Bahagia Di Pernikahan Kedua

Bahagia Di Pernikahan Kedua
Bab 24 Cinta terlarang


__ADS_3

Rumah Anggi dan Joko.


Semakin hari Anggi semakin merasa jika Siska mulai masuk pada wilayah terlarang. Seperti malam ini, ketika Joko sedang lembur malam hari dan Anggi tidur dikamarnya. Siska terus duduk menemani Joko dan tidak mau beranjak dari sana dengan alasan tidak bisa tidur.


Hingga Joko menyelesaikan pekerjaannya, Siska masih terjaga. Joko menoleh padanya dan kaget karena Siska masih ada disana.


"Kamu tidak tidur?" tanya Joko sambil menutup laptopnya.


"Aku tidak bisa tidur Mas," kata Siska dan beranjak dari tempatnya duduk.


"Kenapa?"


"Mas, mau ngga temenin Siska. Setelah Siska tidur, mas boleh pergi," pinta adik tirinya.


Joko nampak berfikir sejenak, beberapa detik kemudian, dia mengangguk pelan lalu salah satu tangannya memencet saklar dan mematikan lampu.


"Sini Mas...." Siska lalu mulai memejamkan matanya, sementara Joko duduk di sofa.


Saat ini jam Satu malam. Anggi terbangun dan meraba tempat tidurnya. Disebelahnya terasa kosong tidak ada siapapun.

__ADS_1


"Kemana Mas Joko?" kata Anggi lirih sambil duduk. Dia menyalakan lampu kamarnya. Melihat jam di dinding, jarum pendek menunjuk tepat jam satu dini hari.


Anggi menarik nafas berat lalu menghembuskan perlahan. Dalam hati dia tidak setuju jika suaminya bekerja hingga larut seperti ini. Kesehatannya bisa terganggu jika hal ini menjadi kebiasaan.


Anggi keluar darah kamarnya ke ruang kerja suaminya. Saat membuka pintu, ruangan itu sudah gelap. Artinya suaminya sudah tidak ada didalam untuk bekerja.


"Issshhh, kemana sih Mas Joko?" Anggi lalu menutup pintu kantor kembali.


Dia kedapur namun disana juga gelap. Artinya suaminya juga tidak ada disana. Hanya satu kamar yang belum dia periksa. Yaitu kamar Siska. Tapi malam-malam begini, apa iya Mas Joko ada dikamar Siska? Anggi nampak tahu sejenak sebelum akhirnya diapun melangkah ke kamar iparnya itu.


Kakinya sempat tertahan dan terhenti saat ada didepan pintu. Namun akhirnya diapun membuka kamar itu perlahan dan nampak Siska sudah tidur. Anggi lalu mengedarkan matanya ke samping, dan betapa dia terkejut saat melihat suaminya tertidur di sofa didalam kamar iparnya.


Hatinya terbakar cemburu, namun kakinya melangkah untuk membangun kan suaminya.


"Mas...mas...bangun..." Siska menepuk lembut bahu suaminya.


"Jangan tidur disini. Ayo pindah ke kamarmu sendiri..." Anggi mengingatkan saat mata suaminya terbuka sedikit.


Nampak dia memang begitu mengantuk hingga ketiduran tanpa sengaja di kamar Siska. "Aku tidur dimana?" Tanya Suaminya setelah sadar jika Anggi berdiri membangunkannya.

__ADS_1


"Kamu tidur dikamar Siska Mas..." jawab Anggi dengan suara berat.


"Ohh...." Joko berjalan sempoyongan meninggalkan kamar itu. Dia bersama Anggi lalu kembali ke kamar mereka. Begitu sampai di kamar, Joko langsung merebahkan dirinya dan terlelap kembali. Tidak terpikir oleh Joko jika karena hal ini Anggi menjadi kesal dan jengkel. Bahkan matanya sulit terpejam lagi. Berulang kali dia menoleh menatap wajah suaminya, namun hati kecil nya mengatakan jika suaminya tidak mungkin melakukan tindakan amoral yang dia takutkan.


Pagi harinya,


Anggi sengaja tidak membuat sarapan. Entah kenapa gara-gara semalam suaminya ketiduran dikamar Siska dia merasa ada hal yang harus dia luruskan. Ada yang salah didalam rumahnya hingga dia semakin lama merasa terusik dan mengganggu ketenangan hatinya.


"Ngga masak sarapan mbak?" tanya Siska yang sudah sebulan menjadi pengangguran dan seperti nya dia malah menikmatinya.


"Aku bangun kesiangan. Ada mie instan jika kau mau sarapan," kata Anggi yang mulai mengubah sikapnya pada iparnya itu.


"Bisa minta tolong ngga mbak. Bikinin dong,"


"Maaf. Aku sangat sibuk hari ini. Kau bikin sendiri saja ya," Anggi juga membuat alasan dan mulai menjaga jarak dengan Siska. Sepertinya kebaikan yang dia berikan mulai di salah gunakan oleh iparnya itu. Bahkan dia nampak memanfaatkan dirinya.


"Mas Joko...." panggil Siska ketika melihat Joko keluar untuk sarapan.


"Mas, hari ini mbak Siska kesiangan, dan belum bikin sarapan. Mas bagaimana kalau kita sarapan bubur ayam saja, beli diluar sekalian Mas Joko berangkat kerja. Mbak Siska sepertinya sibuk. Jadi ngga bisa ikut..." Mendengar apa yang di ucapkan adik iparnya itu, hati Siska benar-benar meradang. Apalagi tanpa bertanya padanya, dia mulai mengendalikan suaminya.

__ADS_1


"Ya sudah...." Joko yang mengira jika apa yang di ucapkan Siska benar adanya, malah setuju saja. Dalam hati Joko tidak mau terlalu membebani Anggi dengan urusan rumah tangga. Jika memang dia sedang tidak mau memasak maka Joko akan makan di luar. Dan itu tidak masalah buatnya.


__ADS_2