
Tuuutttttttt!
Kereta itu bersiul dengan keras, membunyikan alarm saat ular besi itu melaju, meninggalkan jejak uap di sepanjang jalurnya. Lanskap berganti dengan cepat, hutan, ladang, dan danau. Cukup indah tuk dapat dinikmati bersama dengan secangkir teh, seperti yang Arsy lakukan sementara ...
“Haaahhhh ....”
Kedua orang di depannya, Akuji dan Naurel hanya menghela napas panjang.
“Pak Tua itu sungguh tak bertanggung jawab.”
“Sepertinya Blaise hanya berlari ke kehancuran,” gumam Naurel sebelum keduanya kembali menghela napas dalam tempo dan waktu yang sama.
‘Apa mereka telah mendiskusikan aksi ini sebelumnya atau semacamnya?’ Arsy diam-diam berpikir, merasa keselarasan antara orang asing dan celestian ini menakutkan.
Meski Arsy sendiri tak dapat menyalahkan mereka sejak gurunya, Blaise hanya pergi begitu saja meninggalkannya sendiri untuk mengurus masalah Naurel.
“Anggap saja ini sebagai latihan sebelum kamu melakukannya kelak.” Seperti itulah pesan Blaise sebelum dia pergi tanpa menjelaskan lebih jauh, suatu hal yang sering (selalu?) dilakukannya.
Bagaimana Arsy bisa memiliki kepercayaan diri untuk dapat mengatur seorang celestian dan orang asing yang di luar kebiasaan ini seorang diri? Bahkan jika penampilan luarnya dikata dewasa untuk usianya, dia hanya ingin menyerah menghadapi kedua orang di depannya.
Sebab itulah dia menyeret Naurel dan Akuji entah apa yang tengah mereka lakukan sebelumnya dan memajukan rencana perjalanan dari semula. Dengan melemparkan dua biang masalah ini ke tempat tujuan mereka, Teokrasi Ladia, atau lebih tepatnya ke Katedral Gereja Cahaya, Veda, Arsy akan dapat lepas dari semua tanggung jawabnya.
Melihat Akuji yang menatap ke luar dengan pandangan dalam, Arsy merasa dirinya akan jauh lebih baik jika tetap bersikap seperti itu sepanjang perjalanan ini. Walau angannya tak bertahan lama—
“Naurel, bagaimana menurutmu jika aku melompat saja dari kereta ini?”
Dengan lontaran tiba-tiba Akuji sementara Arsy menutup mata, berniat mengabaikan semua omong kosong Akuji namun tidak dengan si celestian itu.
“Kurasa kau akan mati Akuji.” Menyangga dagunya dan terlihat berpikir serius, Naurel melanjutkan, “Dan kemungkinan besar itu bukan kematian seketika.”
“Oohhhh!” Hanya untuk membuat Akuji semakin bersemangat sebelum segera surut dan memainkan kue di depannya. ‘Tapi jika aku mati bukankah aku hanya akan kembali di tempat acak?’ pikirnya.
Setelah waktu tunggu kematian pemain selesai, mereka akan muncul kembali di titik respawn terdekat dari lokasi pemain mati —yang biasanya di sekitar monumen suatu kota— setelah mendaftar di titik itu. Itu adalah kasus paling umum sedang masih terdapat kasus lain setelah beberapa syarat terpenuhi.
Salah satunya adalah respawn acak, yang akan terjadi jika pemain berada terlalu jauh dari titik respawn terdekat yang terdaftar. Membuat pemain muncul entah di mana dalam sudut area semula.
__ADS_1
Kasus semacam itu adalah kejadian paling sering yang terjadi setelah kasus pertama, terutama di saat pemain melakukan eksplorasi atau perjalanan jauh. Membuat sistem itu sendiri diterima kurang lebih diterima.
Menghela napas, Akuji hanya merasa sayang kesempatan ini tak dapat dia gunakan. Bahkan jika dia respawn secara acak, bukankah dia telah tertinggal oleh kereta begitu dia hidup kembali?
“Sayang, aku tidak bisa melakukan itu.” Akuji bergumam, membuat Arsy merasa lega sebelum senyum buruk lain muncul di wajahnya begitu dia mengeluarkan botol hijau lumut kecil dari kantong penyimpanannya.
“Oh, kamu ingin menggunakan itu?” tanya Naurel tertarik.
“Ya, aku akan menggunakan ini.”
Mendengar jawaban Akuji, Naurel mengacungkan jempol untuknya. “Berbahagialah Akuji, itu adalah dosis paling mematikan yang dapat kutemui.”
