
Melodi memandang Nay dan Leo dengan wajah merengut. Dalam hati dia merutuk, kenapa dua orang ini udah kayak bodyguard-nya Jounatan? Padahal dia sudah merencanakan ini sejak kemarin supaya bisa bersama Jou. Tapi Melodi tidak punya pilihan lain, dia tidak bisa menolak. Jika kali ini dia meng utarakan keberatannya, bisabisa dua orang itu curiga kalau dia diamdiam menyukai Jou dan tahu kalau tawaran pekerjaan ini sebenarnya hanya bagian dari rencananya untuk PDKT.
Kayaknya Nay tahu rencana gue dan dia cemburu.
Sejujurnya alasan terkuat Nay memaksa untuk ikut mengan tar Jou bertemu abangnya Melodi adalah karena dia tidak akan rela membiarkan Jou dan Melodi bersamasama di dalam taksi. Membayangkan Jou dan Melodi duduk berdua, kemudian Me lodi yang rada centil itu akan mencari segala cara supaya bisa menyandarkan kepala di pundak Jou, membuat dada Nay panas. Semua murid kelas XI IPA A SMA Victoria tahu kalau Melodi naksir Jou sejak kelas sepuluh. Dan Melodi akan melakukan apa pun agar dapat perhatian Jou.
“Elu nggak keberatan kan gue ama Leo ikut?” Nay mengulas kan senyum manis mengembang. Dia tahu makna kerutan dan garisgaris wajah Melodi yang mengeras, Melodi tidak suka de ngan keinginan dia dan Leo untuk bergabung dengan mereka.
“Nggak apaapa, sih,” sahut Melodi, lalu mengembuskan na pas sembari membuang muka.
Nay menyeringai, merasa menang. “Kita naik taksi atau Ko paja?” tanya Nay lagi.
“Taksi aja. Biar gue yang bayar. Panas kalau naik Kopaja,” Melodi tergesa menjawab.
Nay sedikit merengut mendengar katakata itu. Dia merasa Melodi sengaja mengatakan itu agar diperhatikan Jou.
Keempatnya lalu berjalan menuju pintu gerbang sekolah. Muridmurid SMA Victoria memenuhi halaman dan koridor. Langit Jakarta pukul dua siang terasa begitu terik. Menambah kekesalan Melodi.
Melodi nyaris tidak bisa tidur semalam karena membayang kan akan duduk berdua dengan Jou ke kantor Bram. Ini adalah hari yang dia tunggutunggu. Tapi impiannya buyar garagara Nay dan Leo.
Kenapa mesti ngikut, sih? Ngerusak suasana aja.
Sebenarnya Melodi agak iri dengan Nay. Sebab Nay bisa akrab dengan Jou, juga Leo. Namun dia cukup senang setelah tahu ka lau Jou ternyata jomblo dan Nay bukanlah siapasiapa Jou.
Seminggu lalu, Melodi mendengar cerita dari Leo kalau Jou sedang mencari pekerjaan paruh waktu. Dan sejak saat itu, Me lodi sibuk memikirkan cara untuk membantu Jou. Melodi lalu merayu abangnya, Bram, yang bekerja sebagai manajer di disko tek milik keluarga mereka. Dia dan Bram hanya dua bersaudara. Jarak umur mereka sangat jauh. Bram sudah tiga puluh lima ta hun, sementara Melodi tujuh belas tahun.
Awalnya Bram mengatakan tidak butuh pekerja baru, terlebih anak SMA yang belum cukup umur. Tapi Melodi terus me rengek. Karena tidak tahan dengan rengekan Melodi dan ditam bah lagi mama mereka yang ikutikutan mendukung sang adik, akhirnya Bram berkata dia butuh office boy karena karyawan yang sebelumnya sudah pulang kampung lantaran ibunya sakit.
“Mel, gue boleh nanya sesuatu nggak?”
Kesunyian di dalam taksi buyar karena ucapan Leo barusan. Pipi bulat Leo menyembul dari sandaran kursi depan. Dia ter paksa duduk di samping sopir taksi. Padahal tadinya dia ingin duduk di jok belakang bersama Nay dan Melodi. Tapi perminta annya ditolak mentahmentah dua cewek itu.
“Nanya apa?” Melodi menyahut tanpa semangat. Dia melipat kipas tangannya. AC taksi belum bisa meredam gerahnya udara Jakarta.
