
Satu per satu scorant, monster kalajengking semut mulai berdatangan ke area ini.
"Ctrack!" "Ctrack!" dan sekali lagi. "Ctrack!"
Suara tanda mereka terus berkerumun, lebih dan lebih padat mengepung Akuji dan Thorne di tengah semua itu. Bahkan Akuji yang selama ini berlarian pun tak akan bisa melakukan hal itu lagi sejak tempat tersebut terlalu penuh sesak oleh monster-monster tersebut.
Melihat bagaimana kedua orang yang selama ini mengganggunya terjepit dalam kondisi yang tidak memungkinkan mereka melarikan diri, Scorant Mother memilih mundur, tampak mencoba menikmati bagaimana anak-anaknya akan menyiksa Akuji dan Thorne.
Bagaimana mereka bisa mengatasi seluruh monster ini sendirian? Thorne berpikir dan ingin menyerah tuk menemukan jawabannya.
Namun ...
"Fire Arrow!" Akuji segera memanggil panah sihir apinya, menembus melalui kegelapan dan mengenai para monster tersebut seolah tidak menyadari situasi mereka sebenarnya.
"Mengapa kamu hanya diam, Thorne?"
Apakah pemuda di depannya ini benar-benar waras? Thorne berpikir diam-diam saat merasa malas tuk bertanya apa yang sebenarnya Akuji tengah lakukan.
Mungkin karena banyaknya jumlah kalajengking semut ini telah meredakan adrenalin yang sebelumnya naik, kepala Thorne kembali jernih saat merasa inilah akhir dari hari ini.
"Cepat serang mereka!" teriak Akuji lagi, menyemangati Thorne dan ... "Apa kamu tidak melihat banyaknya poin pengalaman yang ada?"
"Poin pengalaman?" Thorne bergumam bingung, melihat kumpulan monster ini sebelum tersadar, seolah tahu bagaimana kepala Akuji bekerja. "Ya, kamu benar!"
Thorne berteriak keras, mulai mengayunkan sabit di tangannya secara gila seperti bagaimana Akuji terus mengeluarkan Fire Arrow. Meski Fire Arrow adalah skill area tipe sihir terkecil karena hanya menembus lurus, itu tetaplah skill area dan menyerang banyak monster sekaligus dengan kepadatan ini.
Jika mereka akan mati, mengapa tidak membunuh beberapa monster-monster ini untuk mengurangi kerugian dari hilangnya beberapa persen poin pengalaman?
Dan begitulah. Akuji berpikir dengan ringan. Merapal Fire Arrow lagi dan melepaskannya, sambung dengan deretan bola-bola cahaya sihir kecil, serangan normal seorang elementalist.
Selain itu—
Swosh!
Akuji dapat menghindari serangan mereka dengan mudah, begitu pun Thorne yang menahan serangan-serangan itu dengan sabitnya. Dengan beberapa hari, minggu terakhir yang hanya mereka habiskan untuk memburu para kalajengking semut ini, bagaimana bisa Akuji dan Thorne tidak hafal serangan apa saja yang monster ini dapat lakukan?
Dengan serangan mereka berdua yang terus mengenai dengan tepat sementara luka yang diterima bisa diabaikan, kalajengking semut lah yang kalah saat satu per satu dari mereka mulai jatuh. Mengeluarkan suara rintihan menyedihkan yang diabaikan, hingga ...
__ADS_1
[Level Meningkat]
"Hehehe." Akuji hanya dapat tertawa begitu pemberitahuan ini terdengar. Melihat hasil yang melebihi harapannya, dan segera membuka panel saat membuang poin stat yang didapatnya untuk memperkuat serangan.
Pertahanan? Nilai kesehatan? Apa itu? Melirik Thorne, Akuji hanya tersenyum dan percaya penuh padanya!
"Ctrack ...," rintih kalajengking semut lain saat mereka jatuh dan berubah menjadi kabut hitam saat menghilang. Hanya meninggalkan ujung ekor mereka sebagai item drop.
"Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." Lagi.
"Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." Lagi.
"Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." Lagi.
"Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." "Ctrack ...." Dan lagi.
Rintihan para kalajengking semut itu hanya terus terdengar saat mereka terus berjatuhan. Tidak mampu memberi luka berarti pada kedua orang itu.
