
Chaeryoung berjalan pulang ke rumahnya setelah berbelanja di minimarket yang berada tidak jauh dari rumahnya. Harus ia akui bahwa pindah dari sekolah itu cukup memberikan dampak positif baginya, meskipun rasa sakit, trauma dan dendam yang tersimpan di dalam hatinya belum juga hilang, tapi setidaknya ia tidak harus menderita setiap hari karena ulah teman-teman sekelasnya.
Langkahnya terhenti begitu melihat pemandangan yang tak asing baginya. Keringat dingin mulai menguncur dari dahinya. Jantungnya berdegup kencang, ia benar-benar tidak ingin terlihat oleh mereka saat ini.
Di depan sana, teman-teman sekelasnya yang dulu sering merundung dirinya tampak tengah bergurau bersama. Memang lokasi sekolahnya yang dulu tidaklah begitu jauh dari rumahnya, bertemu mereka mungkin saja terjadi secara kebetulan. Tapi ia sama sekali tidak ingin melihat mereka lagi.
Gadis itu berjalan perlahan mundur ke belakang dengan penuh waspada, takut orang-orang itu akan menyadari keberadaannya saat ini. Belum sempat gadis itu berbalik dan melangkah lebih jauh dari lapang pandang mereka, keberadaannya sudah disadari oleh salah satu orang di antara mereka.
“Chaeryoung?” Jaemin menggumam heran melihat keberadaan gadis yang menghilang dari pandangannya sejak beberapa hari yang lalu, tiba-tiba muncul di depannya.
Mendengar gumaman Jaemin, anak-anak yang lain ikut mengarahkan pandangannya pada seorang gadis yang berada tidak jauh dari mereka. Senyum lebar terpancar dari wajah mereka, tidak terkecuali Jaemin. Mangsa yang selalu mereka incar di sekolah dulu, kini ada di depan mereka.
Tatapan tidak suka dan benci terpancar jelas dari kedua mata Chaeryoung. Tapi gadis itu tidak bisa melakukan apa pun untuk melawan orang-orang itu. Akhirnya gadis itu berlari begitu melihat mereka mulai berjalan dengan angkuh, mendekat ke arahnya.
Menyadari mangsanya kabur, tentu saja mereka ikut mengejarnya. Meskipun telah berada di sekolah yang berbeda, mereka tetap ingin memperlakukan gadis itu seperti ketika gadis itu masih bersekolah di sekolah mereka.
***
Chaeryoung kembali ke rumahnya dengan tubuh penuh memar. Pipinya bahkan ikut memar karena ulah mantan teman-teman sekelasnya. Rambutnya benar-benar berantakan. Pakaiannya basah dan bau telur busuk.
Bulir-bulir air mata menggenangi pelupuk mata gadis itu. Bulir-bulir air mata yang terus ia tahan sejak tadi. Luka di hatinya yang belum mengering, kembali terbuka lebar dan menyakitnya. Ia benar-benar benci keadaannya saat ini.
__ADS_1
Mereka bahkan tidak lagi berada dalam sekolah yang sama, tapi ia masih saja mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan dari mereka. Ia seakan-akan menjadi luapan segala emosi negatif orang-orang itu. Ia benar-benar membenci mereka.
Ia berjalan dengan tertatih-tatih menuju kamar tidurnya yang ada di lantai dua. Sekujur tubuhnya benar-benar terasa nyeri. Mereka bahkan tidak segan-segan untuk melukai wajahnya.
Setelah sampai di kamar tidurnya, ia mengunci kamarnya dan duduk di atas tempat tidurnya sambil menangis. Jika seperti ini keadaannya, gadis itu benar-benar menjadi takut jika sekedar keluar dari rumahnya sendiri. Ia takut bertemu dengan mantan teman-teman sekelasnya tanpa sengaja dan kembali disakiti. Ia hanya ingin berada di kamar tidurnya sendiri. Tempat teraman bagi dirinya.
***
Sudah beberapa hari belakangan ini gadis itu tidak kunjung keluar dari kamarnya, ia hanya berdiam diri di dalam kamarnya. Ibunya pun tidak bisa melakukan banyak hal, apalagi ia sibuk dengan pekerjaannya sendiri karena tidak ada lagi tulang punggung dalam keluarga kecil mereka yang bisa membantunya mencari nafkah.
