ARWAH

ARWAH
Episode 5


__ADS_3

Waktu sudah sore menjelang malam ketika Jounatan dan Leo ber jalan menuju blok rumah mereka. Tadi mereka harus mengantar Nay terlebih dulu yang rumahnya ada di Blok B. Mereka bertiga tinggal satu kompleks; Perumahan Bulak Rantai daerah Hek, Kramat Jati, Jakarta Timur. Rumah Leo ada di Blok F, semen tara rumah Jou di Blok K.



Jalanan kompleks terlihat sepi. Biasanya suasana di waktu seperti ini memang lebih sunyi karena kebanyakan penghuni kompleks ada di dalam rumah masingmasing. Tibatiba ke senyapan yang menemani langkah Leo dan Jou terpecahkan oleh lolongan anjing. Seketika Leo merapatkan jarak pundak nya dengan Jou. Dia menoleh. Setelah kejadian tak terduga di Diskotek Lipstik tadi, Leo memang tidak banyak bicara. Ekspresinya masih takut dan syok. Jou ingin bertanya apa yang terjadi, tentang kenapa Leo menunjuknunjuk ke arah Bram dan apa yang dilihatnya di langitlangit tempat itu. Namun hal itu urung dia lakukan.



“Kayaknya kalian harus berpikir ulang deh buat kerja di sana, Jou.”



Jou menoleh. Pandangan Leo lurus ke jalanan yang gelap.



“Tadi gue lihat hantu di ruangan kakak Melodi. Ada penam pakan di tengah asap hitam dan sosok yang tergantung di langit langit.”



Suara lolongan anjing kembali terdengar. Jou menelan ludah. Entah suara lolongan anjing itu atau cerita Leo yang membuat nya takut, bulu kuduk Jou berdiri tanpa bisa dicegah.



“Bujuk Nay buat batalin kerja di sana. Gue khawatir dengan keselamatan kalian.”



Tadi tanpa diduga, Nay tibatiba ikut mengajukan diri untuk bekerja paruh waktu di Diskotek Lipstik. Awalnya Bram keberat an karena Melodi bercerita kalau Joulah yang membutuhkan pekerjaan itu. Tapi setelah menimbang kalau pekerjaan Jou cu kup banyak dan waktu yang dimiliki Jou pendek, Bram memu tuskan untuk menerima Nay juga.



Saat mendengar ucapan Bram, wajah Melodi seketika meme rah. Dia merengut dan memandang Nay dengan kesal. Tapi dia tidak berani protes ke abangnya di depan Jou, Leo, dan Nay. Leo yang masih syok tidak bisa berkata apaapa.



“Kenapa gue harus bujuk Nay?” Jou berjalan sembari melesak kan kedua tangan ke saku celana. “Nay itu keras kepala banget. Dia gak bakalan mau nuruti omongan gue.”



Leo tibatiba menghentikan langkahnya. Jou tersentak. Dia pun berhenti mengayunkan kaki dan menoleh. Leo memandang nya dengan tatapan yang susah diterjemahkan Jou. Pandangan yang dalam dan menusuk, seperti menyimpan kabut.



“Karena Nay bakalan nurutin elu.” Suara Leo serak. Jou mengerutkan kening.



“Nay kan suka elu.”



Jou tersengat mendengar itu. Dia tidak menduga sama sekali kalimat itu terluncur dari mulut Leo. Dia tergagap, hendak me nyanggah, tapi ucapan Leo membuatnya tak berkutik.



“Nggak usah purapura nggak tahu, Jou.”



Dalam pandangan Jou, wajah Leo berubah kelabu. Tatapan nya juga memudar, seakan mata itu menyekap kesedihan dan keputusasaan.



“Elu juga gak usah nggak enak ama gue. Cinta kan gak bisa dipaksain. Gimana pun kerasnya usaha gue buat dapetin hatinya, dia tetap suka ama elu.”



“Elu ngomong apa, sih?” Jou menggaruk kepalanya yang ti dak gatal. “Jangan bilang elu kesambet hantu diskotek tadi.”



Jou berusaha menarik ujung bibirnya, memasang senyum bercanda. Namun justru seringai pias dan ekspresi terpojok yang terulas di wajahnya.


__ADS_1


“Gue gak mau kalian celaka. Jadi pertimbangkan lagi.”



Jou ingin membuka mulut, tapi Leo tergesa melangkah dan tidak menoleh lagi. Jou mengangkat tangan, bermaksud me manggil Leo, tapi dia menurunkan lagi tangannya dengan lesu. Dia memandang punggung Leo yang terus mengecil dan akhir nya menghilang di salah satu jalan bercabang di depan mereka. Kegelapan menelan Leo.



Jou menghela napas. Dia lanjut berjalan dengan gontai. Lam pu jalan di depan rumah di samping Jou berdiri bergoyang ditiup angin. Dia mengambil jalan yang berlawanan dengan Leo. Di kejauhan, suara lolongan anjing masih terdengar dan lengking annya semakin memilukan.



