
Gadis itu merenung, memandangi sebuah hamparan sawah ditengah malam yang sepi nan sunyi.
Jika difikir terlalu rumit kah kehidupan nya? bagaikan rubik yang diputar tanpa arah. Itulah Aralia!
"******* banget hidup gue sial!! Setiap gua coba untuk berubah ternyata hasil nya nol! Kenapa gue terlahir dari manusia itu? gue dosa."
Menangis adalah tujuan nya, ia memejamkan matanya merendam suara tangisan, memendam kesakitan nya. Hah apa? Hidup nya hanya menambah dosa!
"Oke fine! Memang seharusnya gue balik. Tempat ini terlalu suci buat gue yang ******* ini"gumam Ara lalu beranjak dari tempat nya tadi.
Ara berjalan dengan sedikit berlari, rambut yang tergerai indah berterbangan mengikuti sepoy-an angin.
"Umi! Assalamualikum."
"Waalaikumsalam, ada apa Ara? Kenapa lari-lari. Kamu baru saja sembuh."ujar umi.
"Hehe, Ara mau to the point aja. Ara izin pulang ya mi? Sepertinya Ara ingat jalan pulang.. oh ya, kalau boleh malem ini Ara pulang nya okey umi?"ucap Ara dengan pipi yang menggembung membuat siapa pun yang melihat terpesona terutama umi.
"Masyaallah Ara, kamu cantik banget. Umi gemes jadi nya! Tapi ini sudah malam Ara? Apa tidak besok saja nak?"
"Ara pengen sekarang umi, pokonya Ara janji kalau urusan Ara udah kelar Ara akan pulang kesini"nego Ara si gadis cerdik membuat sang umi menghela nafas lalu memeluk hangat gadis tersebut.
"Umi ga rela kamu pulang nak, kamu terlalu baik dan umi menyayangi mu.. tapi kalau Ara pingin nya seperti itu umi izin kan"
"Diantar bara ya?"ujar umi melepaskan pelukan nya.
__ADS_1
Ara yang kaget dengan terburu-buru menggeleng.
"No! Ara bisa pulang sendiri umi"tegas Ara dengan mata yang hampir meredup karna tatapan tajam nya itu.
Ia kembali menormalkan tatapan nya, dan memegang tangan sang umi dengan tulus.
"Ara sayang umi, Ara udh janji kan kalau nanti urusan nya selesai Ara akan balik kesini"ujar Ara lalu memeluk sekali lagi sang umi sebelum ia beranjak pergi meninggalkan istana suci itu.
"Ha..hati sayang"tak menyangka wanita paruh baya itu menangis sesaat Ara yang berlari kearah gerbang.
Ara memakai hodee hitam dan celana Levis ketat berwarna navy. Selama di pesantren ia memang diperbolehkan untuk memakai baju-baju seperti itu karna ia belum terbiasa memakai baju-baju yang panjang seperti gamis. Jadilah saat ia keluar para penjaga pesantren memperbolehkan nya. Karna Ara juga sudah dianggap oleh sang umi sebagai anaknya (putrinya).
*****
Selama perjalanan pulang, Aku menelfon salah satu orang kepercayaan ku untuk menjemput. Dan sekarang posisi ku sudah di dalam mobil ditemani 5 pengawal dan satu orang kepercayaan ku, Namanya Hery.
"Laporan pertama tentang kasus penyeludupan keuangan perusahan sekitar 0,9% saham perusahan telah diambil oleh direktur."
"Laporan pembangunan sekolahan internasional dijakarta selatan sudah terpantau, 93% sudah aman hanya saja untuk pembersihan dan persiapan pembukaan blm nona."
"Dan berkas-berkas lain, nona hanya perlu membaca dan menandatangi nya." Herry menjelaskan dengan detail dan sesekali menunjukan apa yang harus ara lakukan dengan berbagai berkas didepan nya itu.
Ara mengambil kacamata nya dan menempelkan nya ke hidung mungilnya itu.
"Saham harus dikembalikan pada jangka dekat, jika tidak dikembalikan penggal kepala direktur itu didepan keluarga nya. Dan 0'9% laba dari perusahaan yang telah ia curi berikan ke RS Farma di Bekasi. Aku tidak mau ada bantahan!"
__ADS_1
"Dan masalah sekolahan yang ku dirikan, kau atur jadwal pertemuan dengan perusahan-perusahan yang ingin bergabung untuk mengembangkan sekolah itu."jelas Ara dengan sangat-sangat detail membuat semua mata didalam mobil itu takjub!
Kecerdasaan sosok Ara tak perlu diragukan lagi, ia lulusan sarjana termuda di Amsterdam. Membuat ia sangat-sangat mudah untuk mengatur hal-hal seperti ini.
"Dan satu lagi, produk perusahan yang kita rilish bulan depan jangan sampai bocor. Jika hal itu terjadi jangan salahkan saya jika kepala mu terpisah dengan tubuh indah mu itu." ketus ara lalu menutup berkas terhakir.
Ia kembali fokus dengan sepi jalanan yang ia lewati.
Bruk.
"Bastard!!Kenapa kau berhenti?"
"Maa..maaf nona, kita dihadang"adu sang supir membuat Ara geram.
"Kau pindah kebelakang, dan kalian atur pistol lalu buka kaca persembunyian mobil ini. Tembaki burung mereka! Jika meleset burung kalian yang saya tembak dengan pistol kesayangan saya."
"Baik nona"
Mereka pun bersiap dengan pistol masing-masing, sedangkan Ara berganti posisi dengan supir nya. Ara berganti memakai kacamata hitam kesayangan nya lalu dengan cepat ia menginjak pedal rem dimobil itu. Mobil berputar-putar dengan indah di iringi bunyi pistol yang sangat-sangat nyaring ditelinga.
"DONE"semua berteriak senang karna musuh mati tanpa disentuh.
Ara membanting stir lalu pergi meninggalkan mayat-mayat tak berdosa disana. Ia mengemudi layaknya pembalap handal.
"Good, kalian yang terbaik"ujar Ara lalu melirik kebelakang dan Yap supir nya ketakutan luar biasa dengan bibir pucat pasi.
__ADS_1
"Lain kali, kau harus berlatih lagi dengan Hary atau aku pak jon" ucap Ara lalu menambah kecepatan mobil hingga ia sampai ditempat tujuan yaitu bar.