
“SIALAN!” teriak Yaka Utungga, melempar alat kacamata virtual miliknya sebelum menyisir rambutnya dengan tangan ke belakang kala mengambil napas dalam usahanya tuk menenangkan diri.
Turun dari tempat tidurnya, Yaka mengambil ponselnya hanya untuk melihat mayatnya di siaran langsung Vera. Membuat genggaman tangan pada ponselnya lebih erat seolah akan menghancurkannya jika dia menekan lebih kuat.
Menggertakkan giginya hingga memicu suara menakutkan, dia berkata, “Akan kupastikan mage tak berguna itu menerima akibatnya.”
Yaka, atau yang lebih dikenal sebagai Gold Bringer dalam Vivid bersumpah. Menatap lekat ke sosok pemuda berambut merah panjang itu dan berusaha untuk mengingatnya sebelum mengambil napas dan menenangkan diri kembali, mencoba untuk tak membiarkan emosi gelap ini mengambil alih dirinya lebih jauh.
Terlebih, dia memiliki tujuan jelas dalam bermain Vivid. Untuk membuktikan diri pada keluarganya.
Pada masa awal rilisnya Vivid, Yaka hanya merasa itu akan menjadi satu lagi game yang tak akan banyak membantunya meski secara pribadi dirinya tertarik. Namun, setelah beberapa bulan itu bergulir, Yaka tahu bahwa pemikiran awalnya salah.
Sistem Vivid terbukti benar-benar seimbang. Bukan sejenis game di mana terdapat kelas tersembunyi yang akan memberi keuntungan tak adil, bahkan cenderung curang terhadap pemiliknya.
Keuntungan terbesar yang bisa membedakan seorang pemain dari pemain biasa adalah tiga hal. Keterampilan, Peralatan, akhirnya Title.
Sejak Vivid tak memiliki sistem kelas tapi mempersilahkan pemain tuk bebas memilih pohon skill apa pun yang dia inginkan, keterampilan pemain tak hanya sebatas kemampuannya tuk mengeksekusi sebuah skill sejak Vivid adalah game virtual reality. Game yang memerlukan gerakan nyata dan tak sebatas mengetuk beberapa tombol dalam bertindak.
Namun, juga kemampuan tuk menilai apakah suatu skill berguna atau tidak diperlukan. Lalu apakah kinerja yang skill itu dapat berikan sejalan dengan biaya poin skill yang diperlukan? Semua itu memerlukan keterampilan penilaian yang tepat sejak poin skill adalah sumber daya paling terbatas di Vivid.
Kemudian peralatan. Yah, sistem rank suatu item tidak ada dalam Vivid dan sejak itu terjadi, penentuan peringkat item berdasarkan kinerjanya ditentukan oleh pemain dikala sistem produksi pemain dalam Vivid telah berjalan. Dan seperti biasa, itu mengharuskan pemain memiliki resep terkait untuk membuat sebuah Item walau tak sesederhana itu sejak pemain yang berbeda dengan resep yang sama dapat menghasilkan kualitas item yang berbeda.
Namun di samping kemajuan pengolahan peralatan yang terjadi, bahkan setelah setengah tahun sistem peningkatan peralatan di Vivid masih mengalami kebuntuan sejak itu sangat berbeda dari game yang pernah ada. Itu tak sesederhana menggunakan batu peningkatan atau sesuatu semacam itu sejak benda seperti itu tidak ada.
__ADS_1
Namun, Yaka tahu bahwa terdapat sebuah metode mudah untuk menyelesaikan masalah itu, beli saja! Dan dia sepenuhnya yakin bahwa pembelian suatu item adalah solusi paling tepat saat ini meski itu tak akan berlangsung selamanya.
Dan akhirnya title, peringatan atas pencapaian pemain dalam Vivid. Sejak title pencapaian pertama atau pemburuan berulang lebih seperti title peringatan yang tak memberi efek nyata apa pun selain peningkatan ketenaran jika dipasang.
Yaka sadar, jika seseorang menginginkan title yang memberi efek nyata seperti peningkatan statistik atau peningkatan level suatu skill, mereka harus membuat pengaruh dalam dunia Vivid. Kemudian, hal apa yang membuat seorang pemain dapat melakukan sesuatu semacam itu? Tentu itu terkait erat oleh dua faktor di atas dan kepemilikan informasi sejak kekuatan untuk dapat melakukannya diperlukan.
Dia hanya akan menyebutkannya secara sederhana sebagai segitiga bakat, kekayaan, dan kemasyhuran.
Yaka tahu bahwa ekosistem semacam ini di Vivid akan sangat cocok untuk pertandingan kompetitif. Dan dengan koneksi yang dia miliki, Yaka pun tahu bahwa IESF, Internasional Esports Foundation pun telah menggulirkan ide ini. Bukankah bocoran itu menjadi alasan mengapa sepuluh klub besar esports dunia memberikan mata mereka yang tentu tidak sedikit di Vivid? Sebab itulah Yaka merasa ini akan bekerja meski dirinya memulai sedikit lebih lambat.