Jounatan mengenal Leo Sanjaya sejak duduk di kelas VII SMP. Mereka sebenarnya tinggal satu kompleks sejak kecil, tapi baru saling kenal saat di bangku SMP. Walaupun berbeda kelas, me reka kerap bertemu dan cepat akrab. Jou masih ingat hari Sabtu itu, seminggu jelang ujian akhir semester satu, saat dia pulang sekolah dan sedang ada di daerah Pasar Rebo. Tibatiba saja dia dikejutkan dengan adanya keributan entah dari mana. Puluhan murid SMP yang berseragam sama dengan Jou, lari terbiritbirit ke arahnya. Jou yang sedang menunggu Kopaja di bawah flyover Pasar Rebo pun mengernyit bingung.



“Woi! Lari! Kita diserang anak SMP Pancasakti!”



Seorang bocah berseragam sekolahnya tibatiba memaki dan menarik Jou yang kebingungan. Tubuh bongsor bocah itu tidak menghalangi langkahnya. Dia berlari begitu lincah. Batubatu menghujani mereka. Puluhan anak SMP berseragam lain menge jar. Bambu, batu, ikat pinggang, parang, dan entah apa lagi ada di genggaman mereka.



Jou dan anak berambut keriting itu sedang terdesak ketika muncul seorang anak lagi, dari SMP yang sama dengan mere ka, yang ikut lari tungganglanggang menyelamatkan diri. Saat itulah Jou melihat Kopaja melaju di depan mereka. Tanpa pi kir panjang, Jou menarik tangan si bocah berambut keriting dan mengejar bus itu. Mereka berhasil selamat dan naik ke Kopaja yang melaju bertambah kencang, tapi tidak dengan anak satunya. Dia terpeleset saat hendak naik ke bus lalu terjatuh, dan para penyerang tidak memberinya ampun.



Sorenya, saat menonton berita di televisi, Jou melihat berita tentang tawuran itu. Badannya gemetar saat si pembawa berita mengatakan kalau seorang murid SMP Jaya tewas dalam peris tiwa tersebut. Semalaman Jou tidak dapat memejamkan mata karena didera rasa takut juga rasa bersalah lantaran tidak bisa menolong teman satu SMPnya.



Di sekolah keesokan harinya, semua murid membicarakan tawuran itu. Beranda Facebook penuh status berita mengerikan soal peristiwa tersebut, bahkan fotofoto korban berlumuran darah warawiri di sosial media. Jou mencaricari anak lakilaki berambut keriting yang menyelamatkan diri dengannya, tapi ti dak ketemu. Hampir seminggu setelahnya, dari kabar yang ter siar, Jou baru tahu kalau anak itu bernama Leo dan sedikit trauma dengan kejadian itu, jadi tidak masuk sekolah. Setelah mendapat kan alamat rumah Leo, yang ternyata dekat dengan rumahnya, Jou mendatanginya sepulang sekolah. Dia disambut mama Leo yang segera mengantarnya ke kamar Leo di lantai dua.



“Dia datang,” ucap Leo dengan bibir pucat yang bergetar. Jou menatapnya dengan ekspresi tidak paham. Dia belum mengobrol apaapa, tapi Leo sudah meracau seperti itu.




“Dia....” Jou menelan ludah, satu pikiran terlintas dalam be naknya. “Dia siapa?” Namun pertanyaan itu yang meluncur dari mulutnya.



“Yosep.” Mata Leo basah, perlahan air mata meluncur dari sudut matanya.



“Yosep....” Jou bergidik. Yosep teman SMP mereka yang jadi korban tawuran.



Entah apa yang menggerakkan Jou, dia mendekat ke arah Leo yang meringkuk ketakutan di tempat tidurnya. Dia duduk di sampingnya dan merengkuh pundak Leo, menepuknepuknya pelan.



“Elu nggak salah. Yang salah anakanak Pancasakti.”



Jou kehilangan katakata. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Namun kedatangan Jou sore itu sangat berarti bagi Leo. Dia seakan menemukan teman untuk melewati lorong gelap yang mengerikan dan menerornya. Sejak saat itu, keduanya berte man.



Jounatan menghentikan tangan yang akan mendorong pintu pagar besi setinggi pinggang. Dia menoleh. Dia merasa ada se seorang yang mengikuti langkahnya sejak dia berpisah dengan Leo di persimpangan tadi.Tapi tidak ada siapasiapa di belakang nya. Lampu jalan yang ada di seberang sana tampak berkedip kedip. Nyala. Mati. Nyala. Mati. Sudah hampir sebulan keadaan lampunya seperti itu.



Jou kembali memandang halaman mungil rumah mereka. Lampu di teras sudah menyala. Cahayanya yang redup membuat ayunan besi yang dipasang di bawah pohon mangga sedikit ber bayang.



Sret.

