Balas Dendam Berdarah

Balas Dendam Berdarah
Chapter 26


__ADS_3

“Kalian di mana?”


Yuri mengulurkan kedua tangannya, mencari keberadaan dua orang sahabatnya yang sebelumnya berada dalam satu ruangan yang sama dengannya. Kepanikan melandanya. Ia tidak mendengar suara teman-temannya lagi setelah mereka menjerit karena lampu yang meletus satu per satu di dalam rumah Minju.


Ia merasa telah berjalan cukup jauh dari posisinya semula, tapi ia tidak kunjung menemukan dua temannya itu. Ruangan yang sangat gelap membuat ia kesulitan untuk menemukan kedua temannya, bahkan cahaya rembulan dan lampu-lampu jalan dan lampu rumah tetangganya seakan-akan tidak bisa menembus kegelapan di rumah Minju saat ini.


Tentu saja ketiga orang itu menyadari ada sesuatu yang tidak beres saat ini. Mulai dari lampu rumah yang tiba-tiba meletus satu per satu, tetangga yang tidak berespon terhadap keributan yang mereka buat, sampai keluarga Minju yang seharusnya masih ada di rumah saat ini tidak ada satu pun yang keluar ataupun bersuara, seakan-akan tidak ada orang lain selain mereka bertiga saat ini.


***


Sudah sekitar satu jam berlalu dan mereka tidak kunjung bertemu satu sama lain. Padahal mereka bertiga semula berada dalam satu ruangan yang sama. Seolah-olah mereka bertiga berada pada dimensi yang berbeda satu sama lain.


Rasa frustasi tentu menyelimuti ketiganya. Sebanyak apa pun mereka berteriak memanggil satu sama lain, tidak pernah mendapat tanggapan apa pun. Takut dan panik tentu saja turut menyusup dalam ruang di dalam rongga dada dan pikiran mereka saat ini. Seolah-olah akan ada hal buruk yang terjadi kepada mereka.


Ketiganya bahkan sudah mulai bercucuran air mata, seakan-akan ajal telah mengintip ketiganya saat ini dan tidak ada siapa pun yang dapat menolong mereka. Mereka lelah, ketakutan, tapi mereka masih belum ingin menyerah atas hidup mereka. Di sisi lain, mereka juga tidak tahu apa yang harus melakukan apa untuk bisa keluar dari keadaan yang mencekik mereka saat ini.


***


Nafas lega dihembuskan perlahan oleh Minju begitu melihat cahaya samar-samar tidak jauh dari posisinya saat ini. Ia pun segera berlari mendekat ke arah cahaya tersebut.


Belum sampai, ia segera memutar balik langkahnya dan berbalik sekuat tenaga. Jantungnya berdebar sangat kencang, nafasnya terengah-engah, keringat menguncur dengan deras dari dahinya.

__ADS_1


Ia tidak menyangka akan bertemu dengan makhluk menyeramkan itu di rumahnya sendiri. Makhluk menyeramkan yang pernah ia lihat ketika salah satu teman sekelasnya meregang nyawa dengan cara mengerikan di toilet di ujung koridor kelasnya.


Air matanya bercucuran. Ia benar-benar merasa telah kehilangan harapan untuk tetap hidup. Tapi ia masih tetap ingin hidup. Ia tidak ingin mati dengan cara mengenaskan seperti yang dialami oleh beberapa teman sekelasnya.


BRUGGHHHHH......


Ia terjatuh dengan bagian dagu terlebih dahulu mendarat di atas lantai. Sakit, rasanya benar-benar sakit. Meskipun terasa sangat sakit,  ia tetap berusaha bangun agar bisa berlari sejauh mungkin dari monster mengerikan yang ada di dalam rumahnya saat ini. Ia tidak ingin menyerahkan nyawanya begitu saja pada monster itu.


***


Gadis itu telah berlari cukup lama. Entah sudah seberapa jauh ia berlari, ia juga tidak tahu. Tidak ada tanda-tanda monster itu mengikutinya. Perlahan ia menurunkan kecepatannya, ia benar-benar kelelahan. Kedua kakinya juga terasa sangat sakit saat ini.