Ia pun membiarkan saja apa yang ingin anaknya lakukan. Ia ingin memberikan anaknya kesempatan menenangkan dirinya sendiri sebelum siap bercerita padanya. Ia benar-benar merasa sangat bersalah tentang apa yang terjadi pada putri semata wayangnya itu di sekolahnya yang dulu.
***
Chaeryoung menatap ke arah layar ponselnya. Ia tengah mengistirahatkan dirinya sendiri dari keadaan di sekitarnya dengan membuka akun sosial medianya sebagai bentuk pelarian yang ia lakukan dari dunia nyata.
Matanya perih begitu melihat foto bahagia mantan teman-teman sekelasnya. Wajah bahagia tanpa dosa dan tanpa merasa bersalah telah membuatnya hidup begitu menderita seperti sekarang.
BRAAKKKK!!!
Gadis itu membanting ponselnya. Ia membanting barang-barang yang ia bisa banting di dalam kamar itu. Ia benar-benar membenci ekspresi bahagia yang mereka pancarkan di foto itu. Ekspresi bahagia tanpa beban, tanpa dosa dan tanpa rasa bersalah. Ia benar-benar membencinya.
__ADS_1
Di saat ia sendiri takut untuk sekedar melangkahkan kedua kakinya keluar dari kamarnya, mereka justru menjalani hidup mereka dengan baik seolah tidak pernah terjadi apa-apa yang harus disesali. Benar-benar tidak ada yang harus disesali.
“AARRGGHHHH!!”
Chaeryoung berteriak sambil mengacak rambutnya. Ia benar-benar frustasi. Di saat dunia seperti menenggelamkan ke lautan kesedihan, orang-orang yang harus bertanggung jawab atas itu semua justru tengah menjalani hidupnya dengan penuh bahagia.
Tok..Tok..Tok...
“Nak? Nak? Kamu kenapa?” tanya ibu Chaeryoung dengan penuh khawatir dari balik pintu kamar Chaeryoung.
Suara penuh kekhawatiran yang tidak dihiraukan sama sekali oleh gadis itu. Gadis itu justru tengah terfokus pada buku tentang menjalin kontrak dengan iblis yang terjatuh dari meja belajarnya yang telah ia buat berantakan sebelumnya.
Perlahan ia mengangkat buku itu dan membaca tiap bagiannya dengan teliti. Ia gelap mata dengan rasa balas dendamnya dan ingin menuntut balas pada orang-orang yang telah menyakitnya dengan keji itu. Orang-orang yang bahkan tidak layak untuk disebut ‘manusia’ karena tidak memiliki sedikit pun rasa kemanusiaan.
Ibu gadis itu yang sejak tadi bertanya dengan penuh kekhawatiran sambil mengetok-ngetok pintu kamar putri semata wayangnya itu akhirnya memilih berhenti. Apalagi sang putri sama sekali tidak memedulikan keberadaannya di luar.
Wanita paruh baya itu memundurkan posisinya dari depan pintu kamar putrinya. Ia sedikit menimbang-nimbang apakah ia harus mendobrak pintu kamar putrinya itu atau tidak. Ia benar-benar khawatir tapi ia juga ragu ia akan mengganggu putrinya jika memaksa masuk ke dalam kamar putrinya dengan cara membongkar pintu kamar putrinya.
Akhirnya ia melangkahkan kakinya mundur dari depan pintu kamar putrinya, lalu pergi dari sana. Ia ingin memberikan kesempatan putrinya untuk menenangkan dirinya sendiri. Jika putrinya membutuhkannya, ia akan meluangkan waktunya kapan pun itu, meskipun dia sedang sangat sibuk sekali pun. Tapi ia juga ragu apakah yang ia lakukan sudah benar atau tidak.
Setelah membaca beberapa lembar buku itu, ia tersenyum sinis. Ia seperti menemukan oasis di padang gurun. Mungkin balas dendam bukan hanya sekedar impian semata baginya, ia kini bisa mewujudkan impiannya untuk membalas semua kesakitan yang ia rasakan berkali-kali lipat kepada mantan teman-teman sekelasnya itu.
__ADS_1