
Bau roti panggang merebak dari dalam rumah ketika kepala Papa menyembul di balik daun pintu. Dia masih mengenakan celemek yang berlepotan tepung. Senyum Papa mengembang ketika me lihat wajah kuyu Jounatan.
“Kenapa malam sekali?” Papa membuka pintu lebih lebar lalu menepi, membiarkan Jou masuk. “Sudah hampir jam sebelas malam. Mama dari tadi ribut nyuruh Papa nelepon ke HPmu.”
“Macet, Pa,” sahut Jou sembari melepas sepatunya. Dia me nenteng sepatu itu ke dapur. Papa mengekor di belakangnya. “Kopajanya juga susah. Tadi juga aku harus ngantar Nay ke rumahnya dulu. Kasihan kalau dia pulang sendirian.”
“Nayla?” Papa memastikan. Jou mengangguk. “Dia ikut kerja juga?”
Lagilagi Jou hanya mengangguk. Dia meletakkan tasnya di atas meja makan. Tangannya menjangkau gelas. Dia lalu mena rik pintu kulkas dan mengeluarkan air putih dingin dari raknya. Papa hanya menatap Jou menandaskan segelas besar air minum. Dia bisa melihat jakun Jou naikturun ketika air mengalir masuk ke perutnya.
“Mama mana, Pa?” Jou mengedarkan pandangan ke sekeliling dapur mungil rumah mereka. Tangan kanannya meletakkan ge las bekas minumnya di atas meja.
“Sudah tidur. Papa suruh tidur duluan. Capek mamamu. Pe sanan besok banyak, ada tiga kantor yang mau mengadakan rapat dan pesan snack ke kita.”
“Puji Tuhan,” desis Jou sembari tersenyum. “Lah, Papa kok belum tidur?”
“Papa mau beresin peralatan dan dapur. Biar besok mamamu nggak usah repot lagi.”
“Ya udah, Papa mending bersihin badan aja, terus tidur. Biar aku yang beresin dapur.”
“Jangan,” tolak Papa cepat. “Kamu yang harus cepatcepat mandi, lalu makan dan tidur. Biar besok nggak kesiangan. Noh Papa sudah bakarin roti buatmu. Atau mau Papa masakin mi rebus?”
“Nggak usah, Pa. Aku bisa masak sendiri kalau mau. Udah Papa aja yang buruan istirahat. Entar Papa sakit kalau tidur ma lam terus.”
“Atau Papa masakin air panas buat mandi?”
Mata Jou terasa memanas ketika mendengar ucapan Papa nya. Dia tergesa mendongak, menahan air bening hangat yang siap menyeruak di sudut mata. Berkalikali Jou menghirup napas dalamdalam.
“Jangan dipaksain kerja, Jou. Papa masih sanggup ngum pulin uang buat kuliahmu nanti. Yah, penghasilan dari bikin kue memang gak menentu. Nggak kayak waktu Papa masih jadi pe gawai kantoran, tapi paling nggak Papa dan Mama masih bisa nabung.”
“Nggak apaapa. Aku kuat. Udah gede ini. Lagian, kayak yang sering aku bilang, aku mau mandiri, Pa. Kapan lagi aku bisa be lajar mandiri kalau nggak dari sekarang.”
Senyap. Papa mematung, begitu juga dengan Jou. Keduanya berhadaphadapan dan saling pandang. Seakan tatapan ayah dan anak itu bercerita sangat banyak, melebihi katakata yang tak bisa mereka ucapkan.
“Ya sudah, kamu bersihin badan sana.” Ucapan Papa menya darkan Jou. Dia lalu mengangguk dan mengambil tasnya, dan berjalan ke arah pintu yang menghubungkan dapur dan ruang tengah.
Kaki kanan Jou baru saja menapaki anak tangga ketiga, ketika dia menoleh ke ruang tengah yang agak temaram. Dia tertegun, berusaha memastikan penglihatannya. Di atas sofa di depan te levisi yang kini tidak menyala, seseorang duduk memunggungi Jou.