Seingatnya rumahnya tidak begitu luas sampai bisa membuatnya kelelahan karena terus berlari dalam waktu yang cukup lama. Tapi seberapa jauh pun ia berlari, ia tidak kunjung menemukan bagian ujung dari rumahnya. Seolah-olah ia telah terperangkap dalam jalan panjang tak berujung di dalam rumahnya sendiri.


Firasatnya benar-benar buruk saat ini. Posisinya saat ini sama persis dengan posisi makhluk mengerikan yang ia lihat sebelumnya. Tapi ia juga tidak berani mendekati cahaya yang berada tidak jauh darinya itu.


Ingatannya kembali pada kejadian mengerikan yang menewaskan salah satu teman sekelasnya di dalam toilet di ujung koridor kelasnya. Ia ingat dengan jelas bahwa makhluk itu hanya bersembunyi di balik kegelapan yang ada di dalam toilet itu, seolah-olah makhluk itu tidak boleh tersentuh oleh cahaya.


Gadis itu segera berlari mendekati cahaya itu, meski itu hanyalah cahaya remang-remang di tengah-tengah kegelapan yang seolah-olah telah menelan rumahnya saat ini. Setidaknya ia masih memiliki sedikit harapan untuk tetap bertahan hidup.


Sedikit banyak ia menduga bahwa makhluk itu tidak boleh tersentuh oleh cahaya. Mungkin cahaya adalah kelemahan terbesar dari makhluk itu.

__ADS_1


Tapi ia sudah terlambat. Belum sampai di cahaya remang-remang itu, tubuhnya terlempar dan menghantam dinding dengan sangat keras. Ia bahkan bisa mendengar suara tulang rusuknya patah karena menghantam dinding.


Penglihatannya memburam oleh air mata. Sakit, ia benar-benar merasa kesakitan. Tapi ia masih ingin hidup. Dengan perlahan, ia merangkak di atas lantai mendekati cahaya remang-remang itu.


BUGGHHH.....


Lagi-lagi tubuhnya terlempar dan menghantam dinding dengan sangat keras. Ia menangis meraung-raung karena rasa nyeri hebat yang ia rasakan saat ini.


“Uhukk.....hoekk.”


Ia memuntahkan cairan kental yang ia yakini adalah darah, lalu kembali menangis dan berteriak meminta tolong sebisanya. Ia benar-benar masih ingin hidup. Ia bahkan berteriak mempertanyakan kesalahan apa yang telah ia lakukan sampai harus menerima hukuman semengerikan ini.


Seberapa banyak pun ia berteriak, tidak ada satu pun orang yang menanggapi teriakannya itu. Ia juga sudah tidak sanggup walau hanya sekedar merangkak untuk bisa melarikan diri dari tempat itu. Ia benar-benar tidak memiliki harapan sama sekali.


Entah sudah berapa banyak cairan kental itu ia muntahkan, ia tidak tahu. Nafasnya terasa sangat sesak, kesadarannya perlahan mulai menghilang. Pemandangan terakhir yang ia lihat sebelum kesadarannya benar-benar menghilang adalah mata kuning menyeramkan dalam jumlah yang cukup banyak menyala di tengah gelapnya malam. Mata itu seolah-olah tengah menghakiminya saat ini.


***


Jaemin, Jeno dan Chenle mendatangi Lia. Mereka sebenarnya ingin mencari tahu tentang Chaeryoung tapi ingin mendengar semuanya dari Lia. Mereka sangat yakin Lia pasti tahu apa hubungan antara Chaeryoung dengan teror yang mereka alami saat ini. Apalagi petunjuk yang diberikan oleh gadis itu benar-benar mengarah ke Chaeryoung.


Meskipun gadis itu belum tentu akan membuka mulutnya, tapi setidaknya mereka ingin mengusahakan apa yang bisa mereka lakukan. Mereka tentu tidak bisa diam saja dan menunggu sampai tiba giliran mereka untuk meregang nyawa. Apalagi tidak ada orang di sekitar rumah Chaeryoung yang ingin membuka mulutnya tentang bagaimana keadaan gadis itu dan di mana sekarang ia tinggal.

__ADS_1


Lia adalah satu-satunya harapan mereka. Mereka benar-benar berharap gadis itu akan membuku mulutnya agar mereka bisa menemukan jalan keluar dari teror mengerikan yang terus mengikuti mereka.


__ADS_2