
Rumah Anggi dan Joko.
Pagi ini, Anggi dan Joko baru saja mandi bersama. Mereka keluar dari kamar mandi dan saling menatap lalu senyum nampak merekah dari wajah keduanya.
"Sini mas handuknya, biar aku jemur sekalian," kata Anggi. Saat Anggi kembali ke kamar, suaminya sudah tidak ada dikamarnya. Ternyata dia ada di kamar iparnya. Siska memanggil suaminya karena kran di kamar mandinya mati. Saat Anggi masuk ke kamar Siska dia terkejut sampai mengelus dada melihat Siska hanya memakai handuk saja.
"Mas, panggil tukang saja. Siksa bisa mandi dikamar kita," kata Anggi karena merasa tidak nyaman saat Joko harus melihat Siska hanya memakai handuk saja.
Joko nampak mengangguk. "Ya sudah, kamu mandi dikamar Mas saja." kata Joko. Anggi lalu mengajak Joko keruang tamu.
"Mas, memangnya sampai kapan Siska akan tinggal dirumah kita?" tanya Anggi pada Joko.
"Sampai dia mendapat kontrakan baru,"
"Ohh...." akhirnya Anggi bernafas lega. Setidaknya mungkin satu Minggu atau dua Minggu.
Tidak lama kemudian, Siska keluar dari kamar mandi dan sudah memakai seragam untuk bekerja. Anggi dan Joko sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan bersama.
"Mas Joko bisa antarkan aku sekalian ngga. Karena jika naik angkot aku sudah terlambat," kata Siska setelah mereka selesai sarapan.
Joko mengangguk dan menoleh pada Anggi sebelum menyetujui nya, karena dia sudah janji akan mengantarkan Anggi ke butik. Ketika Anggi mengangguk akhirnya Joko mengangguk juga pada Siska. Tapi raut wajah Siska nampak jengkel dan tidak suka. Karena apa-apa harus bertanya pada istrinya dulu. Padahal kan mereka itu kakak dan adik, batinnya.
Joko akhirnya mengantarkan Siska ke hotel tempatnya bekerja. Saat sudah turun dari mobil kakaknya, Siska tersungut dan segera menelpon ibunya. Dia memberitahu jika sekarang ibunya tidak perlu khawatir, karena dia tinggal bersama Joko, kakak tirinya.
"Bu, Mas Joko itu apa-apa bertanya dulu pada istrinya. Aku jadi kesal!" kata Siska mengadu pada ibunya melalui telepon.
__ADS_1
"Bagaimana dia sekarang?" tanya ibunya penasaran.
"Banyak perubahan Bu. Sekarang sudah punya mobil dan rumah. Tapi sepertinya dia takut sama istrinya itu,"
Merekapun bicara agak lama. Nampak ada kecemburuan dari dalam hati Siska melihat Joko menyayangi istrinya. Ibu tiri Joko lalu menyuruh Siska memata-matai mereka dan terus mengawasi dirumahnya.
"Ya sudah Bu, aku akan kerja dulu," Kata Siska sebelum menutup teleponnya.
.
Sore hari seperti biasa, Anggi akan menunggu Joko pulang bekerja. Baru saja Anggi memikirkan tentang suaminya, tiba-tiba mobil Joko sudah masuk ke halaman.
Itu mas Joko sudah pulang, Anggi berjalan akan menyambut suaminya. Namun tiba-tiba dia terkejut ketika Siska juga turun dari mobil suaminya. Bukan dia cemburu, hanya saja merasa aneh karena dimana-mana selalu saja ada Siska.
Siska diam saja dan berlalu dari Anggi. Anggi tersenyum menyambut Joko. Joko berbisik ditelinga istrinya.
"Dia sedang ada masalah di kerjaan," kata Joko agar Anggi tidak tersinggung ketika Siska tadi berlalu begitu saja.
"Ohh...." Anggi mengangguk.
.
Keesokan paginya.
"Siska, kamu tidak berangkat kerja?" tanya Anggi ketika melihat Siska malah asyik menonton televisi pagi-pagi sekali.
__ADS_1
"Aku sudah tidak bekerja disana lagi. Aku resain. Di sana tidak nyaman dan pekerjaan nya terlalu berat,"
Anggi terdiam sambil mengelap perabot di ruang tamu.
"Mbak, sudah bikin sarapan ya? Tolong dong ambilkan untukku. Aku benar-benar tidak bersemangat saat ini, bahkan untuk makan," kata Siska dengan logat sedikit manja.
"Apa?!" Anggi menatapnya dengan terkejut. Meskipun begitu, dia merasa iba juga. Mungkin benar, adik iparnya ini sedang frustasi karena pekerjaannya.
Ketika Anggi sudah selesai menaruh lauk dan nasi di atas piring, Joko mendekati nya dan akan sarapan juga.
"Untuk siapa?"
"Siska. Dia ingin agar aku mengambil kan sarapan untuknya," kata Anggi lalu berjalan mendekati Siska.
"Makasih...!" Siska langsung memakannya dengan lahap.
Ketika Anggi sudah berbalik ke meja makan untuk sarapan dengan suaminya Joko menegur nya.
"Lain kali biarkan Siska mengambil sendiri. Kamu tidak perlu meladeninya seperti tadi,"
"Iya Mas...."
Siska selesai makan dengan cepat. Dia akan keruang tengah untuk mengambil minum. Namun dia kaget saat melihat Joko sedang menyuapi Anggi. Entah kenapa dia tidak senang melihat kakaknya perhatian pada istrinya.
Diam-diam dia mengamati sang kakak dari tempatnya duduk. Mencuri pandang dan tanpa sadar hatinya berdesir. Dia mulai merasa jika kakaknya itu adalah tipe pria idaman nya.
__ADS_1