Siapa? Mama sudah tidur. Natali pasti juga sudah tidur. Lagian ngapain dia duduk di sofa dengan TV mati begitu?
Bau asap rokok menyeruak. Jou makin mengernyitkan kening. Siapa yang merokok di rumahnya? Papa tidak merokok. Jou juga tidak. Tidak ada anggota keluarga mereka yang merokok. Dan anehnya, tidak ada asap rokok dari sosok yang duduk membela kanginya itu.
Jou turun perlahan. Dia berjalan mundur dari tangga dan matanya tak lepas dari sosok itu. Sosok berambut sebahu yang tetap bergeming, seakan tidak menyadari kalau Jou sedang berja lan ke arahnya. Jantung Jou berdebar saat langkah demi langkah memperpendek jarak di antara mereka. Bau rokok semakin me nyengat, bercampur dengan bau asing.
Alkohol. Terka Jou. Tidak hanya itu, ada aroma amis yang mengelindap di antara baubau yang tidak lazim di rumah me reka.
Jarak Jou dan sosok di atas sofa itu tinggal sehasta. Dengan tangan gemetar, Jou mengulurkan tangan, berniat menyentuh pundak sosok itu. Namun....
Jou tersurut mundur ketika kepala sosok itu berputar. Benar benar berputar seratus delapan puluh derajat. Sekarang wajahnya menghadap ke Jou, sementara badannya tetap tak bergerak. Mata Jou terbelalak. Dia hanya mampu ternganga dengan kaki mem batu di lantai. Tak sanggup menjerit.
__ADS_1
Krek!
Sosok berwajah lakilaki pucat dengan mata melotot itu me matahkan lehernya ke kanan. Bulu kuduk Jou seketika berdiri saat kepala itu terteleng, tidak kembali seperti semula. Mungkin patah. Jou merasa tubuhnya diserang rasa dingin yang hebat.
Sofa berderit ketika sosok berpenampilan janggal itu berdiri. Tinggi badannya sama dengan Jou. Dia berjalan perlahan, me nembus sofa. Jou tersurut mundur. Dia menelan ludah ketika menyaksikan sosok itu bisa melewati benda padat, menembus sofa dengan mudahnya.
Krek!
Sosok itu mematahkan lagi lehernya. Kepalanya kembali tegak. Rambutnya menjuntai, menutupi sebagian wajahnya. Tapi Jou masih dapat melihat dengan jelas kalau mata sosok itu seolah berkobar. Seakan ada api di dalamnya.
“Si ... si ... si....?” Suara Jou terdengar gemetar. Tidak ada kata yang bisa meluncur dari mulutnya. Dia mundur selangkah demi selangkah. Sosok itu terus berjalan ke arahnya. Menjulur kan tangan, seakan ingin mencekik.
Terdengar deru napas memburu. Aroma busuk menyeruak, menggantikan bau asap rokok bercampur alkohol. Jou menu tup hidung. Dia bergidik ketika menyaksikan kulit tangan sosok berwajah terbalik itu tibatiba mengelupas. Jou hampir muntah ketika menyaksikan serpihan demi serpihan daging busuk ber jatuhan ke lantai, puluhan bahkan ratusan belatung putih gemuk dengan rakus memakan kulit busuk itu.
Jou terjepit di tangga. Lututnya menabrak anak tangga paling bawah. Dia masih berusaha menghindari tangan berdaging han cur di depannya. Daging berulat itu terusmenerus mengelupas, bahkan kini tangan itu hampir hanya bersisa tulang. Jou ingin menjerit. Memanggil Papa yang ada di dapur, tapi suaranya ter sangkut di tenggorokan.
“Jou! Ngapain kamu tidur di tangga?”
