
Jaemin, Jeno dan Chenle saat ini tengah berada di dalam kamar Jaemin. Tentu saja mereka tengah mendiskusikan mengenai Chaeryoung, yang saat ini mereka duga sebagai dalang utama dari teror kematian yang terus menerus berlangsung di dalam kelas mereka hingga sekarang.
Apalagi gadis itu benar-benar mencurigakan karena tetangganya bahkan menutup mulut rapat-rapat tentang gadis itu dan keluarganya. Jaemin menduga bahwa ada hal mengerikan yang terjadi di rumah itu sebelumnya, atau mungkin ada teror yang juga dirasakan oleh penduduk sekitar, sehingga mereka memilih menutup mulutnya rapat-rapat.
Mereka berencana akan mengunjungi rumah itu keesokan harinya. Setidaknya mereka harus mencari tahu penyebab dari teror yang terus menyiksa mereka belakangan ini.
***
Jaemin menatap sekelilingnya. Setelah kematian Hwang Hyunjin, siswa di kelasnya tinggal lima belas orang, termasuk dirinya. Jumlahnya berkurang hampir setengah dalam dua bulan terakhir karena teror kematian yang terus berputar di dalam kelas mereka sampai sekarang.
Tidak ada senyum atau tawa bahagia yang terpancar di antara para murid di dalam kelas itu. Hanya ada ketakutan, frustasi dan rasa putus asa yang mereka rasakan saat ini. Mereka benar-benar menemui jalan buntu atas permasalahan yang menimpa kelas mereka saat ini. Mereka bahkan tidak bisa melarikan diri karena telah diancam sebelumnya.
Ia berbalik menatap Lia yang lagi-lagi tertidur. Dia kadang bertanya-tanya tentang kebiasaan gadis itu yang suka sekali tidur di dalam kelas, meskipun hari masih pagi. Seakan-akan gadis itu tidak pernah punya tenaga penuh untuk memulai harinya.
“Kamu nggak usah mikir aneh-aneh tentang aku. Lebih baik kamu pikirin nasib kamu yang mungkin nggak lama lagi jadi korban selanjutnya kalau kamu nggak cepat-cepat nemuin sesuatu untuk matahin kutukan di kelas ini.”
Kedua mata Jaemin terbelalak usai mendengar penuturan gadis yang ada di depannya itu. Gadis itu bahkan tidak membuka kedua matanya, tapi bisa mengetahui apa yang sedang laki-laki itu pikirkan.
Mendengkus kesal, laki-laki itu berlalu dari hadapan Lia dan berjalan menuju Jeno dan Chenle. Ia ingin berdiskusi dengan dua laki-laki itu. Egois sebenarnya jika ia hanya melibatkan dua temannya itu, sedangkan bukan hanya nyawa mereka yang sedang dipertaruhkan saat ini, melainkan nyawa seluruh siswa di kelasnya. Tentu saja kecuali Lia. Tidak mungkin gadis itu akan bersantai, berleha-leha seperti saat ini, jika nyawanya juga ikut dipertaruhkan.
***
“Lia!”
__ADS_1
Jaemin menatap ke arah teman-teman sekelasnya yang masih tersisa, selain Jeno dan Chenle, yang saat ini tengah mengelilingi Lia, yang masih saja tertidur. Tatapan marah dan putus asa jelas terpancar dari teman-teman sekelas mereka saat ini.
Sedikit rasa khawatir menyusup ke dalam benaknya, ia takut kejadian yang sama akan kembali berulang. Kejadian yang menimpa Chaeryoung, sebelum gadis itu meninggalkan sekolah ini.
Tidak kunjung bangun, salah satu dari mereka berinisiatif mengguncang-guncang tubuh gadis itu. Mereka mungkin lelah, kesal dan putus asa dengan teror yang terus melanda kelas mereka saat ini. Apalagi mereka tahu bahwa di kelas mereka ada seseorang yang berkemampuan khusus yang bahkan tahu dalang dari kutukan di dalam kelas mereka tanpa diberi tahu kejadian yang terjadi sebelumnya di kelas itu.
Kesal karena gadis itu tidak kunjung bangun, beberapa dari mereka pergi keluar kelas dan kembali dengan satu ember yang penuh dengan air. Melihat hal itu, Jaemin segera berlari menuju kerumunan di sekitar Lia.
BYURRRRR.....
