ARWAH

ARWAH
Episode 6


__ADS_3

Mata Jounatan masih nyalang, dia melirik jam digital warna putih di samping tempat tidurnya. Angkanya menunjukkan pukul 00:23:52 AM. Matanya terasa perih, dia sangat mengantuk, tapi anehnya tidak bisa tidur walau sudah beberapa kali memejam kan mata. Pikirannya melayanglayang. Dia teringat ucapan Leo tadi sore; Nay kan suka elu. Dan itu membuat Jou tersenyum. Di dalam dadanya terasa ada serumpun bunga yang tibatiba mengembang.



Jou jadi terkenang perjumpaan pertamanya dengan Nay. Da lam hidup Jou, momen itu jadi bagian yang paling manis dan tak akan terlupakan. Sebenarnya, itu kejadian yang konyol, dan setiap kali teringat, Jou akan tersenyumsenyum sendiri.



Hari pertama Masa Orientasi Murid Baru di SMA Victoria, Jou datang terlambat karena mobil tua Papa mogok di jalan. Se benarnya, Jou ingin berangkat sendiri, naik Kopaja bersama Leo, tapi Papa ngotot untuk mengantar karena saat itu hari pertama Jou di sekolah baru. Ternyata Jou ketiban sial. Dia harus mendo rong mobil hampir satu kilo jauhnya sebelum Papa menemukan bengkel.



Akhirnya, Jou memang naik Kopaja karena Papa menyu ruhnya segera berangkat sebelum terlambat. Namun kesialan belum mau berhenti. Saat dia turun dari Kopaja tepat di depan pintu gerbang sekolah, satpam tengah menggembok pagar. Per aturan di SMA Victoria memang seperti itu, jika terlambat lima menit setelah bel berbunyi, itu artinya tidak akan bisa masuk ke sekolah, kecuali menyelesaikan semua masalah di depan guru BP. Tapi Jou tidak sendiri. Muncul seorang cewek berambut diku cir kecilkecil dengan tali rambut berhias permen warnawarni, yang membuat kegaduhan. Jou melongo beberapa detik ketika melihat cewek itu memanjat terali pintu gerbang. Aksi nekatnya membuat satpam kelabakan.



Kesadaran menyerbu Jou ketika cewek itu berteriak dan me mintanya ikut memanjat. Melihat tingkah si cewek, satpam pun menyerah dan membukakan pintu gerbang untuk mereka. Jou tersenyum mengingat kejadian lucu itu yang membuat dirinya akrab dengan Nay.



Nayla Silvia.



Wajah Nay kala itu terbayang jelas di benak Jou. Hal yang paling Jou sukai dari cewek itu adalah bentuk matanya yang bulat. Beda dengan Jou yang bermata sipit. Selain itu, Jou suka dengan gaya Nay yang ceplasceplos. Nay tidak seperti cewek ke banyakan yang hobinya dandan dan jaim ketika di depan cowok. Nay selalu apa adanya.



Tapi, seminggu setelah MOS berakhir, ketika Leo mengaku kepada Jou kalau dirinya menyukai Nay, Jou langsung menyim pan rapatrapat perasaannya sendiri. Sejak dulu, dia tidak pernah ingin bersaing dalam urusan cinta dengan sahabatnya. Baginya persahabatan selalu jadi nomor satu.



Tidak tahu kenapa, setiap teringat Leo dan perasaan terpen damnya kepada Nay, dada Jou selalu sesak. Dia seakan susah ber napas. Namun dia tidak pernah punya pilihan lain.



Jou menghirup napas, berusaha membuat dadanya kembali lega. Diliriknya jam weker lagi. 00:23:52 AM. Jou mengernyit.



Kayaknya tadi jam segitu juga. Jamnya mati?



Dia meraih weker persegi empat itu. Titik dua pemisah angka jam, menit, dan detiknya terus berkedipkedip. Tanda kalau ba terai jam itu masih berfungsi. Anehnya, angka berwarna merah itu tidak berubah sama sekali. Jangankan penunjuk jam, angka penunjuk detiknya bahkan tidak berganti. Tetap di 52.



Jou menyibak selimut. Dia duduk di tepi tempat tidur. Diba liknya jam weker itu. Ketika tangannya akan menarik penutup baterai, tibatiba ada angin bertiup mengenai tengkuknya. Dia tergesa menoleh. Tidak ada siapasiapa.



Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Gorden jendela sedikit berkibar. Itu bukan karena angin dari kipas, sebab kipas sudah Jou matikan saat bersiap tidur. Dia turun dari tem pat tidur lalu berjalan menghampiri jendela.



Perasaan tadi gue udah ngunci jendela.



Saat akan menarik gerendel jendela, tangannya terhenti. Dia tak sengaja melihat seseorang duduk di atas ayunan. Namun ketika Jou mengerjap dan melihat sekali lagi, sosok itu sudah hilang. Jou mendorong daun jendela lebih lebar, ingin mema stikan apakah sosok yang dia lihat tadi benarbenar ada. Diedar kannya pandangannya dan yang terlihat hanyalah halaman yang lengang. Hanya saja ayunan besi itu memang berbunyi. Suara deritnya terdengar nyaring. Tapi Jou yakin ayunan itu tertiup angin. Dia segera mengunci jendela, lalu berbalik kembali ke tempat tidur. Kamar yang temaram membuat angka merah di jam weker terlihat terang. Angka itu tetap seperti tadi.


__ADS_1


Kayaknya emang rusak.



Jou menyelip masuk ke selimut bergambar Spidermannya. Dia bergelung ke arah tembok kamar. Lalu tercekat. Matanya melotot dan mulutnya tak mampu bersuara.



Di depan wajahnya. Hanya berjarak beberapa senti saja, ter pampang sebentuk wajah pucat pasi dengan mata terpejam. Jan tung Jou berdegup kencang.



Sejak kapan ada orang asing di tempat tidurnya.



Jou mengulurkan telunjuknya yang gemetar ke wajah itu. Nyawanya terasa tercerabut saat mata terpejam itu tibatiba membelalak, menatapnya tajam dengan bola mata memerah. Dia tergesa menarik tangannya lalu berbalik untuk turun dari tempat tidur. Namun langkah Jou terhenti ketika sosok itu sudah berdiri di depan pintu. Kali ini dia bisa melihatnya dengan jelas, sosok itu berambut gondrong dan mengenakan kaus kuning bertulis kan Nirvana. Yang membuat lutut Jou gemetar adalah karena sosok itu berlumuran darah. Cairan amis berwarna merah itu menetesnetes dari ujung jemari dan bajunya, membasahi lantai kamar Jou yang berkeramik putih. Jou tersurut mundur dan ba dannya terhalang tempat tidur.



Sebelum Jou sempat berpikir untuk mencari jalan keluar, ti batiba saja sosok itu sudah berdiri di depannya. Terpaut jarak beberapa senti. Dan Jou tersedak ketika tangan berlepotan darah itu sudah mencekik lehernya dengan sangat kuat.



Jou memegang pergelangan tangan sosok itu. Kulitnya dingin. Jou terbatuk. Matanya perih. Seakan ada ribuan urat yang pecah dan meledak di dalam kepala dan bola matanya. Dia menggapai gapai udara. Berusaha melepas cekikan, tapi cengkeraman laki laki pucat itu begitu kuat. Jou menendangnendang. Dia terjatuh dan terguling di tempat tidur. Lakilaki itu menindihnya. Na mun Jou masih belum menyerah. Uraturat sudah menyembul di wajahnya. Sebelum kesadarannya hilang, Jou menendang so sok itu. Tepat mengenai perutnya. Cekikan itu terlepas.



Jou terbangun. Napasnya memburu. Dia berusaha memenuhi dadanya dengan oksigen sebanyakbanyaknya. Dia menoleh ke kanankiri. Kamarnya masih temaram. Dia terduduk di tempat tidur dengan seprai, bantal, dan guling berserakan, seolah baru saja terjadi perkelahian dahsyat.



Bajunya lembap. Basah kuyup.




Jou menggelengkan kepala. Kuduknya meremang. Dia te ringat sesuatu. Ucapan Natali tadi sore tentang sosok yang main ayunan di bawah pohon mangga. Jou mencari sandalnya lalu berjalan menuju pintu kamar. Dia merasa haus setelah terbangun dengan mimpi buruk yang terasa sangat nyata itu.



Ketika Jou menghilang ke luar pintu kamar, beberapa tetes air merah jatuh dari langitlangit. Tetestetes berbau amis itu me ngenai bekas telapak sandalnya.



“Hei, pagipagi udah ngantuk aja lu.”



Jounatan terperenyak, dia hampir terjatuh karena Leo me nyenggol lengan yang menopang wajahnya. Jou menegakkan punggung. Matanya terasa perih, seolah ada debu di dalamnya.



