
“Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!” “Ctrack!”
Suara-suara tersebut terus terdengar saat ratusan atau mungkin ribuan monster serangga berbentuk kalajengking semut. Mereka mungkin tak sebesar monster yang Akuji dan Thorne temui pada awal masuk ke gua ini. Namun, jumlah itu cukup tuk membuat teror bersama suara yang berasal dari segmen perut serangga-serangga tersebut yang saling bergesekan.
Namun—
“Thorne, kau bisa bertahan lebih lama lagi bukan?”
“Sialan kau Demon Case!”
Kedua orang yang terjebak di tengah semua teror itu hanya tertawa riang. Tak terdengar satu pun suara ngeri atau setidaknya ekspresi jijik saat mereka terus mengeluarkan satu per satu skill lain yang mereka miliki untuk membunuh para serangga itu.
Bahkan jika wajah Thorne masih terpuruk dengan tawa Akuji di telinganya, dia masih berbahagia jauh di sudut kepalanya dan merasa hal ini tak terlalu buruk. Karena apa? Sebab ...
[Level meningkat]
... Cahaya keemasan lain segera menyelimuti Akuji kala pemberitahuan tersebut terdengar. Pemberitahuan yang jelas berisi peningkatan levelnya, bahkan jika peningkatan level di Vivid tak memulihkan kesehatan dan mana pemain, Akuji hanya akan tetap tertawa.
Dia memiliki skill Mana Recharge yang akan membantunya memulihkan mana sedang untuk bar kesehatan, bukankah Thorne, seorang penyembuh (sekaligus tank) berdiri di sisinya?
Akuji tidak berusaha menghitung lagi berapa kali dia naik level hari ini, mungkin lima? Enam? Atau tujuh?
Bahkan Akuji sendiri tak yakin berapa itu. Yang jelas, kecepatannya naik level sekarang hanya akan membuat orang lain gigit jari jika mengetahuinya. Terlebih, dia telah sepenuhnya tenggelam oleh alasan lain ...
[Serangan Kritis!]
... Oleh pengingat kerusakan yang terus melayang di depan matanya, berhasil membuat wajah Akuji tersenyum lebih cerah penuh kepuasan.
Apa alasan Akuji, seorang elementalist tertarik tuk mempelajari skill Tricky Weapon dari Pohon Skill Assassin dan bahkan telah memaksimalkan levelnya sekarang? Itu sederhana, sebab Tricky Weapon meningkatkan akurasi dan kontrol serangan, dua hal yang memengaruhi stabilitas serangan dan serangan kritis.
Dan Akuji sangat tertarik kepada hal ini. Dengan serangan kritis, yang tentu akan meningkatkan serangannya, bukankah tujuan sederhana (?) dirinya untuk membakar diri sendiri akan menjadi lebih mudah?
Hanya saja, sejak serangan kritis dari skill sihirnya tak pernah terpicu sebelumnya, Akuji agak skeptis apakah ide serangan kritis ini akan berhasil. Memang, dengan stabilitas serangan yang lebih baik kekuatan serangannya telah meningkat dengan margin besar terlebih sejak dia menikmati efek penuh dengan penggunaan belati, tapi tetap saja ... itu tak berjalan seperti keinginannya.
Apakah mungkin hal itu disebabkan oleh sihir adalah jenis serangan dengan tingkat kontrol terendah, tak seperti serangan jenis fisik yang dapat dengan mudah dikontrol ke arah mana serangan itu menuju?
Akuji tidak yakin. Namun ...
__ADS_1
[Serangan Kritis!]
... Suara pemberitahuan lain yang muncul seolah telah menjadi lagu pengingat terindah baginya. Diai bahkan memilih tak menutup pemberitahuan sepele ini dan menikmati lantunan itu bahkan jika sangat berisik —cukup tuk membuyarkan konsentrasi dengan mudah. Karena dengan pemberitahuan ini membuktikan bahwa pilihan Akuji tidak mengarah ke jalan buntu.
Mungkin itu disebabkan karena jumlah monster itu? Atau karena monster-monster itu adalah jenis serangga terlebih sekarang telah dibangkitkan lagi menjadi semacam l undead yang hanya membuat mereka jauh lebih rentan terhadap api?
Banyak alasan mungkin terkait mengapa serangan kritisnya muncul sangat sering, tapi Akuji tak peduli pada detail itu sekarang.
‘Aku hanya perlu meningkatkan apa pun yang dapat meningkatkan kontrol serangan!’ pikir Akuji. Entah itu skill atau peralatan, dia hanya merasa bahwa jalannya telah terbuka dengan penuh.