Seseorang mengguncang bahunya. Jou gelagapan. Dia men dongak. Papa berdiri dengan kening berkerut.
Jou tersadar. “Nggak, Pa.”
“Lah, terus ngapain di sini? Katanya tadi mau bersihin ba dan.”
“Ya, ini mau bersihin badan. Cuma tadi....” Jou menatap berkeliling. Papa yang kebingungan pun mengikuti arah tatap an Jou. Melihat ruang tengah yang temaram karena Papa sudah mematikan lampunya saat Jou tadi menenteng sepatu ke dapur. Cahaya yang menerangi ruangan itu hanya berasal dari lampu teras depan yang menerobos kaca, juga lampu dari dapur.
Jou menggaruk kepalanya. “Kayaknya aku salah lihat, Pa.”
Papa kembali menyapukan tatapannya ke sekeliling ruangan. Televisi sudah tidak menyala. Sofa lengang. Guci keramik ke sayangan Mama berdiri diam di tempatnya. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang ganjil.
“Cuma salah lihat.” Jou menghela napas lega. Tidak ada siapa siapa di rungan ini. Dia menatap lantai di dekat kakinya. Tidak ada daging busuk dan belatung di situ. “Kupikir tadi aku ngeliat tikus di atas sofa. Ternyata nggak. Mana mungkin, di rumah kita gak ada tikus, kan. Mama paling takut sama tikus. Lagian kita jualan makanan, kalau rumahnya ada tikus, nanti disangka nggak higienis.”
Papa bengong, bingung dengan katakata Jou.
“Aku ke kamar sekarang, Pa.” Jou terburu pamit, dan tidak menoleh lagi. Kakinya melangkahi dua anak tangga sekaligus. Papa hanya mengangguk, lalu turun dari tangga dan menuju pintu kamar tidur. Sebelum menekan kenop pintu, Papa meno leh lagi ke ruang tengah. Dia tidak melihat tikus atau hal aneh apa pun di sana.
Sementara itu, saat menapaki anak tangga ke lantai dua, mata Jou terus awas memperhatikan ruang tengah. Benarbenar tidak ada siapasiapa. Ruangan itu lengang. Ketika Papa membuka kamar tidur mereka yang ada di seberang tangga, lampu kamar yang benderang menyinari ruang tengah, membuat Jou lebih le luasa untuk melihat. Tapi memang tidak ada apaapa.
Jou mengunyah roti bakar dan meletakkan piringnya beserta botol air minum di atas meja belajar. Dia meletakkan tas di gan tungan sisi lemari. Saat gigitan terakhir masuk ke mulutnya, Jou mengeluarkan seragam kerja, memasang hanger, dan meletak kannya di samping tas.
Jou memastikan kamarnya terkunci rapat sebelum melepas seragam SMAnya. Dia menarik handuk yang tersampir di san daran kursi depan meja belajar. Didorongnya pintu kamar man di, lalu ditutupnya pelan. Tak lama, terdengar air mengalir dari pancuran.
Saat menggosok gigi dan membersihkan wajah dengan sabun pencuci muka di depan cermin, Jou memperhatikan kumis tipis yang tumbuh di atas bibirnya, juga cambang halus yang berbaris rapi di kanankiri pipinya. Dia teringat ucapan Nay saat mereka berdua ada di Kopaja sepulang kerja tadi.
Elu kelihatan dewasa banget dengan kumis dan cambang itu. Keren, sih.
Jou tersenyum sembari menggosok badannya dengan sabun dan membilasnya dengan air yang mengucur dari pancuran. Ti dak sampai lima belas menit, dia sudah keluar dari kamar mandi. Jou sedikit merinding. Tengah malam bukan waktu yang baik untuk mandi, tapi dia merasa badannya lengket karena keringat. Juga bau.
