Ascyaf O Vivid : VRMMORPG Story

Ascyaf O Vivid : VRMMORPG Story
Chapter 23 : Katedral Veda


__ADS_3

Teokrasi Ladia, atau yang lebih dikenal sebagai Tanah Cahaya sejak di sinilah tempat Gereja Cahaya berpusat. Suara kereta terdengar bersiul ringan seolah memberitahu kedatangannya ke tanah ini sebelum terhenti, membawa suara derap langkah teredam begitu orang-orang di dalam kereta itu mulai turun hanya tuk melihat butir demi butiran salju kecil yang turun seolah menyambut mereka. Melihat lebih jauh, mereka hanya akan dapat menemukan tumpukan putih salju yang abadi, tak pernah sekalipun absen menyelimuti Ibu Kota Teokrasi, Veda.


Salju abadi yang tak hanya disebabkan oleh lokasi Teokrasi Ladia yang berada di selatan benua, di mana suhu rata-rata menjadi cukup dingin dan membuat pemain menduga bahwa benua di Vivid berada di sisi selatan garis khatulistiwa. Namun, salju abadi ini pun dikarenakan Veda berada di Puncak Rheasilvea, salah satu dari gunung tertinggi dari pegunungan Tharsis.


Bagaimana Ibu Kota suatu negara yang seharusnya lebih mudah dicapai dapat berada di salah satu gunung tertinggi di benua? Jawabannya sederhana, sejak Teokrasi muncul sebagai bentuk independen dari gereja, maka Veda, kota suci yang menjadi tempat sang Utusan Dewa menyebarkan wahyunya lah yang akan tetap menjadi jantung mereka.


Menapaki jalan dengan santai bersama Arsy dan Naurel, Akuji mengintip suasana di kota dari sudut stasiun, melirik kota yang sangat religius dan hidup. Jauh berbeda dari Kota Leszl yang seolah menjadi tempat di mana semua potongan dari dunia bercampur menjadi satu.


'Hmm ... apakah aku bisa mati karena hipotermia dengan cuaca di sini?' pikirnya tiba-tiba saat merasa tubuhnya semakin kedinginan sejak pakaian yang dia pakai terlalu tipis untuk menghadapi cuaca ini.


Akuji tak tahu apakah hal semacam itu mungkin namun, pemeriksaan identitas telah memaksanya agar tak memikirkan hal seperti itu lebih jauh dan menjawab pertanyaan yang diajukan. Bagaimanapun, sejak dirinya telah menjadi anggota Asosiasi Sihir dan bukan pemain dengan nama hitam, dirinya memiliki kemudahan dalam melewati pemeriksaan tersebut.


Hanya saja masalah tak terletak pada dirinya ...


"... Di mana itu ..."


... Naurel lah yang membuat mereka harus terhenti di sana.


Melihat tumpukan barang yang telah dia keluarkan dari tas penyimpanan kecil di tangannya, Akuji tak tahu harus terkejut oleh banyaknya barang yang ada dalam tas kecil itu atau oleh kekuatan Naurel sejak menyimpan barang di inventaris —yang berbentuk kantong, tas, peti, dll — hanya mengurangi sedikit berat benda yang dibawa, tak benar-benar menghilangkannya.


"Naurel, barangmu mungkin akan membuat sebuah puncak gunung baru di sana."


"Apakah aku memiliki waktu untuk menata itu?" jawabnya sedikit mengantuk, entah karena racun yang dia minum masih memiliki efek atau sebab dia belum sepenuhnya sadar setelah dibangunkan paksa oleh Arsy saat kereta berhenti.


"Dan bukankah lebih baik jika kamu membantuku, Akuji."


"Sayang, itu tidak bisa. Bukankah tas milikmu cukup kecil untuk dibongkar oleh dua orang?" Akuji berkata, itu benar-benar dengan ukuran kecil yang tampak hanya cukup untuk menyimpan sebuah dompet atau buku walau tidak benar, terbukti oleh gunung barang yang timbul darinya.


"Apa kau masih dendam karena racun itu kuminum?"

__ADS_1


"N-tahlaahhh," jawab Akuji hanya untuk membuat Naurel merasa itulah yang terjadi.


'Dia ini ....' Naurel berpikir. Menghela napas sesaat sebelum memberi umpan paling efektif untuk Akuji. "Aku akan memberimu racun itu lagi."


