
Hembusan nafas itu yang dirindukan, Widyo tersenyum menatap cucunya. Ia menangis haru saat cucunya itu dinyatakan hidup! bayangkan saja keluarga mana yang tak terpukul disaat anggota keluarga yang sudah koma semenjak 10 tahun silam.
"niel.."
ia menoleh, melihat siapa yang memanggilnya.
"kenapa kek?"
"kau ingin pulang?"
lelaki itu, lelaki yang memiliki postur tinggi. badan yang kurus namun masih terlihat mempesona dilengkapi jambang kecil di sekeliling dagunya.
"aku belum siap, setelah apa yang kau ceritakan mengenai gadisku.. aku menyesal telah menolong brengsek itu!"emsoi yang lama hilang telah muncul.
Niel mengepalkan tangan nya, ia bersumpah akan menghancurkan keluarga sibrengsek itu!
"Jangan gegabah! kau baru sembuh dari koma mu. kita lihat dari jauh dan pantau griel! kakek tak bisa menjamin jika kau datang griel akan luluh dan mau menerima perjodohan Ara dan Aldo."ujar Widyo menepuk dua kali bahu sang cucu.
"makanya itu tadi aku bilang kalau aku belum siap kek!"jawab Niel ditanggapi kekehan dari sang kakek.
"iya-iya, kakek yang salah."
"cowo memang selalu salah!"saut Niel berjalan meninggalkan sang kakek yang siap mengumpat ke arah cucu nya yang tengil itu.
"JANGAN LUPA KAU JUGA COWO NIEL!"teriak sang kakek siap dengan sepatu yang melayang ke arah sang cucu.
namun belum sampai sepatu itu terbang, Niel bersuara.
"ingat, aku baru saja sadar. Jangan menyakiti cucu mu jika kau tak mau bersedih berlarut lama kek!"balas Niel tanpa menoleh kearah sang kakek.
ia bersenandung ria, tanpa menghiraukan sang kakek yang terus saja mengumpat.
__ADS_1
Dilain tempat, gadis itu terbaring lemah dikeranjang rumah sakit. ia melenguh, mata nya menyorot lampu rumah sakit itu. mata nya berkunang-kunang, kepalanya masih berdenyut sakit.
"CEPAT LAH BANGUN!"
Ara kaget, mata nya langsung membola saat tangan nya ditarik paksa untuk bangun. kepala nya kembali berdenyut saat ia berhasil duduk dikasur rumah sakit itu.
"kau gadis yang nakal, jangan berpura-pura sakit!! Aku malas mengeluarkan sepersen pun uang untuk biaya rumah sakit mu ini!! walau kau tahu rumah sakit ini milik ku, tapi jangan harap aku sudi kau disini."ujar griel berkacak pinggang. ia menggunakan kacamata hitam berlogo Gucci ditemani Damian dan Salsa.
"ck, jangan menyusahkan adik kecil!"ujar Damian diangguki griel.
sedangkan salsa tersenyum miring, ia puas melihat orang yang sangat ia benci dari dulu menderita!
Ara tetap diam, ia hanya menatap wajah angkuh griel tanpa minat. sedangkan Damian dan salsa pun hanya melirik tanpa berminat pula membela sang adik.
"Cepat lah, kau harus pulang! biaya rumah sakit ini mahal."desak griel melepas kaca mata nya.
terlihat disana mata tajam menyorot ke arah Ara, sedangkan sang empu tetap memegang kepala yang semakin dipaksa untuk berdiri semakin sakit.
"ck, menyusahkan!"decak griel lalu menyuruh Damian untuk membantu Ara berdiri. Damian pun dengan malas membantu Ara berdiri.
"Daddy tunggu di bawah!"ujar griel tanpa aba-aba lalu meninggalkan ketiga anak nya itu.
baru selangkah, tubuh Ara terjatuh. Damian melepaskan pegangan dibahu Ara lalu meninggalkan nya yang meringis sakit.
"Jangan jadi gadis lemah!"ucap Damian dengan suara berat nya sebelum meninggalkan Ara bersama salsa.
Salsa mendengus kesal menatap sang kakak! ia melirik Ara yang terus memegangi kepala nya itu.
"Cepat lah jalan! kau menyusahkan. aku menunggu didepan. jika kau tak datang kami akan meninggalkan mu disini sendiri." ucap sang kakak yakni salsa dengan pedas.
Ara tersenyum miris melihat kondisinya saat ini, kenapa nasib nya begini? keluarga yang begitu kejam ia dapatkan. keluarga yang tak mau membiayai nya saat ia sakit! padahal jika kalian tahu rumah sakit ini milik Daddy nya sendiri.. tapi Daddy begitu tega melihat Ara sengsara menahan sakit.
__ADS_1
Ara menompa tangan nya di bahu ranjang, ia berusaha untuk bangun dan berjalan. tapi belum melangkah tubuh Ara melimbung ke depan.
"etsss! hati-hati Ra."
suara itu, Ara mendongak menatap wajah itu.
"Adam?"
"hehe iya ini gue, lu sakit?"tanya Adam yang dijawab gelengan oleh sang empu.
"cuma kecapean."
Adam hanya mengangguk, ia meneliti setiap jengkal wajah Ara. pucat! itu lah yang Adam tangkap saat melihat dan meneliti setiap jengkal wajah Ara.
kalian masih ingat Adam kan? dia adalah salah satu orang yang naksir Ara. kalian bisa baca ulang, di salah satu eps. disitu ada Adam dan kawan-kawan.
"lu mau kemana? Gue bantu."ujar Adam yang diangguki Ara.
"bisa anterin gue ke rumah?"kata Ara karna ia yakini jika pun ia datang dan menyusul Daddy dan kakak nya dipastikan ia hanya merasa lelah. sebab mereka akan meninggalkan nya.
"ohh, okeey. lu tunjukin aja jalan nya."
setelah itu mereka hanya diam, sesekali terdengar lenguhan Ara. mungkin masih terasa sakit.
"lu yakin pulang Ra? mending masuk kedalam lagi. kayak nya lu masih sakit!"
Ara yang mendengar itu langsung menggelang keras, ia tak mau merepotkan Daddy nya! walaupun ia bisa membayar sendiri. tapi jika Ara tetap memaksa masuk dan berbaring di sana, ia akan dicap lebih buruk lagi oleh Daddy nya.
"pulang aja, gue cuma butuh istirahat."
"yaudh."
__ADS_1