ARWAH

ARWAH
Episode 11


__ADS_3

Sudah kesekian puluh kalinya Nay melihat jam di ponselnya. Dan angka penunjuk waktu di sana terus bergerak begitu cepat. Sudah pukul 17.35 WIB. Tapi ketika melirik ponselnya lagi, Nay tercekat. Matanya membulat, seolah hampir meloncat dari rongganya.



Mendadak angka penunjuk jam di ponsel itu berubah warna. Dari putih menjadi merah, lalu angka itu mencair. Benarbenar mencair, mengalir ke bagian bawah ponsel. Nay mengangkat benda berlayar lima inci itu. Air merah menetes dan mengenai je marinya. Nay mengusapnya dengan telunjuk dan ibu jari. Leng ket. Basah. Nay mengendusnya. Seketika dia menelan ludah.



Amis. Darah.



Wajahnya pasi. Tangannya gemetar. Dia segera menoleh ke Leo yang duduk di sebelahnya. Dan Nay nyaris terpekik karena menyadari Leo sudah menghilang. Nay berdiri dari duduknya. Kopaja yang penuh sesak itu berubah lengang. Tidak ada siapa pun selain dirinya. Tempat duduknya kusam, penuh coretan, berkarat, dan seakan sudah teronggok selama berpuluhpuluh tahun lamanya. Lutut Nay gemetar.



Dia mengedarkan pandangan ke jendela Kopaja. Jalanan yang tadi berisik kini berubah hening. Tak ada satu manusia pun di sana. Mobilmobil tua berkarat terbengkalai di banyak tempat, motormotor yang tinggal kerangka terserak begitu saja. Angin kering bertiup, menerbangkan kertas dan plastik. Dan tidak ada tandatanda kehidupan.



“Jou.” Nay tergesa berdiri dari duduknya dan berjalan ke lo rong Kopaja. Berusaha memastikan apakah dirinya benarbenar sendiri.



Apa ini mimpi? Ke mana Jou dan Leo?



Lima menit lalu mereka duduk bersama di Kopaja ini, Leo di sampingnya dan Jou di depannya. Nay menggigit bibir ba wahnya, berusaha mengusir cemas yang tibatiba saja bersarang.



“Leo.”



Tidak ada sahutan. Nay bergerak menuju pintu Kopaja yang terbuka lebar, berniat turun dan mencari Leo juga Jou yang raib ditelan bumi. Namun....



Brak!



Nay melompat mundur. Pintu Kopaja tibatiba tertutup sen diri. Terlambat satu detik saja, dia akan dihantam pintu besi itu. Wajah Nay bertambah pasi dan napasnya tersengal.



Sret!



Dia tergesa menoleh ke belakang, ke arah asal suara. Nay se gera berpegangan pada sandaran kursi berkarat begitu menyadari ada sosok asing di bagian belakang Kopaja. Sosok itu berambut sebahu dengan kaus dan celana jins sobek. Nay mundur per lahan, baju berlumuran darah dan pisau berkilat di tangan sosok itu membuat lututnya lemas.



Sosok itu terus bergerak ke arah Nay.



“Siapa elu?” Suara Nay bergetar. Sosok itu tidak menjawab, tapi terus bergerak. “Elu mau apa?” Dia ingin menangis karena takut setengah mati.



Cras!



Nay seketika melompat. Sosok itu menyabetkan pisaunya. Mata Nay melotot. Nyaris saja. Jika dia tidak segera menghindar, pisau itu akan merobek dadanya. Tapi Nay terpojok, tidak bisa lari. Ruang Kopaja ini sangat sempit. Dia terdesak di depan pintu keluar. Dia berusaha menarik pintu itu, tapi tidak terbuka.



“Tolong!” Nay menjerit sembari sekuat mungkin menarik pintu Kopaja. Pintu itu tetap bergeming.



Sosok itu semakin dekat. Nay semakin panik. Pisau berkilat itu terangkat ke udara.



Cras!



“Aaaakkkk!”



“Nay! Elu kenapa?” Leo menggoyang pundaknya. Nay terlon jak. Saat matanya terbuka, dia bersitatap dengan Jou yang sudah setengah berdiri dari duduknya. Nay mengedarkan pandangan, semua penumpang Kopaja menoleh ke arahnya. Dia meringis. Menahan malu. Menahan sakit.



Sakit?



Pundak kirinya yang menempel di dinding Kopaja terasa pe rih. Nay menarik badannya. Dan hanya mampu meringis juga menelan ludah ketika menyadari bagian bahu bajunya sobek, darah menetes pelan.



“Pundak elu berdarah? Kenapa?” Jou menunjuk bahu Nay. Leo cepatcepat menarik Nay dan terdiam ketika melihat darah di bahu Nay.