“Tapi elu gak bakalan nurunin gue di jalan, kan?” Melodi mengerutkan kening. “Apa hubungannya?” “Diskotek di Blok M itu punya keluarga elu, ya?”
“Ho oh.” Melodi tersenyum lebar, dia melirik Nay yang du duk di sebelah kanan Jou. Nay purapura melihat keluar kaca mobil, sambil mencibir dan menggerutu di dalam hati.
“Katanya tahun 2005an diskotek itu pernah ditutup gara gara ada kasus pembunuhan. Bener, nggak?” tanya Leo lagi, suaranya kini lebih lirih.
“Iya, tapi kasusnya udah kelar. Emang kenapa?” Melodi sedi kit cemberut, dia kurang senang dengan pertanyaan Leo barusan. Dia melirik Jou, berharap cowok itu tidak termakan cerita tidak jelas dari Leo.
“Dan konon habis itu, diskoteknya jadi serem, ya?”
__ADS_1
“Eh, gembul!” Melodi memukulkan ujung kipasnya ke jok yang Leo duduki. Leo cepatcepat menghindar agar kepalanya tidak terkena kipas. “Elu jangan cerita yang macemmacem, ya. Kalau tuh diskotek serem, udah lama kali bangkrut. Nggak ada pengunjungnya. Nggak usah nakutnakutin orang, deh.”
“Kan gue cuma mau konfirmasi. Biar nggak katanya doang,” Leo buruburu meralat.
“Salah itu!” Melodi menyahut ketus. Kentara sekali wajahnya memendam kesal.
“Udah, nggak usah berantem. Mending kita berdoa biar gak kena macet.” Nay yang sejak tadi diam saja bersama Jou, akhirnya buka suara. “Soalnya gue gak ada duit kalau argo taksinya beng kak.”
“Udah gue bilang, gue yang bayar,” Melodi menyahut cepat. Jou memejamkan mata, purapura pengin tidur.
Saat berdiri di depan bangunan diskotek, Leo tertegun cukup lama.
“Kok gue merinding ya lihat bangunan diskotek ini,” bisik Leo ke Nay yang berdiri di sebelahnya.
“Gak usah ngomong macemmacem. Entar elu disemprot ibu ratu.” Nay mengerling ke Melodi yang meminta bantuan Jou untuk turun dari taksi.
Leo tersenyum simpul. “Tapi beneran, gue merinding lihat nya.”
“Yaelah, ini siang bolong, Leo.” Nay menepuk pundak Leo. “Jadi cowok nggak usah penakut, deh.”
Leo tidak berkata apaapa lagi, terlebih ketika Melodi su dah berjalan duluan ke arah satpam yang berdiri di depan pintu masuk. Satpam itu langsung mencegat mereka. Mungkin terkejut melihat kedatangan empat orang remaja berseragam SMA, meski tempat hiburan malam ini belum buka. Tapi satpam bernama Pak Narto itu langsung tersenyum saat mengenali Melodi.
Melodi bertanya ke Pak Narto apakah Bram ada di kantornya atau sedang keluar. Lakilaki paruh baya itu mengatakan Bram ada di ruangannya.
“Mel,” Leo memanggil Melodi yang sudah berdiri di anak tangga menuju lantai atas. Melodi menoleh. “Gue kebelet pipis. Toiletnya sebelah mana?”
“Ke kiri aja, terus belok kanan. Di ujungnya ada toilet co wok,” sahut Melodi. “Elu entar nyusul aja, kita ke lantai atas, nemuin abang gue.”
Leo mengangguk. Melodi melanjutkan langkahnya, diikuti Jou.
“Gak perlu ditemenin, kan?” Nay menahan tawa.
“Sialan lu! Gue berani keleus!” Leo tergesa berbelok arah kiri, mengikuti arah telunjuk Melodi tadi. Sementara Nay menyusul Melodi dan Jou yang hampir ditelan ujung tangga lantai atas.
Leo dengan cepat mendorong pintu toilet bergambar cowok. Dia merasa akan terkencing di celana jika telat beberapa detik saja. Saat melihat toilet berdiri, jarinya tergesa menarik ritsleting celana abuabunya. Lalu dia pun menghela napas lega.
Ketika sedang menekan tombol kloset agar airnya mengu cur, Leo mendengar suara tawa singkat. Tangannya terhenti, dia menajamkan telinga. Tawa itu seperti menggema di lorong menuju toilet.
