BackOut

BackOut
Episode 11 Mencari Reapers


__ADS_3

Matahari mulai menunjukkan cahayanya para burung berkicauan menyambut pagi bagaikan alarm menggangu bagi Marquess Reinhart


“Hmm… Berisik” ucap Reinhart yang mulai tergangu dengan alarm liar itu


“Tuan saya membawa air cuci muka” ucap pelayan pria dari luar kamar Rei


“Masuklah” ucap Rei dari dalam kamar


“Wah… Segar” tambah Rei setelah membasuh wajahnya”


“Permisi tuan saya datang membawa kabar terbaru” ucap ajudan Kei


“Masuklah” balas Rei


“Kau sudah bisa keluar” ucap Rei pada pelayan


“Baik tuan” balas pelayan


“Kali ini kau membawa berita apa?” tanya Rei


“Ini tentang Reapeers setelah krisis pangan mereka akhirnya membantu wilayah baron dengan produksi gulanya” ucap ajudan Rei


“Apa? Mengapa mereka membantu si brengsek itu?” ucap Rei keheranan


“Apa hanya itu yang dapat kau sampaikan? Apa masih ada yang lain?” tanya Rei


“Kata asassin yang tuan kirimkan ke wilayah Baron mereka melihat Baron menuju toko baja dengan murka tapi setelah keluar ia terlihat senang, dan lagi kami menemukan Reapers menampakkan dirinya dari atas balkon kata assassin kita dia terlihat menyeramkan dengan burung gagak di pundaknya” ucap ajudan Rei menjelaskan panjang lebar


“Begitu rupanya aku akan segera menghubungi Kenrich” ucap Rei yang tergesa-gesa bangun dari tempat tidurnya ia menyambar laci dan mencari alat komunikasi yang terbuat dari batu mana berwarna biru


[Srek… Pib Pib]


 


Sementara itu dikediaman Grand Duke Kenrichen


“Tuan ini teh dan surat kabarnya” ucap pelayan sembari menuangkan teh ke cangkir dan memberikan surat kabar


“Lagi-lagi mereka berulah” ucap Ken yang saat ini membaca koran kalangan bawah


“Ini cukup mengejutkan berita Reapers sangat terkenal dikalangan bawah dibandingkan kalangan atas, mereka bahkan menulis lengkap kejadian terbaru, untuk kedepannya siapkan koran berisikan kabar Reapers padaku dari kelangan manapun itu” ucap Kei


“Toko baja ya menarik” ucap Ken sembari tersenyum tipis


“Sediakan kuda aku akan berangkat ke wilayah Baron Matteo, oh iya jangan lupa bawakan aku peta juga” tambah Ken


“Baik tuan” ucap pelayan yang mulai meninggalkan ruangan


“Tuan saya masuk, ada panggilan dari Marques Reinhart” ucap ajudan Ken yang membawakan batu mana


“Kebetulan sekali aku akan singgah di massionnya sebelum ke kediaman Baron Matteo” ucap Ken


“Apa kau akan kemari, kenapa mendadak begini” ucap Rei yang mendengarkan percakapan sejak tadi


“Kemarikan batu mananya dan tinggalkan ruangan ini” ucap Ken pada ajudannya


“Baik Tuan” ucap Ajudan Ken sembari meninggalkan ruangan


“Kau pasti sudah tau sekarang pergerakan Reaper sudah nampak di wilayah Baron kali ini mereka mengincar perhatian masyarakat kalangan atas dengan menyediakan stok gula” ucap Rei


“Dan semalam assassin ku mengikuti kemana perginya Baron setelah pulang dari pertemuan, dia menemui Reapers di toko baja” tambah Rei

__ADS_1


“Mengapa kau begitu yakin bahwa yang dia temui Baron adalah Reaper?” tanya Ken penasaran


“Karena assassin yang kukirim kemarin melihat salah satu Reapers berada di balkon toko baja dia persis dengan orang yang menculik Elly memakai jubah hitam” balas Rei


“Aku jadi tidak sabar bertemu dengannya” ucap Ken yang mulai tersenyum tipis


“Aku akan ke wilayah baron” tambah ken


“Aku ikut” ucap Rei bersemangat


“Baiklah… Sampai jumpa” balas Ken


Percakapan selesai Ken mematikan batu mana dan memanggil pelayan yang dia suruh


[Ting… Ting…]


“Apa persiapannya sudah selesai?” tanya Ken


“Kuda telah siap dan ini petanya Tuan” ucap pelayan


“Baiklah, mari kita lihat petanya terlebih dahulu” ucap Ken sembari membentangkan selembar peta kecil



