
KRIEETTT....
Chaeryoung membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Gadis itu mengeluarkan kepalanya dari dalam pintu kamar untuk sekedar mencari tahu keadaan di luar kamarnya. Lalu berjalan mengendap-endap keluar dari kamarnya seperti pencuri.
“Chaeryoung?”
Gadis itu tersentak. Ia tidak menyangka ibunya masih ada rumah saat ini. Meskipun demikian, ia tak urung untuk melanjutkan langkah kakinya meninggalkan rumah itu.
“Kamu mau ke mana, Anak?” Tanya ibunya penuh khawatir.
Ia tidak membalas pertanyaan ibunya dan langsung meninggalkan rumah pagi itu. Ia sudah membulatkan tekadnya.
Gadis itu melangkahkan kakinya ke minimarket yang berada tidak jauh dari rumahnya. Ia ingin membeli beberapa perlengkapan untuk melancarkan aksi balas dendamnya. Lalu berjalan pulang ke rumahnya.
***
Chaeryoung berdiri menatap hasil karyanya, karya yang telah ia buat dengan susah payah mengikuti panduan di buku yang ia baca. Memang tidak ada yang bisa memastikan bahwa apa yang tertulis di dalam buku itu benar, tapi ia ingin mencobanya meski hanya sekali saja. Meski hanya sekali saja, ia ingin memperjuangkan rasa sakit dan penderitaan yang selama ini telah ia alami.
Tes...tes...tes...
__ADS_1
Ia mengalihkan pandangannya pada bagian pergelangan tangannya yang terus mengeluarkan darah sejak tadi. Wajahnya memucat, keringat mulai membasahi dahinya, tapi ia masih ingin bertahan sedikit lebih lama lagi. Semua persiapan yang telah ia lakukan dengan susah payah tidak boleh berakhir sia-sia.
Di atas lantai kamarnya, gadis itu menggambar simbol persekutuan dengan iblis menggunakan darahnya sendiri demi mewujudkan aksi balas dendamnya. Ia rela bersekutu dengan iblis dan mengorbankan jiwanya untuk selama-lamanya menjadi kepunyaan iblis itu. Semua ia lakukan hanya demi membalaskan rasa sakit hati dan penderitaan yang telah ia alami, terlebih tidak ada siapa pun yang bisa ia harapkan di dunia ini untuk membantunya. Memang kesia-siaan berharap pada sesama makhluk fana.
Sudut-sudut kamar dan sekeliling simbol yang telah ia gambar dengan darahnya, ia letakkan lilin yang sudah ia nyalakan sebelumnya. Peletakan dan jumlah lilin pun ia sesuaikan dengan apa yang tertulis di dalam buku itu. Ia tidak ingin melakukan kesalahan apa pun. Apalagi ia ragu bisa memperbaikinya jika ia membuat kesalahan dan berakhir sia-sia. Gadis itu seakan-akan tahu jika hidupnya akan berakhir setelah ritual tersebut telah dimulai.
Gadis itu mengambil buku yang ia jadikan sebagai panduan, kemudian berjalan ke tengah-tengah simbol dengan tubuh telanjang. Kemudian mulai melafalkan mantra untuk memanggil Sang Pemilik Kegelapan untuk bersekutu dengannya.
Tidak cukup dengan satu pergelangan tangan yang berlumuran darah, gadis itu kembali mengiris bagian pergelangan tangannya yang satu lagi menggunakan pisau yang ia letakkan tidak jauh dari posisinya saat ini. Nyeri, terasa sangat nyeri, ia bahkan hampir tumbang ketika rasa sakit itu ia rasakan di kedua pergelangan tangannya.
Sayatan yang ia buat cukup dalam sehingga darah yang menetes pun benar-benar deras dan banyak. Wajahnya makin pucat, kepalanya mulai terasa pusing, tapi ia tetap melanjutkan ritualnya. Ia benar-benar berharap semua pengorbanannya tidak akan berakhir dengan kesia-siaan semata.
Senyuman terbit di wajahnya ketika ia melihat kepulan asap tebal berwarna hitam menyelimutinya. Tidak lama kemudian, sesosok makhluk bertubuh tinggi besar dan berwarna hitam pekat muncul di depannya yang sudah tidak sanggup meski hanya duduk menyambut kedatangan makhluk itu.