“Baju gue nyangkut, kayaknya ada bagian dinding Kopaja ini yang besinya menyembul. Jadi baju sobek dan gue luka.” Nay berbohong. Dia sendiri tidak yakin apa yang terjadi padanya. Mungkin benar apa yang dia katakan, bajunya tersangkut di ba gian besi yang menonjol dan kebetulan saja dia bermimpi buruk, jadi rasanya agak nyata.



“Sudah jam berapa?” tanya Nay, mengalihkan topik obrolan.



“Jam setengah enam.” Leo melihat jam tangannya. “Kak Bram pasti marah karena kita telat.”



Nay mendengus sembari berusaha melihat keluar jendela Kopaja. “Macet banget, sih. Emang ada apaan di depan sana?”



“Ada kecelakaan, Neng,” kondektur yang berdiri di tengah lorong Kopaja menyahut. Nay menghela napas kesal.



“Elu udah SMS Kak Bram, kan?” tanya Leo.



Nay mengangguk. “Udah.”



“Jawabnya apa?” Jou yang bertanya.



“Ditunggu sampai jam enam sore. Kalau telat, kita dipecat.” Nay merengut.



“Gimana kalau kita naik ojek aja?” usul Leo.


__ADS_1


“Di mana cari ojeknya?” Wajah Nay semakin kusut dan ke sal.



“Ya, di luar sana,” sahut Leo.



“Gimana, Jou?” Nay menatap Jou tanpa berkedip.



“Pundak elu gak kenapanapa?” Jou malah menanyakan itu.



Nay melirik bahu kirinya yang sedikit perih. Dia menggeleng. “Gak kenapanapa, kok. Cuma luka sedikit. Entar di diskotek gue bersihin pake alkohol, biar kumannya mati.”



“Kayaknya kita nggak ada pilihan lain. Kita emang harus naik ojek.” Leo kembali meluruskan obrolan mereka. Jou hanya mengangguk kecil. Nay terburu berdiri.



Ketiganya melompat turun dari Kopaja. Suara klakson dan asap kendaraan langsung menyambut mereka. Jou meraih tangan Nay, membawanya mencari celahcelah di antara mobil dan mo tor untuk sampai ke tepi jalan. Leo mengikuti dari belakang. Me lihat Jou menggenggam tangan Nay, hati Leo terasa ngilu.



“Harusnya elu cuti dari tim basket, Jou,” ujar Leo, berlomba dengan suara bising kendaraan. “Atau kompromi aja sama Alex, biar jadwal latihan elu cuma sampai satu jam aja, jangan dua jam seperti biasanya.”



Selain berurusan dengan Ibu Diandra dan guru BP yang membuat mereka telat ke Blok M, tadi Alex juga memaksa Jou untuk latihan. Kapten tim itu akan memaafkan Jou kalau dia latihan sore ini. Jou tidak punya kesempatan untuk menjelaskan semuanya ke Alex.



“Entar gue kompromiin ke Alex,” Jou menyahut. Ketiganya sudah ada di trotoar dan melihat ke kanankiri, mencari tukang ojek.



Tepat pukul enam sore, ketika Nay, Jou dan Leo menjejakkan kaki di teras Diskotek Lipstik, Bram sudah berdiri sembari berse dekap. Wajahnya ditengkuk. Sementara Pak Narto dan Melodi berdiri diam di sampingnya.



“Telat lima menit lagi. Kalian berdua saya pecat,” sambut nya.



“Maaf, Kak. Tadi di jalan ada kecelakaan. Makanya macet parah.”



“Saya tidak butuh alasan itu.” Bram menatap Nay dengan ga rang. “Sudah tahu Jakarta macet, jam kerja kalian dimulai jam lima sore. Harusnya kalian berangkat lebih awal. Macet bukan alasan.”



“Kami minta maaf, Kak. Ini kejadian pertama dan terakhir. Kami janji.”



Bram menoleh. Menatap Jou. Mereka saling pandang.



“Oke,” ucap Bram. “Kalian saya maafkan. Tapi saya mau se mua pekerjaan beres sebelum jam sepuluh malam. Terserah ba gaimana caranya. Saya tidak peduli. Saya hanya mau tahu kalau pekerjaan sudah selesai dan kita bisa buka seperti biasa.”



“Siap, Kak,” sahut Nay.



“Saya akan bantu mereka,” Leo menimpali.




“Gak masalah.”



“Aku juga,” ucap Melodi tibatiba yang membuat Bram me noleh. “Abang tadi bilang nggak peduli apa pun yang Jou lakuin, asal semua pekerjaan beres. Jadi gak usah peduliin aku yang mau bantu mereka.”



