin.
__ADS_1
"jadi kamu berencana pergi?" tanya rose dengan nada dinginnya seperti biasa.
"iya Fannett-san, aku berencana pergi untuk beberapa hari atau Minggu kedepan untuk membantu melakukan perburuan monster dengan temanku"
"perburuan monster? hmm.." tanjiro melihat rose sedikit mengerutkan dahinya saat tanjiro berkata dia akan melakukan perburuan monster "kamado apa kau sudah bergabung dengan sebuah familia" tanyanya pada tanjiro dengan nada yang terdengar kesal.
"tidak, aku belum " jawab tanjiro tanpa menyembunyikan apapun, tanjiro bisa mencium bau kekecewaan dan sedikit amarah yang memancar dari rose.
"kau yang belum memiliki berkah mencoba membantu memburu monster yang tidak diketahui" nada suara rose semakin dingin dan dia menambahkan kata kata yang akan mungkin membuat orang lain terluka "kamado apa kau merasa besar diri, tanpa berkah dari dewa kau tidak akan bisa membantu yang ada mungkin kau akan menjadi beban"
"tidak aku-"
"kau tidak perlu berkata apa-apa lagi, jika anda merasa diri anda hebat sepertinya aku tidak diperlukan" tanjiro bisa mencium bau amarah yang tiba tiba muncul lebih kuat dari rose meskipun wajahnya tetap tanpa ekspresi.
"Fannett-san aku-" sebelum tanjiro bisa menyelesaikannya rose berdiri dan berjalan keluar ruangan.
"lakukan apa yang kau mau" jawab rose dengan nada ketus.
Tanjiro hanya bisa menatap punggungnya lalu berkata "aku akan pergi dua hari kedepan, Fannett-san terima kasih banyak atas semuanya" sambil menundukkan kepala tanjiro mengatakannya cukup keras dan tanjiro yakin rose bisa mendengarnya.
Melihat rose yang terlihat terus berjalan tanjiro hanya bisa tersenyum sedih dan bersiap meninggalkan guild persekutuan, di sudut matanya tanjiro bisa melihat Eina Tulle yang terlihat khawatir dengan perselisihan kami tapi karena banyak petualang yang mengantri di depan mejanya dia tidak bisa mendekat dan bertanya pada tanjiro.
Melihat gelagat Eina tanjiro hanya tersenyum dan melambaikan tangan lalu segera berpamitan dengannya.
***
Rose Fannett sudah menjadi karyawan serikat persekutuan cukup lama, dan saat ini dia sudah berumur 28 tahun.
Rose cukup terkenal diantara para petualang dan banyak sekali yang menyatakan cinta padanya.
Tetapi rose selalu bersikap dingin dan profesional didepan mereka, jadi dia menolak semua pengakuan cinta dari para petualang.
Tetapi selain karena profesionalitas alasan rose menolak mereka adalah karena dia tidak ingin ditinggal sendirian setelah mereka mati.
Rose sudah banyak sekali memiliki pengalaman kematian dari para petualang yang ditugaskan padanya, bahkan dulu saat dia masih ditugaskan dengan Aiz Wallenstein dia menolak untuk memberitahukan Aiz Wallenstein cara untuk naik level karena rose takut Aiz akan menjadi ceroboh dan berakhir mati karena terburu buru.
__ADS_1
Dan baru saja kemarin Rose mencoba berharap kembali pada seorang pemuda yang terlihat memiliki potensi, tetapi sepertinya pemuda itu juga adalah tipikal orang yang sembrono.
Dan Rose sangat benci tipikal orang seperti itu.