Akuji? Dia hanya perlu menghindari serangan mereka tanpa kesulitan. Bahkan jika dia tetap tidak bisa menghindari semua serangan karena jumlah monster yang ada dan membiarkan satu atau dua serangan melukainya, Holy Barrier dari Thorne cukup tuk menahan kerusakan itu tanpa menyentuh kesehatan Akuji yang ....
Sementara Thorne sendiri, dia menahan kerusakan tersebut tanpa banyak kesulitan. Menggunakan sabit dan skill-skill cleric untuk memulihkan kesehatannya kembali.
[Level Meningkat]
Cahaya keemasan lain segera menyelimuti Akuji, tanda kenaikan levelnya. Meringankan beban psikologis yang membebani Thorne selama ini. Apalagi, itu cahaya itu tak hanya muncul sekali atau dua kali.
[Level Meningkat]
Lagi.
[Level Meningkat]
Lagi.
[Level Meningkat]
Lagi.
__ADS_1
[Level Meningkat]
Dan lagi.
Cahaya keemasan itu terus naik, tentu saja membawa peningkatan serangan Akuji ditiap levelnya.
"CTRACKCKCKCKKCKCK!" Scorant Mother berteriak, merasa hal ini tidak mungkin terjadi saat melihat anak-anaknya terjatuh.
Mengangkat tangannya, sebuah bola diagram sihir kompleks muncul di udara, bercahaya ungu. Memunculkan lingkaran sihir lain di bawah mayat-mayat kalajengking semut itu—
"Ctrack ...!"
Membangkitkan mereka. Akan membuat orang lain putus asa, membuat mereka merasa seluruh usaha mereka sia-sia dibuatnya.
"Poin pengalaman lain!" Meski hal itu justru membuat hasil yang sangat berbeda bagi kedua orang itu. Mata mereka bersinar, tertawa sebelum menyerang para undead dari kalajengking semut itu tanpa banyak keraguan atau semacamnya.
Membuat adegan yang serupa terulang kembali. Saat para kalajengking semut itu ditekan oleh keduanya. Panah demi panah sihir api beterbangan bersama bola-bola cahaya serta ayunan sabit, membawa kematian lain untuk para undead tersebut.
Terlebih dengan sifat bawaan ras undead yang rentan terhadap unsur api dan cahaya, anak-anak yang Scorant Mother bangkitkan hanya terus tumbang lebih cepat.
Meski begitu, Scorant Mother tidak menyerah. Berteriak aneh dalam bahasanya sendiri, memunculkan diagram sihir kompleks lain yang terus membangkitkan anak-anaknya bahkan jika mereka jatuh. Mencoba melihat sejauh mana dua rekan kejahatan ini dapat bertahan.
Hanya saja, seolah dua makhluk aneh ini tak tahu apa itu kelelahan atau tekanan, mereka hanya terus tertawa dengan cahaya demi cahaya yang dilepaskan. Tawa yang hanya menjadi lebih dan lebih keras tiap kali dia membangkitkan anak-anaknya.
Satu jam? Dua jam? Waktu ini berlangsung jelas jauh lebih lama dari itu seolah hanya mencari pihak siapa yang lebih dahulu mencapai batasnya.
"CTRACKCKCKCKKCKCK, CKTRACKCKKKKCKKKK, CRACKCKKKKKKKK!"
Hingga Scorant Mother memekik, tak tahan lagi bagaimana harus menghadapi kedua orang di depannya setelah sekian lama dan akhirnya lingkaran sihir terstruktur rumit muncul di bawah kakinya. Memunculkan pemberitahuan ke dua kekacauan tersebut.
[Scorant Mother berubah]
Aura gelap nan mencekam naik dari lingkaran sihir tersebut, seolah aura tersebut adalah emosi gelap yang dia dan anak-anaknya yang telah tumbang rasakan untuk kedua kekacauan tersebut.
Aura yang terus menjerat Scorant Mother bagai jaring yang terus mengikat, melilit tubuhnya hingga menjadi sebuah kepompong, menjadi katalis yang mengubah dirinya.
Sebelum akhirnya kepompong tersebut pecah, terbuka dan memunculkan wujud barunya.
__ADS_1
Wujud yang sepenuhnya humanoid dengan kulit ungu gelap, berpasang dengan karapas keras yang telah berubah menjadi baju yang melindunginya. Sementara tiga pasang lengan terbentuk, mengangkat kabut ungu gelap ke dua kekacauan ini saat pemberitahuan lain muncul di depan mata mereka.
[Scorant Queen telah muncul]