Bahagia Di Pernikahan Kedua

Bahagia Di Pernikahan Kedua
Bab 25 Penyesalan suami


__ADS_3

Di Pantai.


Anggi mengajak Joko pergi ke pantai untuk berjemur. Dan dia tidak mengajak Siska karena sengaja pergi mendadak agar dia tidak ikut. Dia selalu saja punya alasan untuk nimbrung kemana saja Joko dan Anggi pergi.


Anggi melepas sandalnya dan menggandeng tangan suaminya seraya menikmati butiran pasir putih yang lembut.


"Ayo mas, tani aku jalan kesana...." pinta Anggi.


Joko mengangguk dan mereka berjalan di pinggir pantai sambil berbicara dari hati ke hati.


"Mas, kau Karin malam ketiduran dikamar Siska,"


"Hem...iya. Aku mengantuk sekali..."


"Mas, kenapa dia menyia-nyiakan waktunya dan tidak bekerja. Maksudku aku tidak mengusirnya tapi dia masih muda. Sayang sekali jika potensinya menjadi terpendam karena mengandalkan mu,"


Joko menoleh tajam menatap wajah Anggi.


"Karir yang dibangun sejak sekarang, akan berkembang ketika dia semakin dewasa,"


"Kau terganggu dengan dirinya?" tiba-tiba saja Joko bertanya hal itu.


"Sebenarnya iya. Tapi bagaimana lagi. Dia adalah adikmu,"


"Tidak Anggi. Kau adalah istriku. Kebahagiaan mu adalah tanggung jawabku. Jika kau tidak nyaman dengannya, maka aku akan bersalah padamu,"


"Bagaimana kalau kita Carikan pekerjaan dan kontrakan yang aman dan nyaman untuknya,"

__ADS_1


"Nah, itu yang ingin aku dengar darimu. Kau harus terbuka dan jujur padaku. Baiklah. Kita akan mencarikan kontrakan untuk Siska,"


"Tapi kau tidak tersinggung kan Mas?"


"Tidak. Aku mengerti ..."


"Terimakasih Mas. Tadinya aku pikir kau akan tersinggung jika aku jujur padamu.


"Ngga papa. Hal-hal kecil harus dibicarakan bersama,"


Anggi lalu bersandar pada bahu suaminya dan memeluknya. Matanya menatap laut lepas tak berujung. Dan dalam hati dia bahagia karena suaminya mementingkan kebahagiaan dan kenyamanannya.


.


Rumah Anggi dan Joko.


Anggi hanya menghela nafas dalam dan berpesan padanya untuk menjaga diri.


"Jaga dirimu baik-baik," kata Anggi melepaskan kepergian Siska karena dia akan pindah ke kontrakannya.


"Hem...." jawaban yang singkat dan tanpa menoleh pada sang kakak ipar.


.


"Huekkk!"


"Hueekk!"

__ADS_1


Joko segera berlari saat mendengar Anggi muntah-muntah di kamar mandi pagi itu.


Dengan pelan dan lembut dia menepuk punggung Anggi. Lalu memapah Anggi ke kasur saat dia sudah merasa lebih baik.


"Kau tidak papa?"


"Kepalaku pusing. Beberapa hari ini setiap pagi aku merasa mual," kata Anggi dan nampak wajah Joko cemas karena nya.


"Aku tidak akan ke kantor hari ini. Kita harus ke dokter," kata Joko dengan wajah cemas. Anggi pun mengangguk setuju.


Mereka lalu pergi ke dokter dan saat ini Anggi sedang di periksa. Joko menunggu dengan hati yang cemas dan dada yang berdebar.


"Bagaimana dokter?" maklum, Joko belum berpengalaman karena ini adalah pernikahan pertamanya.


"Selamat! Istri anda hamil." Dokter tersenyum dan seketika jantung Joko serasa berhenti berdetak karena kabar kehamilan Anggi.


"Ohh... terimakasih Tuhan...."


Joko lalu masuk dan memeluk Anggi. Dia benar-benar terharu sekali saat tahu jika istrinya mengandung.


"Apa mas? Aku hamil?"


"Iya sayang, kamu hamil..." Anggi menangis terharu mendengar kabar yang tidak pernah dia duga. Dalam hatinya selalu menepis dugaan dia akan hamil kembali. Kehilangan anak pertamanya yang masih bayi masih menyisakan trauma didalam benaknya.


Tapi akhirnya dia bisa hamil. Sementara Guntur yang menikah lagi dengan Anita demi mendapatkan keturunan malah tidak bisa mendapatkan anak dari Anita karena rahim Anita yang di angkat.


Begitu mereka berdua mendengar jika Anggi hamil, maka Guntur menjadi gelisah dan trenyuh. Andai dia bersabar sedikit lagi, maka dia masih bersama Anggi. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kini dia hanya bisa menyesal didalam hati, karena telah berpisah dari Anggi.

__ADS_1


__ADS_2