ARWAH

ARWAH
Episode 3


__ADS_3

“Serius, elu mau kerja part time di Diskotek Lipstik?”



Jounatan memasukkan tasnya ke laci meja. Dia mengang guk. Beberapa murid kelas XI IPA A yang baru datang membuat suasana kelas sedikit riuh. Leo mengulang pertanyaan itu tiga kali.



“Tapi diskotek itu serem, Jou. Ada hantunya.”



Jou menautkan alis dan memandang Leo. “Kata siapa?”



Leo mengembuskan napas. Dia sadar kalau Jou tidak akan pernah percaya dengan ucapannya. Leo duduk bersandar. Dia perlu sesuatu yang bisa membuat Jou percaya, tapi apa? Tidak ada ide. Sementara sudah pasti Jou tidak akan percaya dengan cerita tentang urban legend.



“Di sana ada arwah penasaran.” Suara Leo gemetar. Dia men dekatkan posisi duduknya ke arah Jou. Mereka memang duduk satu meja di kelas, tapi pagi ini Leo sedang duduk di bangku Nay yang ada di depan mereka. Lagi pula, cewek periang itu belum muncul.



Jou mengedikkan bahu. Ponselnya bergetar. Dia mengeluar kan benda persegi panjang itu.



“Elu harus percaya ama cerita gue.”



Jou mengalihkan matanya dari layar ponsel, menatap Leo. “Oke.”



Sebenarnya Jou tidak terlalu berminat mendengar cerita han tu dan sebagainya. Sekarang yang dia butuhkan adalah informasi lowongan kerja, yang menerima murid SMA seperti dirinya. Pe kerjaan paruh waktu. Dan Jou tahu kalau Leo sangat maniak dengan segala hal yang berbau horor. Jadi Jou hanya sedang ber usaha menyenangkan sahabatnya.



“Dulu,” Leo memulai cerita dan membetulkan posisi du duknya, “gue kurang tau tepatnya. Katanya sih peristiwa itu ter jadi sekitar tahun 2005.”

__ADS_1



Jou menyimak.



“Ada pembunuhan di toilet Diskotek Lipstik di Blok M. Nama korbannya Budi. Orangorang manggil dia Budi Lupus. Kenapa dipanggil begitu, katanya sih garagara dia suka ngunyah permen karet kayak tokoh Lupus di cerita yang ditulis Hilman Hariwijaya. Lu tau kan novel kocak itu?”



“Tentu,” Jou menyahut pendek. Dia memang tahu novel itu dari Nay yang hobi membaca. Tapi hanya sekadar tahu saja, dia belum pernah membacanya.



“Nah, dari situ misterinya bermula, Jou.”



“Maksudnya?”



“Misteri pembunuhan itu. Siapa pembunuhnya dan apa mo tifnya, semuanya masih tekateki.”




“Dari cerita yang beredar,” Leo meneruskan kisahnya. “Sudah banyak orang yang ngeliat penampakan hantu Budi Lupus di diskotek itu.”



Entah kenapa, ketika Leo mengatakan penampakan, bulu ku duk Jou berdiri. Dia merasa udara pagi yang bertiup dari jen dela yang terbuka mendadak begitu dingin. Tapi Jou cepatcepat menghalau rasa itu. Cuma perasaan gue aja.



Lalu Leo melanjutkan ceritanya. Katanya, tidak ada yang tahu siapa pembunuh Budi. Saksi mata yang menemukan mayatnya tidak melihat siapasiapa di toilet itu, selain Budi yang tergele tak bersimbah darah. Ada bekas jeratan di lehernya. Darah mengucur dari bekas tusukan senjata tajam di perut, dada, dan punggungnya. Dari teori yang diutarakan polisi, Budi diserang dari belakang. Mungkin dia sedang buang air kecil, lalu ada yang menyergapnya. Menjerat leher dan menikamnya berkali kali. Namun sepertinya Budi melakukan perlawanan dan tidak mudah dikalahkan. Itu bisa dipastikan dari kondisi toilet yang berantakan. Kotak sampah yang tumpah, wastafel yang pecah dan penuh darah, dan air keran yang mengalir.



Jou mengusap tengkuknya. Dia merinding membayangkan adegan dari cerita Leo.

__ADS_1



Kelas mendadak terasa lengang. Suara hirukpikuk murid yang baru datang tibatiba lenyap. Jou membayangkan toilet yang lembap dan jarang dikunjungi. Suasana ruangan itu te maram, satusatunya penerangan hanya lampu lima watt yang berkedipkedip di langitlangit. Suara air keran yang jatuh setetes demi setetes terdengar begitu nyaring. Lalu di pojok toilet, ter lihat sesosok berlumuran darah berdiri sembari menatap tajam ke arahnya.



Anjrit! Kok gue ngebayangin yang nggak-nggak.



“Jadi menurut gue, elu nggak usah terima tawaran Melodi.”



Suara Leo barusan menarik Jou kembali ke ruang kelas yang dia kenali. Suara riuhnya masih sama seperti tadi. Jou menghela napas. Tatapannya dan tatapan Leo bertaut selama beberapa de tik, sebelum Jou berpaling ke jendela. Dari lantai dua, dia bisa melihat anakanak SMA Victoria mulai memenuhi pintu ger bang.



Sembari memandang halaman di bawah sana, Jou menghela napas dalamdalam sekali lagi, seakan udara hanya tersisa satu helaan saja. Mata cokelatnya bertambah suram, dia tidak pernah punya kalimat yang pas untuk menjelaskan semua kesulitan yang tengah dia hadapi. Dia benarbenar butuh pekerjaan. Leo tahu itu.



“Thanks udah peduli, Bro.” Jou masih memandang ke arah halaman. “Tapi elu tahu sendiri, gue butuh kerjaan ini. Gue ya kin semua bakalan baikbaik aja.”



Leo terdiam. Dia tibatiba kehilangan seluruh kata yang bersa rang dalam kepalanya. Selama beberapa lama keduanya larut da lam senyap. Leo purapura sibuk dengan ponsel di tangannya, membuka Twitter. Padahal tidak ada mention atau cuitan yang ingin dipostingnya.



Jou melihat Nay melangkah di lapangan basket. Cewek itu mengucir rambutnya dengan gaya ekor kuda. Bagian belakang rambutnya bergerak ke kanankiri seiring ayunan kakinya. Namun bukan itu yang membuat Jou refleks mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke jendela. Ada satu sosok yang berjalan di belakang Nay. Sosok tanpa seragam sekolah. Sosok itu mengena kan kaus berwarna kuning, rambutnya terurai.



Seakan sadar sedang diperhatikan, sosok itu berhenti dan mendongak. Jou terperenyak. Dia menelan ludah. Sosok itu ... sosok itu ... berwajah rata.



Di saat bersamaan, Jou mencium aroma sesuatu. Bau asap ro kok. Menyengat. Jou menoleh ke arah Leo. Bau itu berasal dari sampingnya, tapi Leo tidak sedang merokok. Tangan Leo sedang sibuk menggeser layar ponsel. Perlahan bau itu memudar, lalu hilang.


__ADS_1


Jou tergesa menatap Nay yang semakin mendekati koridor se kolah. Dia ingin memastikan matanya tidak salah lihat. Namun sosok berkaus kuning itu sudah lenyap. Sekali lagi Jou menelan ludah. Bulu kuduknya berdiri.


__ADS_2