ARWAH

ARWAH
Episode 8


__ADS_3

Lorong menuju toilet diskotek terlihat temaram. Jounatan meng geram menekan perasaannya yang mulai membayangkan yang tidaktidak. Saat hendak mendorong pintu toilet, dia mendengar suara langkah seseorang di belakangnya. Jou tergesa menoleh. Kosong.



“Nay.”



Tidak ada jawaban.



“Pak Narto.” Dia memanggil si satpam. Hening. “Kak Bram.”



Brak!



Seseorang membanting pintu. Jou yang berdiri menatap lorong dengan cepat menoleh ke pintu toilet. Tadi dia belum sempat mendorong pintu itu, baru menyentuh permukaannya saja, sebe lum mendengar ada seseorang yang berjalan di belakangnya.



Jakun Jou naikturun.



Lampu lorong terasa semakin redup. Hidung Jou mencium bau asing. Harum, seperti bunga. Tapi seperti bau amis juga. Dengan agak bimbang dan tangan gemetar, Jou mendorong perlahan pintu toilet. Suasana di dalam situ sama temaramnya dengan lorong. Jou membuka pintu semakin lebar. Tidak ada siapasiapa. Hening. Dia ragu untuk melangkah. Tangan kiri nya masih memegang seragam yang diberikan Bram, sementara tangan kanannya menyentuh pintu toilet yang sudah terbuka.



“Hai, ngapain?”



“My Lord!” Jou terlonjak. Seragam di tangan kirinya terjatuh.



Nay menatapnya dengan bingung. “Elu kenapa, sih?” Nay menyeringai, menahan senyum. “Jangan bilang elu kemakan ce ritanya Leo.” Nay menatap Jou lekatlekat.



“Nggaklah.” Jou dengan cepat mengambil seragamnya di lan tai. “Elu muncul tibatiba, bikin kaget. Untung aja gue gak jan tungan.”



“Muncul tibatiba gimana.” Nay mengernyit. “Gue buka pin tu toilet cewek dan manggil elu yang bengong kayak orang bego di depan sini. Elu kesambet?”



“Huuss! Sembarangan aja ngomongnya.”



Nay tidak mampu menahan tawa. “Gih, elu ganti baju sana. Keburu jam empat. Makin cepet kita beres kerja, makin cepat pulang. Tuh, elu kayaknya ngantuk banget. Lingkaran mata elu sampe hitam gitu. Kayak mata panda.”



“Ya udah. Gue ganti baju dulu.”



Jou segera melangkah masuk, pintu toilet menutup otomatis. Dia meletakkan tasnya di dekat wastafel. Dengan sedikit terburu buru, dia mengganti seragam sekolahnya dengan seragam kerja. Dia menyimpan seragam sekolahnya di dalam tas dan meletak kan benda cokelat itu di tempat semula.



Jou menatap wajahnya di cermin. Nay memang benar. Ada lingkaran hitam di sekeliling matanya. Masih samar, tapi cu kup kentara kalau dilihat dari jarak dekat. Matanya juga agak memerah. Dia menyalakan keran air, lalu membasuh wajahnya. Air yang masuk ke dalam mata sedikit membuat matanya perih. Jou meluruskan punggung dan agak meringis. Pegal. Dia mena rik tisu yang menempel di tembok sebelah kanannya.



Dilapnya wajah sambil melihat pantulannya di cermin. Hi dungnya yang mancung terlihat lebih runcing sejak sebulan ini.



Jou merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Saat itu lah jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia melihat sesuatu yang ganjil di cermin. Bayangan tangan tapi bukan tangannya. Jou menelan ludah. Jantungnya berdebardebar. Dengan sangat perlahan, Jou sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa melihat sosok yang bersembunyi di belakangnya.



“God!” Jou nyaris menjerit tertahan ketika menemukan wa jah pasi di belakangnya. Dia segera balik badan dan berpegangan pada wastafel.



Mata Jou bergerak liar. Tidak ada siapasiapa di toilet ini. Benarbenar tidak ada siapa pun. Gemuruh di dada Jou mulai meredam.



Gue salah lihat lagi.



Jou menatap cermin. Sosok itu sudah hilang. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Jarum jam berwarna perak itu menunjuk angka empat. Dia pun bergegas meninggalkan toilet. Membiarkan saja tasnya ada di pinggiran wastafel. Saat Jou menghilang di balik pintu yang tertutup, tibatiba saja tas itu terjatuh, seolah ada seseorang yang mendorongnya.



Lantai satu diskotek ini terbuka luas, hanya ada beberapa set kur si di bagian dekat pintu dan meja bartender. Sementara bagian tengahnya kosong melompong, di ujung sana ada bagian lantai yang lebih tinggi, mirip podium. Jou menebak kalau itu tempat DJ beraksi setiap malam. Sementara toilet ada di ujung lorong setelah melewati tangga ke lantai dua. Di lantai dua sana, hanya ada dua ruangan. Satu ruangan Bram dan satunya lagi Jou belum tahu. Sementara bagian lainnya berisi sofasofa empuk berwarna cerah dengan meja kayu berbentuk bulat. Untuk tempat minum tamu, tebak Jou lagi.