"Kartu identitas mana yang kau cari Naurel?" Membuat Naurel segera mendengar perkataan tersebut.


"Apa pun itu selama ada namaku." Apakah jenis dari mana kartu identitas itu berasal penting? Naurel merasa tidak setelah entah berapa kali kartu-kartu semacam ini harus berganti selama dia hidup. "Yah, selama terdapat cap segel resmi itu cukup," sambungnya.


"Apakah kalian masih belum selesai?" tanya Arsy yang kembali dari pemeriksaannya sendiri. Sejak Sekolah Tinggi Sihir Nitra berada di Teokrasi, dia memiliki waktu lebih mudah (atau lebih sulit?) dengan identitasnya sebagai pelajar.


"Hampir," jawab keduanya di waktu yang sama. Meski mata Arsy tak dapat menyembunyikan keraguan melihat gunung barang di samping mereka.


"Oh, ini dia Naurel," teriak Akuji begitu dia menemukan kartu identitas Naurel di antara gunung barang, sampah dan ...


"Ohhh! Terima kasih."


... Melihat Naurel yang melempar gunungan itu dengan kecepatan kilat hingga bersih, Akuji tahu dari mana kamu kesulitan ini berasal. "Kurasa kau harus mengemasi barang-barang itu dengan benar."


"Naurel Eugene—"


Bam!


Kata petugas tersebut terpotong oleh suara petir yang sangat dekat hingga pengawas itu dapat melihat tempat di mana petir itu menyambar dengan uap dari salju yang meleleh. Namun, ekspresi keterkejutan pengawas itu segera digantikan oleh ekspresi lain saat dia melihat sosok yang berdiri di tempat itu setelah uap berlalu.


Sosok gagah dengan rambut perak dan mata biru laut yang berbalut kilatan petir di antara baju besi ringan yang dia kenakan.


"Tu-tuan Kaiming?"


... Dan tidak akan ada satu orang pun di Teokrasi yang tak mengetahui siapa dia. Kaiming Gry, salah satu dari The Thirteen Lance sekaligus ketua dari kelompok tersebut.

__ADS_1


Kaiming tak peduli dengan tatapan orang lain yang segera terbang fokis ke arahnya, hanya berjalan lurus menuju Naurel dan berkata, "Sepertinya kamu telah kembali ...." Terdiam sejenak seolah tak yakin bagaimana dia harus memanggil Naurel sebelum melanjutkan, "Nona Naurel."


"Kaim, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Apakah aku perlu menjelaskannya lagi?"


"Hmm?" geram Naurel tak pasti. Sementara petugas itu hanya menatap bolak balik ke arah Kaiming dan Naurel seolah tak yakin apa yang tengah terjadi di depannya.


Sosok Kaiming yang selama ini seolah jauh di atas awan benar-benar muncul di depannya. Apalagi menyebut gadis di depannya sebagai nona ....


"Bagaimanapun, lebih baik kamu segera ke Katedral."


"Ya, baiklah." Naurel berkata sebelum melirik Akuji serta Arsy dan mengajak mereka bersama.


"Ehmm ... aku tak yakin harus ikut bersamamu Nona Naurel," ucap Arsy tak ingin terlibat lebih jauh.


Namun—


"Bukankah kamu murid Blaise? Melihat dirinya tak berada di sini kurasa kamulah yang harus melaporkan tugas Blaise ke Katedral." Pengingat Kaiming hanya membuat Arsy bisa menggeram sebab tak dapat segera lepas dari sumber masalah ini. Sementara tatapan Kaiming sendiri segera terkunci ke Akuji." Orang asing ...."


"Tenanglah Kaim, dia tidak akan membawa masalah. Aku dapat menjaminnya."


"Baiklah. Akan aku serahkan orang asing itu padamu," serah Kaiming seolah seratus persen mempercayai apa yang Naurel katakan sebelum tubuhnya mulai melayang. "Daripada di tempat ini kurasa baik kita segera menuju Katedral sekarang."


"Umm? Ke mana itu?"


"Ke atas," jawab Kaiming hanya tuk melihat kebingungan yang masih tersisa di wajah pemuda itu dan menunjuk ke arah langit ....


Menunjuk sebuah konstruksi raksasa berbentuk piramida terbalik yang melayang di angkasa berselimut cincin-cincin cahaya di sekitarnya.

__ADS_1


"Itulah Katedral Veda."


__ADS_2