__ADS_1



Jou menoleh cepat. Kosong. Pintu gerbang rumah di seberang jalan masih tertutup rapat. Tidak ada siapasiapa. Tapi tanaman yang jadi pagar hidup rumah bercat biru itu bergoyang. Jan tung Jou bergemuruh. Debarnya lebih kencang. Dia menunggu sembari menghitung di dalam hati. Satu. Dua. Tiga. Lututnya lunglai.



Dua ekor tikus got muncul, berlari cepat dengan cericit riuh. Bekejaran.



Sialan! Ini pasti gara-gara gue termakan cerita Leo.



Jou tergesa mendorong pintu pagar rumahnya, lalu menutup nya. Dia tidak menoleh ke belakang lagi, walau masih bisa men dengar ayunan besi berderit. Seakan ada seseorang yang baru saja menaikinya atau menyentuhnya. Jou menekan bel di sebelah ka nan pintu. Sayupsayup terdengar alunan permisi, ada orang di rumah yang menggema di dalam sana. Dia menunggu. Terdengar suara seseorang yang melangkah tergesa. Jou dapat menerka ka lau itu adiknya, Natali.



Jou mencoba menghitung langkah Natali di balik pintu, tapi suasana mendadak sepi. Suara langkah adiknya lenyap. Teras rumah terasa lebih lengang. Angin berembus, pelan dan dingin di tengkuk Jou. Dia menggenggam erat tali tas punggungnya, lalu menoleh ke kanankiri dengan jantung berdebardebar. Lima detik berlalu dan kesunyian ganjil ini masih memenjarakan Jou. Dia menelan ludah. Dia tahu ada yang tidak beres dengan sekelilingnya. Namun apa? Dia tidak paham.



Lampu teras berkedipkedip. Jou mendongak. Suara ayun an besi di bawah pohon mangga kembali terdengar. Lebih me lengking. Dia menoleh. Mendadak sepi. Lampu jalan yang tadi nyalamati kini sudah padam. Gelap menyelimuti seberang sana. Suara ayunan berderit. Lagi. Jou sepertinya melihat ayunan itu majumundur, tapi tidak ada yang duduk di atasnya. Keringat menghiasi kening Jou.



Tanpa dikomandoi, Jou mundur perlahan, ke arah pintu yang masih terkunci rapat. Matanya awas menatap ayunan yang terus bergerak pelan. Ini pasti halusinasi. Gue salah lihat.



“Kak!”



Jou menjerit. Tertahan. Tanpa sadar dia terlonjak, lalu satu tangan menariknya cepat ke balik pintu yang dia sendiri tidak sadar kapan terbuka.



“Kenapa Kak Jou ngajak dia pulang?”



Napas Natali memburu. Adiknya yang berumur dua belas ta hun itu menyandarkan punggungnya di balik daun pintu yang sudah tertutup rapat. Jantung Jou masih dagdigdug, tapi dia mencoba menguasai diri.



“Siapa?” Tapi Jou tidak mampu menyembunyikan suaranya yang bergetar, menahan takut sekaligus terkejut karena Natali tadi tibatiba menariknya.



“Itu, yang lagi maen ayunan di bawah pohon mangga kita.”



Jou menyibak gorden jendela. Ayunan besi itu masih bergerak majumundur dengan ritme lambat.



“Nggak ada siapasiapa.” Jou menutup gorden. Dia merin ding.



Natali tidak menjawab, hanya tergesa berlari menuju dapur, meninggalkan Jou sendiri.



Jou memandang Natali. Sejak kecil, adiknya itu memang suka bercerita halhal yang menurutnya aneh dan tidak masuk akal. Dia teringat kejadian paling horor yang pernah dia alami ber sama Natali. Saat itu, papa dan mama sedang pergi ke rumah Pak Liem yang ada di ujung Blok K. Kabarnya Pak Liem meninggal karena kecelakaan sepeda motor.



Saat mereka ke sana, Natali berkata dia melihat Pak Liem du duk di pos siskamling Blok K, pos itu ada di ujung blok, dekat rumah Pak Samuel yang artinya hanya berjarak satu rumah de ngan rumah mereka. Jou ingat dia bertanya ke Natali, ngapain Pak Liem di sana? Dia kan sudah mati. Natali menjawab, Pak Liem merasa masih berutang tugas ronda, sebab minggu lalu dia kerja lembur dan tugasnya digantikan Pak Samuel. Dia mau membayar utang, makanya duduk di sana. Jou tidak bisa berkata apaapa waktu itu.



Ingatan itu membuat Jou tergesa menyusul Natali. Tanpa Jou sadari, beberapa helai rambut yang cukup panjang terjatuh dari langitlangit, juga tetesan air berwarna merah, tepat mengenai tempat dia berdiri tadi. Lalu, sesosok berkaus kuning bertuliskan Nirvana menyeret kakinya, mengikuti Jou ke dapur. Di sepan jang langkahnya, sosok itu meninggalkan jejak air merah yang lengket. Bau amis dan asap rokok menyeruak.

__ADS_1


__ADS_2