Balas Dendam Berdarah

Balas Dendam Berdarah
Chapter 23


__ADS_3

Tubuh laki-laki itu terkapar tidak berdaya di atas lantai di dalam ruang guru. Orang-orang yang melihatnya tanpa niat untuk menolong laki-laki itu sedikit pun, tidak terkecuali dengan para guru yang sejak tadi sibuk melarikan diri hanya untuk menyelamatkan dirinya masing-masing.


Entah hilang ke mana nurani orang-orang yang berani mengaku diri sebagai manusia itu. Mereka tidak ingin berurusan dengan laki-laki dan memperlakukannya seperti kotoran itu hanya karena rumor kutukan yang beredar di dalam ruang kelasnya. Tidak hanya kepada laki-laki itu tapi juga pada teman-teman sekelasnya yang lain.


Kepala sekolah melihat laki-laki itu meregang nyawa di depan kedua matanya. Setelah situasi dirasa cukup kondusif, laki-laki berperut buncit itu segera menyuruh satpam baru untuk membereskan laki-laki itu, seakan-akan ia adalah kotoran yang mengotori ruang guru saat ini.


Jaemin tersenyum miris melihat kelakuan orang-orang di sekitarnya saat ini. Ia bahkan bertanya-tanya apakah mereka semua masih pantas mengaku diri sebagai manusia, di saat mereka bisa dengan tega mengabaikan nyawa orang lain.


Laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada Lia yang sedang berdiri di pintu kelas mereka sambil menatap ke arah ruang guru saat ini. Meskipun cukup jauh, ia bisa melihat dengan jelas sinar biru yang seperti terpancar dari kedua bola mata gadis itu. Entah ada orang lain yang menyadarinya atau tidak.


Ia berjalan ke arah ruang kelas begitu gadis itu berbalik dan masuk ke dalam kelas. Ia benar-benar berharap bisa membuat gadis itu membuka mulutnya terkait lingkaran kutukan yang terasa mengerikan setiap harinya ini.


***


“Lia!”


Gadis itu menatap Jaemin dengan sorot mata datar seperti biasanya. Ia tahu laki-laki itu akan kembali menanyakan hal yang sama padanya.


Sebenarnya ia punya sedikit niat sekarang untuk membantu mereka, berbeda dengan sebelumnya, di mana dia hanya ingin menjadi penonton saja. Ia sejujurnya masih cukup kesal dengan ulah Chaeryoung yang mengacak-acak kamarnya dua hari yang lalu.


“Setelah semua ini, kamu benar-benar masih mau menutup rapat-rapat mulutmu? Kamu tega banget, ya, lihat orang-orang di sekitarmu mati satu persatu.”


Jaemin menatap nanar gadis yang ia rasa benar-benar tidak punya nurani di hadapannya itu. Tidak sedikit yang meninggal setelah kepindahan gadis itu di sekolah mereka, tentu saja gadis itu tidak ada hubungannya dengan kematian yang terjadi terus menerus di kelas mereka. Tapi secara tidak langsung gadis itu ikut menjadi penyebab karena gadis itu tahu penyebab kutukan kematian yang terjadi di dalam kelas mereka dan kemungkinan besar tahu cara menghentikan kutukan itu. Meskipun demikian, gadis itu tetap saja menutup mulutnya rapat-rapat.

__ADS_1


Lia memutar kedua bola matanya malas. Ia berpikir kembali tentang menolong orang-orang yang ada di dalam kelas itu. Ia sejujurnya ingin membalas kelakuan Chaeryoung, tapi ia juga malas jika semua terasa seperti kewajiban yang harus ia lakukan. Ia benci dengan tali kekang dan aturan, ia hanya ingin bertindak sesuka hatinya.


Kesal, laki-laki itu benar-benar kesal dengan reaksi gadis yang duduk dengan kepala dan lengannya di letakkan di atas mejanya. Menurutnya, gadis yang ada di depannya itu benar-benar tidak punya hati karena tega melihat teman-teman sekelasnya meninggal satu per satu.


“Aku tidak punya kewajiban untuk menolong kalian. Sejak awal aku hanya ingin menjadi penonton.”


Ia sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari bibir gadis itu, tapi ia tetap tidak bisa berkata-kata setiap gadis itu mengutarakannya. Benar-benar seperti tidak memiliki hati setiap kali gadis itu mengutarakannya.


