Balas Dendam Berdarah

Balas Dendam Berdarah
Chapter 27


__ADS_3

Lia menatap malas ke arah tiga laki-laki yang datang berkunjung ke rumahnya tanpa tahu waktu. Ia benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran tiga laki-laki itu. Ketiga orang yang ditatap hanya tersenyum canggung ke arah gadis itu.


Tidak ingin membuang-buang waktunya lebih lama lagi, gadis itu segera menggerakkan tangannya untuk menutup pintu rumahnya. Pergerakan yang langsung dibatasi oleh ketiga laki-laki yang memaksa masuk ke dalam rumahnya di tengah malam.


“Mau apa?” tanyanya sinis.


“Kami mau minta tolong sama kamu.”


Lia memutar bola matanya begitu mendengar perkataan Jeno. Ia sudah menduga ketiganya akan mengganggunya seperti ini cepat atau lambat. Apalagi mereka seperti kesulitan menemukan jalan keluar dari teror yang terus menghantui mereka sampai saat ini.


“Apa untungnya aku membantu kalian?”


Ketiganya hanya bisa terdiam begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis itu. Mereka tidak tahu bagaimana cara untuk membujuk gadis di depannya saat ini.


“Aku bakalan ngabulin semua yang kamu inginkan,” kata Jaemin dengan penuh percaya diri.


“Kenapa kamu seyakin itu?” Lia menelengkan wajahnya menatap wajah Jaemin yang begitu percaya diri dengan perkataannya barusan, “kamu nggak akan bisa.”


“Memangnya kamu mau apa?”


“Berapa pun banyaknya uang kamu, kamu nggak akan pernah bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati.”


Jaemin terdiam. Ia tidak bisa membantah gadis itu. Lagi pula ia bukanlah Tuhan yang mampu menghidupkan orang yang sudah mati. Bukankah permintaan itu sedikit kelewatan? Tidak mungkin ada manusia yang mampu menandingi kuasa Sang Ilahi.


“Karena aku cantik, baik hati dan tidak sombong, aku bakalan bilang ini sama kalian.”

__ADS_1


Ketiga laki-laki itu sedikit bernapas lega begitu mendengar Lia akan memberi tahu sedikit petunjuk pada mereka. Mungkin semuanya akan terasa lebih muda dengan petunjuk yang diberikan oleh gadis itu.


“Orang yang kalian cari itu tidak bakalan kalian temukan.”


Nafas ketiga pemuda itu tercekat begitu mendengar apa yang diberitahukan oleh Lia. Pikiran mereka menjalar ke sana ke mari dan sulit untuk berpikiran positif. Mereka sadar ada sesuatu yang tidak beres dibalik keberadaan Chaeryoung saat ini.


“Dia sudah meninggal, dan itu karena kalian. Kalau kalian menduga teror yang kalian alami itu ada hubungannya sama dia, itu betul. Dia yang mengutuk kalian semua agar merasakan kengerian seperti itu.”


“Kenapa?” tanya Chenle.


“Bukankah kalian lebih tahu alasan dibalik kutukan yang ia berikan pada kalian saat ini,” ujar Lia sambil tersenyum meremehkan ke arah ketiganya.


Setelah berucap demikian, gadis itu segera menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Ia meninggalkan ketiga laki-laki yang tampak syok dengan informasi yang baru saja mereka dapatkan. Tentu ketiganya tidak menyangka kalau orang yang mereka cari telah meninggal dan itu karena mereka.


***


Ia segera memundurkan langkahnya agar tidak menginjak cairan kental itu. Akan tetapi, lantai kering yang sebelumnya ia injak seolah-olah lenyap tidak bersisa. Semua lantai terasa basah dan berbau amis darah.


Keringat dingin menguncur dengan deras dari dahinya. Nafasnya tercekat, jantungnya berdebar kencang. Ia khawatir telah terjadi sesuatu dengan teman-temannya sebelumnya. Ia takut ia akan menjadi korban selanjutnya.


