ARWAH

ARWAH
Episode 7


__ADS_3

Siang begitu terik. Mata Jounatan makin terasa panas. Dia berkalikali menguap. Sudah lima belas menit dia dan Nay menunggu Kopaja jurusan Blok M, tapi belum satu pun yang nongol. Jou menyandarkan kepala di tiang atap halte. Sementara di sebelahnya, Leo masih berusaha menjelaskan kepada Nay kalau dia benarbenar menyesal tidak bisa mengantar.



Saat Leo sibuk mengulangulang pernyataan kalau dia sebe narnya sangat ingin ikut dengan mereka, Kopaja yang Nay tung gu lewat. Cewek itu tergesa menarik Jou. Jou tergeragap, kesa darannya belum pulih seratus persen ketika Nay menyeretnya ke arah pintu Kopaja. Leo memandang mereka dengan hati kebas.



Sudah tepat pukul tiga sore ketika Nay dan Jou menjejak kan kaki di halaman Diskotek Lipstik. Diskotek ini ada di se berang Blok M Square, Nay dan Jou pun menyeberang lewat jembatan penyeberangan. Jou berdiam sejenak, memandangi ge dung tempat hiburan itu. Nay terus saja berjalan ke arah pintu depan. Parkiran diskotek lengang. Hanya ada dua mobil dan satu sepeda motor. Cat putih di gedung itu sudah mengelupas, dan dua pohon akasia yang tumbuh di halamannya menambah kesan tua serta angker. Seakan ada yang menggerakkannya, Jou men dongak, memandang jendela lantai dua. Tirai setengah terbuka.



Sesosok lakilaki berdiri di sana. Jou menduga itu Bram, tapi kakinya langsung kaku saat menyadari baju yang dipakai lakilaki itu. Kaus. Warnanya kuning pudar. Dan dari halaman ini, mata Jou masih sempat membaca tulisan di pakaian itu. Nirvana.



Jou mengerjap dan menatap jendela itu lagi. Kosong. Tidak ada siapasiapa di sana.



“Jou!” terdengar suara Nay. “Ngapain elu di situ? Panas tauk.”



Jou tersentak. Dia tergesa meneruskan langkah, menghampiri Nay yang sudah berdiri di teras.



Kayaknya gue kurang tidur, jadi berhalusinasi.



Nay sudah mendorong pintu kaca diskotek dan disambut satpam yang kemarin. Lakilaki itu membalas senyuman Nay dengan ramah.



“Yang kerja part time di sini, ya?” tanyanya.



“Betul, Pak. Kami berdua. Hari ini mulai kerjanya,” jawab Nay.



“Oya, pesan Pak Bram tadi, kalau kalian berdua sudah da tang, temui Pak Bram dulu di ruangannya. Jadi kalian nanti ke lantai atas dulu.”



Pak Satpam itu segera berlalu, tidak menunggu jawaban Nay dan Jou. Perasaan Jou mengatakan kalau air muka Pak Satpam berubah. Nay mengedikkan bahu, dia berjalan menuju tangga ke lantai dua, mendahului Jou yang perlahan mengikutinya. Sesekali Jou masih menengok ke belakang, ke arah Pak Satpam yang tergesa keluar. Jou seakan menangkap sesuatu, Pak Satpam menyembunyikan hal penting dari mereka. Namun, apa? Apa dia tahu soal urban legend yang berhubungan dengan Budi Lupus?



Anjrit, kenapa gue makin terpengaruh dengan cerita Leo!



Nay menunggu Jou di depan pintu ruangan, dia baru menge tuk pintu setelah Jou berdiri di sebelahnya.



“Masuk.” Suara Bram terdengar menggema di dalam sana.



Nay menekan pegangan pintu dan mendorongnya. Udara yang lebih dingin menyambut mereka. Nay menerka kalau suhu AC di ruangan Bram lebih rendah daripada di ruangan lain di diskotek ini.

__ADS_1



Ketika melihat Nay dan Jou muncul di balik daun pintu. Bram melirik jam dinding yang ditempel di tembok ruangannya.



“Kalian datang lebih cepat rupanya.”



Sesuai kesepakatan kemarin. Jou dan Nay akan bekerja dari pukul lima sore sampai sepuluh malam. Sekarang jarum jam baru menunjukkan pukul 15.25.



“Karena hari pertama atau....”



“Karena nggak macet, Kak,” sahut Nay.



