Balas Dendam Berdarah

Balas Dendam Berdarah
Chapter 21


__ADS_3

Lia menatap kamarnya yang berantakan. Gadis itu menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ia menatap lurus ke depannya saat ini dengan pandangan datar.


“Aku tahu kamu yang lakuin ini, Chaeryoung.”


Sesosok gadis muncul entah dari mana. Tubuhnya transparan dan kakinya tidak menapak lantai kamar itu. Pandangan marah ia lemparkan ke arah Lia, yang menatapnya datar saat ini.


“Aku sudah bilang aku nggak bakalan bantuin mereka.”


Lia tersenyum meremehkan ke arah Chaeryoung. Ia tahu bahwa gadis itu adalah dari dalang kutukan kematian yang menyebar di antara Jaemin dan teman-teman sekelasnya saat ini. Gadis yang menyerahkan nyawanya pada iblis hanya agar bisa membalaskan semua rasa sakitnya pada seluruh mantan teman-teman sekelasnya itu.


“Lagi pula kamu sendiri juga tahu bahwa kamu tidak akan mungkin melawanku, meskipun aku berniat membantu mereka. Jadi, jangan buat aku marah lebih dari ini.”


Kedua mata gadis itu memandang meremehkan ke arah Chaeryoung yang tampak sangat marah saat ini. Perlahan, iris mata gadis itu berubah menjadi berwarna biru terang.


Chaeryoung yang melihat hal itu langsung menghilang dari hadapan gadis itu. Entah ke mana ia pergi. Ia menyadari bahwa ia sendiri memang tidak cukup kuat untuk melawan Lia.


Lia memejamkan kedua matanya perlahan, menahan emosinya yang masuk ke dalam rongga dadanya. Ia menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Kedua iris bolanya, kembali pada warnanya semula, coklat dengan garis-garis berwarna biru muda.


Ia memandangi sekelilingnya dengan seksama. Kamar yang tadinya sangat berantakan itu, perlahan bersih dan rapi seperti sebelum ditinggalkan oleh gadis itu. Setelahnya, gadis itu melangkahkan kedua kakinya ke arah tempat tidurnya dan berbaring di sana.


***


Jaemin memandang buku usang yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Ia sedikit bingung tentang perkataan Lia mengenai angka yang tercetak jelas pada ia dan teman-teman sekelasnya, seakan-akan urutan kematian mereka sudah ditetapkan sejak awal. Lantas apa kegunaan dari buku usang yang ada di hadapannya sekarang?


Ia perlahan membuka lembaran pertama buku itu. Seperti yang ia duga, nama-nama teman sekelasnya yang telah meregang nyawa, tercatat rapi di dalam buku itu.


Death Note


1.    Mark Lee


2.    Park Junghwan

__ADS_1


3.    Kim Seungmin


4.    Choi Yena


5.    Lee Eunsang


6.    Lee Sangmin


7.    Jung Subin


8.    Kim Sihun


9.    Hwang Eunbi


Jaemin memijit perlahan pangkal hidungnya. Ia cukup pening dengan permasalahan yang ada di dalam kelasnya saat ini. Apalagi kedua orang tuanya juga sudah menghubunginya untuk memindahkan laki-laki itu ke sekolah lain. Tentu saja ia langsung menolak permintaan kedua orang tuanya dan bersikeras untuk tetap bersekolah di sekolah itu.


‘Apa kalian tidak terbayang-bayang oleh seseorang setelah mengalami teror seperti ini?’


Chaeryoung, ia selalu teringat gadis itu selama ia dikucilkan oleh seluruh penghuni sekolah. Entah di mana gadis itu sekarang, ia tidak tahu. Setelah gadis itu dirundung hingga depresi, ibu gadis itu memutuskan untuk memindahkan gadis itu ke sekolah lain. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi mendengar kabar dari gadis itu.