Ia menelan salivanya.  Suasana di rumah Minju malam ini benar-benar mengerikan. Di tengah-tengah kegelapan yang seakan-akan menelan seluruh rumah yang ia tempati saat ini, ia menginjak genangan cairan yang ia duga adalah darah karena bau amis yang menyapa hidungnya menyerupai bau amis darah.


Gadis itu tidak bisa melangkah mundur, tapi ia juga tidak berani melangkah maju ke depan. Ia takut dengan apa yang akan ia temui di depan sana nantinya. Ia hanya bisa berdiam diri di posisinya saat ini dengan penuh keraguan.


***

__ADS_1


Setelah cukup lama terdiam, gadis itu memilih untuk melangkahkan kakinya mundur dari posisinya saat ini. Ia tidak begitu berani untuk melangkahkan kakinya maju ke depan. Ia berpikir bahwa setidaknya ia telah tahu apa yang ada di belakangnya saat ini dan merasa lebih aman dibandingkan harus melangkahkan kakinya ke depan tanpa tahu apa yang akan ia hadapi di depan sana.


Perlahan-lahan dan dengan penuh kehati-hatian, ia melangkahkan kedua kakinya mundur ke belakang. Sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari sana.


Nafasnya tercekat begitu ia selesai membalikkan tubuhnya. Langkahnya terhalangi oleh sesuatu yang besarnya melebihi ukuran tubuhnya sendiri.


Ia merasakan sesuatu yang berbulu lebat menyentuh kulitnya, seperti binatang yang sangat besar menghalangi pergerakannya saat ini. Tanpa pikir panjang, ia segera menjauh dari makhluk yang ia tidak tahu apa itu.


Deru nafas kasar dan buas bisa ia dengar dengan sangat jelas. Ia langsung berlari begitu melihat banyak mata menyerupai mata ular, berwarna kuning, sedang menatap tajam ke arah dirinya saat ini.


Jantungnya berdebar dengan sangat kencang begitu ia mendengar langkah kaki yang menyaingi langkah kedua kakinya yang tengah berlari sekuat tenaga saat ini. Ia tahu bahwa makhluk mengerikan itu tengah memburunya saat ini.


Ia tentu saja tidak ingin tertangkap, tapi harapannya seolah-olah lenyap begitu saja begitu ia menyadari bahwa langkah itu terdengar semakin dekat dengan dirinya saat ini. Ia benar-benar merasa putus asa. Ia masih ingin hidup lebih lama lagi.


BRUKKKK....


Gadis itu tersandung dan terjatuh. Bajunya basah dan berbau amis darah. Ia sampai ingin muntah begitu mencium bau amis dari bajunya saat ini.


Air matanya mulai bercucuran. Ia benar-benar kehilangan harapan, tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Ia benar-benar tahu hidupnya akan segera berakhir.


Nafasnya tersendat-sendat karena tangisnya. Ia segera menutup mulutnya begitu mendengar langkah kaki yang sangat dekat dengan posisinya saat ini. Ia berusaha menghalangi semua suara yang mungkin keluar dari mulutnya saat ini. Ia juga menahan rasa mual yang ia rasakan karena harus mencium aroma amis darah yang berasal dari kedua tangannya saat ini.


Ia benar-benar merasa cemas, apalagi langkah itu terdengar memutar-mutar di sekelilingnya, seakan-akan mencari keberadaannya saat ini. Ia sedikit merasa lega sejujurnya karena menyadari bahwa makhluk itu belum tahu keberadaannya dengan pasti saat ini.


Anggapan itu langsung terbantahkan begitu ia kembali melihat tatapan mengerikan dari banyak mata berwarna kuning menyerupai mata ular yang tengah menatap tajam ke arahnya saat ini. Air matanya mengalir dengan sangat deras begitu ia menyadari bahwa makhluk itu berjalan dengan perlahan ke arah dirinya saat ini. Ia benar-benar tidak memiliki harapan untuk bisa lepas dari makhluk mengerikan itu.

__ADS_1


__ADS_2