Ascyaf O Vivid : VRMMORPG Story

Ascyaf O Vivid : VRMMORPG Story
Chapter 29 : Lawan Saja


__ADS_3

Melihat monster itu dan apa yang Thorne gumamkan, Akuji tahu bahwa mereka tidak dalam kondisi yang baik apalagi dengan Thorne yang tengah tertegun, membuatnya bergerak jauh lebih lambat.


"Fire Arrow," ucap Akuji, melemparkan panah api sihir ke arah monster bos itu hingga membuatnya berteriak.


"CTRACKKKKKKKK!"


"Thorne, bangun." Akuji berkata, menyadarkan Thorne dari lamunannya.


Namun, hal itu tidaklah cukup untuk membuat semangat Thorne terbangun saat dia hanya dapat bergumam lirih, "Kita mati."


Melawan monster bos? Apalagi jenis bos liar yang serangannya benar-benar tidak diketahui? Thorne ingin menyerah untuk memikirkan itu apalagi dengan mereka yang hanya berjumlah dua orang.


"Lebih baik kita lari," lanjut Thorne membuat keputusan, tidak ingin membuang levelnya di sini dan berpikir bahwa kabur adalah pilihan terbaik yang ada.


Tapi—


"Magic Flare."


Akuji segera menyerang kalajengking semut yang semula mereka lawan dan menjatuhkan kesehatan terakhirnya sebelum matanya terfokus pada monster bos itu ...


"Appraise."


[??? - Level 53


Health : 99%]


... Menunjukkan identitas sebenarnya monster tersebut.


Dengan bertambahnya pengalamannya tentang bagaimana Vivid bekerja, bagaimana mungkin Akuji yang sekarang tak dapat membedakan jenis monster yang dia lawan?


Akuji tahu bahwa apa yang digumamkan Thorne benar. Monster di depan mereka adalah monster bos, sejak dia serangannya hanya memakan bagian kecil dari kesehatan monster tersebut.


Akan tetapi, apakah itu alasan baginya untuk lari? Tidak.


Bola-bola magis, bentuk dari serangan dasar seorang elementalist, atau lebih dikenal sebagai role mage oleh pemain Akuji lepaskan.


"Apa yang kau lakukan, Akuji?!" teriak Thorne panik melihat tindakan Akuji.

__ADS_1


Namun, pemuda itu sama sekali tak terpengaruh dan hanya menbalas ringan, "Bukankah itu sudah jelas? Lawan saja dia."


Cukup melangkah saja.


Akuji selalu mengingat pelajaran sederhana yang dia dapat tepat setelah dia tiba di Vivid, sesuatu yang Naurel katakan padanya.


"Pada akhirnya, tidak peduli seberapa kuat atau pintar kalian, tanpa bertindak hal itu tidak berguna."


Hanya itulah yang dapat Akuji katakan pada Thorne, membuat pemuda di depannya itu terdiam oleh sikap serius dirinya.


Mungkin langkah itu akan membawa penyesalan seperti pikiran, 'Mengapa aku bertindak saat itu?'


Namun, walaupun begitu Akuji masih merasa bahwa lebih baik mengambil langkah daripada hanya berdiam diri. Bukannya dia dapat sepenuhnya yakin bahwa orang lain memiliki pola pikir yang sama dengannya, apakah mereka mampu menanggung risiko dari kesalahan yang mereka buat dalam langkah tersebut.


Akan tetapi, apakah hasil dari langkah sepenting itu sejak awal? Hasil yang bahkan belum ditentukan sama sekali? Akuji hanya mengulangi kata yang pernah Naurel ucapkan.


"Lagi pula, apa alasanmu bermain Vivid?" sambung Akuji bertanya.


Seribu satu alasan dapat menjadi alasan mengapa seseorang memainkan Vivid, tak terkecuali Thorne.


Mungkin juga hanya alasan sepele untuk bersenang-senang? Demi melepas stres yang ada di dunia nyata?


Atau mungkin Vivid telah menjadi ladang penghasilan dari penukaran Inar?


... Dan Thorne tahu bahwa alasannya sendiri tidak terlalu spesial. Dia hanya lulusan SMA yang bingung untuk melakukan apa setelah dirinya lulus. Terkejut oleh perubahan dari status 'pelajar' yang selama ini disandangnya menjadi 'orang dewasa'.


Mungkin sebab itulah, Thorne mencoba lari. Jauh dari dunia itu dan membuatnya mencari dunia kedua, dunia virtual. Dunia yang mana tempat dia merasa dapat melakukan apa yang dia inginkan tanpa tekanan.


Hingga dia pun sampai ke Vivid. Tidak hanya dia dapat melakukan apa pun, Thorne juga dapat mendapat penghasilan dari penukaran Inar ke mata uang nyata. Sebab itulah Thorne memilih cleric, seorang penyembuh sebagai rolenya. Role yang membuatnya dapat bergabung dengan party apa saja dengan mudah dan mendapat pembagian item yang setimpal. Namun, apakah role ini tidak memiliki konsekuensi sama sekali?