“Apa kamu benar-benar tidak ingat orang yang sudah kalian buat menderita sebelumnya di kelas ini? Bukan cuma kamu, tapi seluruh orang yang ada di kelas ini membuat hari-harinya menderita. Aku yakin ada satu nama yang sejak awal selalu terbayang-bayang di dalam kepalamu.”


Jaemin terdiam. Memang sedari awal ada satu nama yang selalu melintas di dalam pikirannya, tapi ia tidak yakin orang itu pelakunya. Gadis yang bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri itu tidak mungkin bisa membuat teror mengerikan di dalam kelasnya.


“Jangan terlalu terpaku dengan asumsimu sendiri. Kamu tidak akan pernah bisa benar-benar memastikan apa yang akan dilakukan oleh seseorang. Apalagi jika orang itu sudah mendendam dengan kalian.”


Tidak ada tanggapan yang keluar dari bibir Lia. Gadis itu memilih memejamkan kedua matanya begitu melihat keraguan di benak laki-laki itu sampai sekarang. Tidak hanya sekali ia memberikan kode siapa yang menjadi dalang di balik teror yang terus menerus berlangsung di dalam kelas mereka selama ini, tapi laki-laki itu terus meragu sampai sekarang.


“Tapi bagaimana bisa?”


“Kenapa kamu tidak cari tahu saja sendiri.”


Laki-laki itu menatap Lia yang tampak sedang tertidur. Ia tidak yakin gadis itu benar-benar sedang tertidur karena gadis itu baru saja menjawab pertanyaannya.


***

__ADS_1


Jaemin berdiri di depan gerbang sebuah rumah yang tampak sudah tidak berpenghuni. Entah sejak kapan rumah itu ditinggalkan.


Setelah pulang sekolah, laki-laki itu langsung menuju rumah orang yang ia curigai merupakan pelaku utama dari teror yang berlangsung di dalam kelas mereka hingga kini. Gadis cantik yang pernah dirundung oleh semua murid di dalam kelasnya. Bahkan mungkin anak-anak dari kelas lain ikut-ikutan merundungnya. Guru dan kepala sekolah tutup mata atas apa yang menimpa gadis itu di sekolah, mengingat anak pemilik yayasan terlibat dalam aksi perundungan itu.


Ia sebelumnya telah berkali-kali masuk dan mengetok-ngetok pintu rumah itu, tapi tidak ada orang yang membukakan pintu untuknya, bahkan suara yang berasal dari dalam rumah itu juga tidak pernah ia dengar. Rumah itu benar-benar seolah-olah tidak berpenghuni.


Laki-laki itu menatap sekitarnya. Mungkin pemilik rumah itu benar-benar sudah pergi, melihat rumput di pekarangan rumah itu tumbuh subur dan kian meninggi. Ia bahkan khawatir ada ular yang bersembunyi di antara rerumputan itu.


“Cari siapa?”


Jaemin membalikkan tubuhnya begitu mendengar seseorang berbicara kepadanya. Ia menatap ibu-ibu yang mungkin baru pulang berbelanja karena ada beberapa kantong belanjaan yang ia pengang saat ini.


“Orang yang tinggal di rumah ini ke mana, ya? Soalnya aku dari tadi ketok-ketok pintu rumahnya, nggak ada respon sama sekali.”


Ia bisa melihat raut ketakutan yang terpancar di wajah ibu-ibu itu. Entah apa yang sudah terjadi sebelumnya, sampai mereka memasang ekspresi seperti itu.


“Nak, mending tidak usah berurusan sama yang punya rumah itu, deh.”


“Kenapa?”


“Ibu tidak berani cerita, takut. Mending jauh-jauh dari rumah ini, deh.”


Setelah selesai mengatakan hal itu, ibu-ibu itu berlalu meninggalkan Jaemin. Mereka seakan-akan tidak ingin berbincang lebih banyak terkait pemilik rumah itu. Entah ada apa sebelumnya, tapi pernyataan itu membuat Jaemin sedikit yakin bahwa Chaeryoung kemungkinan besar merupakan dalang utama dari teror yang terus terjadi di dalam kelasnya selama hampir dua bulan ini.

__ADS_1


Laki-laki itu menatap sebentar ke arah rumah itu, sebelum ia pergi dari sana. Ia harus memberi tahu Jeno dan Chenle tentang hal ini, sehingga mereka bisa berpikir bersama-sama untuk menemukan jalan keluar dari masalah teror kematian yang benar-benar menyiksa mereka selama ini. Tiga kepala lebih baik dibandingkan hanya satu kepala yang berpikir.


__ADS_2