
Rumah Guntur.
"Jangan salahkan aku Mas. Kamu setiap hari sudah menyakiti aku dengan sering menyebut namaku dengan nama mantan istrimu itu,"
"Aku benar-benar galau saat ini. Anggi hamil. Dan mereka akan punya anak. Sementara kita?"
"Apakah kau menikahiku hanya demi anak saja? Jika memang kenyataannya aku tidak bisa memberimu anak. Kita juga bisa mengambil dari panti asuhan,"
"Tinggalkan aku sendiri. Dan jangan ganggu aku..." kata Guntur berdiam diri di kantor di dalam rumahnya.
.
Rumah Anggi dan Joko.
Joko saat ini sedang mengelus perut Anggi yang semakin membesar. Semua keinginan Anggi akan di turuti oleh Joko saking bahagianya dia akan menjadi seorang ayah.
"Mana tanganmu Mas. Coba pegang ini," Usia kehamilan Anggi sudah semakin besar. Janin di dalam rahimnya juga bergerak sangat kuat hingga bisa di raba dari luar.
"Sayang.... sehat-sehat ya didalam..." bisik Joko sambil menaruh pipinya menempel di perut Anggi.
"Dia dengar Mas. Lihat, dia bergerak lagi," kata Anggi ketika janinnya bergerak semakin aktif.
Joko dan Anggi benar-benar menjaga agar kali ini Anggi dan bayi didalam kandunganya bisa lahir dengan selamat.
.
__ADS_1
Di Mall
"Mas Guntur?" tanpa sengaja Anggi yang sedang belanja ke mall di temani Bu Ratih bertemu dengan mantan suaminya.
"Anggi? Senang melihat kau hamil seperti ini,"
"Iya mas. Lalu bagaimana kabar Mbak Anita?"
"Dia mandul. Dia tidak bisa memberiku anak," rasanya Anggi menyesal bertanya hal itu pada mantan suaminya.
Bu Ratih mendekati Anggi dan tersenyum ramah pada Guntur. Meskipun dalam pikiran sempat sakit hati juga karena Guntur telah menyia-nyiakan Anggi kala itu. Namun sakit hatinya sudah meredam saat melihat wajah mantan menantunya itu yang nampak frustasi dan kurus banyak.
"Jurusan kamu Gun..." tegur Bu Ratih yang prihatin padanya.
"Iya Bu. Masalah yang bertubi-tubi membuat saya tidak makan dengan benar," sahut Guntur.
"Dia baik Bu,"
"Kabar ibu kamu bagaimana?" tanya Bu Ratih.
Nampak Guntur terdiam beberapa saat lamanya.
"Ibu terkena serangan stroke Bu,"
"Apa! Lalu dimana ibumu sekarang? Dirumah apa dirumah sakit?"
__ADS_1
"Di rumah. Baru pulang tadi pagi," jawab Guntur.
Setelah bertemu dengan mantan suaminya dan mengetahui jika ibunya stroke, maka Anggi meminta agar ibunya menemaninya menjenguk Bu Gina. Bagaimanapun, dia dulu adalah ibu mertuanya.
Anggi yang sedang hamil enam ditemani ibunya masuk ke rumah yang sudah lama tidak pernah dia datangi.
Tok tok tok.
Kediaman Bu Gina.
Perlahan Anggi membuka pintu dan nampak Bu Gina terbaring sendirian dan tidak ada siapapun disampingnya. Wajah yang tirus dan bibit yang pucat. Hanya ada satu gelas air mineral di atas nakas.
Anggi menghela nafas dalam sambil menaruh buah serta roti didekat Bu Gina.
"Anggi...." suara lirih Bu Gina manggil nama gadis yang pernah menjadi menantunya itu.
"Bu... bagaimana kabar ibu?" Anggi duduk setelah mencium tangan Bu Gina.
"Ibu sakit. Dan Anita bukannya merawat ibu, dia malah keluyuran entah kemana," kata Bu Gina dan nampak matanya berkaca-kaca.
Apalagi saat melihat ke bawah dan perut Anggi yang sudah semakin besar saja. Anggi juga terlihat gemuk dan segar.
"Kamu sedang hamil ya?" tanya Bu Gina tiba-tiba.
"Iya Bu, sudah enak bulan, jalan tujuh bulan," jawab Anggi.
__ADS_1
Bu Gina lalu meraih tangan Anggi dan menggenggamnya.
"Maafkan ibu ya nak. Dulu ibu sudah jahat padamu...." kata Bu Gina seraya menitikkan airmata.