Apakah Salah Jika Pemburu Iblis Mencoba Memasuki Dungeon?

Apakah Salah Jika Pemburu Iblis Mencoba Memasuki Dungeon?
Volume 01, Chapter 30.


__ADS_3

"HAHH" teriak modaka terkejut karena mendengar tanjiro yang belum mendapatkan falna tetapi mencoba untuk membantu monster menakutkan yang dikabarkan dapat membunuh petualang level dua dengan mudah.


"apa kau serius tanjiro" tanya modaka merasa aneh "kau mungkin tidak tahu bahwa monster yang akan kita lawan itu sangat kuat"


"aku sudah diberi tahu seberapa berbahayanya monster itu dari Simon-san, tapi aku ingin menolong mereka" jawab tanjiro melihat raut ketidakpercayaan modaka di wajahnya "modaka-san aku pernah melawan monster yang kemungkinan sama menakutkannya, aku akan berhati hati dan membantu kalian semampuku saja" tambah tanjiro meyakinkan modaka.


"hmm, ya sebaiknya kau berhati hati..kita tidak tahu bahaya apa yang akan terjadi nanti tapi jangan sembrono" jawab modaka.


"aku mengerti modaka-san"


Tanjiro dan modaka berjaga hingga pagi dan ketika waktunya bergiliran tanjiro tertidur hingga hampir siang hari.


Saat kira kira pukul 7 pagi tanjiro terbangun karena dibangunkan yang Roxy, Roxy mengatakan bahwa sudah waktunya untuk sarapan.


Setelah sarapan rombongan bersiap pergi dan formasi iring iringan masih tetap sama seperti sebelumnya dengan rombongan Artemis familia dibagian depan dan rombongan tanjiro dibelakang.


Saat diperjalanan tanjiro melihat kapten dari Ganesha familia terus meliriknya, tanjiro merasa alasan mengapa Shakti Varma kapten dari Ganesha familia terus meliriknya dikarenakan modaka yang kemungkinan memberi tahunya pembicaraan antara tanjiro dan modaka semalam.


Saat siang hari kami memasuki sebuah hutan yang cukup lebat, disana cukup banyak monster yang terlihat tetapi lagi lagi semua monster itu berhasil dikalahkan dengan cepat.


Kami tidak beristirahat pada siang hari dan terus maju didalam hutan, dan ketika menemukan tempat yang cukup lapang di sore hari, kami berhenti dan bersiap mendirikan tenda.


Seperti biasa tanjiro membantu mendirikan tenda dan memasak malam itu tanjiro kembali berjaga malam tetapi kali ini dia tidak berjaga bersama modaka melainkan bersama dengan kapten dari masing masing familia yang datang membantu kami.


Kami bertiga duduk di sekeliling api unggun dan kapten dari Ganesha familia lah yang memulai pembicaraan.


"ini pertama kalinya aku berbicara dengan kalian, biarkan aku memperkenalkan diriku sekali lagi namaku Shakti Varma kapten dari Ganesha familia"


"namaku kamado tanjiro salam kenal Varma-san" jawab tanjiro


"Aku Rethusa salam kenal" jawab singkat dari kapten artemis familia.


"salam kenal Rethusa-san, aku mohon bantuannya" jawab tanjiro dan dibalas dengan anggukan oleh Rethusa.


"jadi Rethusa apakah kamu kapten dari familiamu" tanya Shakti pada gadis berambut merah itu.

__ADS_1


"benar sekali"


"Anggota mu terorganisir dengan baik, itu bukti kehebatanmu dalam memimpin" puji Shakti pada familia Rethusa yang bertarung selama perjalanan ini.


"terima kasih, kami masih belum seberapa jika dengan familia anda yang bisa menjaga kedamaian di orario" jawabnya.


"untuk itu aku sangat berterima kasih pada familia familia lain yang ikut membantu Ganesha familia, guild persekutuan juga Freya dan Loki familia juga ikut ambil bagian dalam menciptakan kedamaian ini yang tidak seburuk di masa lalu"


"aku mengerti, kudengar beberapa tahun lalu setelah Zeus dan Hera familia bubar orario memiliki zaman gelapnya, tetapi sekarang sepertinya sudah jauh lebih baik"


"benar, yang bisa kami lakukan sekarang adalah menjaga kedamaian ini selamanya agar perjuangan para petualang di masa lalu tidak sia sia" jawab Shakti dengan raut wajah yang terlihat sedih sambil mengepalkan tangannya.


Saat tanjiro mendengar percakapan mereka , dia merasa tidak bisa masuk ke dalam pembicaraan.


Tanjiro tidak mengerti seperti apa orario di masa lalu tetapi mendengar percakapan Shakti dan Rethusa barusan, sepertinya kota indah orario yang dilihat tanjiro sebelumnya memiliki masa lalu yang kelam.


"ngomong ngomong tanjiro ada yang ingin aku tanyakan padamu"


Disaat tanjiro masih melamun, tiba tiba Shakti memanggil namanya.