“Sepertinya aku benar-benar akan berhutang padamu, Naurel.” Akuji tertawa, tidak menyembunyikan apa pun. Walau entah rasa terima kasihnya lebih besar untuk botol itu yang Naurel berikan padanya atau ikat rambut yang membantunya membunuh Goblin Prince.
“Errrr ...,” suara Arsy ragu untuk bertanya sebelum memantapkan hatinya. Bagaimanapun kedua orang ini berada dalam tanggung jawabnya sampai mereka tiba di Teokrasi. “Apa sebenarnya isi dari botol itu?”
“Tentu saja jenis racun mematikan, Elf Merah.”
“Hah?”
“—???!!!!”
Merasakan bahaya nyata, Arsy berdiri dan menarik baju pemuda itu, menghentikan apa pun yang dia coba buat, mendekatkan mata mereka.
“Apa yang kau coba kali ini ...!” geram Arsy.
“Bukankah itu sudah jelas? Aku hanya ingin memakan racun itu.” Akuji menjawab, tidak terpengaruh tatapan Arsy.
Jika dia lompat dari kereta sekarang dia mungkin akan tertinggal jadi, mengapa dia tak mencoba untuk mati di kereta ini sendiri? Sejak kereta ini terus bergerak entah melewati berapa area yang dilalui, kereta ini mungkin telah dihitung sebagai sebuah area itu sendiri. Sementara jawaban matang (?) Akuji hanya membuat dahi Arsy berdenyut marah, lebih marah.
Arsy berpikir apakah pemuda di depannya ini bodoh atau tak peduli? Sejak mereka berada di kereta, praktis seluruh kue, camilan yang ada di depan mereka adalah produk dari kereta ini sejak makanan dari luar dilarang.
Lalu, apa yang akan terjadi jika seseorang yang mencoba memakan ini mati? Bahkan jika dia adalah orang asing, yang akan segera hidup kembali, hal semacam itu pasti tidak akan menjadi kasus kecil setelah itu mencoreng nama baik mereka.
Apa dia tidak tahu apa yang dia coba buat?
__ADS_1
Frustrasi Arsy hanya bertambah begitu melihat wajah Akuji yang tak berubah, hanya terus tersenyum seolah semua ini tak berhubungan dengannya.
Sementara ...
“Ooo, aku tak menyangka bahwa murid Blaise akan seberani ini.”
... Naurel mulai berkomentar dengan senyum, melihat pose Arsy yang seolah akan segera mencium Akuji sejak wajah mereka sangat-sangat dekat.
Membuat Arsy segera mendorong Akuji mundur dengan wajah sedikit memerah saat dia duduk kembali entah karena rasa malu atau marah yang tengah ditanggungnya. Dia hanya harus bersyukur sejak mereka berada di bilik pribadi sehingga tak ada orang lain yang menonton sementara wajah Akuji sedikit hilang begitu melihat botol racun itu terlepas dari tangannya.
“Ck, ck, ck. Kamu tak boleh menyia-nyiakan ini Akuji.” Tangkap Naurel pada botol kecil itu sebelum meminumnya secara langsung.
SECARA LANGSUNG!
“Hei, bukankah barang yang diberikan tidak dapat ditarik kembali?!”
“Aku hanya menggunakannya dengan lebih baik.” Naurel membalas. “Dan sayang, kurasa aku tak pernah bilang memberikannya padamu.”
“Tetap saja itu salah.” Akuji bersikukuh.
“Heee,” hela Naurel mengalihkan pandangannya. Membuat mereka memulai sebuah perdebatan paling absurd di telinga Arsy. Perdebatan tentang siapa yang sebenarnya paling pantas meminum racun itu ...
“ Cha? Tungg—“
... Sebelum Akuji tiba-tiba berteriak dan tubuhnya tertidur.
‘Apa baterai yang menyokongnya telah habis?’ pikir Arsy lelah.
“Yaawwwnnnn .....” Naurel mengerang ringan, tampak dia pun juga sedikit letih kala merenggangkan tubuhnya yang terasa agak kaku oleh efek racun tersebut sebelum memilih tidur, sama sekali tak khawatir bahwa racun itu mungkin mengirimnya ke tidur abadi.
“Akhirnya tenang,” desah Arsy saat mengambil botol racun kosong dan ingin membuangnya agar tak terjadi keributan yang tidak diperlukan sebelum dia membeku membaca nama racun itu.
Immortal Death Praise Poison.
‘... Bukankah ini racun yang membuat seorang naga terbunuh?!’ ingatnya tercengang.
__ADS_1
Melirik celestian di depannya yang meminum racun semacam ini dengan santai, Arsy hanya berharap mereka segera tiba di Teokrasi dan bisa membuang kedua sumber masalah ini secepatnya.