
Pegunungan Alaska mendapatkan badai salju membuat keduanya harus menginap semalam di bawah badai. Qin Chen mendirikan satu tenda untuk tidur malam bersama Qin Yu, ia membuat lubang di dalam tenda cukup dalam untuk dapat membakar kayu di dalam tenda.
Qin Chen memasak spaghetti pedas di cuaca dingin membuat daya tarik tersendiri. Setelah selesai, ia menuangkannya ke masing-masing piring, dengan toping pedas sebagai bumbu utama menggugah selera makan di musim dingin, Qin Yu tidak dapat duduk dengan tenang setelah mencium aroma yang memikat hatinya.
"Makanlah sebelum dingin, makan malam hari ini adalah Spaghetti pedas untuk meningkatkan suhu tubuh." Ucap Qin Chen, Qin Yu mengangguk lalu— "Selamat makan." Katanya.
Qin Yu langsung mengambil garpu dan memakannya, matanya tidak dapat menyembunyikan kebohongan bahwa dia menyukai masakan Qin Chen. Qin Chen tersenyum melihat tingkahnya, bagaimanpun itu merupakan kebahagiaan tersendiri sebagai seorang kakak.
Setelah makan bersama, mereka berdua masuk kedalam kantong musim dingin karena cuaca di luar sedang badai membuat mereka tidak dapat melanjutkan perjalanan menuju tempat pesawat angkasa berada.
Setiap jamnya, ia menambahkan kayu supaya lebih hangat, di tengah malam Qin Yu membangunkan Qin Chen yang tengah tertidur. "Chen Gege ..."
Qin Chen terbangun, ia melihat Qin Yu di depannya tengah membangunkannya. Qin Chen buru-buru duduk. "Ada apa Qin Yu? Apa kamu tidak bisa tidur?"
"Hmmm ... " Dia malu-malu kucing, Qin Chen mengerutkan keningnya dengan kebingungan. "A- Apa aku boleh tidur dengan Chen Gege? Aku kedinginan tidur sendirian di kantong itu."
"Kau sudah besar, kenapa masih ingin tidur dengan Chen Gege?" Tanya Qin Chen.
Qin Yu tidak membalasnya, ia merasa kasihan dan membuat Qin Chen menghela napasnya. Qin Chen membuka kantong tidurnya yang bisa di gunakan dua orang didalamnya. "Kemarilah, hanya untuk hari ini kau boleh tidur dengan Chen Gege. Selanjutnya kamu harus jaga diri, karena Chen Gege masihlah pria."
Qin Yu mengangguk dengan matanya berbinar-binar, ia buru-buru masuk kedalam kantong tidur. Qin Chen menggelengkan kepalanya, ia menambahkan selimut tebal di atasnya untuk menahan suhu hangat, kemudian menarik resleting kantong tidur menutupi setiap sisinya.
Qin Yu tertawa kecil dengan bahagia, dia membuat Qin Chen tidak dapat berkata-kata. "Sangat hangat." Katanya, dia mengusap-usap kepalanya pada selimut. Qin Yu mundur kebelakang membuat Qin Chen tersudut.
Qin Yu merasakan pegerakan kecil di bagian belakangnya, Qin Chen menahan dirinya karena adiknya membangunkan teman seperjuangannya.
"Ja- Jangan bergerak."
Qin Yu terdiam, wajahnya memerah setelah mendengar suara Qin Chen. Dia baru menyadari bahwa yang bergerak sebelumnya adalah—
Qin Chen yang tertidur miring merasa tersudutkan, keduanya saling canggung karena kejadian tersebut.
__ADS_1
***
Selepas malam panjang, paginya ia membangunkan Qin Chen. Qin Chen terbangun dengan menguap, meskipun semalam sangat canggung. "Qin Yu. Jangan lakukan itu lagi, Chen Gege masihlah kakak kandungmu. Kamu masih muda, dan mempunyai waktu untuk mencari pasangan." Ucap Qin Chen.
Qin Yu hanya diam, dia menunduk karena ia menggoda Qin Chen semalam selepas keadaan canggung. Untungnya Qin Chen adalah kakaknya, kalau tidak itu sudah berbeda dengan sekarang.
Setelah itu, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju pesawat angkasa. Sepanjang perjalanan, Qin Yu hanya diam tidak seperti biasanya. Semangat dan wajahnya ceria hilang karena di marahin Qin Chen sebelumnya.
