ARWAH

ARWAH
Episode 10


__ADS_3

Leo melempar tasnya ke atas meja. Jounatan yang sedang mene lungkupkan kepala pun tersentak. Dia seketika mendongak. Matanya merah, rambutnya berantakan, dan mukanya kusut seperti baju yang tidak disetrika.



Melihat siapa yang melempar tas, Jou kembali menelungkup kan kepala. Dia merasa pusing. Dia hanya tidur duatiga jam saja semalam. Terorteror aneh dan ganjil itu terasa semakin nyata. Tapi sampai detik ini Jou masih beranggapan kalau apa yang dia alami belakangan ini hanyalah mimpi buruk. Dia terkena sin drom tidur di mana pun dia berada dan mendapat mimpi buruk, karena jadwal tidurnya berubah total sejak dia mulai kerja.



“Astaga, pagipagi udah ngantuk aja lu.” Leo mengempaskan bokongnya di kursi sebelah Jou. “Mana tuh muka awutawutan lagi.”



Jou menjawab dengan geraman pelan. Sakit di kepalanya ma kin terasa. Sementara kelas yang tadi cukup lengang kini sudah menjelma jadi pasar pagi ketika satu per satu murid kelas ber datangan. Dia tidak bisa melanjutkan tidurnya yang baru lima menit.



“Eh, elu dicariin Alex tadi. Katanya udah seminggu lebih gak latihan basket sama anakanak.”



Jou memijat pelipisnya. Dia baru ingat kalau sejak bekerja di Diskotek Lipstik, tak sekali pun dia ikut latihan basket. Di tambah lagi, dia belum menceritakan soal pekerjaannya kepada Alex. Bagaimanapun juga, sebagai kapten tim, Alex harus tahu kesibukan Jou sekarang.



“Elu sakit?” tanya Leo.



Jou menggeleng. “Cuma kurang tidur aja.”



Sebenarnya tadi pagi Jou sempat berpikir untuk mencerita kan semua kejadian aneh yang dialami seminggu ini. Tepatnya sejak dia bersama Leo dan Nay datang ke Diskotek Lipstik. Juga penampakan aneh di toilet lantai dua sekolah mereka. Dan gang guangangguan yang dia rasakan di rumah, termasuk cerita ibu pedagang di seberang Diskotek Lipstik. Tapi Jou masih menahan diri. Dia memikirkan cara untuk menyudahi semua ini, tanpa melibatkan Leo dan Nay. Dia tidak mau ada masalah yang me nimpa kedua temannya.



Tidak hanya itu, jika dia menceritakan penampakanpenam pakan mengerikan itu, memangnya apa yang bisa diperbuat Leo untuknya? Dan lagi, Jou masih beranggapan kalau apa yang dia alami adalah mimpi buruk. Tidak ada arwah penasaran. Tidak ada roh yang meneror. Semua itu tidak nyata.



Saat kepala Jou dipenuhi pikiran itu, tibatiba dia teringat se suatu. Kenapa dia tidak mencari tahu tentang Diskotek Lipstik dan SMA Victoria di Internet? Jou segera merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel Androidnya. Dia membuka Google dan mengetikkan beberapa kata kunci: Diskotek Lipstik, Budi Lupus, Arwah Penasaran, Urban Legend Jakarta.



Banyak sekali tautan yang muncul. Jou mengklik salah sa tunya. Hanya ada cerita sekilas tentang urban legend yang ber kaitan dengan Budi Lupus. Lebih kurang sama dengan yang pernah diceritakan Leo. Sayangnya, tidak ada cerita yang lebih detail, tautantautan lainnya hanya salinan dari tautan pertama.



Jou mengubah kata kunci pencariannya: SMA Victoria, Siswi Gantung Diri, Toilet Berhantu. Dia masih kurang yakin dengan kesaksian Mang Kirman. Tapi tak satu pun tautan yang muncul tentang sekolah Jou. Kepala Jou agak berat, dia merasa butuh kopi panas untuk menghalau kantuknya. Tapi dia tidak mung kin berjalan ke kantin yang ada di lantai bawah. Dan juga, lima menit lagi bel masuk akan berbunyi. Pandangan Jou mulai agak berkunangkunang. Dia memijitmijit batang hidungnya, dan meregangkan otot lehernya. Terdengar bunyi krek pelan. Jou meluruskan punggung. Pundaknya terasa berat, seolah ada yang meletakkan beban puluhan kilo di situ. Dia menguap. Lebar.



Jou menatap jam di pergelangan tangannya. 07.25 WIB. Dia melihat jarum jam itu bergerak samar. Berbayang. Seakan kem bar empat. Keriuhan kelas yang seperti pasar sayur di pagi hari mendadak berubah. Bel berdentang. Menggema seperti ada di dalam sebuah lorong panjang yang lengang. Jou menengadah. Temantemannya duduk diam, menghadap lurus ke arah whiteboard di depan kelas. Tidak ada yang berceloteh. Tidak ada yang menoleh. Jou mengenyit.



Ada yang nggak beres.