"baik"


'sudah kuduga'


Tanjiro sebenarnya tahu bahwa Shakti kemungkinan akan menanyakan hal ini cepat atau lambat, jadi dia tidak terlalu terkejut karenanya.


"itu benar Varma-san"


"hmmm,kamu tidak pernah menerima falna itu berarti kamu masih tidak memiliki level, ras-mu juga manusia itu berarti kau bukan elf yang bisa memiliki bakar sihir yang bisa didapatkan tanpa falna, tetapi kamu berani untuk membantu mengalahkan monster yang cukup dikenal kekuatannya, aku tidak tahu apakah kau sembrono atau kau sangat percaya diri dengan kemampuanmu" Varma melihat tanjiro dengan mata yang terlihat seperti sedang mengukur Tanjiro "dari yang aku lihat sepertinya tubuhmu juga cukup terlatih"


".." tanjiro hanya diam dan tidak menjawab.


"tanjiro ada perbedaan seseorang yang telah mendapatkan falna dari dewa dengan yang tidak memilikinya, ini demi kebaikanmu, sebaiknya dalam ekspedisi ini kau lebih baik mundur dan menunggu di kerajaan beltane" jawab Shakti


"itu-" tanjiro ingin menyangkalnya tetapi dihentikan oleh Rethusa.

__ADS_1


"lebih baik kau mendengarkan perkataannya anak muda" jawab Rethusa.


"anak muda?"


"dengan kemampuanmu kau tidak akan membantu apapun, ini demi kebaikanmu jangan buang hidupmu dengan kematian yang sia sia" jawabnya


Tanjiro tahu dia hanya tidak ingin tanjiro mengalami bahaya tetapi sebagai pendekar pedang tanjiro merasa sedikit tersinggung dengan kata katanya, tanjiro selalu berjuang hidup dan mati ada pertempuran dimana dia akan berjuang meskipun nyawanya akan berakhir saat itu juga.


Tetapi tanjiro tidak pernah berpikir kematian saat bertarung demi menyelamatkan seseorang adalah suatu kematian yang sia sia, itu adalah kebanggaannya dan harga dirinya sebagai seorang pejuang.


"jika aku tidak mencobanya tidak akan ada yang tahu hasilnya" jawab tanjiro dengan nada jengkel "ini kebanggaanku sebagai pendekar pedang, ada saat dimana aku tidak bisa mundur saat orang orang membutuhkan pertolongan"


Keduanya terkejut dengan jawaban tanjiro barusan, hal ini membuat Shakti yang sekarang melihat tanjiro dengan mata sedih dan kasih sayang, karena tanjiro saat ini benar benar mengingatkannya pada sosok adiknya.


Sementara lain Rethusa terlihat terkejut dan juga jengkel karena anak muda di depannya tidak mau mendengarkan nasihat baiknya.


"bangun anak muda akan aku tunjukan seperti apa kemampuan orang orang yang telah memiliki falna dan ketahuilah batasanmu" sambil berdiri dan perlahan menjauh dari api unggun dia berdiri di tanah yang cukup lapang


"eh" tanjiro terkejut saat Rethusa berdiri dan mengajaknya untuk berduel.


"Rethusa bukankah itu terlalu berlebihan- " Melihat perselisihan ini Shakti mencoba menghentikan Rethusa tetapi kata katanya dihentikan olehnya.


"tenang saja aku akan menahan diri" jawab Rethusa tidak mau berhenti.


Meskipun tanjiro tidak mau bertarung dengan Rethusa, karena tidak ada pilihan lain jadi tanjiro memilih untuk menyanggupinya.


'jika aku cukup kuat dimatanya, mungkin saja dia akan mengakui kemampuan ku' pikir tanjiro sambil berdiri dihadapan Rethusa.


Tanjiro sekali lagi melihat ke arah Rethusa, Rethusa sendiri adalah seorang gadis cantik yang memiliki mata coklat kemerahan dan rambut panjang sedang dengan warna yang sama.


Dia mengenakan pakaian hijau tua dan hijau muda tanpa lengan, selempang coklat dan ikat pinggang coklat dipinggulnya, ada juga kantung coklat kecil yang diikatkan di kedua lengan, dan sarung tangan hitam panjang menghiasi tangannya.


Tanjiro juga melihat pedang berukuran sedang, tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar yang digantung dengan sarung yang menempel pada ikat pinggang dipinggulnya.


Melihat Rethusa yang tidak menarik pedangnya tanjiro juga melakukan hal yang sama dan hanya memasang kuda kuda bertarung tangan kosong.

__ADS_1


"kau bisa menggunakan pedangmu anak muda, tidak perlu bersikap keren dan keluarkan saja seluruh kemampuanmu" kata Rethusa pada tanjiro


'sampai kapan dia terus meremehkanku, lagi pula mengapa dia terus memanggilku anak muda, umur kami terlihat tidak berbeda jauh' pikir tanjiro jengkel pada kata katanya.


__ADS_2