Makhluk itu berpenampilan cukup menyeramkan. Ia bertubuh tinggi besar dan berwarna hitam pekat, tangannya memiliki cakar yang tajam dan panjang, kakinya mirip seperti kaki kerbau, kepalanya menyerupai singa dengan mata yang banyak dan berwarna kuning keemasan dengan iris mata berbentuk oval menyerupai iris ular, taringnya panjang dan tajam, bahkan giginya tidak beraturan. Makhluk itu memiliki tanduk seperti milik kambing gunung di atas kepalanya.
Jujur saja, ia sedikit merasa takut dengan penampilan makhluk itu. Tapi di sisi lain ia juga merasa lega, sangat lega, karena ritual yang ia lakukan ternyata membuahkan hasil.
Tidak hanya penampilannya, suara dari makhluk itu jelas membuat siapa pun mendengarnya akan merinding. Suaranya kasar, berat dan bergema. Tapi gadis itu tidak gentar, ia tidak akan mundur walau sedikit pun. Ia sudah terlanjur berjalan sejauh ini.
__ADS_1
“Katakan padaku, mengapa kau memanggilku ke tempat ini?”
“A..ku ingin mem..balas dendam..ku.”
Makhluk itu tidak mengubah ekspresinya sama sekali. Tanpa perlu ia tanya, ia sudah tahu sebenarnya apa yang diinginkan oleh gadis di depannya itu. Ia hanya ingin bertanya untuk mengetes apakah gadis di depannya memiliki keraguan atau tidak.
Dendam yang membara menggelapkan mata gadis itu. Alih-alih berusaha membalasnya dengan cara yang lebih ‘lurus dan benar’, ia lebih memilih untuk mengadakan kontrak dengan makhluk terkutuk demi membalaskan rasa dendamnya itu.
Hidup mengandung prinsip tabur tuai, apa yang kamu tabur itu pula yang akan kamu tuai. Termasuk apa yang kini dilakukan gadis itu. Ia akan menuai rasa sakit yang tiada tandingannya dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama dan tidak berkesudahan karena telah mengikat kontrak dengan makhluk kegelapan yang terkutuk menggunakan jiwanya sendiri sebagai bayarannya.
Tapi ia percaya bahwa bukan hanya jiwanya saja yang akan terseret dalam kesakitan tiada tara dan tiada berkesudahan itu. Ia percaya bahwa orang-orang yang telah menyakitinya dengan amat sangat itu akan turut merasakan hal yang sama dengan apa yang telah ia rasakan. Bahkan mereka akan merasakan kesakitan yang lebih parah darinya menjelang kematian mereka.
Setelah kontrak telah disepakati, gadis itu menghembuskan nafas terakhirnya. Bersamaan dengan itu, buku aneh yang menuntunnya untuk mengadakan kontrak dengan Sang Pemilik Kegelapan pun ikut menghilang. Tapi makhluk menyeramkan itu tidak, ia bersembunyi di balik tiap bagian tergelap yang ada di rumah itu. Bagian tergelap yang tidak pernah tersentuh oleh cahaya apa pun.
Apakah setelah itu jiwa gadis itu pergi begitu saja? Tidak. Ia masih ada di dalam kamar itu sambil menatap ke arah tubuhnya yang telah kaku di atas genangan darahnya sendiri. Ia ingin menyaksikan dengan kedua matanya sendiri ketika orang-orang yang menyakitinya itu merasakan penderitaan yang amat sangat menjelang kematian mereka.
***
Cukup lama waktu berjalan sampai jenazahnya ditemukan pertama kali oleh ibunya. Sedikit rasa bersalah masuk ke dalam hatinya ketika ia melihat ibunya yang putus asa dan hampir mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi rasa dendamnya telah mengalahkan segalanya. Lagi pula, ia juga sudah tidak bisa mundur lagi. Ia harus menyelesaikan semuanya sampai akhir.
__ADS_1
Ia menyaksikan dengan jelas semua yang terjadi pada tubuhnya hari itu. Bagaimana tubuhnya dimandikan, dibungkus dengan kain kafan, dikebumikan, dan bagaimana rasa sakit yang teramat sangat dari ibunya. Ia memang sudah tidak bisa kembali lagi.