Bram mati kutu.



“Sudah, yuk. Jangan buang waktu. Kita mulai saja,” ucapan Melodi membuat Nay, Jou, dan Leo segera balik kanan dan bu bar untuk memulai pekerjaan mereka.



Jou dan Nay tidak mengganti seragam terlebih dulu. Jou me minta Nay dan Melodi menyiapkan gelasgelas, mengelap meja, dan memastikan asbak rokok tersedia di setiap meja. Sementara dia dan Leo akan membersihkan semua toilet yang ada. Tidak tahu kenapa, mengingat toilet saja sudah membuat bulu kuduk Jou berdiri tegak tanpa bisa dicegah. Bayanganbayangan menge rikan yang menerornya sejak lebih dari seminggu terakhir mem buat pikiran dan perasaannya sedikit kacau.



Tapi Jou berusaha bersikap setenang mungkin. Dia tidak ingin menakuti diri sendiri dan Leo tentunya. Terlebih ketika teringat Leo yang sempat lari terbiritbirit saat pertama kali ke tempat ini. Katanya Leo mendengar suara tangisan misterius.



“Kita bersihin toilet mana dulu?” Leo menjajarkan langkah dengan Jou.



“Toilet cowok,” sahut Jou. “Entar gue buang sampah ke be lakang. Elu bersihin duluan. Gue cuma sebentar, kok. Bagian belakang diskotek ini gelap banget. Gue lupa terus minta Kak Bram kasih lampu.”



“Oke.”



Keduanya tidak berkatakata lagi. Jou segera menarik kantong plastik yang jadi wadah dasar kotak sampah. Dia mengikatnya satu per satu, lalu menyatukannya. Dia melakukan hal yang sama dengan isi kotak sampah dari toilet cewek.



“Gue cuma lima menit,” ucapnya saat berpamitan ke Leo yang mengambil karbol untuk membersihkan kloset berdiri di toilet cowok.



Leo mengangguk. Pintu toilet tertutup saat Jou menghilang. Leo merogoh ponselnya. Dia menyalakan MP3 dan lagu hits dari Rihanna segera memenuhi toilet. Ketika sedang membilas kloset pertama dan lagu Rihanna akan berganti ke Selena Gomez, men dadak MP3nya mati. Leo menghentikan tangannya yang sedang menggosokkan sikat pembersih WC. Dia melepas sarung tangan karetnya, merogoh ponsel dari saku celana, lalu menekannekan tombolnya. Tidak ada suara. Leo terus menekan. Tapi suara MP3 tidak kunjung terdengar.



Tibatiba seseorang mendorong pintu toilet. Leo men dongak.



Seorang perempuan berpakaian putih dengan rambut panjang melewati pundak menerobos masuk dan tergesa menuju kamar kecil yang pintunya terbuka.



“Mbak!” Leo memanggilnya setengah menjerit. Cewek itu tidak menoleh, malah terus berjalan menuju pintu toilet yang terbuka. “Ini toilet cowok. Toilet cewek ada di sebelah. Mbak salah masuk,” tukas Leo.



Cewek itu menghentikan langkahnya. Leo tersenyum. “Ada tanda di pintu, kok. Kayaknya Mbak buruburu dan salah.”



Hening. Cewek itu bergeming.

__ADS_1



“Maaf, saya cuma ngasih tahu kalau....”



Sret. Cewek itu menoleh. Terlihat wajah pucat dengan lingkaran hitam di sekeliling matanya. Tubuh Leo seketika kaku. Kepalanya dicekam rasa dingin yang merambat ke dada. Sayup terdengar suara tangis. Leo masih membatu. Lalu, suara tangis itu semakin lama semakin nyaring. Leo tetap tidak bisa meng gerakkan kakinya sedikit pun. Mulutnya tidak mampu berteriak. Dan mendadak suara tangis itu berganti suara tawa melengking. Tawa yang mendirikan bulu kuduk. Sekaligus membuat Leo ter sentak dan akhirnya bisa menggerakkan kakinya. Dia nyaris ter kencing melihat sosok di depannya.



Leo berlari menuju pintu toilet. Dia meraih kenop pintu. Sialnya, kenop itu begitu keras. Leo tidak bisa menekannya. Suara tawa semakin nyaring.



“Tolong!” Leo menggedorgedor pintu dan terus menekan kenop. Tidak ada sahutan. Pintu tetap bergeming.



Krek.



Leo mendengar itu, mirip suara tulang remuk. Dia menoleh. Jantungnya mencelos ketika melihat leher sosok berambut pan jang itu patah. Sosok itu merintih ke arah Leo, dan berjalan sem poyongan.