...Jalan untuk dirinya dapat membakar diri sendiri ....
Melirik monster bos yang terus berusaha membunuh Akuji dan Thorne dengan membangkitkan mayat kalajengking semut yang telah terbunuh, Akuji hanya dapat melihat monster bos itu dengan mata lain saat dia benar-benar merasa perlu berterima kasih padanya atau dia akan menempuh jalan memutar untuk dapat mencapai tujuannya.
Membuat Akuji mengingat kenangan manis akan bagaimana mereka dapat bertemu ....
****
“Fire Arrow.” Akuji berkata saat melepaskan panah api sihir, menjatuhkan monster di depannya dengan mudah sejak castingnya tak terganggu.
Thorne berkomentar setelah dia menghembuskan napas panjang, memilih beristirahat saat matanya masih fokus. Tidak pada lingkungannya atau kemungkinan bahwa kan terdapat monster yang tiba-tiba muncul, tapi pada Akuji, sejak pemuda itu bisa secara tiba-tiba menyerang monster yang masuk dalam pandangannya.
“Mungkin sebab itulah tempat ini tak populer hingga diketahui banyak orang,” balas Akuji.
Sejak tak terdapat pemberitahuan bahwa mereka telah memasuki dungeon tertentu, baik Akuji maupun Thorne hanya dapat mengira bahwa gua ini hanya sejenis area tersembunyi.
Turut duduk, Akuji mengeluarkan beberapa makanan dari kantong penyimpanan dan membaginya pada Thorne.
“Tenang saja, itu tak beracun,” ucap Akuji membuat Thorne diam.
‘Orang waras mana yang akan meracuni makanan yang akan dia makan?’ pikir Thorne lelah, tak tahu bahwa orang di depannya lah yang pernah melakukan itu ....
“Berapa levelmu sekarang?”
“Hanya di level 30,” jawab Akuji, menelan makanannya sebelum bertanya, “Mengapa kau terus menanyakan itu saat beristirahat?”
__ADS_1
Mengapa? Bukankah ini karena permintaanmu?!
Thorne akui jika level Akuji telah meningkat dengan cepat, sangat cepat apalagi sejak monster-monster di gua ini rentan terhadap serangan unsur api yang Akuji miliki.
Namun ...
‘... Masih setengah jalan ....’ Itu masih jauh dari apa yang kontrak sialan itu tentukan.
Thorne hanya menghembuskan napas, tak ingin menjawab pertanyaan Akuji dan berdiri setelah menghabiskan makanannya. Segera Akuji ikuti saat mereka sekali lagi menyusuri gua ini, sekali lagi memulai tugas memuakkan ini.
Bertemu monster, lawan, jatuhkan.
Hanya siklus pengulangan seperti itulah yang terjadi hingga membuat seseorang dapat mati karena bosan. Itu bahkan terjadi pada pemain di game ponsel atau pc, terlebih oleh pemain di game vr kebosanan itu hanya dapat terus bertumpuk menjadi kelelahan mental. Terlebih dengan kurangnya cahaya yang dapat membuat kepala seseorang bergerak ke arah yang aneh.
Hingga ....
“Holy Barrier!”
... Kesalahan yang senantiasa menunggu pun terjadi. Holy Barrier, skill yang selalu Thorne lemparkan untuk mengantisipasi kemungkinan serangan masuk ke arah Akuji terlempar ke arah lain, memukul seekor monster di sudut tersebut.
Bahkan jika skill-skill cleric bukan skill jenis serangan, itu tak berarti mereka tidak akan menimbulkan perhatian dari monster jika mereka terkena olehnya.
“CTRACKCKCKCKCKKKKK!”
Monster itu berbalik, berteriak dengan suara yang membuat telinga Thorne berdarah saat mendengarnya. Sementara Akuji, yang seluruh indranya sama dengan dunia nyata hanya dapat merasakan sensasi tersebut jauh lebih kuat dan menunduk sebelum dia dapat melihat seperti apa sosok monster tersebut.
Sosok dengan tubuh bagian atas humanoid, tertutup karapas keras yang membalutnya sementara bagian bawah hannyalah serangga. Mungkin itu serupa dengan kalajengking semut yang pernah mereka lawan, namun juga tampak lain dengan beberapa fitur tambahan.
Dengan bentuk yang sangat berbeda dari monster yang selama ini mereka hadapi dan kehadirannya, Thorne pun hanya bisa meratap ...
“Monster Bos?”
... Saat tangan kemalangan melambai padanya.
Tampaknya, nasib buruk benar-benar telah membuat janji agar dapat menjadi teman terbaik Thorne
__ADS_1