Nay terlihat sedang mengelap meja bartender dan gelasgelas yang ada di atasnya.



“Ngepel dan nyapunya entar aja.” Nay bicara sambil terus mengelap gelas. “Gue pikir lebih baik bersihin dan siapin gelas, baru setelah itu kita nyapu dan ngepel.”



“Oke,” Jou menjawab singkat dan segera bergabung dengan Nay.



Keduanya bekerja tanpa suara. Sebenarnya banyak hal yang ingin Jou ceritakan kepada Nay, terutama tentang penampakan yang menerornya. Dia ingin meminta pendapat Nay tentang apa yang harus dia lakukan. Tapi Jou sungkan, nanti apa komentar Nay? Cowok penakut? Cowok primitif karena di era digital ka yak gini masih percaya takhayul.

__ADS_1



Jou tidak bicara sepatah kata pun. Dalam diam, dia mem perhatikan Nay. Ketika Nay merapikan anak rambutnya. Ketika Nay mengelap hidungnya. Ketika Nay tersenyum ke arahnya.



Ada perasaan ganjil yang tumbuh kembang di dada Jou, tapi dia menyukai perasaan itu. Jou membayangkan mereka nonton film berdua, bergenggaman tangan. Kencan romantis yang akan diakhiri dengan makan malam dan ciuman kilat....



Ciuman?



Jou merasa darahnya berdesir. Tapi dia tersenyum.



“Mau berapa lama gelas itu dilap? Kalau kelamaan, nanti ka canya bisa tipis, terus pecah.”



Jou sudah kelas XI, dia belum pernah berkencan, apalagi berciuman. Dulu saat di SMP dia pernah naksir seorang cewek di kelasnya, tapi hanya sebatas naksir dan tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya sampai mereka lulus. Ini kedua kalinya dia menyukai seseorang. Tapi sepertinya akan berakhir sama seperti yang pertama.



“Hei! Elu kenapa, sih?”



“Eh, apa, Nay?” Jou gelagapan.



Nay menghela napas. “Hari ini kayaknya elu kebanyakan bengong.”



“Bengong?”



“Elu ada masalah?”



“Nggak ada, Nay.” Jou salah tingkah.“Nggak ada apaapa, kok.”



“Yakin nggak mau cerita?” Nay membetulkan posisi du duknya dan menatap Jou. “Kalau ada masalah, cerita aja. Kita kan temenan udah lama, Jou.”



“Beneran, nggak ada apaapa, kok. Gue cuma kurang tidur aja.”



“Atau garagara diganggu hantu?” terka Nay. Jou meringis. “Kata siapa?”




“Nggaklah. Gue cuma kecapekan aja.”



Hening sejenak. Tinggal beberapa gelas lagi yang belum dilap dan dirapikan.



“Eh, Jou. Gue boleh nanya sesuatu gak? Tapi elu jawab yang jujur.”



“Boleh. Tanya aja.”



Jou meremas tangannya sendiri, agak lembap. Dia menebak nebak apa yang ingin Nay tanyakan.



“Elu ngerasa gak kalau yang Leo bilang bisa jadi memang be nar.”



Jou mengernyit. “Maksudnya?” Dia menelengkan kepala.



“Mungkin elu ngedengernya ini gak masuk akal banget, tapi....” Nay menggigit bibir bawahnya. Jou menunggu, sambil mengetukngetukkan telunjuk kanannya ke permukaan meja.



“Gue ngerasa diskotek ini emang serem.” Suara Nay terde ngar lirih, dia menengok ke kanankiri. Mungkin memastikan kalau tidak ada Bram atau siapa pun yang mendengar obrolan mereka.



Darah Jou mengalir lebih deras. Kuduknya meremang. Tapi dia berusaha tenang. Sekelebat bayangan tentang kejadian kejadian aneh yang mulai menimpanya pun terbentang dalam ingatannya.



“Kok elu bisa bilang gitu?”



Nay menggigit bibir bawahnya lagi. Dan menengok ke ka nankiri lagi, lalu berbisik ke arah Jou, “Tadi di toilet gue denger suara orang nangis.”



Jou menelan ludah. “Salah denger kali. Kalau nggak cuma pe rasaan elu aja.”

__ADS_1



“Gak cuma itu, Jou.” Suara Nay masih terdengar lirih. “Tadi pas gue ngerapiin rambut depan cermin wastafel, gue ngeliat orang lain. Gue pikir mungkin karyawan diskotek ini, tapi saat gue cari, dia hilang. Padahal gue yakin banget dia masuk ke salah satu kamar kecil.” Wajah Nay terlihat pasi.