Leo semakin panik. Dia menggedor pintu toilet semakin ke ras.



“Tolong!” jeritnya. “Jou!”



Leo menoleh, tibatiba saja pintupintu bilik kamar kecil ber derakderak. Di bawah kakinya, lantai bergetar. Bau amis me menuhi seisi ruangan. Leo menekan kenop pintu sekuat mung kin.



Lalu tibatiba suasana berubah hening. Suara tangis, tawa, dan derak pintu itu lenyap. Tapi ada sesuatu yang membuat Leo menahan napas. Ada sesuatu sedingin es yang menyentuh pundaknya. Leo memejamkan mata. Badannya mulai menggigil. Dia menoleh perlahan. Dan....



“Aaaakkkk!” Leo menjerit sekeraskerasnya. Di pundaknya, ada sepotong tangan pucat dengan kukukuku menghitam. Ha nya tangan. Hanya sepotong tangan.



Terdengar tawa melengking. Leo merasa nyawanya akan ter cerabut saat itu juga.



Brak!



Seseorang mendorong pintu toilet sekuat tenaga.



Jou!



Leo nyaris memekik bahagia melihat siapa yang muncul di balik daun pintu. Dia segera menghambur ke arah Jou yang ber diri sigap dan mengedarkan pandangan ke sepenjuru toilet.



“Leo ... ada apa?”



“A ... a ... ada hantu, Jou.”



Leo berdiri dengan kaki gemetar. Dia berpegangan pada pundak Jou. Wajahnya pasi. Matanya bergerak liar. Bibirnya ter lihat pucat dan bergetar.



“Su ... su ... sumpah! Gue gak bohong,” katanya dengan suara terbata. “Gue lihat sendiri. Hantu cewek.”



Jou segera menyeret Leo keluar dari toilet.



“Kenapa?” Nay muncul, diikuti Melodi di belakangnya. Ken tara sekali gurat cemas di wajah Nay.



Jou melirik Melodi yang kebingungan melihat Leo yang lung lai.



“Tadi lampu toilet mendadak mati sendiri,” Jou berbohong. “Leo fobia gelap.” Dia melihat Melodi mengulum senyum, seakan mau tertawa. Mungkin di dalam hatinya berkata, hari gini ada cowok yang takut mati lampu?



“Mel, tolong ambilin minum, ya,” pinta Jou.



“Oke. Tunggu sebentar.” Melodi segera berbalik, meninggal kan ketiga temannya di tengah lorong toilet yang remang.



Di sudut lorong, di bagian paling gelap, sesosok berambut sebahu menatap mereka. Dia menggeram. Tetestetes air amis terus berjatuhan dari bajunya. Dia menatap Jou dengan mata merah dan penuh kobaran api.



Natali mendengarkan semua cerita Jou tanpa sekali pun menyela. Keheningan menyergap mereka berdua setelah Jou mengakhiri kisahnya. Jou menunggu reaksi adik semata wayangnya itu. Kalau perlu, Jou ingin sekali mendengar tawa Natali menyembur dan terpingkalpingkal sembari menunjuknunjuk wajah Jou. Betapa Kokohnya ternyata seorang yang kolot dan primitif karena mulai percaya dengan hantu dan bualannya. Tapi Natali bergeming.



“Gue gak tahu, Kak, gimana caranya ngusir hantu? Apalagi hantu jahat kayak gitu.” Natali memandang Jou dengan tatapan bersalah. “Tapi gue janji bakalan cari tahu. Kakak tenang aja. Untuk sementara waktu, pikiran kakak jangan kosong. Hantu kuat dan neror kalau lawannya lemah.”



Jou mengangguk. Dia tidak tahu harus berkomentar apa lagi.



“Kalau cerita Kak Leo memang nyata soal arwah Budi Lu pus, kakak harus cari tahu dulu cerita yang sebenarnya kayak apa. Dari situ, kita bisa cari cara buat hentiin teror dia.”



“Kakak udah cari di Google, tapi ceritanya hampir sama dengan yang Leo ceritain.”



“Ya jangan cari di Googlelah, Kak.” “Terus?”



“Cari ke sumbernya langsung.” “Maksud elu?”



“Coba tanyatanya orang di sekitar Diskotek Lipstik. Kalau memungkinkan, kakak tanya aja Kak Bram. Gue yakin seratus persen kalau abangnya Kak Melodi pasti tahu sesuatu. Bohong banget kalau dia gak tahu apaapa soal diskoteknya.”



Jou setuju dengan usul Natali, tapi bagaimana caranya agar Bram mau cerita? Jou meringis. Sepertinya sangat sulit untuk mengorek keterangan dari si pemilik diskotek itu sendiri.

__ADS_1


__ADS_2