
Lia menatap datar Chaeryoung yang datang dengan penuh amarah ke rumahnya dan mengacak-acak tiap bagian yang ada di dalam rumahnya. Ia sudah menduga bahwa hal ini akan terjadi jika ia membuka mulutnya dan memberi sedikit informasi pada Jaemin dan teman-temannya, orang-orang yang sangat dibenci oleh gadis di depannya.
Dia menatap malas gadis yang tampak seolah-olah sangat berkuasa setelah menyerahkan jiwanya pada iblis itu. Gadis yang sebenarnya tahu bahwa ia hanyalah roh tanpa kekuatan apa pun jika tidak mengadakan kontrak dengan iblis. Bahkan setelah mengadakan kontrak dengan iblis pun sebenarnya ia juga belum mampu menghadapi orang yang tengah menatap malas ke arah dirinya yang tengah mengamuk saat ini.
"Sudah?" Tanya Lia meremehkan.
Chaeryoung menatap sinis ke arah Lia. Amarahnya belum kunjung padam. Jujur saja ia khawatir orang-orang itu bisa menemukan cara untuk selamat dari kutukan yang ia tanam bagi mereka. Ia tidak ingin satu pun dari antara mereka selamat. Dendamnya masih belum terbalaskan secara sempurna. Jika ada yang selamat dari mereka, tentu semua pengorbanan yang telah dilakukan oleh gadis itu hanya akan menjadi kesia-siaan semata.
"Kenapa kamu bilang sama mereka?"
"Aku cuma bilang kamu sudah mati. 'Kan emang benar kamu sudah mati," jawab Lia tidak peduli dengan amarah gadis itu.
Lia menatap gadis itu dari bawah ke atas, lalu tersenyum meremehkan. Gadis yang bahkan sudah menjual jiwanya ke iblis demi pembalasan dendam itu masih juga khawatir akan dikalahkan oleh manusia biasa.
"Kamu masih takut sama mereka? Kenapa?" Tanyanya meremehkan, "percuma saja kalau begitu menjual jiwamu sama makhluk terkutuk itu kalau kamu bahkan masih merasa takut sama mereka yang hanya manusia biasa."
Chaeryoung menatap Lia dengan penuh amarah. Ia benar-benar kesal dengan tingkah angkuh gadis itu.
"AARRGHHHHHHH!!"
__ADS_1
Teriakan Chaeryoung terdengar melengking bahkan suaranya sanggup untuk merobek gendang telinga orang yang mendengarnya. Tentu saja orang itu tidak termasuk Lia yang hanya menatap darar pada roh yang tidak kunjung tenang sampai seluruh dendamnya terbalaskan itu.
Suara teriakan Chaeryoung bahkan sampai memecahkan jendela ruang tamu Lia. Usai jendela ruang tamu gadis itu berubah menjadi kepingan-kepingan kecil, Chaeryoung berhenti berteriak.
Ia menatap Lia dengan penuh amarah. Kepingan-kepingan kaca jendela yang sebelumnya berserakan di lantai tiba-tiba melayang ke udara. Bagian ujung dari kepingan-kepingan kaca itu diarahkan ke Lia yang masih menatap Chaeryoung dengan datar.
Chaeryoung benar-benar kesal, meskipun ia sudah menjual jiwanya pada iblis sekalipun, ia belum juga mampu mengalahkan gadis yang ada di depannya saat ini. Gadis angkuh yang tidak pernah sekalipun memberikan ekspresi penuh ketakutan padanya.
Kepingan-kepingan kaca itu bergerak dengan sangat cepat ke arah Lia. Tapi bahkan sebelum mencapai gadis itu, kepingan-kepingan kaca itu meleleh, terjatuh ke atas lantai, lalu menghilang.
"Kamu itu sudah menjadi makhluk terkutuk, sama terkutuk nya dengan makhluk yang mengadakan kontrak denganmu. Makhluk terkutuk seperti kalian sampai kapan pun tidak akan bisa mengalahkanku dan Dia yang ku percayai dan ku andalkan sampai sekarang."
Akhirnya roh gadis itu lebih memilih menghilang dari tempat itu dibandingkan harus menghadapi orang yang tidak akan sanggup ia kalahkan itu. Memang benar ia telah menjadi lebih kuat, tapi tidak semua bisa kalahkan dengan kekuatan itu. Salah satu orang yang tidak mempan dengan kekuatan itu adalah Lia, orang yang benar-benar sangat diberkati oleh Sang Pemilik alam semesta.