Ia perlahan menggeleng. Ia merasa tidak mungkin gadis yang bahkan tidak sanggup membela dirinya sendiri saat dirundung itu sampai bisa berbuat hal mengerikan seperti ini. Ia mungkin telah melewatkan sesuatu atau melupakan seseorang yang menaruh dendam pribadi dengannya. Tapi siapa? Ia pun tidak tahu.


Terlalu banyak mungkin orang yang membencinya karena selama ini telah bersikap semena-mena pada semua orang yang ada di sekolah itu. Posisi kedua orang tuanya sebagai pemilik yayasan membuat tidak ada seorang pun yang bisa melawannya, bahkan guru dan kepala sekolah sekalipun.


Kedua mata laki-laki itu membola begitu melihat nama baru kembali tercatat di dalam buku itu. Ia benar-benar frustasi karena teman-teman sekelasnya meninggal satu per satu. Meskipun akhir-akhir ini mereka tidak bersikap baik padanya, tapi ia juga tidak mungkin senang atas kematian teman-teman sekelasnya itu. Apalagi ia juga terancam mengalami hal yang serupa dengan teman-teman sekelasnya itu.


Death Note


1.      Mark Lee


2.      Park Junghwan

__ADS_1


3.      Kim Seungmin


4.      Choi Yena


5.      Lee Eunsang


6.      Lee Sangmin


7.      Jung Subin


8.      Kim Sihun


9.      Hwang Eunbi


10.  Cho Seungyoun


***


Katakanlah laki-laki itu bodoh berani berkeliaran di dalam lingkungan sekolah di malam hari. Ia benar-benar frustasi karena terus menemui jalan buntu dan belum kunjung bisa menyelesaikan permasalahan terkait kutukan kematian yang menyebar di dalam kelasnya selama beberapa hari belakangan ini.


Bermodalkan tekad, ia melangkahkan kedua kakinya menelusuri lingkungan sekolah di malam hari. Bukannya ia tidak takut mati, ia hanya merasa harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi.


Sebenarnya ia juga tahu dengan keberadaan monster mengerikan yang ada di dalam sekolah ini. Ia ada di sana, di antara teman-teman sekelasnya, di hari mereka semua dikejutkan dengan kematian Lee Sangmin dengan tubuh terkoyak oleh monster di toilet yang ada di ujung koridor yang sejajar dengan ruang kelasnya.


Ia juga takut, tapi ia ingin mencari tahu cara agar bisa keluar dari lingkaran kutukan kematian yang terus menyiksa hari-harinya dan teman-teman sekelasnya sampai saat ini. Katakanlah ia benar-benar bodoh karena nekat berbuat seperti ini.


Bulu kuduknya merinding begitu melihat penampakan monster mengerikan yang keluar dari gelapnya malam di ujung koridor kelasnya. Ia ketahuan, tidak mungkin makhluk mengerikan itu tidak mengetahui keberadaan dirinya yang masuk ke dalam lingkungan sekolah sedari tadi sambil membawa sebuah senter.


Ia benar-benar bodoh. Ia seolah-olah sedang mengantarkan nyawanya dengan sukarela pada monster yang berdiri sekitar sepuluh meter dari posisinya saat ini. Tapi ia benar-benar merasa putus asa, karena cepat atau lambat, ia pasti akan meregang nyawa sama seperti teman-teman sekelasnya yang lain, jika ia hanya berdiam diri dan menunggu.


Apakah ia menyesali keputusannya untuk datang ke sekolah saat ini? Sedikit, tapi ia juga ingin membuktikan kebenaran firasatnya selama ini. Ia mengeluarkan senter berukuran cukup besar yang ia beli karena viral di media sosial akhir-akhir ini. Senter yang memiliki cahaya cukup terang untuk menyinari semua hal yang ada di depannya seakan-akan sedang siang hari.

__ADS_1


Ia menduga keberadaan monster itu hanya di tempat-tempat yang tidak terjangkau oleh cahaya, seperti toilet tempat Sangmin meregang nyawa hari itu. Apalagi monster itu tidak pernah menampakkan dirinya secara terang-terangan di siang hari.


__ADS_2