Balas Dendam Berdarah

Balas Dendam Berdarah
Chapter 22


__ADS_3

Cho Seungyoun menyalakan senter berukuran jumbo miliknya dan mengarahkan cahayanya ke arah monster yang tadi menyeringai sambil menatap ke aranya. Seperti dugaannya, monster itu langsung hilang begitu ia mengarahkan cahaya yang sangat terang itu padanya.


Tapi laki-laki itu lupa, bahwa di setiap ada cahaya selalu ada bayangan. Di setiap mata memandang, selalu ada titik buta. Monster itu memang langsung menghilang dari arah depannya. Lantas bagaimana dengan bagian belakangnya yang masih gelap gulita?


Monster dengan penampilan yang sangat mengerikan itu muncul tepat di samping laki-laki itu. Di tempat di mana cahaya senter itu tidak di arahkan. Titik buta dari cahaya itu sendiri.


Laki-laki itu tentu menyadarinya ketika monster itu berada sangat dekat dengannya. Tapi naas, ia terlalu lamban, jika dibandingkan dengan monster itu.


Sebelum cahaya senter diarahkan padanya, monster itu telah terlebih dahulu mengoyak leher laki-laki itu. Setelahnya, ia menginjak senter itu sampai rusak, sehingga kegelapan kembali menyelimuti sekitarnya dengan sempurna.


Tubuh laki-laki itu ia koyak dengan penuh amarah karena telah berani melawannya dengan membawa sesuatu seperti itu. Ia mencabik-cabik tubuh Cho Seungyoun yang sudah tidak bernyawa, sebelum ia lahap. Satu korban lagi dari kelas itu jatuh malam ini.


***


Jaemin menatap beberapa bangku kosong di ruang kelasnya. Bukannya sepuluh bangku kosong terasa sangat banyak. Hampir setengah dari total murid yang ada di kelas itu tidak lagi mengisi bangkunya. Beberapa sudah meninggal dan ada tiga orang yang dinyatakan hilang sampai saat ini, termasuk Cho Seungyoun.


Laki-laki itu sedikit menduga bahwa kematian Cho Seungyoun mungkin ada kaitannya dengan monster yang ada di dalam sekolah mereka, sama seperti yang menimpa Lee Sangmin. Monster yang selalu bersembunyi di dalam kegelapan, menunggu waktu yang tepat untuk melenyapkan mereka satu persatu.


Suasana kelas yang sudah dilingkupi rasa takut dan cemas, semakin menjadi-jadi dengan kekosongan yang perlahan mulai mengisi ruang kelas itu. Apalagi sampai sekarang mereka belum menemukan petunjuk mengenai pelaku di balik teror yang terus berlangsung di dalam kelas mereka.

__ADS_1


Beberapa murid bahkan sudah mengalami depresi karena stres yang berlebihan di dalam kelas itu. Tapi mereka tidak ada pilihan lain selain datang ke sekolah itu tiap hari dengan rasa takut, karena mereka tahu akan ada hal yang lebih buruk yang akan mendatangi mereka jika mereka tidak hadir di dalam kelas itu.


***


“Kamu nggak usah ke sekolah lagi, ya.”


Seorang ibu memohon kepada anak bungsunya yang tengah mengikat tali sepatunya sebelum ia berangkat ke sekolah. Wanita paruh baya itu mengusap-usap perlahan wajah putra bungsunya yang tampak berantakan itu. Ia tidak ingin mental anaknya semakin memburuk karena terus berada di dalam sekolah itu.


Tanpa memedulikan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan sepenuh hati itu, ia melangkah meninggalkan halaman rumahnya menuju ke sekolah. Ia juga tidak memedulikan pandangan orang-orang sekitarnya yang menatapnya dengan aneh karena penampilannya yang makin memburuk dari hari ke hari, seakan-akan laki-laki itu tidak pernah terurus.


Benar-benar seperti tidak ada binar kehidupan di kedua matanya saat ini. Ia berjalan seperti boneka, tubuh tanpa jiwa.