__ADS_1
Suasana rumah sepi, begitu juga jalanan di depan sana. Sese kali, terdengar lolongan anjing di kejauhan. Jou membuka lema ri pakaian. Dia menarik baju kaus tipis tanpa lengan dan celana bokser hitam. Dikenakannya pakaian itu dan diletakkannya han duk kembali ke sandaran kursi.
Jou baru saja berbalik dan hendak melangkah ke tempat ti dur ketika melihat seseorang duduk di tepi tempat tidurnya, me munggunginya.
Dia lagi.
Tempat tidur berderit. Nyaring. Menyayat. Lalu bergetar. Pertama pelan, kemudian cepat dan bertambah cepat. Jou ber pegangan pada sandaran kursi. Terdengar suara terisak. Lamat. Lalu tawa. Melengking. Yang menjelma menjadi jeritan panjang. Seperti lolongan anjing di kejauhan. Lutut Jou lemas.
Air berwarna merah mengalir dari tempat tidur Jou, bergerak cepat ke arahnya.
Darah. Ini darah. Bukan air biasa.
“Kerja di Diskotek Lipstik ya, Dik?” tanya ibu pemilik warung, Jou mengangguk sembari tersenyum ramah.
Dia menyodorkan selembar uang lima puluh ribu untuk membayar tiga botol minuman dingin yang dibelinya. Nay dan Leo sedang sibuk membereskan meja di dalam diskotek saat Leo mengeluh haus.
“Iya, Bu. Cuma kerja paruh waktu. Sore aja.”
“Gak takut kerja di sana?” Ibu itu menghitung uang kemba lian Jou.
“Takut kenapa, Bu?” Jou purapura tertarik. “Emang ada ce rita apa soal diskotek itu?” Dia mencoba memancing informasi. Mungkin saja ada petunjuk untuknya. Terus terang Jou merasa sangat terganggu dengan teror yang mulai menghantuinya, tapi dia tidak tahu harus mencari bantuan dari mana. Berbagi cerita dengan Nay dan Leo bukan pilihan bijak. Dia tidak mau mem buat Leo panik dan takut. Juga tidak mau terlihat cemen di depan Nay.
“Kan diskotek itu ada hantunya.”
“Hah? Serius, Bu?” Jou membulatkan mata, purapura ter kejut.
“Iya.” Ibu itu menoleh ke kanankiri. “OB di situ gak ada yang betah. Baru beberapa bulan, pasti berhenti.”
“Mereka diganggu hantu?” Jou bertanya, agak ragu. Ibu itu mengangguk.
“Gak cuma diganggu, tapi hampir mati. Hantunya serem. OB yang berhenti bulan kemarin kan hampir celaka. Dia jatuh dari tangga lantai dua. Kata Pak Narto yang satpam itu sih, dia kepe leset. Tapi OBnya cerita ke ibu, katanya dia didorong penam pakan penuh darah, rambut panjang, dan pake kaus kuning.”
Jou mau tidak mau menelan ludah. Kaus kuning. Kesamaan yang kebetulan kah?
“Kok bisa diskotek itu berhantu, Bu?”
“Kan dulu ada pembunuhan di situ. Cuma ibu kurang tahu ya, yang dibunuh itu cowok atau cewek. Katanya sih cowok, tapi banyak yang liat penampakannya rambut panjang kayak cewek. Rebutan pacar gitu. Nama pacarnya Budi, kalau gak salah.”
Budi. Ini versi lain.
Jadi sebenarnya yang dibunuh itu Budi atau pacarnya Budi?
Pikiran Jou mendadak kusut.
“Hatihati kerja di sana. Saran ibu, lebih baik kamu cari kerja di tempat lain aja. Daripada celaka. Kalau bisa sih kamu punya pegangan gitu. Kayak jimat penangkal.”
Jou mengangguk lalu pamit ke ibu pemilik warung. Saat me nyeberang jalan, dia masih digelayuti cerita itu.
__ADS_1
Apakah Leo tahu kalau ada banyak versi cerita tentang Budi? Lalu, mana yang benar?