Lia hanya menatap kepergian Chaeryoung dengan wajah malas. Ia benar-benar malas berhadapan dengan roh gentayangan seperti Chaeryoung. Hal yang lebih menyusahkan baginya adalah roh gadis itu tidak bisa langsung meninggalkan dunia karena ia masih memiliki dendam yang membara di dalam hatinya. Gadis itu bahkan nekat bersekutu dengan iblis demi membalaskan rasa dendamnya itu.
Satu-satunya pilihan adalah menghancurkan jiwa itu. Tapi bukankah itu sama saja dengan membunuh gadis itu untuk kedua kalinya? Ia sedikit kasihan sehingga ia membiarkannya saja. Apalagi gadis itu bukan tanpa sebab sampai seperti itu.
Mungkin terdengar jahat, tapi ia juga ingin setidaknya Jaemin dan kawan-kawannya itu kapok dengan apa yang telah mereka lakukan sebelumnya. Mungkin juga terasa berlebihan karena cukup banyak korban yang sudah berjatuhan dalam aksi balas dendam Chaeryoung. Tapi bukan berarti tidak ada jalan untuk menyelamatkan semuanya. Ada, tapi bayarannya juga cukup berat.
__ADS_1
Lia membereskan rumahnya seperti sebelum Chaeryoung datang. Ia tidak harus menyentuh satu pun benda di dalam rumah itu untuk merapikannya. Benda-benda itu akan kembali ke posisinya sendiri seperti semula, termasuk kepingan-kepingan kaca yang tadi sempat lenyap entah ke mana.
***
Jaemin, Jeno dan Chenle masih terdiam. Tidak ada yang berani berbicara sejak mereka mengetahui orang yang mereka cari telah meninggal. Alasan orang itu meninggal pun karena mereka.
Saat ini ketiganya berasa di dalam kelas dengan posisi duduk membentuk perkumpulan mereka sendiri terpisah dari kelompok anak-anak yang lain di dalam kelas. Tentu saja mereka belum berbaur menjadi satu kelompok untuk berdiskusi mengingat murid-murid lain di kelas itu tidak menyukai Jaemin saat ini.
Usai berbicara dengan Lia di depan rumah gadis itu (karena Lia tidak membiarkan mereka masuk ke dalam rumahnya), mereka pulang ke rumah mereka masing-masing dengan keadaan sedikit terguncang. Mereka tidak menyangkal bahwa apa yang selama ini mereka lakukan sedikit keterlaluan, tapi mereka masih terkejut bahwa gadis itu akan mengakhiri hidupnya begitu saja. Apakah mereka merasa bersalah atas kematian gadis? Mungkin.
"Sekarang gimana? Kalau Chaeryoung udah meninggal, apa hubungannya dia sama teror 'dearh note'?" Tanya Chenle.
Jaemin dan Jeno masih terdiam. Jaemin sangat yakin teror kematian itu ada kaitannya dengan Chaeryoung, tapi saat ia mengetahui bahwa gadis itu telah meninggal, ia merasa kembali menemui jalan buntu. Ia belum menemukan titik terang untuk menghubungkan Chaeryoung dengan teror yang mereka alami saat ini, apalagi menemukan jalan keluar atas teror tersebut. Semua terlihat seperti benang kusut di depan matanya.
"Kita harus cari kematian Chaeryoung karena apa." Kata Jeno.
"Lia udah bilang itu karena kita. Kita yang bikin gadis itu mati, yang harus kita cari tahu bagaimana cewek itu mati, sampai-sampai disangkut-pautin sama kita," Jaemin meralat perkataan Jeno.
"Ngomong-ngomong, Chaewon di mana? Minju sama Yuri juga nggak kelihatan," seru Chenle usai memperhatikan sekelilingnya.
__ADS_1
Tiga orang dari lima belas murid yang tersisa di kelas mereka belum kunjung muncul sejak tadi. Sejujurnya perasaannya sedikit tidak enak, ia yakin ketiganya tidak mungkin berani melanggar perintah yang muncul di papan tulis di depan kelas mereka. Tapi sampai belum masuk berbunyi, ketiganya tak kunjung terlihat.