Qin Chen mengabaikan itu, karena itu yang terbaik baginya. Qin Chen adalah kakak kandungnya, mempunyai hubungan intim dengannya adalah tindakan kejahatan. Dan mereka tidak mempunyai orang tua, orang tua mereka tiada saat Qin Yu berusia 5 tahun, dan Qin Chen lah yang merawatnya hingga masuk sekolah.
Setibanya di tanah merah, ia beristirahat sejenak untuk menghangatkan tubuh. Sepanjang mata memandang hanya ada tumpukan salju menutupi pegunungan dan danau membeku.
"Kenapa kau diam dari tadi? Apa karena Chen Gege memarahimu?" Tanya Qin Chen.
"Hmmm ..."
Qin Chen menghela napas. "Bagaimanapun Chen Gege adalah keluarga kandungmu, kamu tidak bisa melakukan itu. Masih ada banyak laki-laki di luar sana yang mungkin membuatmu tertarik."
"Apa kau menyesalinya?" Tanya Qin Chen.
Qin Yu terdiam tidak membalasnya, lalu kemudian. "Aku tidak menyesalinya, aku tidak ingin Chen Gege pergi dariku. Setelah Chen Gege mendapatkan istri, aku pasti di lupakan dan Chen Gege pasti lebih memilih keluarga baru dibandingkan aku."
Setelah mendengar itu, ia tertegun dengan ketakutan Qin Yu. Qin Chen mengusap-usap kepalanya dengan lembut. "Apa karena itu? Chen Gege sudah katakan padamu, kamu satu-satunya keluarga Chen Gege sekarang, tidak mungkin bagiku melantarkanmu sendirian."
"Sekarang jangan berbuat yang tidak-tidak, meskipun Chen Gege mempunyai keluarga nantinya. Kamu tetaplah keluarga Chen Gege dan pasti akan di perhatikan lebih dari siapapun." Ucapnya.
"Termasuk Yang Xi."
Qin Chen mengangguk. "Termasuk Yang Xi. Chen Gege akan memperhatikanmu lebih darinya, jadi tidak perlu khawatir lagi."
Qin Yu tersenyum bahagia, dia memeluk Qin Chen sembari mengusap-usap kepalanya di dada Qin Chen. Qin Chen tidak berbuat apa-apa selain mengusap kepalanya dengan lembut.
__ADS_1
Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di kota yang di penuhi zombie. Disana, kabut merah berada dekat dengannya, itu membuat Qin Chen menahan diri untuk masuk sekarang dengan keadaan mau malam.
Mereka berdua masuk kedalam kota secara bersembunyi-sembunyi, ada banyak zombie di sana tengah menunggu. Selama beberapa menit, ia menemukan tempat persinggahan yang aman.
***
Malamnya, ia berada di dalam rumah sebelum menuju kabut merah yang merupakan tempat pesawat angkasa yang di katakan berada.
"Chen Gege, bisa aku tidur denganmu lagi?"
Qin Chen mengerutkan keningnya, "Baiklah."
Qin Yu tersenyum bahagia, dia tidur di samping Qin Chen. Qin Chen hanya duduk menemaninya, dia tengah berjaga untuk memastikan tidak ada zombie mendekatinya.
Qin Chen membuka sistem, ia mencari sesuatu yang berguna untuknya. Bagaimanapun menghadapi zombie mutasi yang berbeda-beda sama saja melawan musuh kuat yang tidak diketahui.
'Sistem, apa kabut merah di depan tempat yang seharusnya dikunjungi? Aku mempunyai firasat akan ada bahaya.' Batinnya.
[Benar tuan.]
Qin Chen tidak mengatakan apapun lagi, dia mendengar balasan sistem. Sebelum ia masuk ke kabut merah, ia merasakan bahaya dan firasat buruk tentang apa yang akan terjadi kedepannya.
Disampingnya, Qin Yu tertidur memeluknya meskipun dia tengah duduk. Qin Chen mengelus rambut, "Bocah ini sudah tumbuh dewasa, aku tidak sabar melihatnya mendapatkan pasangannya."
[...]
"Kesampingkan semua itu, tujuanku untuk menyelesaikan bencana ini masih berlangsung. Pesawat angkasa ada di depan mata, dan dengan itu aku bisa menuju bulan dan mengakhiri Apocalypse." Gumamnya.
...
*Bersambung ...
__ADS_1