
Beberapa hari berlalu sejak hari pertama dia menginjakkan kaki di Teokrasi.
Dan dengan uang yang dia terima dari Katedral karena dianggap telah membantu Blaise mencari Naurel, dompet Akuji telah terisi dengan jumlah uang yang tak sedikit, 1.000.000 Inar.
‘Apakah ini yang namanya keberuntungan?’ Akuji merasa itulah yang terjadi saat yakin bahwa dia akan dapat membeli item yang cukup untuk bisa mencapai tujuannya, membakar dirinya sendiri.
.
.
.
.
Masalahnya adalah, di mana dia dapat menemukan item semacam itu? Ke Serikat Dagang? Akuji menolak ide tersebut. Bahkan jika dia berhasil menemukan buku sihir, grimore yang memiliki statistik cukup baik dia ragu apakah dompetnya cukup sejak dirinya tak hanya berniat untuk membeli satu lagi jenis senjata, belati.
Memang, Akuji belum mencapai level 40 yang membuatnya dapat menggunakan senjata kedua. Tapi itu tidak berarti dia sama sekali tidak bisa menggunakannya dengan konsekuensi dirinya tak dapat merasakan efek dari statistik yang senjata itu miliki.
Bagaimanapun, itu tidak masalah sejak apa yang Akuji cari bukanlah statistik senjata itu sendiri melainkan bonus ke skill yang belati miliki, misal ke Pohon Skill Assassin. Meski sejak dia telah separuh jalan ke level 40, Akuji tak ingin hanya membuang uang ke jenis senjata dengan kekuatan serangan tinggi namun memiliki statistik rendah.
... Walaupun mungkin sesuatu seperti itulah yang akan dia pilih jika tak dapat menemukan belati yang berada dalam ekspektasinya.
“Kurasa aku hanya bisa bermain tebak dan temukan di sini.” Akuji bergumam.
Bagaimanapun, dia tidak ingin mengganggu Naurel. Meski dia merasa Naurel akan menjawabnya jika dirinya bertanya, dia tidak ingin mengganggu keperluan Naurel sejak itu terlihat penting.
Sementara untuk Arsy ... dia cepat-cepat kembali ke akademi sihir setelah melaporkan penyelesaian tugas milik Blaise dan tak terlihat batang hidungnya sejak saat itu.
Mulai berjalan dengan langkah mantap untuk mengandalkan penilaian pribadinya, Akuji berpikir alangkah baiknya jika makanan di tangannya dapat berisi racun.
Berjalan, Akuji menjelajah dari satu toko ke toko lain berulang, ulang, dan ulang kali hanya tuk menggelengkan kepalanya lagi dan lagi. “Ini juga bukan.”
Meletakkan grimore di tangannya setelah melakukan penilaian lain, Akuji masih tak dapat menemukan sesuatu dalam kriterianya dan mendesah, memilih menuju ke toko lainnya sebelum langkahnya terhenti melihat gang gelap di seberang jalan.
‘Apa mungkin terdapat pasar gelap?’ pikir Akuji. “Yah, lebih baik coba saja.”
Bagaimanapun, sisi gelap suatu hal akan tetap ada seberapa besar cahaya itu terpancar.
Akuji berpikir seperti itu dan mulai masuk lebih dalam ke gang-gang gelap tersebut, berkeliaran tanpa tujuan yang jelas hingga dirinya melihat tempat kumuh yang menjadi tempat tinggal penduduk.
Teokrasi Ladia pun bukan tempat yang sempurna bahkan jika di sinilah Gereja Cahaya berpusat. Bahkan Akuji pun dapat mengira dengan mudah sejak tanaman pangan pasti kan sulit tuk tumbuh dengan cuaca bersalju yang selalu menyelimuti.
Melihat salah satu toko yang tetap berdiri di tempat kumuh seperti ini, Akuji memutuskan untuk masuk dan mencoba peruntungannya. Dia tak tahu apakah toko ini kan terhubung ke pasar gelap atau tidak, tapi tidak ada salahnya mencoba.
Pintu terbuka, menimbulkan suara seolah pintu itu akan lepas kapan saja saat Akuji masuk, menunjukkan beberapa jenis peralatan tak biasa yang berserakan di lantai. Senapan, magic device (perangkat sihir), amunisi, bahkan ... cambuk.
Baik. Cambuk memang bukan jenis senjata sejak tidak terdapat skill seperti Magic Mastery yang Akuji pelajari. Skill yang akan meningkatkan beragam statistik saat mengenakan grimore atau magic device sebagai senjata utama, tapi cambuk secara khusus bekerja sebagai senjata kedua.
“Apa kau ... mencari sesuatu, Nak?” tanya orang tua, pemilik toko ini dari balik konter dengan malas.
__ADS_1
“Apa kau memiliki grimore di sini?” Bagaimanapun, Akuji berminat ke sesuatu semacam itu dan hanya masuk dengan santai. Mencari grimore yang mungkin terselip di antara semua kekacauan ini.
“Carilah jika ada. Bagaimanapun, ini hannyalah toko barang bekas.”