Bram tersenyum. “Oke. Itu lebih baik. Tapi ingat, saya ti dak membayar uang kelebihan satu jam setengah ini kalau kalian langsung bekerja. Jadi kalian bisa mulai jam lima nanti. Tapi ka lau kalian mau pulang lebih cepat, saya sarankan untuk bekerja lebih awal. Cepat selesai. Cepat pulang dan belajar di rumah.”



Nay dan Jou mengangguk. Nay bahkan sudah siap balik ba dan untuk segera memulai tugasnya sebagai part time office girl.



“Tapi saya mau menjelaskan beberapa hal pada kalian berdua.”



Nay mengurungkan langkah. Dia kembali berbalik ketika mendengar ucapan Bram tadi.




Nay cuma bisa meringis.



“Ini seragam kalian.” Bram menyerahkan seragam kebersihan yang modelnya persis seperti pakaian pekerja bengkel. “Kalau sudah selesai, kalian bawa pulang dan cuci. Dijaga dan dirawat pakaiannya.”



“Siap, Kak.” Lagilagi hanya Nay yang menjawab. Jou hanya diam menyimak.



“Oya, satu lagi.” Nay kembali mengurungkan niat untuk berbalik dan mulai bekerja. “Karena di sini tidak ada ruang lo ker, jadi kalian ganti seragamnya di toilet. Tenang saja, tidak ada CCTV di toilet.”



Wajah Nay bersemu merah. “Boleh kami mulai sekarang, Kak?” tanyanya.



“Silakan.”



Nay berbalik. Dia menarik pegangan pintu lalu berjalan ke luar. Saat Jou hendak melangkah keluar, terdengar suara Bram.

__ADS_1



“Jou....”



Jou menghentikan langkahnya. Dia berbalik dan membiarkan pintu ruangan Bram tertutup otomatis. Nay sudah lenyap di ba lik daun pintu.



“Iya, Kak,” Jou menyahut. Bram berjalan perlahan ke arahnya. Tinggal mereka berdua di ruangan ini. Mendadak kesunyian terasa mencekam. Sunyi yang ganjil. Sepi yang membuat Jou merinding tanpa sebab.



“Kerja yang baik dan sungguhsungguh, ya,” ucap Bram se telah berdiri di depan Jou, jarak mereka hanya beberapa senti saja. Tinggi badan mereka sama. Jadi Jou bisa melihat mata cokelat abang Melodi itu. Juga bekas cambang yang habis dicukur.



“Baik, Kak.”



“Saya terkesan waktu dengar cerita Melodi. Nggak banyak re maja yang mau sekolah sambil kerja kayak kamu. Jangan buat saya kecewa.”



“Tentu, Kak.” Jou tersenyum. “Terima kasih untuk kesempat an dan kepercayaannya.”



Bram mengangguk. “Kamu juga mengingatkan saya pada se seorang. Sekarang dia tinggal jauh dari sini. Sudah lama sekali kami tidak bertemu.”



Jou melihat mata Bram sepertinya berkacakaca.



“Semoga bukan kenangan buruk, Kak. ”



Bram menggeleng. “Kamu memang manis. Pantesan Melodi suka sama kamu.”



Jou menelan ludah saat mendengar ucapan Bram. Namun dia merasa lega karena tidak ada Nay di sini.



“Ya udah, kamu ganti pakaian sana dan mulai kerja. Sera gam sekolahmu boleh disimpan di toilet atau di sini. Kalau kamu mau, kamu bisa ganti seragam di sini, kok. Pakai toilet saya.”



“Oh, nggak usah, Kak. Saya ganti seragam di toilet bawah saja,” Jou menjawab cepat. “Saya permisi, Kak.”



Bram mengangguk. Matanya terus memandang Jou yang menekan kenop pintu lalu menariknya. Dia terus menatap punggung Jou sampai Jou menghilang di balik pintu. Seulas se nyum merekah di bibir Bram. Lalu dia menghela napas.



Di atas meja kerja Bram, seorang lakilaki duduk dengan menjuntaikan kaki. Rambut gondrongnya menutupi wajah. Dia mengenakan celana jins selutut warna hijau. Dari ujung kaki nya, darah menetesnetes membasahi keramik. Dia mengenakan kaus bertuliskan Nirvana. Kaus itu sobek di dada dan perut, dari sobekan itu darah terus mengalir deras. Membasahi lantai dan meja.


__ADS_1


Saat Bram berbalik, gelas di mejanya tibatiba jatuh. Bram terperenyak. Tidak ada angin, tidak ada yang menyentuh, tapi gelas itu melayang turun ke lantai dan pecah berkepingkeping.


__ADS_2