Ascyaf O Vivid : VRMMORPG Story

Ascyaf O Vivid : VRMMORPG Story
Chapter 26 : Arti Tersembunyi


__ADS_3

Mendengar teriakan yang pemuda itu buat, Akuji pun berkata, “Sepertinya kau telat.”


Membuat pemuda itu menggeram dan melirik pemilik toko ini. “Apa maksudnya Pak Dex?!”


“Itu telah terjual.”


Membuatnya hanya dapat bertanya ulang setelah mendengar hal itu. “Bukankah aku telah memintamu untuk mengamankan itu?”


“Tempat ini tidak memiliki sesuatu semacam itu, Nak.” Dex berkata sebelum melanjutkan, “Apalagi kau tidak memberiku uang muka.”


“....” Pemuda itu terdiam sebelum melirik grimore di tangan Akuji sekali lagi. Dengan status grimore tersebut yang dapat dikatakan sangat baik, bagaimana dia bisa tidak bisa tidak menginginkan grimore tersebut?


“Dik—“


“Aku bukan adikmu,” putus Akuji. “Lagi pula sepertinya kau berusia sembilan belas tahun bukan? “


“Ya, memang memang ....“


“Kalau begitu bukankah kita seumuran? Jangan anggap aku lebih muda darimu.”


Membuat pemuda itu tertegun sejenak. Melihat wajah Akuji sekali lagi sebelum bertanya, “Jadi, bagaimana aku harus memanggilmu?”


“Setidaknya kau dapat memperkenalkan diri terlebih dahulu bukan?”


“Uh, uhm, tentu.” geramnya menyadari kesalahan sebelum mengambil napas sejenak, pemuda itu pun mengulurkan tangan dan memperkenalkan dirinya, “Thorne.”


“Akuji,” balas Akuji tersenyum. Melirik senjata yang Thorne bawa dan bertanya, “Mengapa kamu butuh grimore ini sedang senjatamu adalah scythe (sabit)?”


“Untuk senjata kedua. Lagi pula role utamaku adalah cleric,” balas Thorne.


Role.


Sejak dalam Vivid tidak terdapat sistem kelas, role menjadi acuan bagi pemain untuk menyeimbangkan jenis pemain dan bahkan Penghuni dalam party mereka. Apalagi, menyimpulkan sebuah role terlalu mudah sejak sebuah pohon skill telah memiliki namanya sendiri, pemain hanya harus menyimpulkan pohon skill mana yang menjadi inti permainan mereka.


Hanya saja ...


“Senjata untuk pohon skill utama sebagai senjata kedua?”


... Akuji belum memahaminya dengan baik.


Sejak Pohon Skill Cleric memerlukan salah satu dari tiga jenis senjata, grimore, knuckle, atau staff (tongkat sihir) untuk dapat menggunakan skill di dalamnya. Dan bukankah akan lebih baik menggunakan senjata dari pohon skill yang menjadi inti bagi pemain sebagai senjata utama? Terlebih sejak penyembuhan dari skill yang dimiliki Pohon Skill Cleric berdasarkan kekuatan sihir ...


“Bukankah lebih baik memilih grimore sejak senjata ini sendiri memiliki tingkat dasar kekuatan sihir tertinggi?”


“Itu hal yang biasa bagi seorang cleric kamu tahu? Apalagi skill mastery dari elementalist tidak cocok untukku sejak kecepatan reaksiku lambat.”


Jelas Thorne membuat Akuji teringat bahwa skill tipe mastery elementalist, selain Magic Mastery yang memiliki efek serupa dengan skill mastery senjata lain, skill selanjutnya lebih berfokus ke arah serangan. Memang, skill Tier 3, Mobile Cast dapat berfungsi ke arah dukungan tapi tampaknya hal itu tidak sesuai bagi Thorne seperti yang dia katakan.


“Jadi kamu tipe orang yang diam, diam, dan diam, ya?”


“Apa kamu mengejekku, Akuji?”

__ADS_1


“Tidak.” Akuji berkata pada Thorne, namun melihat senyum yang masih terpampang jelas di wajah itu membuat Thorne hanya merasa dia benar-benar mengejeknya.


“Jadi, apakah kamu dapat menjual grimore itu kepadaku?” tanya Thorne, tidak melupakan apa tujuan utamanya kemari.


“Berapa kamu ingin membelinya.”


“30.000 Inar.” Thorne berkata, menawarkan harga awal dari grimore tersebut tapi Akuji hanya menggelengkan kepalanya.


“Tidak.”


“Kalau begitu 33.000 Inar!”


“Hmm, tetap tidak,” tolak Akuji dengan santai membuat tawaran harga itu semakin meningkat ...


“36.000!”


“Tidak.”


“40.000!”


“Tidak.”


“45.000!” tawar Thorne, meningkatkan harga hingga 50% dari aslinya.


... Membuat pemilik toko ini, Dex berwajah putih seolah telah kehilangan emas yang berharga. ‘Apakah grimore lapuk itu benar-benar seberharga itu?’ pikir Dex diam-diam, mempertanyakan kemampuan penilaian pribadinya.


“Sejujurnya, aku tidak ingin akan menjual grimore ini berapa pun Inar yang kau tawar tahu.”