“Karena aku tidak ingin bertemu kakek tua (Archduke) itu maka aku harus memutar melalui kekaisaran kemudian ke tempat Rei (Marques)” ucap Ken sembari menunjuk tujuan utamanya


“Apa anda tidak ingin mengganti kuda menjadi kereta tuan?” tanya pelayan khawatir


“Tidak… Itu akan memakan waktu yang sangat lama” balas Ken


“Baik Tuan”


[Hiya…]


[Neeeiighh…]


[Tak… Tak… Tak…]


Kenrichen akhirnya meninggalkan kediamannya menuju kediaman Baron Matteo bersama beberapa kesatrianya


 


“Hmmm… Sudah pagi, wahhh… Tubuhku sangat segar teh itu benar-benar berkhasiat” ucap Elly senang


Ia membereskan kasur kemudian mandi dan bersiap menemui Kei dan En


[Kriet…]


“Selamat pagi” teriak Elly dengan nada gembira setelah keluar dari kamarnya


Sayangnya dia tidak melihat siapa-siapa diruang tamu maupun kamar tidur Kei


“Mungkinkah mereka pergi berburu?” gumam Elly dalam hati


“Asik… Hari ini makan daging” ucap Elly senang


[Tap… Tap…]


Suara langkah kaki terdengar dari luar rumah mulai mendekati pintu masuk


[Ack…]

__ADS_1


Terdengar rintihan dari luar rumah, ia tidak sempat membuka pintu karena kesakitan


Setelah mendengar suara itu dengan sigap Elly mengambil topi dan memakainya kemudian membuka pintu untuk melihat siapa yang merintih kesakitan


“Siapa disana” ucap Elly yang sedang membuka kecil pintu luar


“Ini aku…” ia kemudian pingsan


“Kyaaa… Apa yang terjadi” teriak Elly terkejut melihat Kei yang bersimbah darah pada bagian perutnya


“Aku harus melakukan apa, En tidak ada disini. Apa aku obati saja dulu” ucap Elly khawatir


“Darahnya terus-terusan mengalir” gumam Elly


“Apa yang terjadi disini” ucap En yang datang dari belakang Elly


“Ini… Kei terluka kita harus bagaimana?” tanya Elly yang mulai mengucurkan air mata


“Aku yang akan mengobatinya, tenangkan saja dirimu di dalam aku bisa mengurusnya” ucap En yang tengah menenangkan Elly


“Lukanya cukup dalam aku perlu menjahitnya” gumam En sembari melihat kondisi Kei


“Yang Mulia apa anda masih sadar?” tanya En


“….” Tidak ada jawaban


“Baiklah aku akan menjahitnya” ucap En sembari mengeluarkan benang beserta jarum melalui portal sihir


Ia mulai mengelap darah dengan kain basah dan mulai memasukkan benang pada jarum


“Harap bersabar Yang Mulia, saya akan mulai menjahit luka anda” ucap En yang mulai nampak khawatir dengan kondisi Kei


En mulai menjahit sedikit demi sedikt hingga tidak nampak lagi luka robekan


“Untungnya ini bukan panah beracun, sialan siapa yang melakukan ini pada Yang Mulia Carver” Gumam En dalam hati


“Sejauh ini Yang Mulia menyembunyikan identitasnya dengan baik tanpa ketahuan dari faksi kekaisaran, apa jangan-jangan ini karena Baron? Sial aku tidak bisa tinggal diam jika Tuan ku terluka” ucap En sembari menaruh peralatannya melalui portal sihirnya


En pun mengangkat Kei dengan hati-hati dan menidurkannya di kasur


“Maaf Yang Mulia tapi saya sudah tidak sabar lagi jika anda diperlakukan seperti ini” ucap En sembari mengambil jubah dilemari Kei


En keluar dari kamar


“En kau mau kemana buru-buru begitu” tanya Elly heran dengan gelagatnya yang aneh


“Kau tidak perlu tahu, oh iya awasi Tuan selama aku tidak ada disini” ucap En


“Tidak perlu… Kau mau kemana memangnya” tanya Kei yang keluar dari kamarnya


“Tu… an” ucap En yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat


“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu keluar cari masalah” ucap Kei yang seakan-akan tau niat En


“Maafkan saya tuan yang tidak berfikiran jernih sebelum bertindak” balas En sembari membungkukkan badannya


“Tidak masalah” ucap Kei yang tengah melipatkan kedua tanganya melihat tingkah En


“Saya senang anda baik-baik saja setelah operasi kecil tadi” ucap En yang mulai tegap berdiri


“Yah… Itu bukan apa-apa lagipula-” Ucap Kei

__ADS_1


“Kita sudah lengkap kan bagaimana jika kita makan sup jagung” ucap Elly yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka berdua


“Baiklah” ucap Kei dan En bersamaan


__ADS_2