Setelah pikiran Yaka jernih, dia memutar ulang video di mana dia bertarung hanya untuk menyadari kesalahannya. “Bocah bodoh,” celanya pada tingkah dirinya sendiri setelah beberapa saat diam.
Apa alasan dari dirinya ingin membuktikan diri pada keluarganya? Itu untuk menunjukkan pada mereka bahwa dia pun dapat berdiri sendiri tanpa bantuan mereka.
Bersandar di kursinya, Yaka tersadar di mana masalahnya.
Mungkin keluarganya telah menarik beberapa tali tanpa diketahuinya selama ini? Yaka tak tahu tapi mungkin itu terjadi secara langsung atau tidak oleh nama yang telah menjadi semacam kutukan.
Dan dengan mereka yang tak mungkin melakukannya dalam Vivid, sesuatu semacam ini untuk pertama kalinya dia alami. Apakah Yaka harus bersyukur bahwa itu hanya terjadi dalam game?
“Heh—“ tawanya mencemooh.
Memilih membuka web resmi Vivid dan log in ke akunnya untuk mengetahui apakah terdapat item berharga yang jatuh oleh kematiannya. Sebelum menemukan sejumlah pesan yang membuat bibirnya melengkung ...
__ADS_1
“Tampaknya pertunjukan bodoh itu tak sepenuhnya gagal.”
... sejumlah pesan undangan untuk masuk guild, secara resmi dikenal sebagai familia oleh penghuni di Vivid yang dia terima.
‘Jika pengaruh yang selama ini membantuku telah tiada, bukankah aku hanya perlu membuatnya sendiri?’ pikir Yaka sebelum berkata, “Bukankah aku seperti seorang pangeran kelas tiga yang ingin melepas status kerajaannya hanya untuk menyadari bahwa karena status itulah dia penting?”
Bagaimanapun, dia tak ingin mempermasalahkan ini lebih jauh dan memilih melihat-lihat daftar guild yang mengirimkan undangan kepadanya.
Dia tersenyum memutuskan tuk bergabung ke dalam Guild Bridge, guild dalam daftar seratus teratas tapi tak terlalu tinggi dengan pemikiran yang jernih, untuk mengambil alih guild, familia tersebut secara perlahan dan menjadikannya sebagai kaki dan tangannya dalam Vivid.
Dengan kelapa tenang, Yaka akan menggulirkan rencananya. Dengan apa? Tentu dengan kekuatan yang Yaka tahu dia miliki. Uang. Hal yang dapat mengabulkan apa pun yang inginkan dengan penggunaan dan metode yang tepat.
Apa tujuan utama seseorang bergabung dalam guild? Tentu untuk mendapat manfaat darinya dan Yaka hanya akan bersikap lebih seperti tuan muda untuk menggiring opini anggota bahwa dialah sosok pemimpin yang tepat.
Rencana ini tentu akan menghabiskan jumlah uang yang tak sedikit, namun Yaka sama sekali tak khawatir. Bukankah jumlah uang yang dia gunakan untuk membeli peralatan hanya dapat dia lihat sebagai uang saku sejak itu tak terlalu besar baginya?
Namun, untuk rencana ini memberi hasil sepadan Yaka perlu memilih guild yang cukup kuat tapi tak benar-benar solid seperti guild klub. Dan Guild Bridge telah memenuhi persyaratan Yaka.
Dia tak peduli pada kemungkinan pecahnya guild tersebut, sejak bahkan jika itu terjadi dia hanya perlu membentuk guild baru. Dari awal, apa yang Yaka cari adalah dasar guild itu, struktur dan orang-orang yang berada di dalamnya.
Mengapa dia repot-repot melakukan hal ini? Yaka merasa bahwa jika dia membelinya secara langsung pun struktur kepemimpinan dalam guild tak akan banyak berubah dan guild tersebut tidak akan pernah berada dalam kendali dirinya sepenuhnya.
“Dan untukmu, Akuji.” Tatap Yaka pada pemuda berambut merah dilayar ponselnya. “Berbanggalah karena aku akan berterima kasih dan mengingatmu sebelum kau kupastikan hancur!”
__ADS_1
Yaka telah tahu kebodohannya dan berbenah, tapi tindakannya, seperti tindakan impulsif tak akan pernah dapat diperbaiki sejak itulah watak, sifat asli yang tak mungkin tuk diubah.
Bukankah dia seorang berserker (pengamuk) sejak awal? Sekarang, Yaka hanya akan memastikan amukannya menghancurkan penuh apa yang ingin dia hancurkan.