
Didalam kamar berukuran standar tidak terlalu besar, Bu Gina terbaring lemah dan Anggi nampak duduk disampingnya.
Tidak lama kemudian Anita masuk kedalam dan terkejut saat melihat Anggi keluar dari kamar ibu mertuanya. Anita yang masuk lewat pintu belakang tidak melihat jika d teras ada juga Bu Ratih sedang menunggu Anggi.
"Ngapain kamu datang kemari!" tegur Anita seraya menaruh barang belanjaan yang baru saja dia beli begitu melihat Anggi. Jelas sekali dia tidak suka pada kehadirannya.
"Aku hanya ingin menengok ibu saja," jawab Anggi.
"Awas ya! Jangan coba-coba ganggu kami!" ancam Anita nampak tidak suka melihat Anggi datang apalagi saat melihat perutnya yang terlihat semakin membesar.
"Aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu keadaan Bu Gina saja," Anggi tahu jika Anita tidak suka pada dirinya.
"Banyak alasan kamu!" Anita reflek mendorong Anggi.
Entah sengaja atau tidak tiba-tiba Anita mendorong Anggi hingga dia terjatuh di dekat pintu kamar Bu Gina.
"Aaaaa..." Anggi berteriak kesakitan begitu dia terjatuh dengan posisi duduk di lantai agak keras. Ternyata di dekat kaki Anggi ada air minum yang tumpah dan belum di lap. Anita langsung terlihat panik. Apalagi saat melihat Anggi tidak mampu bangun.
__ADS_1
"Ibu.......!" Anggi menangis saat merasakan perutnya menjadi sangat sakit. Bahkan dia tidak bisa berdiri saat ini. Hingga Anggi memanggil ibunya yang menunggu di teras rumah Bu Gina.
Dengan tergopoh-gopoh Bu Ratih masuk kedalam. Dan dia sangat terkejut saat melihat Anggi di lantai dan kakinya sudah basah oleh air ketuban yang pecah.
"Ambulan! Cepat panggil ambulan!" Teriak Bu Ratih sangat panik. Anita yang juga ikutan panik langsung menelpon ambulan.
Tidak lama kemudian, ambulan datang dan Anggi di bawa kerumah sakit.
Anita juga ikut kesana bersama Bu Ratih.
"Bukan salah saya! Dia jatuh sendiri!" kata Anita ketakutan. Dia benar-benar tidak menyangka akibatnya akan berbahaya untuk Anggi yang sedang mengandung.
Joko segera kerumah sakit tidak lama setelah di telepon oleh Bu Ratih. Guntur yang di telepon oleh ibunya karena dia melihat Anggi mengerang kesakitan di suruh melihat keadaannya.
Bu Gina mendengar keributan antara Anggi dan Anita. Namun untuk bangun dia sendiri terlalu lemah. Sehingga saat mendengar ambulan datang, dia menjadi panik. Apalagi saat mendengar suara Anggi yang menangis histeris. Karena itu lah Bu Gina segera menelpon Guntur untuk melihat keadaannya.
"Anita, kamu disini?" tegur Guntur kaget karena ternyata Anita juga ada disana. Anita menatap wajah Guntur dan memeluknya.
__ADS_1
"Bukan salahku. Aku tidak sengaja melakukannya. Dia jatuh dan...." Anita menghambur memeluk Guntur suaminya dengan kaki masih gemetar. Dadanya juga nampak berdebar hebat. Guntur kaget saat Anita mengatakan hal itu.
Saat Anita mengatakan apa yang terjadi barusan pada suaminya, Joko juga baru saja sampai. Mendengar Anita membuat Anggi jatuh, tanganya mengepal dan matanya memerah penuh amarah.
Dia segera mendekati Anita dan berkata kasar padanya.
"Jika sampai terjadi apa-apa dengan anak dan istriku. Kau akan mendekam didalam penjara," ancam Joko. Guntur diam saja. Sementara Anita melepaskan pelukan suaminya dan memohon pada Joko agar tidak membawa masalah ini ke polisi.
"Aku mohon. Jangan melapor pada polisi. Ada air di dekat kakinya jadi dia terjatuh," kata Anita menjelaskan.
"Suaminya Bu Anggi...." panggil seorang dokter.
Joko yang masih geram dengan Anita segera mendekati dokter dan ingin segera tahu keadaan istrinya.
"Terpaksa Bu Anggi melahirkan secara Caesar. Dan bayinya prematur. Kamu harus segera mengambil tindakan karena keadaannya sangat mendesak,"
"Lakukan apa saja dokter. Yang penting anak dan istri saya selamat," kata Joko dengan sedih.
__ADS_1