Suara keran air berbunyi. Nyaring. Lalu tercium bau asap ro kok yang kental. Jou merasa dadanya sesak. Asap rokok itu seperti sengaja bergumpal di depan hidungnya. Dia hampir tersedak, tapi urung ketika mendengar irama langkah sepatu menggema.



Bu Diandra.



Jou mengenali irama langkah sepatu itu. Pelajaran pertama di hari Rabu adalah Fisika. Jou masih bisa mengingat itu dengan jelas. Tapi dia tetap tidak bisa mengerti, kenapa temanteman nya mendadak duduk manis dan memandang papan tulis seperti terhipnosis.



Hei, ke mana Leo?



Bangku di sebelahnya kosong. Leo lenyap.



Jou meraba permukaan bangku. Telapak tangannya menyen tuh papan bangku. Tadi, lima menit sebelum bel masuk berbu nyi, Leo datang dan melempar tas ke meja. Suara tas itu membuat Jou yang tertidur langsung terjaga. Lalu dia mendengar ocehan Leo, termasuk kabar Alex yang mencarinya. Itu artinya Leo tadi duduk di bangku yang ada di sebelahnya.



Apa Leo ke toilet? Atau ke kantin. Kayaknya gue tadi nggak minta tolong Leo buat beliin kopi ke kantin.

__ADS_1



Bu Diandra masuk ke kelas. Tidak seperti biasanya, guru pe rempuan berusia tiga puluh tahun dan masih lajang itu mengge rai rambutnya. Biasanya Bu Diandra menata rambutnya dalam gelungan tinggi. Sang guru juga tidak menyapa selamat pagi. Jou mengerutkan kening.



Setelah meletakkan buku di meja, Bu Diandra mengambil spidol lalu menulis Kinematika dengan Analisa Vektor. Kepala Jou berdenyut. Rasa dingin tibatiba saja menyergap. Kelas yang hening dan suara air dari keran yang berbunyi nyaring itu mem buatnya kebingungan. Juga Bu Diandra yang tak seperti yang dia kenal.



Srek.



Jou mendengar suara kuku menggaruk sesuatu. Menyayat. Membuat giginya ngilu. Dia mencari asal suara. Bunyi itu ber sumber dari Bu Diandra. Dan Jou hanya mampu menelan ludah ketika melihat Bu Diandra menulis dengan kukunya.



Kelas seakan tidak berpenghuni. Suara goresan kuku itu me nusuknusuk gendang telinga Jou. Dia menggigil. Menahan rasa ngilu yang menyerang.



Mendadak Jou mendengar air menetes. Nyaring. Seakan di luar sana hujan deras turun dan atap sekolah bocor. Suara te tesan itu begitu dekat. Seolah ada di sampingnya. Jou menoleh. Dia terperenyak. Kelas berlantai keramik putih dan bersih sudah berubah jadi mengerikan. Air merembes di ubin yang berlumut. Dindingnya kotor dan hitam. Kertaskertas berserakan. Whiteboard penuh coretan dan sangat kotor. Bangkubangkunya tua dan lapuk. Dan tidak ada siapasiapa. Jou menatap berkeliling. Tubuhnya berputar. Kelas ini kosong!



Bu Diandra menghilang. Juga temantemannya. Jou menger jap. Dia mengucek mata. Benarbenar tidak ada siapasiapa selain dirinya. Dia berpegangan pada permukaan meja. Lalu sekali lagi menatap berkeliling. Hanya ada suara air menetes. Jou berdiri dan melangkah. Saat mengangkat sepatu, air itu terasa lengket. Dia menelan ludah begitu menyadari darahlah yang memenuhi lantai. Bau amis menyesakkan hidung.



Sekilas, ada bayangan berkelebat. Jou tergesa menoleh. Tapi matanya tidak menangkap apaapa. Bayangan itu raib.



“Halo, Mario!” Terdengar suara berat dan begitu jauh.



Jou menoleh. Suara itu seolah datang dari belakangnya. Bulu kuduknya berdiri.



Mario.




Jou keluar dari lorong kursinya. Berjalan menuju whiteboard dan pintu keluar. Tapi baru beberapa langkah, kakinya langsung membatu. Mendadak saja, di depannya sudah berdiri seseorang yang memunggunginya. Seseorang berpakaian perempuan. Dari belakang perawakannya mirip Bu Diandra, lengkap dengan se telannya.



“Bu Diandra,” Jou memanggil. Perempuan yang mengenakan blazer hitam dan rok pendek itu tidak menyahut.



“Bu,” Jou memanggil lagi. Masih tidak ada sahutan.



“Bu Diandra.” Jou menyentuh pundak perempuan itu.



Jou tersurut mundur dan hampir saja menjerit saat sosok itu menoleh. Wajah perempuan itu tidak utuh. Hancur separuh. Bola mata kanannya tergantung di pipi, seakan tinggal menghitung detik saja sebelum menggelinding di lantai. Dan yang membuat Jou mual, kulit wajah sosok itu mendadak meleleh. Jou mundur perlahan. Terdengar tawa melengking. Membahana. Membuat sekujur tubuh bergidik.



Ini pasti mimpi. Bangun, Jou! Bangun!