Terlambat, Jaemin terlambat. Sekujur tubuh gadis itu kini basah kuyup karena ulah teman-teman sekelasnya. Bukannya ia tidak mengerti perasaan teman-teman sekelasnya saat ini. Ia hanya tidak ingin ada hal yang lebih parah terjadi karena mengusik gadis itu. Masalah kutukan di kelas mereka bahkan belum selesai, tapi mereka sudah mulai merundung satu orang lagi di kelas mereka saat ini.
Kedua mata gadis itu yang tadinya terpejam, kini telah terbuka. Jaemin bisa melihat kilatan amarah yang terpancar dari kedua mata dengan iris berwarna biru terang itu.
“AHHGGGG.....!”
Suasana kelas menjadi tegang ketika salah satu dari mereka mulai menjerit-jerit. Tidak lama, jeritan tersebut bertambah banyak, seakan-akan sedang bersahut-sahutan.
Lia memperbaiki posisi duduknya, menatap ke arah teman-teman sekelasnya yang barus saja mengusiknya. Kakinya disilangkan, tatapannya benar-benar sinis. Ia benar-benar kesal dengan ulah teman-teman sekelasnya.
Rasa takut dari teman-teman sekelasnya makin menjadi-jadi saat melihat seragam gadis itu yang tadinya basah, tiba-tiba menjadi kering dengan sendirinya. Tidak hanya seragam, seluruh tubuh gadis itu benar-benar kering seperti tidak pernah terkena siraman air sebelumnya.
Gadis itu berdiri di atas genangan air yang tersisa di atas ubin kelas, setelah teman-teman sekelasnya menyiram air padanya. Ia berjalan perlahan sambil menatap ke sekelilingnya.
__ADS_1
“Tadinya aku berpikir buat bantu kalian, tapi melihat tingkah kalian ini, aku jadi tidak ingin membantu kalian sama sekali. Kalian memang pantas dikutuk.”
“Kamu benar-benar tega. Kamu padahal bisa membantu kami, tapi kamu hanya diam saja membiarkan teman-teman sekelas kami mati satu per satu.”
Lia mengangkat kedua bahunya acuh dengan ucapan yang baru saja dilontarkan padanya itu. Tega? Ia memang tega. Sejak awal ia hanya ingin menjadi penonton di antara mereka, tidak ingin terlibat dengan kutukan yang ada di dalam kelas itu.
“AHHGGG!!!”
“Hihihi...”
“WUAHAHAHA!”
Suara teman-teman sekelas mereka yang tampaknya kesurupan saling saut menyaut dan membuat beberapa anak-anak dari kelas lain kembali berkumpul di depan kelas mereka saat ini untuk menyaksikan keributan yang sedang berlangsung. Mereka menyaksikan, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berniat melaporkannya pada pihak sekolah.
Lia berjalan membelah kerumunan itu. Sebelum ia keluar, ia menatap Jaemin dan membuat laki-laki itu terdiam mematung di tempatnya.
“Tiga,” ucapnya sambil melirik ke arah teman-temannya yang kesurupan saat ini, sebelum gadis itu berlalu meninggalkan ruang kelas.
Jaemin tahu dengan jelas bahwa tiga yang gadis itu maksud bukan jumlah orang yang sedang kesurupan di dalam kelas mereka saat ini, melainkan jumlah orang yang akan menjadi korban selanjutnya. Ia tahu benar bahwa gadis itu tahu siapa yang akan menjadi target dari tali kutukan yang mengikat mereka semua saat ini.
Laki-laki itu menatap tiga orang temannya yang terus bertingkah aneh sejak gadis itu membuka kedua matanya dan menatap kesal ke arah teman-teman kelasnya. Ia ingat betul bahwa tiga orang itu selalu bersama-sama mengerjai Chaeryoung tiap harinya, di luar kelas mereka sekalipun.
Memang semua orang di kelas itu selalu merundung Chaeryoung, tapi mereka terkadang melakukannya hanya untuk memuaskan rasa iri mereka terhadap gadis itu. Termasuk tiga orang yang selalu berteman akrab sejak dulu itu. Tiga orang yang selalu iri dengan paras cantik dan kepintaran gadis itu.
__ADS_1
Jaemin sadar, bahwa Chaeryoung mungkin benar-benar sedang melancarkan aksi balas dendamnya saat ini. Balas dendam atas apa yang pernah ia dan teman-teman sekelasnya lakukan pada gadis itu. Ia sadar bahwa mungkin saja ia akan menjadi korban selanjutnya setelah ini.