“Elu percaya ada arwah penasaran di dunia ini?” Jou balik bertanya. Dia tidak bisa menahan luapan perasaannya sendiri. Walau bisa jadi Nay hanya sekadar mengetes keberaniannya saja dengan bercerita seperti itu.



Nay diam. Dia terlihat berpikir. “Entahlah. Antara percaya gak percaya.”



“Kayaknya kita diteror perasaan sendiri, Nay.” Jou berusaha terdengar santai. “Nggak ada hantu. Nggak ada arwah penasaran. Itu cuma halusinasi.” Jou membuat sugesti.



Nay ingin menjawab ucapan Jou, tapi mengurungkan niat. Telinganya menangkap sesuatu. Suara kaki yang berjalan pelan ke arah mereka. Nay menelan ludah. Sekonyongkonyong, bulu kuduknya berdiri. Nay merasa seolah ada seseorang yang tengah mengintai dirinya dan Jou.



Brak!



“Aaakkk!”



Nay terlonjak. Begitu juga Jou. Kedua tergesa menoleh ke asal suara. Wajah Nay agak pasi, tapi kembali berubah normal saat tahu sumber suara itu.



“Hai, Jou. Gue datang buat bantuin.” Melodi berdiri di de pan pintu yang terbuka lebar. Dia berjalan terburuburu dengan senyum ceria ke arah Jou dan Nay. Melihat siapa yang muncul, Nay sedikit merengut.



Kenapa sih dia ikut ke sini?



“Elu pasti capek, kan? Makanya gue datang. Gue juga bawa minuman, soalnya pasti elu haus banget. Tapi gue lupa kalau



Nay juga ikut kerja. Jadi gue cuma bawa dua botol. Sori banget ya, Nay.” Melodi memasang ekspresi sedih.



Pasti itu sengaja.



“Nggak apaapa, Mel. Entar gue bisa minum air keran toilet, kok,” seloroh Nay. Tawanya berderai. Jou melotot. “Bercanda.” Nay menyeringai.



“Gue bantuin, ya.” Melodi segera mengambil lap di tangan Nay dan langsung mengelap satu gelas yang tersisa. Tidak meng hiraukan lelucon Nay.



“Ya, udah. Gue nyapu dulu. Habis itu ngepel.” Nay mening galkan Jou dan Melodi.



“Gue ikut, Nay. Gelasnya tinggal satu. Melodi bisa nyele sain.” Jou meletakkan lap di atas meja dan mengikuti Nay yang berjalan menuju lantai dua.



“Hei! Kok gue ditinggal, sih?” Melodi menatap punggung Jou dan Nay yang sudah menapaki tangga. Dia cepatcepat melepas lap di tangannya dan bergegas menyusul mereka berdua. Tapi langkahnya terhenti ketika sudah ada di lantai dua. Bram sudah berdiri di depan sana.



“Kamu ngapain di sini?” Bram bersedekap, memandang Me lodi dengan tajam.



“Bantuin Jou dan Nay kerja,” Melodi menjawab dengan en teng.



“Ini bukan rumah. Juga bukan tempat main.” Bram melang kah ke arah adiknya. “Sekarang kamu pulang. Abang gak mau kamu ganggu pekerja di sini.”



“Aku cuma mau bantuin, kok. Nggak salah, kan?” “Melodi....” Suara Bram terdengar naik satu oktaf.



Melodi merengut. “Pokoknya aku nggak mau pulang. Kalau perlu, aku juga kerja part time di sini.”



“Melodi....”



“Terserah Abang mau ngomong apa. Aku nggak mau pulang. Titik!”



Melodi melangkah melewati Bram, berjalan ke arah Nay dan Jou. Tanpa sungkan, Melodi meraih lengan Jou. “Ayo. Mulai nyapu dan ngepelnya di bagian mana?”



Bram berbalik dan hanya mampu menganga melihat tingkah adiknya. Jou menatap Bram, seakan meminta pendapat. Bram hanya bisa mengangguk kecil, sebagai jawaban kalau dia akhirnya tidak ambil pusing dengan kelakuan Melodi.



Bram berdiri mematung melihat ketiga remaja itu. Sebagai lakilaki dewasa, yang masih lajang, dia menyadari apa yang te ngah terjadi. Itu membuatnya terperosok ke masa lalu, ke masa tiga belas tahun silam. Pada cinta segitiga yang berakhir tragis dan menyisakan luka juga tragedi.


__ADS_1


Di sudut diskotek, bagian yang paling temaram, tanpa Bram sadari ada sepasang mata menatapnya tajam. Dari tubuhnya me netes air merah. Sosok itu menggeram. Melolong. Lukisan di dinding tibatiba terjatuh. Bram, Jou, Melodi, dan Nay tersen tak. Keempatnya terpaku menatap kaca lukisan yang berhambur an di lantai.


__ADS_2