Laki-laki itu terkadang terlihat ketakutan dan berteriak sendiri. Mentalnya benar-benar telah hancur setelah melihat temannya satu per satu meregang nyawa. Ia bahkan tidak tahu kapan gilirannya.


Tidak ingin langkahnya dihalang-halangi, laki-laki itu mendorong wanita itu dan terus berjalan menuju sekolahnya, meninggalkan ibunya menangis tersedu-sedu di pinggir jalan sambil meratapi kepergiannya. Ia hanya berpikir harus tetap datang ke sekolah itu apa pun yang terjadi.


***


Laki-laki itu terlambat sampai di sekolah. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk tetap masuk ke dalam lingkungan sekolah. Satpam yang saat ini sedang bertugas jaga di sekolah tidak mengizinkannya masuk ke dalam lingkungan sekolah selangkah pun.

__ADS_1


Ia ingin memanjat pagar agar bisa masuk ke dalam lingkungan sekolah, akan tetapi ia sendiri tahu bahwa itu sangat berisiko karena bagian atas pagar sekolah diberi pecahan beling dan kawat besi untuk mencegah anak-anak di sekolah membolos. Laki-laki itu berteriak frustasi sambil menarik rambutnya. Ia benar-benar ketakutan dan tidak tahu harus melakukan apa sekarang.


Dengan penuh amarah dan rasa putus asa, ia memohon pada satpam baru yang tengah bertugas menjaga gerbang saat ini. Tapi permintaannya tak juga dipenuhi.


Akhirnya laki-laki itu mengamuk dan memukul siapa pun yang lewat di sekitarnya. Ia memaki semua orang yang keberadaannya ditangkap oleh indra penglihatannya. Ia benar-benar frustasi dan putus asa atas hidupnya sendiri.


Satpam baru itu akhirnya membuka gerbang sekolah untuk membantu mengamankan laki-laki yang masih belum kunjung reda amukannya itu. Satpam dengan tubuh kurus itu bahkan mendapat pukulan dan tendangan dari laki-laki itu.


Mengetahui pintu gerbang telah di buka, laki-laki itu berlari memasuki lingkungan sekolah dengan rasa frustasi dan putus asa yang menggebu-gebu. Air mata bahkan mengalir menyusuri kedua pipinya.


Ia berjalan dengan cepat, setengah berlari, menuju ke ruang guru. Ia ingin meluapkan rasa frustasi dan putus asanya di sana. Ia merasa bahwa para guru dan kepala sekolah yang seharusnya jadi panutan di sekolahnya tidak membantu mereka sama sekali, padahal sudah hampir dua bulan sejak teror itu menjalar di dalam kelas mereka. Mereka justru menghindari semua murid-murid di dalam kelas itu, bahkan tidak ingin menginjakkan kakinya di dalam ruang kelas itu.


Bermodalkan pisau tajam yang ia masukkan sebelumnya di dalam tasnya sebelum ia berangkat ke sekolah, ia mengamuk dan mengancam semua orang yang ada di sana. Ia benar-benar frustasi dan putus asa atas hidupnya yang benar-benar sedang di ujung tanduk saat ini.


Lantas apakah mereka kasihan? Tidak. Beberapa orang di ruangan itu melarikan diri keluar dari ruang guru. Bahkan ada yang telah menelepon pihak kepolisian untuk mengamankan laki-laki yang tengah mengamuk itu.


Menyadari bahwa aksi protes yang ia lakukan tidak membuahkan hasil apa pun, dengan nekat laki-laki itu menggorok lehernya sendiri di hadapan semua orang yang ada di sana. Tentu saja aksinya itu dibalas jeritan oleh beberapa orang yang sedang melihatnya saat ini.


Setelah laki-laki itu menggorok lehernya dengan cukup dalam, ia terkapar tidak berdaya di atas lantai dengan darah yang terus menguncur deras dari lehernya. Kepanikan melanda ruang guru hari itu, bahkan para murid keluar dari ruang kelasnya masing-masing untuk menonton aksi nekat yang dilakukan oleh laki-laki itu. Laki-laki yang putus asa atas hidupnya sendiri dan berakhir dengan mengakhiri hidupnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2