Jou menepuk pipinya sendiri. Tapi dia tidak kunjung bangun. Sosok mengerikan itu terus berjalan mendekatinya. Jou semakin mundur dan kakinya terhenti karena terhalang tembok. Tangan nya merabaraba, berusaha mencari jalan untuk keluar.



Jou menyentuh sesuatu yang kenyal dan lengket. Basah. Jan tungnya seolah berhenti berdetak. Dia perlahan menoleh.



Tangannya menyentuh tangan seseorang. Seseorang berse ragam SMA Victoria sama sepertinya. Sosok itu menunduk, tapi perlahan mendongak. Dan Jou hampir terjungkal ketika melihat



wajah hancur di depannya. Dia berpegangan erat. Tapi tangan nya kembali menyentuh sesuatu yang kenyal. Dia menoleh lagi.

__ADS_1



Jou melotot. Seluruh penghuni kelas tengah memandangnya. Dan mereka memiliki wajah yang sama. Juga potongan rambut yang sama. Dengan darah yang membanjir di wajah rusak me reka.



Mario....



Suara itu menggema, seiring sosoksosok itu berdiri dari bang ku mereka lalu melangkah perlahan ke arah Jou. Tangantangan berdarah dan busuk itu berusaha menjangkaunya. Jou terdesak di tembok kelas. Sosoksosok itu terus bergerak. Dan tibatiba saja, Jou menyadari kalau ada sesuatu di tembok di belakangnya. Dia kembali menoleh.



“Aaakkkk!”



Napas Jou tersengal. Dia berpegangan pada kursi. Butuh be berapa detik bagi Jou untuk menyadari keberadaan dirinya.



Tatapan mata Bu Diandra yang mirip tatapan singa yang ter luka menarik Jou kembali ke kesadarannya secara utuh. Suara hak sepatu guru Fisika itu jauh lebih nyaring dibandingkan ge muruh di dada Jou.



“Jounatan!” Suara sang ibu guru melengking. “Kenapa kamu berteriak seperti melihat setan?”



Jou tergeragap. Kebingungan. Beberapa orang menahan tawa.



“Saya....”



“Jangan bilang kamu tidur saat pelajaran saya!”



Leo mengerut di kursinya. Hujan lokal dari mulut Bu Di andra sudah turun tepat di atas wajahnya.



“Temui saya di ruang guru BP saat pelajaran ini usai!”



Jou mengembuskan napas mendengar ucapan Bu Diandra. Jelas sekali terlihat kekesalan di wajah guru mungil itu. Tapi suara bel tanda pelajaran usai menyelamatkan Jou dari khotbah gratis yang memalukan di depan seluruh penghuni kelas.



“Elu tadi tidur?” Nay berbisik ketika Bu Diandra berjalan ke luar pintu kelas dengan membawa setumpuk buku tebal. “Kenapa pake acara ngejerit?”



Jou tidak menjawab. Dia hanya mengangkat bahu dan mem beri tanda ke Leo agar berdiri dari duduknya, supaya dia bisa keluar dari kursi dan menemui Bu Diandra di ruang BP. Ini per tama kalinya Jou mendatangi ruangan itu. Tapi dia tidak akan pernah mengatakan kepada Nay dan Leo kalau mimpinya tadi begitu buruk. Begitu nyata. Dia tadi menjerit karena melihat Nay dan Leo tergantung di tembok kelas dengan tubuh bersim bah darah. Seragam keduanya kuyup oleh cairan amis itu.



Jou bahkan masih bisa merasakan darah di jemarinya. Dia masih bisa merasakan tubuh Nay yang kaku.



Apa Leo benar soal arwah penasaran itu? Apa Mang Kirman benar kalau ada arwah yang mengikutiku? Apa ibu pemilik warung itu bercerita jujur, kalau semua OB di sana berhenti karena diteror hantu?



Jou sekarang merasa cemas. Benarbenar cemas. Terlebih ke tika makhluk tak kasatmata itu juga ternyata mengincar Nay.



Jou mengetikkan ‘cara mengusir arwah penasaran‘ di Google Androidnya. Beberapa tautan muncul, dikliknya situs yang pa ling atas. Dia menghela napas kecewa. Postingan situs itu tidak menolong sama sekali. Dia sebelumnya juga sudah menyusuri



rakrak buku di perpustakaan sekolah. Hasilnya nihil. Jou sadar kalau perpustakaan sekolahnya bukan Hogwarts di cerita Harry Potter yang menyediakan buku apa pun yang dibutuhkan mu ridnya.



Apalagi yang harus gue lakuin? Kalau aja gue punya indra keenam dan bisa berkomunikasi dengan makhluk itu. Gue jadi bisa tahu dia mau apa? Sial!


__ADS_1


Tibatiba Jou teringat sesuatu. Natali! Ada luapan perasaan senang yang muncul begitu saja di dadanya. Natali kerap ber cerita tentang halhal yang tidak masuk akal. Hantu. Arwah. Dan kisahkisah mengerikan yang sejujurnya lebih sering Jou anggap omong kosong, tapi kali ini dia merasa butuh bantuan adiknya.


__ADS_2