Jawabannya ada, dan itu adalah konsekuensi yang tidak sedikit. Tidak seperti seorang damage dealer (pemberi kerusakan) yang mana keterampilan pemain banyak membantu meningkatkan total kerusakan yang diberi, seorang penyembuh tidak dapat melakukan itu.


Jumlah penyembuhan mereka hanya didasarkan oleh kekuatan sihir. Sementara keterampilan pemain hanya membantu seorang cleric untuk mengolah mana mereka dengan lebih baik.


Jadi, Thorne sadar bahwa semakin tinggi levelnya, jika kekuatan sihirnya telah dianggap kurang dari nilai penyembuhan yang dibutuhkan dia akan kesulitan, mengabaikan seberapa baik kontrolnya terhadap mana dan cooldown skill, jika jumlah penyembuhan itu tak memadai maka apa gunanya seorang penyembuh?


Itulah alasan mengapa Thorne menginginkan grimore Akuji. Grimore dengan bonus peningkatan kekuatan sihir dalam jumlah tak sedikit.

__ADS_1


"Jadi lawan saja." Akuji sekali lagi berkata sebelum tersenyum tak peduli, "Bahkan jika kita mati itu tak akan banyak mengubah hal-hal yang ada. Peningkatan level bukan sesuatu yang dapat selesai dalam satu atau dua minggu."


Kalimat yang seolah telah membuat Thorne tersadar akan kesalahannya. Apa mungkin dia terlalu terburu-buru selama ini?


Mungkin, itu yang terjadi selama ini.


Membuat Thorne tertawa garing, tawa yang seolah mencemooh dirinya sendiri sebelum pandangannya terhadap monster itu berubah.


Jika dia mati di sini maka itulah yang terjadi. Apalagi dengan kecepatan leveling Akuji, Thorne tahu bahwa tak selama itu untuk memulihkan satu level yang hilang.


"Kau benar-benar kasus iblis," bisik Thorne, teringat akan bagaimana cara tuk mempersingkat waktu. Cara yang amat sangat sederhana, cukup nikmati saja.


Seperti bagaimana dirinya menikmati waktu di dunia virtual hingga tak merasa bahwa satu tahun telah terlewat.


Lagi pun, seperti yang banyak orang katakan, waktu itu relatif.


Membuka panel, Thorne melirik salah satu skill mastery dari senjatanya, sabit.


[Tier 2 - Unwavering Death (Pasif) - Sabit


Kematian tak dapat disangkal. Jumlah kerusakan yang diterima berkurang (lemah hingga tinggi) seiring rendahnya persentase kesehatan. Berlaku kala menggunakan sabit sebagai senjata utama]


Skill dengan penjelasan sederhana namun tepat seperti apa yang Thorne butuhkan. Ini pula alasan mengapa dia memilih sabit sebagai senjata utamanya.


Bahkan jika biaya untuk mempelajari skill Tier 2 adalah 3 poin skill per level sejak biaya pembelajaran skill akan meningkat seiring tier sebuah skill, Thorne tidak terlalu ambil pusing dan hanya memaksimalkannya. Membuang 12 poin skill cadangan dan berpikir dia hanya memajukan rencana bagaimana pohon skillnya diatur sebelum segera melemparkan skill lain.


"Reagen!"


... Skill cleric yang akan menyembuhkan target dipilih, dirinya sendiri dalam interval tertentu sebelum segera maju dan mengaktifkan Reap.


Satu-satunya skill jenis fase dari semua pohon skill yang ada. Membuat efek skill tersebut, tebasan dengan efek gangguan dapat digunakan hingga tiga kali dengan peningkatan gangguan di tiap aktivasi berikutnya. Serangannya mungkin lemah sejak dia biasanya hanya menggunakan skill ini untuk pertahanan diri, membeli waktu sebelum anggota party lain membantunya.


Namun, itu cukup hingga membuat sebuah senyum kecil terbentuk di bibir Thorne tanpa dia menyadarinya.


Kapan terakhir kali dia benar-benar menikmati waktunya di permainan? Mungkin waktu itu terlalu jauh apalagi dia hanya fokus tuk menghasilkan Inar sekarang. Dan kini, sensasi yang telah lama hilang itu kembali dengan liar seolah dia sendiri lupa bahwa dia adalah seorang penyembuh.


Akuji tersenyum melihat langkah yang diambil Thorne sebelum matanya mulai menjadi lebih serius. Mungkin ini saatnya dia sedikit menjemput bola dan berolahraga? Bagaimanapun, dia banyak menganggur belakangan ini.

__ADS_1


__ADS_2