
Jounatan menghentikan gerakan tangannya yang tengah mem basuh wajah dengan air dari wastafel. Perlahan dia meluruskan punggung lalu menatap cermin di depannya. Wajahnya terlihat pasi. Suaranya tersumbat di tenggorokan. Berjarak beberapa hasta di belakangnya, tampak sosok berkaus kuning yang lembap oleh darah, dalam posisi menggantung.
Jou menelan ludah. Tubuhnya menggigil seolah terserang de mam. Dia ingin berteriak sekeras mungkin, tapi tidak bisa. Kaki nya berat untuk diayunkan. Dia mengerjap. Sosok itu masih di sana. Rambut hitam panjangnya terurai, menutupi wajah. Na mun Jou masih bisa melihat matanya yang menyala merah. Mata yang penuh kobaran api, seperti dendam.
Krek.
Jou tercekat. Sosok itu mematahkan lehernya ke kiri. Dan ke pala itu putus!
__ADS_1
“Aaakkk!” Dia histeris melihat darah memburai dari leher yang terpotong.
Jou segera berbalik. Berpegangan pada wastafel. Hilang.
Sosok itu lenyap. Tidak ada siapa pun di dalam toilet ini. Hanya Jou sendiri. Jou mengucek mata. Pandangannya lurus ke pintu bilik kamar kecil yang terbuka. Dan dia kembali tak bisa bersuara saat melihat satu sosok duduk di salah satu kloset. Sosok tanpa kepala tadi.
Brak!
__ADS_1
Pintu bilik toilet tertutup dengan keras. Seakan dibanting sosok itu. Jou terlonjak. Kesadaran memenuhi kepalanya. Dia melompat, menyerbu pintu keluar. Dicengkeramnya kuatkuat kenop pintu dan ditariknya daun pintu sekuat tenaga.
Blep.
Lampu padam. Jou menghambur ke lorong yang temaram lalu membanting pintu toilet. Napasnya tersengal. “Jou!”
Jou terperenyak. Satu tangan menepuk pundaknya. Dia me noleh. Leo.
__ADS_1
Jou mengembuskan napas lega. Namun melihat Leo membuat ingatannya kembali diseret ke pagi hari di dalam kelas seming gu lalu. Saat dia belum memutuskan untuk menerima tawaran Melodi untuk bekerja paruh waktu di Diskotek Lipstik. Disko tek yang ternyata berhantu.