Ascyaf O Vivid : VRMMORPG Story

Ascyaf O Vivid : VRMMORPG Story
Chapter 24 : Siapa Dia


__ADS_3

Pilar-pilar raksasa berdiri, menopang kuil raksasa yang berdiri dengan megah di atas konstruksi piramida terbalik ini. Melirik ke sekitar, cincin-cincin cahaya yang melingkari konstruksi ini adalah orbit dari konstruksi melayang lain dengan ukuran yang jauh lebih kecil yang mengitari konstruksi utama.


 


Dari pada menyebut tempat ini sebagai sebuah Katedral Veda, Akuji merasa bahwa Kompleks Katedral Veda lebih cocok.


 


Langkah mereka berempat menggema di tengah lorong besar, sementara beberapa pendeta atau orang percaya yang melihat Kaiming menundukkan kepala saat menyapanya.


 


Di samping semua itu, Akuji pun menyadari bahwasanya ekspresi Naurel sedikit berubah secara halus. Apakah tempat ini memiliki arti khusus baginya? Akuji tak tahu.


 


Lorong panjang yang seolah tanpa akhir itu pun pada akhirnya berakhir, membawa mereka ke sebuah pintu dengan besar yang keterlaluan, seolah mempersilahkan keberadaan tak masuk akal tuk masuk ke dalamnya.


 


Kaiming berjalan, meletakkan tangannya di pintu tersebut sesaat sebelum suara berderit pun terdengar kala pintu raksasa itu terbuka seolah tidak memiliki beban berarti. Sebelum pemandangan itu terbuka di depan mata mereka.


 


Sebuah ruangan yang tampak membawa mereka ke tempat jauh. Lantai berbalut lantai marmer menghiasi, terbuka dengan beberapa pilar atau mungkin reruntuhan sejak bagian itu telah hancur, miring, runtuh, atau bahkan tak bisa dikenali bentuknya.


 


Namun, keindahan itu tak terbantahkan. Apalagi dengan dinding berlapis lukisan kaca, memantulkan beragam spektrum warna, berlapis ke ruangan ....


 


Menyorot sosok wanita dengan rambut perak yang tengah berlutut, berdoa seorang diri.


 


Area sakral.


 


Mungkin itulah kata singkat yang dapat menggambarkan ruang tersebut. Seolah tempat ini akan menjadi tempat perlindungan terakhir jika hari kiamat datang. Bahkan jika ruang itu sendiri tak terlalu besar jika dibandingkan dengan pintu yang menjaganya, tempat ini seolah akan tetap bertahan apa pun yang mungkin kan terjadi.


 


Sosok berambut perak itu terbangun seolah merasakan keberadaan di sisi lain dan berbalik, menatap ke arah mereka bertempat dengan mata keemasan.


 


[Tekanan kuat telah memengaruhimu]


 


Teriak pemberitahuan sebelum tubuh Akuji berlutut, tidak, dipaksa berlutut oleh kekuatan asing. Melihat dari ujung pandangannya, Akuji melihat bahwa Arsy pun turut mengambil sikap yang sama sepertinya. 


 


Dan dengan sebuah mahkota yang tersemat di atas kepalanya, bahkan Akuji pun akan tahu siapa itu ...


 


“Kaiming Gry, Thunder Lance memberi salam ke Yang Mulia Iliana Roui,” salam Kaiming turut berlutut kala menyapa sosok pemilik mahkota itu, membenarkan dugaan Akuji.


 


“Arsy Eiruf, murid langsung Blaise Nara menyapa ke Yang Mulia Iliana Roui, “lanjut Arsy memperkenalkan dirinya.


 


Dengan mata keemasan, kulit putih dan mahkota yang bertahta di rambut peraknya, dialah Iliana Roui.


 


Sosok cantik yang kini berdiri di depan mereka. 

__ADS_1


Sosok penguasa Teokrasi Ladia sekaligus pemimpin tertinggi Gereja Cahaya.


Sosok yang dapat membuat semua orang di sekitarnya tunduk berkat tekanan yang terpancar darinya.


 


Ya, semua, kecuali untuk i satu orang—


 


“Kamu semakin dewasa, Iliana.”


 


Naurel.


 


Dia tetap berdiri, menyapa ringan Ratu Teokrasi serta Paus Gereja Cahaya dan bahkan membuat Ratu Iliana, sosok dengan pengaruh luar biasa itu menunduk kala membalasnya, “Sepertinya kamu kembali, Ibu.”


 


Dengan kata yang seolah menghancurkan kepala Akuji dan Arsy.


 


“Kaiming, beri kami waktu untuk sendiri.”


 


****


 


“....”


 


“....”


 


 


Baik Akuji maupun Arsy terdiam bahkan setelah keluar dari ruang itu.


 


Bukan karena mereka tak tahu harus memanggil ruang itu sebagai ruang takhta atau bukan tapi karena apa yang Ratu Iliana ucapkan.


 


“Apa kalian memiliki pertanyaan?” ucap Kaiming yang menuntun mereka berdua.


 


“Apakah aku salah jika berpikir Ratu Iliana adalah roh?” tanya Arsy yang segera menyambar kesempatan ini. Bertanya hal mendasar yang mengganjal di pikirannya.