“Lalu apa ada sesuatu yang kamu inginkan sebagai ganti grimore itu?” tanya Thorne lemah, masih berharap bahwa grimore tersebut tetap bisa menjadi miliknya selama permintaan Akuji tidak keterlaluan.


“Hmm, kalau begitu ...,” Akuji berpikir, menatap Thorne dan role yang dia miliki sebelum berucap, “Kamu dapat menemaniku naik level.”


“Huhhh.” Berhasil membuat Thorne menghela naas lega mendengarnya. ‘Itu tidak tampak sesulit yang kuduga,’ pikirnya diam-diam.


“Sampai level berapa?”


“Berapa levelmu sekarang?” balas Akuji bertanya.


“Level 67.”


“Kalau begitu sampai level 60 saja.”


“Baik, aku dapat menerima itu.” Thorne berkata dan mengeluarkan sebuah kertas dengan pola geometris di atasnya.


“Apa itu?”


“Sebuah kontrak. Aku tidak akan tahu jika kamu hanya memanfaatkanku, kan?” Thorne membalas, melihat wajah Akuji yang tak berubah dan memberi peringatan penuh untuk membuat Akuji paham. “Kamu akan terkena berbagai status buruk hingga pengurangan level yang tak sedikit jika melanggar isi kontrak di dalamnya.”


Mereka baru bertemu dan bagaimana mungkin Thorne dapat yakin apakah Akuji akan benar-benar menyerahkan grimore tersebut bahkan setelah levelnya mencapai tingkat yang dia sebut sebelumnya?


Thorne tidak ingin dirinya ditipu atau sekedar dimanfaatkan.

__ADS_1


Bagaimanapun, karena kertas kontrak yang dia miliki hanya berada di tingkat rendah sejak itu hanya berharga 10.000 Inar, hukuman yang disebabkan oleh pelanggaran kontrak tidak akan sangat buruk. Itu hanya persuasi Thorne tuk membuat Akuji benar-benar menepatinya.


“Untuk isinya ....” Berpikir sesaat Thorne pun menulisnya dengan cepat.


-Pihak b (Terkontrak) akan menyelesaikan permintaan dari pihak a (Pengontrak) hingga permintaan pihak a terpenuhi.


-Jika pihak a (Pengontrak) tidak menyerahkan barang dimaksud dan atau menghilang setelah permintaan yang dimaksud selesai kepada pihak b (Terkontrak), hukuman akan jatuh dengan kemungkinan seluruh benda yang dimiliki hilang saat mati.


“Hmm? Bagaimana bisa hanya aku yang mendapat hukuman?” Akuji berkata dan menatap Thorne. “Bukankah kau juga harus menerima suatu hukuman jika melanggarnya?”


“Ya, ya, tentu,” ucap Thorne menyetujui itu saat berpikir bagaimana mungkin dia akan meninggalkan permintaan sederhana ini.


-Jika pihak b (Terkontrak) meninggalkan permintaan pihak a (Pengontrak) sebelum permintaan pihak a (Pengontrak) sepenuhnya selesai, hukuman dengan kemungkinan seluruh benda yang dimiliki hilang saat mati akan dijatuhkan.


“Bagaimana? Apa kamu sudah puas?”


“Yah, itu lebih baik,” jawab Akuji saat mencantumkan ID khusus yang dimiliki setiap pemain ke kertas kontrak pada pihak a sementara pihak b diisi oleh Thorne.


“Jadi, ayo segera naik level.” Thorne berkata, tak sabar untuk menyelesaikan permintaan mudah ini dan mendapatkan grimore tersebut.


“Um, tentu saja.”


“Ngomong-ngomong, berapa levelmu Akuji?”


“Tidak tinggi, hanya 19.”


“Hah? Berapa?” Thorne kembali bertanya, meragukan pendengarannya sesaat ...


“Hanya level 19.”


“....”


... Hanya untuk mendengar konfirmasi ulang Akuji berhasil membuat Thorne terdiam, mematung seperti batu.


Kawasan sekitar Veda, ibu kota Teokrasi Ladia mungkin memiliki level monster yang rendah dibanding daerah sekitarnya sejak pasukan keamanan selalu berpatroli untuk mengontrol jumlah monster.


Ya, rendah. Itu ‘hanya’ di level 40 jika Thorne membandingkan dengan level rata-rata monster di luar yang berkisar di level 60 ke atas.


Namun, apakah kata hanya dapat diterapkan untuk Akuji yang bahkan tidak mendekati level tersebut?


Hati Thorne kacau, merasa tidak mungkin untuk dapat menemukan party yang mau menampung Akuji dengan levelnya sementara dia pun tidak dapat mengabaikannya sejak hukuman tambahan yang dirinya sendiri tambahkan jika dia melanggar kontrak yang dia sendiri buat.


Apakah ini yang dinamakan penipuan?


“Ini penipuan!” teriak Thorne saat melihat wajah Akuji yang tersenyum dan berpikir tentang nama pemuda itu ...


‘Akuji? Aku no jiken? Akuma no jiken? Demon Case?!’


... Seolah menemukan arti tersembunyi darinya dan hanya bisa mengutuk lebih dalam-dalam.


‘Ya! Dia benar-benar KASUS IBLIS!’

__ADS_1


__ADS_2