Bad Grils Ara

Bad Grils Ara
eps.13


__ADS_3

gadis dengan balutan khas anak SMA itu masih terbaring lemas diranjang berwarna hitam dicampuri corak-corak abstrak.


Al-Bara Khaisal sosok laki-laki yang telah dibuat menganga akan kejadian itu..


Dimana gadis dengan balutan khas anak SMA menghajar, membabi buta preman-preman pasar tadi!


"Masyaallah, bagaimana ini? Kenapa gadis itu tidak bangun?"gusar Bara kearah pintu kamar nya itu.


Tadi ia sempat melirik kedalam, ia berniat masuk namun dilarang keras oleh umi..


"Bara.. kamu ga ngajar? Umi masi mengingat hari ini kamu ada jadwal kan? Cepatlah bersiap, jangan tinggalkan kewajiban mu sebagai Gus disini.. jadilah contoh akan santri-santri disini nak"ucap umi ku


"Maaf umi, kalau begitu bara pamit. Assalamualikum"ucap ku berlalu meninggalkan dua bidadari didalam kamar.


Saya Al-Bara Khaisal, kalian semua bisa memanggil saya Bara. Tadi sekitar pukul 9 saya berniat untuk kepasar, karna keperluan umi dan Abah sudah menipis jadi saya berniat untuk kepasar dan membeli nya bersama kang Herman.


Kejadian begitu cepat, saya dan kang Herman tidak bisa mengelak akan pukulan berberapa preman ini!. Mereka seakan membabi buta tubuh kita, walaupun dulu saya pintar bela diri namun jika 2 lawan 3 saya angkat tangan.


Tubuh saya kalah kecil dengan tubuh mereka yang besar-besar..


Sampai ahkirnya datang siswi sepertinya anak SMA. Dengan beruntalnya ia membabi buta pula preman itu! Sampai saya memekik saat balok besar terkena kepala gadis tersebut.


"AWASSSSS"

__ADS_1


bughhh


Sudah terlanjur! Gadis itu jatuh pingsan. Aku memberanikan diri untuk mendekat, aku melihat kang Herman yang mengangguk seakan setuju aku mendekati gadis itu.


"Hei.."lirih ku


Aku mengangkat kepala nya, ternyata oh ternyata kepala bagian belakang nya berdarah!


"Maasyaalah Herman! Ini bagaimana?"aku yang tak siap langsung menghempaskan kepala gadis itu sehingga kepala nya terbentur aspal.


"Gus! Kenapa kau lepaskan? Kepala gadis itu semakin parah"bentak Herman yang kulihat wajah nya begitu khawatir.


"A..apa, saya tidak sengaja"elah ku


"Tidak kang! Sebaiknya kita bawa ke ndalem saja. Saya tidak mau umi dan Abah kaget jika saya sudah berani menyentuh gadis seperti tadi.. dan menurut saya lebih baik kita bawa ke ndalem, nanti saya telfon dokter kepercayaan Abah"jelas ku yang diangguki kang Herman.


Aku dengan gugup menggendong gadis itu hingga sampai ke halte, kang Herman bertugas menyetop salah satu taxi.


Sesampainya di pesentren, semua mata santri maupun santriwati menyorot kedatangan ku dan kang Herman.


Aku dengan sigap membuka jaket yang dikenakan dan menutupi kaki jenjang gadis itu.


"Kang, tolong ambil kan air dan bubur. Saya akan membawa nya ke ndalem"ucap ku lalu berjalan dengan tergesa-gesa sambil menggendong gadis itu.

__ADS_1


Katakan lah aku munafik! Aku mengajarkan anak didik ku untuk menjaga pandangan serta bersentuhan agar tak timbul fitnah. Namun aku sendiri melanggar nya dengan menggendong gadis ini!


"Abahh!! Umi!!"aku berteriak karna melihat darah yang cukup banyak menetes dilantai.


Terlihat disana umi berlari tak kalah panik saat melihat sosok gadis yang ku gendong!


"Bar! Astagfirullah, Kenapa kamu gendong wanita yang bukan mahram mu? Maasyaalah itu kepala.. bara cepat bawa ke kamar mu!"cerca umi dengan cepat aku meletak kan gadis itu keranjang ku.


Sedetik kemudian dokter Farhan pun datang, ia memeriksa nadi dipergelangan tangan dan di leher gadis itu!


"Bara, ikut Abi. Sepertinya ada yang mau kau ceritakan ke Abah"ucap Abah yang ku jawab anggukan.


Itu hanyalah cara agar aku berani berkata jujur kepada beliau, dan sekarang disini lah aku..


"Jadi aku menemukan.."aku menceritakan dengan detail tanpa ada kata yang ku pangkas membuat Abah mengangguk.


"Abah memaklumi, seharusnya kau berterima kasih kepada nya nak.. dan sebaiknya juga kau bawa ke RS bkn ke ndalem.. kau tau? Luka nya cukup dalam dilihat dari darah yang keluar cukup banyak"jelas Abah


"Jika nanti sore dia belum siuman, kita bawa ke RS. Abah khawatir akan terjadi yang tidak-tidak.. astagfirullah"Elus Abah lalu pergi meninggalkan ku dengan diam seribu bahasa.


"Assalamualikum"


"Waaalaikumsalam bah"

__ADS_1


__ADS_2