“Kurang tidur?” Leo kembali berbisik sembari mendengar ocehan Bu Diandra yang akan menutup kelas Fisika mereka. “Atau nggak bisa tidur garagara digangguin hantu?”



Jou sedikit tersentak, refleks dia menoleh ke arah Leo yang terlihat santai. Butuh waktu beberapa detik bagi Jou untuk me nyadari kalau Leo hanya kebetulan saja menerka dan tepat. Leo si maniak cerita horor, jadi wajar kalau sahabatnya itu menduga Jou kurang tidur garagara makhluk halus.



“Gue mau cuci muka dulu.” Jou berdiri dari duduknya ketika suara anakanak kelas menggema menyahuti salam Bu Diandra. Guru berkacamata minus itu sudah melangkah menuju pintu kelas.

__ADS_1



Jou terpaku beberapa detik di depan pintu toilet murid lantai dua. Tangannya yang bersiap mendorong pintu kini membeku di udara. Dia teringat kejadian lebih dari seminggu lalu, saat dia buang air kecil di sini dan pintu kamar kecil terbanting tanpa ada siapasiapa selain dirinya.



Dulu, ada kakak tingkat kita yang bunuh diri di toilet ini. Cewek. Katanya dia hamil. Eh, ada juga yang bilang dia gantung diri gara-gara di-bully.



Jou ingat cerita Leo ketika mereka baru naik ke kelas XI, enam bulan lalu.



Aduh, gila. Gue makin termakan cerita Leo.



Jou mendorong pintu toilet dan menatap pintupintu kamar kecil yang terbuka. Sunyi. Tidak banyak murid kelas XI yang



mau menggunakan toilet ini. Jou menepis perasaannya dan se gera menuju wastafel, tapi dia membatu ketika tibatiba lampu toilet padam. Sayup, dia mendengar suara orang menangis. Bulu kuduk pun meremang. Dia cepatcepat membasuh wajahnya se belum kembali ke kelas.



Jounatan sebenarnya merasa ini sangat konyol. Dia sebenarnya tidak pernah percaya dengan hantu, arwah penasaran, dan se bangsanya. Tapi cerita Leo, penampakanpenampakan ganjil, serta mimpi buruk yang menerornya telah memaksa Jou untuk mencari suatu ‘kebenaran’.



“Jadi bener, Mang, gak pernah ada cewek bunuh diri di toilet lantai dua itu?” Jou meyakinkan lagi kalau Mang Kirman sudah bercerita jujur kepadanya. Setahunya, Mang Kirman sudah jadi OB di sekolah ini sejak dua puluh tahun lalu. “Saya diganggu sesuatu tiap ke sana, Mang.”



“Serius, Den.” Mang Kirman mengangkat jari telunjuk dan tengahnya. “Mamang ngomong bener. Gak ada tuh siswi bunuh diri garagara bunting. Boong itu mah.”



“Terus, suara tangis dan ketawa cewek yang berapa kali saya dengar di sana dari mana asalnya, Mang?” Jou merinding sendiri. Apakah itu arwah Budi Lupus yang mengikutinya sampai ke se kolah? Itu kalau cerita Leo benar. “Saya ngalamin sendiri, Mang. Lampu toilet yang mati, kotak sampah tumpah, suara tawa yang bikin merinding.”



“Ah, Den Jou dijaili temennya kali.” Mang Kirman mema merkan gigi kuningnya yang digerus tembakau. Jou menggeleng kan kepala.



“Nggak, Mang. Saya ke toiletnya pas sepi, pas jam belajar. Toilet itu gak banyak dipakai anakanak. Ya, garagara cerita se rem yang beredar itu.”



Mang Kirman menatap Jou dalamdalam, seakan menyelami kejujuran Jou. Dia lalu menghela napas, pelan tapi terdengar be gitu berat.



“Kalau kayak gitu, kayaknya Den Jou diikuti hantu dari tem pat lain. Maaf ni ya, Mamang bisalah dikitdikit lihat yang be gituan. Di sekolah kita aman. Jadi dia hantu dari luar sekolah. Kalau memang cerita Den Jou jujur.”



Jangan-jangan Leo benar soal arwah Budi Lupus di Diskotek Lipstik?



Bulu kuduk Jou berdiri tegak, seperti duri landak yang mera sakan getaran keberadaan makhluk lain.

__ADS_1


__ADS_2