Beberapa detik Leo menunggu, mungkin suara tawa itu akan terdengar lagi.
Hening. Tidak ada apaapa.
Dengan sedikit ragu, Leo berjalan menuju wastafel. Dia me nadahkan telapak tangan kirinya ke bawah tempat sabun dan menekan tombolnya. Tak beberapa lama, dia sudah memutar keran dan mencuci tangan. Lalu, suara tawa itu mengalun lagi. Kali ini terdengar seperti di belakang Leo.
__ADS_1
Leo buruburu menoleh.
Kosong.
Telunjuk kanannya menekan gagang kacamata yang melorot di hidungnya. Bulu kuduknya berdiri. Leo yakin sekali barusan dia mendengar suara tawa. Dua kali. Tidak mungkin dia salah dengar, tapi siapa yang tertawa? Janganjangan Nay menakut nakutinya.
“Nay!”
Tidak ada jawaban. Leo meraih tisu di dekat alat pengering tangan. Dia bergegas mengelap tangannya. Saat itulah suara tawa itu kembali muncul, suara perempuan.
“Nay, elu jangan nakutnakutin gue!” teriaknya. Dia masih sempat menginjak pembuka tutup bak sampah, lalu melempar tisu bekas ke dalamnya. Langkah Leo lebarlebar saat menuju pintu. Ketika tangannya menyentuh gagang pintu, tibatiba....
Brak!
Leo menoleh. Tempat sampah terguling. Isinya berhamburan di lantai. Tidak ada angin. Tidak ada yang menyentuhnya. Ben da itu tibatiba miring dan tumpah.
Sebelum Leo menyadari sesuatu, tawa itu kembali terdengar. Tanpa pikir panjang, Leo meraih kenop pintu dan menghambur ke lorong di luar toilet.
Leo sama sekali tidak mengucapkan salam ketika mendorong pintu dengan tempelan bertuliskan MANAGER, dia bahkan ti dak mengetuk terlebih dulu. Semua kepala di dalam ruangan itu menoleh. Leo tersengalsengal. Dia memegang dadanya.
“Elu kenapa?” Melodi tergesa menghampiri Leo yang masih mengatur napas.
“Ada... ada....” Napas Leo masih memburu. Keempat orang itu menunggu. “Ada suara orang tertawa....”
Tawa Nay langsung pecah ketika mendengar itu. Jou yang duduk di samping Nay segera menyikut pelan cewek itu. Nay langsung menyadari kesalahannya, dia menutup mulut, berusaha meredam tawanya.
“Maaf, Kak,” ucapnya.
“Dia siapa?” Bram menatap Melodi, tidak mengacuhkan per mintaan maaf Nay.
“Temen juga. Tadi dia ke toilet dulu.” Melodi menoleh ke Leo yang pucat pasi. “Elu nggak apaapa, kan?”
Mata Leo melotot. Mulutnya bergerakgerak, tapi tak sepatah kata pun yang keluar. Bram yang berdiri di belakang meja pun mengerutkan kening, terlebih ketika Leo mengangkat telunjuk ke arahnya.
“A ... a ... a....”
“Elu kenapa, sih?” Melodi bertanya dengan nada heran. Dia memandang Nay dan Jou dengan tatapan bingung.
Di belakang Bram, Leo melihat gumpalan asap hitam mem bentuk sebuah sosok. Sosok hitam yang samar, karena lampu di ruangan ini temaram dan tirai di belakang Bram tertutup rapat. Leo gemetar. Rasanya dia ingin kencing lagi.
“Ada ... ada....”
Leo masih tak sanggup berkata apaapa. Sosok berbalut asap hitam itu mendekat. Leo mencengkeram tangannya sendiri. Getaran di lututnya semakin keras. Dan sesuatu tibatiba mene tes di atas kepalanya. Sesuatu yang hangat. Dan basah. Dia men dongak. Tetesan itu jatuh tepat mengenai wajahnya. Mata Leo melotot saat melihat langitlangit. Di sana, sesosok tubuh tergan tung dengan leher terteleng ke kiri, matanya melotot menatap Leo. Sementara di ujung kakinya yang putih, darah mengalir dan mengenai wajah Leo.
__ADS_1
Seketika Leo menjerit sekuat tenaga, seakan suaranya hanya tersisa untuk satu jeritan saja.