 


“Kamu tidak salah. Yang Mulia adalah seorang roh.”


 


“Lalu bagaimana bisa ....” Arsy terhenti sesaat, tak yakin harus memanggil Naurel dengan sebutan apa dan memilih menggunakan panggilan yang gurunya gunakan sebelumnya. “Nona Naurel menjadi ibu darinya?”


 


Roh. Sebuah keberadaan yang terlahir oleh alam. Itulah yang Arsy ketahui sejak dirinya adalah elf, ras yang memiliki kepekaan tertinggi terhadap alam.


 


Dan tidak seperti penduduk di wilayah Republik Tigris, Iliana Roui adalah sosok roh sepenuhnya. Sosok yang hanya bisa muncul oleh alam dan bukan dari apa yang makhluk fana lakukan. Sosok yang selalu terdapat di sekitar bahkan jika keberadaannya terlalu lemah tuk orang sadari.

__ADS_1


 


Arsy bisa yakin bahwa Ratu Iliana adalah roh sejak dia telah bertemu secara langsung dengan Ratu Iliana dan merasakan sendiri aura keberadaan yang dia pancarkan. Bahkan jika aura itu telah banyak dirinya tekan, Ratu Iliana tetap tidak bisa menyembunyikannya dan menekan aura itu secara penuh.


 


... Apalagi oleh seorang dengan kepekaan yang tinggi seperti Arsy, dirinya yang adalah seorang elf sekaligus seorang summoner (pemanggil).


 


Apa syarat bagi seorang summoner? Mereka tentu harus bisa merasakan roh-roh lemah di alam, di sekitar mereka untuk dapat memanggil makhluk yang mereka inginkan. Jika mereka bahkan tidak bisa melakukan itu, maka mereka telah gagal sebelum jalan itu terbuka.


 


“Hmm. Bagaimana jika kamu menggunakan kata itu ke artian yang lebih umum Arsy,” timpal Akuji.


 


“Orang asing itu benar, elf muda.” Membuat Kaiming mengangguk, membenarkan apa yang Akuji katakan.


 


Apa itu ibu? Orang yang melahirkanmu? Benar. Tapi, apakah kata ibu hanya berlaku tuk seseorang yang mengandung dan melahirkanmu saja?


 


Arsy tahu tidak. Kata ibu pun juga dapat digunakan tuk orang yang telah membesarkan seseorang. Sejak ibu bukan hanya sapaan, itu telah menyebar ke semua jenis kata.


 


Sifat, tempat, arti ...  seseorang di benak mereka atau sesuatu yang dianggap penting oleh orang tersebut.


 


Arsy mengangguk, seolah telah memahami apa yang Akuji dan Kaiming maksud. Sebelum dia sekali lagi mematung.


 


Teokrasi Ladia telah berdiri selama hampir 2.000 tahun. Tentu itu adalah waktu yang tak sedikit bahkan baginya yang adalah elf —ras dengan usia harapan hidup panjang. Dan Iliana Roui, penguasa Teokrasi telah menjadi kepala negara sekaligus Paus Gereja Cahaya selama sekitar 1.000 tahun.


 


Menghitung bahwa seseorang, bahkan jika dia adalah roh akan melewati masa pertumbuhan ...


 


Mengingat bahwa bagi roh masa pertumbuhannya jauh lebih lambat dari makhluk normal, apalagi untuk dapat memiliki keberadaan sesolid Ratu Iliana. Keberadaan yang sepenuhnya memiliki pemikiran mandiri hingga tak mungkin bagi orang lain tuk memengaruhinya adalah hal yang tidak mungkin terjadi hanya dalam 100 atau 200 tahun.


 


Arsy hanya dapat terus bergumam saat menghitung diam-diam, berharap tak seorang pun dapat mendengarnya. Menggaruk kepalanya bingung, Arsy berucap lirih, “... Berapa usia Nona Naurel sebenarnya ....”


 


“Kamu harus tahu satu hal elf muda, Nona Naurel adalah Primordial.”


 


“Primordial? Bukankah itu berarti lebih dari 10.000 tahun?!” Arsy berteriak, sesaat sebelum sebuah aura yang sepenuhnya menekan dapat mereka rasakan.


 


Aura tekanan yang Ratu Iliana pancarkan? Lupakan. Itu seperti membandingkan nyala obor dengan nyala matahari. Ya, itu benar-benar terasa seperti sebuah matahari telah mendekat ke bumi dan menatap lekat dari langit.


 


Aura yang bahkan tidak berusaha menekan keberadaan tertentu atau menunjukkan dirinya. Lebih-lebih, siapa yang berani melakukan hal semacam itu di Katedral Veda sejak di sinilah pusat Teokrasi dan Gereja Cahaya?


 


Aura tersebut hannyalah residu tenang yang telah sepenuhnya ditekan.


 

__ADS_1


Menyisakan Arsy, Kaiming, dan bahkan Akuji dengan keringat dingin bahkan jika tekanan itu hanya berlangsung sesaat sebelum sepenuhnya menghilang tanpa jejak.


 


__ADS_2