“Begitukah?” ucap Akuji yang disambut anggukan dari orang tua itu saat mulai mencari-cari lebih jauh di sekitar.
Beberapa terlalu buruk dengan tingkat daya tahan yang telah mencapai satu digit, meninggalkan peralatan itu untuk hancur jika salah disentuh. Namun, tidak semua seburuk itu sejak mata Akuji berbinar melihat buku tua di tangannya.
[Book of Rise
Attack : 132 ❖ Defense : 4
Jenis : Grimore
Berat : 1 kg
Daya Tahan : 13
Serangan sihir kini berunsur api.
Kekuatan sihir dan kecepatan cast pemilik meningkat sebesar 10%, juga sedikit meningkatkan regenerasi mana (rendah).
Level Magic Mastery +1
Syarat Penggunaan : Magic Mastery Level 5
*statistik senjata menurun menurut tingkat kerusakan yang buku terima.
Buku sihir berunsur! Apalagi itu unsur api yang fokus pada serangan tepat dengan peningkatan kekuatan sihir serta kecepatan cast miliknya, membuat fantasi Akuji kala dirinya dapat membakar dirinya sendiri melayang.
Terlebih, itu memiliki bonus langka ke suatu skill. Itu cukup langka sejak hal semacam itu setara dengan memiliki poin skill bonus karena bonus semacam ini tak memiliki batasan.
Jika pemain belum mempelajari skill dengan bonus level, sederhana saja, skill itu menjadi tersedia bagi mereka dengan berada di level yang sama dengan level bonus dari senjata itu. Sementara bagi seseorang seperti Akuji, yang mana skill dimaksud telah mencapai level ‘maksimal’ yang ditentukan oleh sistem, level skill tersebut akan bertambah menembus batas normal.
“Berapa harga buku ini Pak?”
“... 30.000 Inar.”
‘lebih murah dari dugaanku,’ pikir Akuji diam-diam sebelum—
“20.000 Inar.” Dia menawarnya.
“30.000, “ucap pemilik toko tak mau mengalah.
Membuat Akuji mendesah dan menunjuk grimore di tangannya itu. “Lihatlah grimore ini, bukankah ini terlihat seolah akan hancur kapan pun? Jadi, 22.000 Inar. “
“Bisakah kau tidak kejam ke Orang Tua ini? Harga itu bahkan belum mengembalikan uang yang kugunakan untuk membelinya.”
“Kalau begitu, 22.000.”
__ADS_1
“27.000 Inar!” teriak orang tua itu seolah semua rasa kantuknya telah hilang.
“Yah, baiklah 27.000,” jawab Akuji berhasil membuat orang tua itu lega, merasa Akuji bukanlah tipe pelanggan yang paling tak ingin dia temui. “... Dengan belati ini juga.”
Sampai orang tua itu mendengar lanjutan Akuji. Membuatnya berpikir keras setelah melihat belati yang Akuji maksud memiliki sederet luka di bilahnya, cukup tuk menunjukkan bahwa itu tumpul sebelum akhirnya mengangguk.
“Baiklah! Aku terima itu!” jawabnya, merasa dia masih untung karena telah menjual belati yang tidak mungkin orang lain akan tertarik kepadanya.
“Terima kasih,” salam Akuji, menyerahkan sejumlah uang yang disebutkan saat melihat belati itu.
[Theif Dagger
Attack : 110 ❖ Defense : 1
Jenis : Belati
Berat : 0,8 kg
Daya Tahan : 9
Kecepatan gerak bertambah 5%.
Syarat Penggunaan : Tricky Weapon Level 3
*kerusakan fisik menurun karena kerusakan yang belati terima]
Seperti yang Akuji kira sebelumnya, paling dia hanya akan berakhir memilih belati dengan kekuatan serangan dasar tinggi tapi statistik keseluruhan rendah.
Dan meski di mata orang lain belati ini tak lebih berguna dari sampah sejak itu memiliki pengurangan kerusakan terhadap semua jenis serangan fisik karena kurangnya ketajaman belati ini, itu tak masalah bagi Akuji sejak serangannya adalah sihir.
Paling banyak, dia hanya akan menggunakannya sebagai alat tuk menahan serangan musuh.
Bagaimanapun, apakah dia harus berterima kasih sebab belati ini tak semahal itu?
Akuji puas, berniat pergi dari tempat ini. Sampai—
“Pak Dex, di mana grimore yang telah kupesa ...?” Seseorang berteriak, menghadang pintu masuk sebelum tatapannya terfokus pada Akuji, tidak, ke grimore di tangannya dan berseru, “Bukankah itu grimore yang kupesan?!”
————
Note :
Jenis peningkatan/penurunan di Vivid terbagi menjadi dua jenis, tetap dan tidak.
Contoh tetap seperti grimore di atas yang mana peningkatan kekuatan sihir dinyatakan dengan nilai yang jelas dan tetap.
Sementara tidak tetap seperti ikat rambut Akuji /pengurangan statistik pada grimore, dinyatakan dari lemah, ringan, sedang, dst sejak nilainya tidak tetap.
__ADS_1